Sabtu, 12 Januari 2013

“Persembahan Menurut Imamat 22:17-25 Dan Relevansinya Dengan Gereja Masa Kini”








Di tengah – tengah gereja (Khusus) HKBP perihal memberi persembahan, sering kurang mendapat perhatian yang serius bahkan sering dilupakan tentang arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Mengapa ? karena bagi kebanyakan orang (Kristen), belum benar- benar mengenal dan mensyukuri segala berkat yang dia peroleh. Lebih tragis lagi, pada saat menyerahkan persembahan kepada Tuhan pada kebaktian minggu, ada saja lembaran uang koyak atau tidak layak pakai. Berangkat dari syair nyanyian pada saat menyerahkan persembahan dalam buku ende nomor 204: 2[1], kita mengatakan ‘Tuhan karuniaMu Roh dan jiwaku semua , nyawa juga hidupku harta milikMu semua. Ku serahkan padaMu, untuk selama-lamanya. Dari syair nyanyian ini dapat kita petik suatu pemahaman, adanya suatu pengakuan bahwa apa yang kita miliki, baik jiwa, nyawa dan harta bersumber dari Allah (Bdk.Ams.10:22),  dan kita serahkan menjadi persembahan kepadaNya.    
Kita tentu mengerti bahwa arti persembahan adalah, menyerahkan sesuatu, baik berupa benda maupun uang, kepada seseorang yang derajatnya jauh lebih tinggi daripada yang mempersembahkan. Persembahan itu diberikan oleh warga jemaat ketika suatu kebaktian dilaksanakan di tengah-tengah gereja maupun pada kebaktian keluarga (wilayah).
Namun, ketika warga jemaat memberikan persembahannya, ada saja sikap yang kurang jujur dari para Majelis Gereja (Parhalado) dalam hal pengalokasiannya terlebih dalam hal persembahan kedua. Lebih menyedihkan lagi para pelayan Full Time (Pendeta, Guru Jemaat, Bibelvrow dan Diakones), sepertinya tidak berani atau kurang kemampuan untuk menghempangnya. Atau dengan kata lain, kurang tegas memberi pengertian yang signifikan perihal persembahan tersebut dan menjalankan sesuai dengan ketentuan yang datangnya dari pusat. Di sana sini ada pemotongan (penyunatan) dan bila ditanyakan mengapa demikian, dengan nada yang sinis majelis akan menjawab ”Aha bahenon balanjomuna”. Apakah memang hanya dengan cara demikian yang dapat ditempuh agar biaya perbelanjaan pelayan Full Time bisa terpenuhi atau masih ada cara yang lain?
Hal berikut yang menjadi sorotan penulis dalam memilih judul ini adalah, bahwa para pelayan Full Time atau Hamba Tuhan yang melayani di tengah-tengah gereja, terpanggil untuk turut memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan.  Artinya tidak hanya menganjurkan warga jemaat dalam hal penyerahannya, namun pelayan juga terpanggil untuk memberikan yang terbaik sebagai persembahannya kepada Tuhan. Fakta yang kelihatan atau pengamatan penulis, bahwa ada banyak pelayan kurang memberi perhatian akan hal ini. Sibuk menganjurkan bahkan membuat sangsi kepada warga jemaat apabila tidak menyerahkan tanggung jawabnya, padahal ia sendiri tidak menjalankannya.
Berbicara tentang  persembahan dapat kita fahami bahwa di dalamnya terkandung suatu makna, memberikan sesuatu kepada Allah. Di samping mempersembahkan uang atau materi yang dimiliki, pengertian persembahan yang lebih dalam juga mencakup kesediaan mempersembahkan diri atau hidup kepada Allah. Ia harus berani tampil beda dari dunia atau orang-orang yang tidak mengenal Allah. Bila kita membaca Mat.5:13-14 dikatakan” Kamu adalah garam dan Terang dunia”. Ungkaban ini mengandung arti bahwa selaku orang yang telah menerima bagian keselamatan dari karya Yesus Kristus terpanggil untuk mengaktualisasikan imannya di tengah-tengah dunia ini.
Hal senada juga dikatakan oleh Bapak Pdt. Ladestam Sinaga[2] mengatakan, ada dua istilah yang digunakan untuk menekankan tentang hidup yang menjadi persembahan bagi Allah. Istilah yang pertama adalah “Agathos” Kedua, “Kalos”.   Agathos” berarti bagian inti dari sesuatu itu berguna, hakekatnya bermutu tinggi dan bernas. Kandungan dalamnya benar-benar baik. Agathos berguna membangun dan membarui. Selanjutnya kita membahas istilah kalos. Kalos berarti sisi luar sesuatu itu menarik, cantik dan menawan. Kalos juga mengandung arti, sedap dipandang mata, memikat dan penuh daya tarik, hanya dengan melihatnya seseorang berkeinginan memilikinya. Demikianlah kiranya hidup orang Kristen, harus benar-benar memiliki jati diri yang patut ditiru atau diteladani oleh orang-orang di sekitar kita.
Selain apa yang saya sebutkan di atas, alasan penulis dalam memilih judul ini adalah, para hamba Tuhan yang melayani di tengah-tengah jemaat terpanggil untuk memberi pemahaman, pengertian sekaligus memotivasi  warga jemaat agar mereka terdorong dan terpanggil untuk memberikan yang terbaik sebagai persembahannya kepada Tuhan sebagaimana hal itu dimulai sejak PL (baca Kej.4:3-4:  Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil taah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu).
Pembahasan dalam tulisan ini dilakukan melalui penelitian literatur dan pendapat para ahli, termasuk pengalaman, pengamatan dan perenungan penulis selama melayani di tengah-tengah jemaat, sebagai Guru Huria. Penulis sudah mencoba mengkaji serta mendalami tulisan yang didapat dari beberapa sumber, dan mencoba menuliskannya dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah difahami.

Untuk membahas “Persembahan Menurut Imamat 22:17-25 Dan Relevansinya Dengan Gereja Masa Kini” bukan hanya merupakan pekerjaan yang sulit, namun juga memakan waktu yang cukup lama yang berawal dari koreksi dan masukan dari Dosen pembimbing juga disertai keterbatasan penulis dalam hal menyajikannya. Maka dalam tulisan ini perhatian penulis lebih terfokus kepada judul di atas dan disejajarkan dengan kondisi atau pelaksanaannya di tengah-tengah gereja kita saat ini.


Dalam membahas sajian ini maka dibuat sistimatika sebagai berikut :
BAB  I         Bab ini merupakan pendahuluan dari Karya Tulis Akhir ini, yang di dalamnya terdiri dari alasan pemilihan judul yang menggambarkan bagaimana pemahaman umat Israel selaku umat yang dikasihi  Allah perihal persembahan. Di dalam bab ini dibahas juga tentang, tujuan penulisan yang menekankan perlunya memberikan persembahan yang terbaik bagi Allah. Melalui penulisan dan pemilihan judul ini, para pembaca (umat Kristen) terpanggil dan termotivasi untuk memberikan persembahan yang terbaik bagi Allah sebagai jawaban atau resfon atas berkat Allah yang ia terima. Persembahan yang dipersembahkan kepada Allah bukan hanya persembahan berupa korban bakaran atau uang, namun yang terbesar adalah mempersembahkan hidup kepada Allah berarti hidup atau kepribadiannya, tidak sama dengan dunia (Bdk. Mat.5:13-14).

Bab   II            Bab dua ini berisi tentang Etimologi Persembahan, Theologia Persembahan, dan bagaimana pengertian persembahan itu dilihat dari segi umum dan khusus.
                        
Bab III            Dalam bab tiga penulis menyajikan ‘Tafsiran Imamat 22:17-25” yang di dalamnya penulis juga menuliskan informasi sekitar kitab Imamat yang mencakup latar belakang surat, penulis kitab, maksud dan tujuan penulisan kitab Imamat serta apa dan bagaimana makna kitab itu bagi kehidupan orang Kristen saat ini.  Di samping itu dalam bab dua ini penulis juga menyajikan tentang “skopus’ persembahan.

Bab IV            Dalam bab ini penulis menyajikan tentang “Persembahan dan Relevansinya masa kini’.  Bab empat ini juga berisi tentang Gereja HKBP diperhadapkan dengan persembahan dan pendeta yang memiliki tugas memotivasi jemaat dalam hal menyerahkan persembahan sekaligus turut berpartisipasi di dalamnya.

Bab  V            Bab ini merupakan rangkuman atau kesimpulan dari seluruh pembahasan mulai dari bab I sampai Bab IV, juga memuat saran atau masukan sehubungan dengan karya tulis ini. Saran dan masukan ini berangkat dari perenungan penulis sehubungan dengan apa yang tersaji dalam karya tulis akhir ini.













Untuk lebih mudah dalam mengerti dan memahami tentang pokok bahasan ini, ada baiknya penulis memaparkan  tentang asal mula kata persembahan dan bagaimana pengertiannya ditinjau dari segi umum dan khusus.

Persembahan” berasal dari kata “sembah” yang berarti pernyataan hormat dan khidmat.[3]  Sementara pengertian persembahan adalah suatu pemberian kepada orang yang terhormat. Kata persembahan juga dapat diartikan dengan pembaktian diri, penyerahan diri, penghormatan, pengabdian atau minta perlindungan dari seseorang yang dianggap lebih kuat dari dirinya sendiri. Bahkan jauh sebelum lahirnya gereja, praktek persembahan juga telah dilakukan pada masa Abraham. Upacara persembahan kurban, merupakan praktek kuno, guna menjalin hubungan dengan Allah lewat persembahan yang disampaikan melalui Imam, lalu dilembagakan ke dalam ketentuan Hukum Taurat serta dikaitkan dengan Rumah Tuhan dan jabatan ke-Imaman (Kel. 29; Bil. 18;Ibr 8:1-4). Pada dasarnya, persembahan kurban merupakan usaha untuk menjalin kembali hubungan dengan Tuhan sebagai “persembahan yang harum” dan “pengakuan dosa serta menyenangkan hati Allah” (Kel. 29:25).
Pada sisi yang lain, persembahan melambangkan jawaban orang percaya terhadap injil Kristus, yang bergerak dari manusia kepada Allah. Pendapat ini mengandung arti bahwa, persembahan merupakan sikap atau tindakan sebagai jawaban manusia terhadap pelayanan Kristus.
Di dalam persembahan terkandung juga pengertian “ucapan syukur” (Yun Eucharistia) atau pujian kepada Allah, atas pelayanan Kristus. Turut ambil bagian dalam pengembangan kerajaan Allah, mengembangkan atau memakai talenta yang ia terima dari Allah. Pemazmur juga mengajak umat yang menerima berkat Allah benar-benar melaksanakan hal ini  (Bdk. Maz. 50: 14 ”Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada yang mahatinggi).”

Pengertian persembahan secara umum dapat dikatakan, merupakan jawaban atau resfons umat terhadap keselamatan yang dianugerahkan kepada orang-orang percaya (Kel. 13:14,16). Arti dan Makna pemberian persembahan, juga mengandung arti, mencerminkan penghayatan atas persekutuan umat di hadapan Tuhan.  Hal ini identik dengan pemahaman HKBP yang tertuang dalam A & P pasal 15, tentang kewajiban warga HKBP.[4] Lalu muncul sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan “Siapakah yang menjadi alamat dari persembahan yang disampaikan oleh warga jemaat? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita membaca  Gal. 6:6, dimana Rasul Paulus mengatakan “Dan baiklah dia yang menerima pengajaran dari Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu”. Jadi  alamat dari persembahan itu, berangkat dari pengertian  Lewi, dapat kita implementasikan dengan Pendeta (Pelayan Full Timer), gereja, sekolah Teologi, Lembaga Alkitab, Yayasan Penginjilan, anak yatim dan para janda.[5] Satu hal yang perlu diingat  pada saat memberikan persembahan, janganlah dengan hati terpaksa namun didorong oleh kerelaan dan sukacita (Bdk. 2 Korint. 9:7).

Seperti yang telah saya uraikan di atas, Persembahan merupakan implementasi dari hak dan tanggung-jawab umat dalam segala aspek kehidupan, persekutuan,pelayanan dan kesaksian jemaat. Pelayanan yang dilakukan oleh manusia dan ditujukan kepada Allah. Artinya, suatu tindakan konkrit yang dilakukan manusia, terhadap pelayanan Kristus. Persembahan Kristen juga mengandung makna, keikut-sertaan dalam pelayanan Kristus dan mengaktualisasikan imannya dalam kehidupan sehari-hari (Yak. 2:17).[6] Ketika seseorang menyerahkan persembahan, di dalamnya terkandung suatu pengakuan bahwa Tuhan Yesus telah memelihara kita dengan setia dan sempurna. Persembahan yang benar seharusnya diawali dengan kesediaan mempersembahkan diri dan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, itulah persembahan yang hidup dan kudus.  Seiring dengan hal itu, ketika orang Kristen hadir atau mengikuti ibadah di tengah-tengah gereja, di samping menyediakan hati dan pikiran untuk bersekutu dengan Tuhan, umat juga harus mempersiapkan persembahan yang akan diserahkan kepada Tuhan. Hal ini juga ditekankan dalam Ulangan psl 16;16-17 dimana dikatakan “Tuhan mengundang umat untuk menghadap hadirat Tuhan, tetapi jangan dengan tangan hampa”.  Demikian juga dengan apa yang tertulis dalam Mazmur 96:7-8Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada Tuhan kemuliaan namaNya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataranNya. Persembahan yang dimaksud adalah persembahan yang telah dipersiapkan atau dikhususkan.[7]

Menurut pemahaman HKBP seperti tertuang dalam Agenda [8]dikatakan bahwa Allah adalah sumber dari segala berkat dan karunia dan sebagian karunia itu diserahkan sebagai persembahan bagi Tuhan. Selanjutnya dikatakan, ajarlah kami untuk mengenal segala berkat yang tercurah dalam kehidupan kami, agar kami senantiasa bersyukur kepadaMu di dalam Nama AnakMu Yesus Kristus Tuhan kami. Doa ini menekankan bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh orang Kristen bersumber dari Allah dan hendaknya kita dipakai untuk mendukung penyebaran Injil di tengah-tengah dunia ini.
Selanjutnya menurut Pdt. Dr. Ulrich Beyer[9] dasar theologia persembahan adalah surat Rasul Paulus yang tertulis dalam 2 Kor. 9:6-10 dimana di katakan”Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis ”Ia membagibagikan  Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaranNya tetap untuk selama-lamanya. Ia menyediakan benih bagi penabur dan roti untuk dimakan. Ia juga akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah- buah kebenaranmu”. Ayat ini menekankan bahwa, seseorang yang terlalu sibuk menghitung-hitung bahkan menukarkan apa yang ia miliki dengan bilangan yang terkecil sebagai persembahannya, maka ia juga akan menuai sedikit dari berkat yang disediakan Allah.

Sejarah munculnya istilah “Persembahan” dimulai ketika “Kain dan Habil”  mempersembahkan persembahannya kepada Allah (Kej. 4:1-16). Kedua kakak beradik ini, melakukan pekerjaan yang berbeda, Kain menjadi petani dimana ia mengerjakan tanah, sedangkan Habil jadi gembala. Pada suatu peristiwa, keduanya membawa hasil dari pekerjaannya masing-masing untuk dipersembahkan sebagai persembahan kepada Allah. Kain membawa hasil pekerjaannya yakni hasil bumi, sedangkan Habil mempersembahkan anak sulung kambing dombanya. Allah tidak berkenan akan Kain dan persembahannya, tetapi Habil persembahannya dikenan Allah. Sebenarnya letak persoalannya bukan antara hasil tanah dan domba, namun pada keadaan batin mereka yang menyerahkannya. Habil mempersembahkan hasil ternaknya dengan penuh iman, sedangkan Kain tidak. Selanjutnya bila kita membaca Ibrani 11:4 jelas dikatakan” Karena iman Habil telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik daripada persembahan Kain. Adapun pertanda yang dapat kita fahami bahwa persembahan Habil diterima sedangkan persembahan Kain tidak adalah korban Habil asapnya membubung ke atas sedangkan persembahan Kain asapnya tidak naik (Bdk.Ibr 11:4). Karena persembahan Kain tidak berkenan kepada Allah, iapun menjadi iri dan membenci adiknya Habil sampai-sampai dengan tega membunuh adiknya itu.  Sebagai akibat atau hukuman Allah atas kejahatan Kain, iapun diusir dari hadapan Tuhan. Diusir dari daerah pertanian dan subur kepada kehidupan sebagai pengembara dan pelarian di Bumi.[10]

KitabPerjanjian Baru memberi pemahaman bahwa korban-korban yang dipersembahkan di dalam Perjanjian Lama adalah sebagai lambang yang menunjuk pada karya penebusan Yesus dari Nazaret sebagai Mesias. Yohanes pembabtis mengenali dan menyatakan bahwa Yesus sebagai Anak Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh.1:29-34). Ketika Yohanes membabtis Yesus di Sungai Yordan, Yohanes memperkenalkan Dia sebagai Anak Domba yang menghapus dosa dunia (Bdk.Yoh. 1:29).[11] Demikian juga, ketika Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawanya bagi banyak orang (Mark. 10:45). Yesus sendiri memahami peranNya sebagai gembala yang baik yang mengorbankan nyawa untuk domba-dombaNya (Yoh. 10:10,12).[12]  Pada bagian lain, para penulis Perjanjian Baru menafsirkan penyaliban Yesus Kristus,sebagai korban sekali untuk selama-lamanya,[13]  (Baca. Rom 5:6-11; Ibr. 10:10,12).
Jadi penderitaan Yesus sebagai korban menunjuk, kepada apa yang tertulis dalam Yesaya 53; 7[14] dimana , termuat suatu gagasan menghapus dosa seperti “Anak Domba’ yang dipersembahkan pada saat hari pendamaian.[15]













Sebelum memasuki tafsiran ini, ada baiknya penulis memberi informasi atau Sejarah Kitab Imamat menyangkut pengarang, waktu penulisan dan tujuan kitab Imamat.

Siapa pengarang kitab Imamat ini? Dan siapa pengarang Pentahteuh? Tidak mungkin membicarakan pertanyaan yang pertama jika yang kedua dilupakan. Sebab sama seperti yang dikatakan di atas, Kitab Imamat[16] berhubungan erat dengan kitab-kitab Pentahteuh yang lain, bahkan meneruskan riwayat dalam Kitab Keluaran.
Satu kesimpulan yang sering diterima oleh para ahli-ahli Perjanjian Lama ialah, Pentahteuh bukan ditulis seorang pribadi, tetapi disusun dari beberapa sumber. Pasal 25-31 dan 35-40 memberi informasi sekitar latar-belakang tentang Kitab Imamat.
Sulit untuk menentukan waktu penulisan kitab Imamat ini, namun didalam buku tafsiran kitab Imamat disebutkan, bahwa besar kemungkinan dokumen-dokumen yang terdapat dalam Kitab Imamat, kebanyakan disususn dalam tahun-tahun terakhir sebelum kerajaan Yehuda dikalahkan oleh tentera Babel dan para penduduk yang terkemuka dibuang oleh tentera Babel. Kemungkinan dokumen- dokumen yang terdapat dalam Kitab Imamat kebanyakan disusun dalam tahun atau selama pembuangan itu.

Berbicara mengenai maksud dan tujuan penulisan kitab Imamat, Robert.M.Paterson[17] mengatakan bahwa maksud dan tujuan penulisan kitab Imamat adalah, memperlihatkan kepada umat Israel bagaimana cara mereka hidup sebagai umat yang kudus dimana Tuhan masuk hubungan perjanjian dengan umat  serta dipanggil dan dipilih untuk melayani Dia. Hukum-hukum azasi yang terdapat dalam kitab ini, mencakup ibadah, kekudusan, kenajisan dan kelakuan etis dalam kehidupan sehari-hari. Hukum-hukum itu dikumpulkan supaya umat Israel tetap berhubungan baik dengan Tuhan dan mengadakan pendamaian jika mereka bersalah. Memang tujuan Kitab Imamat itu hanya merupakan sebagaian dari tujuan sumber P, bahkan sebagian dari tujuan Pentahteuh sebagai keseluruhan. Adapun tujuan kitab itu secara rinci sebagai berikut :
(1)   Meskipun hukum-hukum disisipkan dalam riwayat tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, tetapi perhatian penyusun sumber P tertarik pada masa sekarang dan masa depan.
(2)   Penyusunan sumber P bermaksud memperlihatkan bahwa Tuhan, Allah orang Israel, tidak kalah ketika Yerusalem dibinasakan oleh tentera Babel pada Tahun 587. Sebaliknya umatNya dipanggil untuk hidup menurut kehendakNya dan tidak mengabaikan dasar iman yang telah disampaikan kepada mereka.
Jadi dapat kita fahami bahwa maksud dan tujuan dari Kitab Imamat ialah, memperlihatkan kepada umat Israel tentang cara bagaimana seharusnya mereka hidup sebagai umat yang kudus[18]. Atau dengan kata lain sebagai umat yang dengannya Tuhan masuk hubungan perjanjian serta dipanggil untuk melayani Dia. Hukum-hukum asasi yang terdapat dalam kitab ini mencakup ibadah,kekudusan, kenajisan, perbedaan yang haram dan yang halal, dan kelakuan etis dalam kehidupan sehari-hari. Hukum – hukum itu dikumpulkan supaya umat Israel tetap berhubungan baik dengan Tuhan dan mengadakan pendamaian jika mereka bersalah. Pendamaian ini dipakai dengan mempersembahkan korban persembahan kepada Allah.
Mengenai korban-korban persembahan ini yang diuraikan dalam Kitab Imamat, yang dibagi dalam dua kategori :
a)      Korban yang dipersembahkan secara spontan pada Allah dalam pujian dan ucapan syukur atas berbagai berkat dan kebaikan yang diperoleh misalnya tepung atau bulir gandum dan tiga jenis korban pendamaian  (Im.2:1-16;3:1-17).
b)      Korban-korban yang dituntut oleh Jahwe pada saat ada dosa dalam masyarakat Israel misalnya korban bakaran,korban penghapus dosa, korban penebus salah (Im. 1:3-17; 4:1-5:13; 5:14 – 6:7). Korban sajian dan korban pendamaian adalah tanggapan ucapan syukur atas kebaikan Allah. Sementara korban-korban jenis lain sangat diperlukan untuk menebus atau menutupi dosa yang dilakukan, untuk melaksanakan pendamaian dengan Jahwe dan mengembalikan orang berdosa yang sudah bertobat kepada persekutuan dengan orang-orang lain dan dengan Allah.

Hukum-hukum dalam kitab Imamat tidak bisa dianggap sebagai jalan keselamatan, seakan-akan apabila taat kepada semua seluk beluk hukum-hukum itu menyanggupkan orang masuk hubungan yang benar dengan Allah dan mendapat hidup yang sungguh dan kekal. Kita mempercayai bahwa keselamatan hanya kita peroleh melalui Yesus Kristus (Bdk.Yoh.14:6). Jadi peraturan-peraturan yang terdapat dalam kitab Imamat mempunyai applikasi yang otomatis kepada kehidupan orang Kristen saat ini.[19]




Kalimat yang ada dalam ayat ini diambil dari Alkitab (LAI)
“Tuhan berfirman kepada Musa : Berbicaralah kepada Harun serta anak-anaknya dan kepada semua orang Israel dari umat Israel dan katakan kepada mereka” Siapapun dari umat Israel dan orang asing diantara orang Israel yang mempersembahkan persembahannya, baik berupa sesuatu persembahan nazar, maupun persembahan sukarela yang hendak dipersembahkan kepada Tuhan sebagai korban bakaran, maka supaya Tuhan berkenan akan kamu, haruslah persembahan itu tidak bercela dari lembu jantan, domba atau kambing. Segala yang bercacat badannya janganlah kamu persembahkan, karena dengan itu Tuhan tidak berkenan akan kamu. Juga apabila seseorang mempersembahkan kepada Tuhan korban keselamatan sebagai pembayar nazar khusus atau sebagai korban sukarela dari lembu atau kambing domba, maka korban itu haruslah yang tidak bercela, supaya Tuhan berkenan akan dia, janganlah badannya bercacat sedikitpun. Binatang yang buta atau patah tulang, yang luka atau yang berbisul, yang berkedal atau yang berkurap, semuanya itu janganlah kamu persembahkan kepada Tuhan dan binatang yang demikian janganlah kamu taruh sebagai korban api-apian bagi Tuhan ke atas mezbah. Tetapi seekor lembu atau domba yang terlalu panjang atau yang terlalu pendek anggotanya bolehlah kaupersembahkan sebagai korban sukarela tetapi sebagai korban nazar Tuhan tidak akan berkenan akan binatang itu. Tetapi binatang yang buah pelirnya terjepit, ditumbuk, direnggut atau dikarat, janganlah kamu persembahkan kepada Tuhan; janganlah kamu berbuat demikian di negerimu. Juga dari tangan orang asing janganlah kamu persembahkan sesuatu dari semuanya itu sebagai santapan Allahmu, karena semuanya itu telah rusak dan bercacat badannya Tuhan tidak akan berkenan akan kamu karena persembahan-persembahan itu”.

Agar lebih mudah dalam menfsirkan nas tafsiran ini, ada baiknya penulis mendaftarkan nama dan kata-kata kunci, yang dapat dikembangkan atau jabarkan. Kata-kata kunci yang dimaksud antara lain :
-          Ayat 17     , Musa
-          Ayat 18 Harun, persembahan nazar, persembahan sukarela, korban bakaran.
-          Ayat 19     ,  tidak bercela
-          Ayat 21, korban keselamatan, korban sukarela, badannya jangan bercacat.
-          Ayat 22, Binatang yang buta, patah tulang, luka atau berbisul, berkedal yang berkurap.
-          Ayat 24, Binatang yang buah pelirnya terjepit, ditumbuk atau direnggut atau dikerat.
Untuk mengawali tafsiran ini, penulis akan mulai dari beberapa nama yang pertama sekali menerima firman Tuhan, sehubungan dengan hal- hal yang harus diperhatikan dalam menyerahkan persembahan kepadaNya.




1)               Musa (ay 17)
Di dalam Kel.2:10[20], Musa disebut dengan “Mosyeh’, artinya sebab katanya, karena Aku telah menariknya (mesyitihu) dari air[21]. Mosyeh berasal dari bahasa Mesir dan sangat mungkin artinya ialah”anak” atau yang dilahirkan. Dengan membaca Kel. 6:16 diperoleh informasi bahwa Musa berasal dari suku Lewi atau keluarga Amram. Ia dibesarkan di Mesir, walaupun Alkitab tidak menceritakannya secara rinci (Bdk.Kel.2:1-10).
Prof.S.Wismoady Wahono[22] mengatakan bahwa cerita tentang bayi Musa telah dibubuhi legenda. Namun nama Musa atan Moses itu sendiri, ternyata sangat kena-mengena dengan keadaan dan kebiasan Mesir kuno.  Memang dalam Alkitab ditemukan informasi bahwa nama Musa, dihubungkan dengan kata Ibrani ‘MASHA’ yang artinya’menarik atau mengangkat’. Pada sisi yang lain, nama Musa juga kemungkinan besar,ada hubungannya  dengan akar kata  yang berarti ‘lahir”. Di negeri Mesir, Musa mendapat pendidikan , termasuk dalam segala hikmat Mesir”. Pengetahuan modern mengenai Mesir kuno memberikan latar-belakang  yang lengkap bagi kehidupan Musa. Ia sangat prihatin dengan nasib saudara-saudaranya sebangsa yang kerja paksa (Bdk. Kis 7:24). Karena keprihatinannya, ia membunuh seorang mandor Mesir (Kel 2:11-12). Tindakannya itu sampai kepada Firaun dan akhirnya iapun lari ke arah Timur menyeberangi perbatasan Midian (Baca.Kel.2:15).  Sebagai pemimpin, Musa  tidak hanya diperlengkapi secara teknis dengan pertumbuhannya dan pendidikannya di Mesir (Kis 7:22).[23]  Ia juga dibina menjadi pemimpin ulung berkat kesetiaannya mengikuti Allah. (Baca Ibr. 11:23-29). Orang seperti itulah yang dibangkitkan Allah untuk memimpin umatNya dari perhambaan menuju kelepasan, termasuk dalam hal mempersembahkan korban persembahan kepadaNya.
2)                   Harun (ay 18)
Di dalam nas ini dikatakan bahwa yang menjadi alamat pesan Allah adalah Musa dan diteruskan kepada Harun.  Di dalam buku Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, diperoleh informasi bahwa Harun adalah putra sulung Amran dan Yokhebed, tiga tahun lebih tua dari Musa saudaranya (Kel 6:20; 7:7).  Selanjutnya di dalam Kel. 6:16-20 dan 1 Taw 6:1-3 dikatakan bahwa Harun adalah keturunan ketiga dari Lewi. Ia mempunyai dua orang anak yakni, Nadab dan Abihu. Watak Harun tidak setegar watak Musa. Hal ini terlihat dalam nas ini , ketika Musa berada di Gunung Sinai, Ia menyerah lalu memenuhi desakan Israel untuk membuat ilah bagi mereka (Bd.Kel 32:5).[24] Harun agaknya tampil sebagai tokoh kelas dua, hidup dalam bayangan tokoh yang lebih besar yakni Musa.  Ia tidak mampu memberi pemahaman atau menolak permintaan Bangsa Israel untuk membentuk “Lembu Emas[25] sebagai ilah bagi mereka.
Pertama kali nama Harun muncul bertalian dengan panggilan Musa untuk pergi ke Mesir. Musa mengeluh karena ia tidak pandai berbicara (Baca.Kel. 4:10), dan Harun diperkenalkan sebagai orang yang pandai berbicara (Kej. 4:14).  Maka Harun bertugas sebagai nabi atau juru bicara dan melalui dia, Musa akan berbicara kepada Firaun (Bdk.Kej 7:1).

Untuk lebih mudah dalam mengerti sebutan ini, penulis terlebih dahulu menyuguhkan arti dari istilah “nazar”.  Nazar (euche) berarti cetusan hati yang tulus dan sungguh dari seorang nazir.  Nazar bisa juga difahami, berupa kemauan melakukan suatu tindakan atau menjauhkan diri dari suatu perbuatan yang tidak berkenan pada Allah. Mengenai korban nazar ini, hal ini sudah pernah disinggung di dalam Im. 7:16.[26]  Di dalam nas tafsiran ini, dikatakan bahwa persembahan yang akan dipersembahkan kepada Allah, berawal dari nazar. Bernazar atau tidak bukanlah dosa. Itu sebabnya, ketika seseorang hendak bernazar, haruslah dengan matang dan sungguh-sungguh memikirkannya (Bdk. Ams 20:25)[27] sebab, orang yang bernazar akan merasa bahagia bila dia dapat mewujudkan isi nazarnya. Sebaliknya, seseorang akan merasa berhutang bila ia tidak dapat dengan setia melaksanakan nazar yang telah diucapkannya (Bdk. Ayb. 22:27).[28] Artinya Allah akan menuntut supaya nazar yang diucapkan oleh orang tersebut untuk memenuhinya (Ul.23;21-23). Nazar tersebut tidak boleh ditebus dengan uang, yang diperoleh dengan jalan yang tidak halal, dan juga orang tidak boleh melepaskan diri dari nazarnya dengan mempersembahkan kepada Tuhan sesuatu yang bercacat (Bdk.Mal.1:14).  Jika seseorang telah dinazarkan kepada Tuhan, maka ia harus ditebus (Im.27). Di antara semua nazar, maka nazirlah yang mempunyai tempat khusus (Bdk.Bil 6:1-21). Perkataan nazir berarti mengasingkan diri untuk Tuhan. Siapa yang telah mengadakan nazar, harus membatasi dirinya dari hal- hal sebagai berikut: ia tidak boleh minum anggur atau minuman keras, tidak boleh makan buah anggur, tidak boleh pisau cukur lalu di atas kepalanya; tidak boleh dekat-dekat kepada orang mati, sekalipun mendekati mayat orang tuanya. Jika ia berdekatakan dengan seseorang yang telah meninggal dunia, maka ia harus mempersembahkan korban baru dan harus memulai kembali nazarnya yang telah batal itu. Arti semuanya ialah, bahwa orang nazir itu harus dipenuhi oleh Roh Allah saja, dan ia tidak boleh kena kepada yang nazis, dan perbuatan untuk tidak mencukur rambutnya itu adalah untuk menunjukkan pengkhususan hidupnya seluruhnya untuk Allah. Setelah hari nazirnya telah genap, lalu ia mempersembahkan korban sambil mencukur rambutnya dan membakarnya di atas mezbah.[29]
Melalui ayat delapan belas ini, kita juga disuguhkan suatu pemahaman, bahwa mempersembahkan ternak yang cacat menggantikan ternak yang sudah dinazarkan adalah perbuatan dosa dan mendatangkan kutuk Allah (Bdk.Mal.1:14).
Menurut “Philip J.King dan Lawrence E. Stager[30]  persembahan nazar juga dikenal sebagai ex voto yang mengandung makna harapan, permintaan mereka dikabulkan. Arca-arca atau patung nazar, yang terbuat dari logam, batu atau tanah liat, telah ditemukan dalam jumlah ratusan dan hampir dari semua periode arkheologis. Arca-arca nazar mungkin berbentuk manusia dan binatang. Banyak diantaranya yang disimpan di dalam sebuah lubang yang khusus (favissa), karena sifat keramat mereka membuatnya tidak boleh dibuang begitu saja.

Istilah berikut yang perlu dibahas dalam tafsiran ini adalah “ Persembahan sukarela”. Persembahan sukarela berarti dipersembahkan dengan hati yang tulus, mempersembahkan sesuatu yang terbaik dari kehidupannya. Di dalam hal ini tidak ada unsur  paksaan namun dari hati yang benar-benar bersih. Persembahan sukarela diserahkan sebagai korban bakaran kepada Allah. Istilah yang digunakan untuk korban bakaran ini adalah ”Olah”. Akar kata ini berhubungan dengan kata kerja naik. Jadi dari istilah tadi dapat difahami bahwa persembahan itu naik melalui asap kepada Allah. Bila kita membaca Kej. 8:20-21[31], kalimat menyerahkan persembahan bakaran secara harafiah, mengandung arti membuat persembahan bakaran itu naik dan dihirup oleh Allah.
Adapun jenis atau bahan yang digunakan adalah, lembu jantan, domba atau kambing. Kambing domba diperlukan hanya untuk korban bakaran, dan beberapa jenis lagi dipakai untuk menghapus dosa dan kesalahan (bdk. Kej. 4:3,14,23;5:15). Di dalam Yer. 46:20[32] kita menemukan informasi bahwa domba  adalah binatang yang  mempunyai bentuk tubuh yang elok yang dikiaskan kepada Mesir.

Selanjutnya korban yang dipersembahkan dalam nas tafsiran ini adalah korban keselamatan. Istilah yang digunakan untuk menyebut korban keselamatan ini dalam bahasa Ibrani disebut ”Zebakh syelamin”.[33]  Kata zebakh berarti”apa yang disembelih”. Di samping korban, kata itu bisa dipakai tentang penyembelihan ternak untuk makanan (Bdk. 1Sam.28:24) atau penyembelihan yang tidak bertanggung-jawab (Bdk.Yeh.34:3). Memang pada mulanya di antara orang-orang Israel semua penyembelihan adalah untuk korban, karena dilaksanakan di atas mezbah dan darahnya dipersembahkan kepada Allah. Kemudian pada waktu reformasi Raja Yosia dalam tahun 622, semua korban harus dipersembahkan di Bait Suci di Yerusalem, dan penyembelihan untuk makanan biasa, harus dibedakan dengan penyembelihan untuk korban.
Perlu ditambahkan bahwa istilah “Syelamin” adalah bentuk jamak dari suatu kata bahasa Ibrani yang berasal dari akar kata yang sama dengan “syalom” yang  menunjuk kepada suatu keaadaan, kelompok ide, termasuk kesempurnaan, kesehatan, kesejahteraan, damai, kedamaian dan persetujuan dua pihak.
Di dalam istilah syalom, terkandung juga suatu pengertian jauh dari suasana kacau atau keributan bahkan pertentangan (Bdk.1 Kor.14:33).[34]

Jenis korban keempat dalam nas tafsiran ini adalah “Korban sukarela”.  Korban sukarela identik dengan korban nazar.  Jenis korban sukarela, dipersembahkan berawal dari, pengenalan dan mengingat kebaikan Tuhan. Di dalam hal mengingat kebaikan itu, umat diminta untuk memperlihatkan pengorbanan yang harus dilakukan dengan mempersembahkan beberapa bentuk pengorbanan.
Menurut “Philip J. King dan Lawrence E. Stager”[35] ada ada tiga bentuk pengorbanan yang berfungsi sebagai persembahan kepada Allah.
Ø    Buah Sulung
Persembahan buah sulung adalah sebuah bentuk pengorbanan atau persembahan yang kuno dan umum. Istilah yang dipakai untuk buah sulung adalah “bikurim re,sit”. Buah sulung dari ternak ataupun dari tanaman. Buah sulung itu biasanya dipersembahkan dalam peristiwa perayaan mingguan (sabu,ot) dan perayaan panen. Di dalam Ulangan 26:8-10,[36] tertuang sebuah pengakuan iman yang diungkapkan oleh orang Israel ketika mempersembahkan buah sulung dari panen di Bait Suci. Tujuannya adalah untuk menyatakan, bahwa tanah dan apa yang dihasilkannya adalah milik Allah sebagai pencipta. Buah sulung dianggap hasil terbaik dari panen.  Persembahan seperti itu merupakan simbol rasa syukur dan ketergantungan si pemberi kepada Yahwe dan pada saat yang sama, buah sulung itu dianggap sebagai jaminan hasil panen di masa yang akan datang. Sebagian dari buah sulung itu diberikan kepada Imam untuk menghidupi mereka.
Ø    Anak Sulung
Anak sulung, buah sulung dan anak sulung hewan ternak, semuanya adalah milik Allah.  Selanjutnya di dalam “Kel.22:29[37] Istilah yang digunakan untuk menyebutkan  Yang sulung “ adalah “bekor”. Tidak disebutkan di sini tentang penebusan anak sulung dengan seekor domba atau sarana-sarana lainnya.  Kaum Lewi merupakan suatu kelompok, yang menggantikan anak sulung dan terbebaskan dari kewajiban mereka kepada Jahwe. “Martin North  mengatakan Jahwe menerima kaum Lewi sebagai kompensasi hak-Nya atas anak sulung. Tuhan berfirman kepada Musa ”Sesungguhnya, Aku mengambil orang Lewi dari antara orang Israel ganti semua anak sulung mereka,yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya orang Lewi menjadi kepanyaanKu, sebab Akulah yang empunya semua anak sulung. Pada waktu Aku membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, maka Aku menguduskan bagiMu semua anak sulung yang ada pada orang Israel, baik dari manusia maupun dari hewan; semuanya itu kepunyaanKu:”Akulah Tuhan” (Bil.3:11-13;8:15-16).
 Philip J. King dan Lawrence E. Stager[38] mengatakan, boleh jadi bahwa anak sulung aslinya tidak dimaksudkan untuk dikorbankan, tetapi untuk melayani dalam peran sebagai peran para imam sebelum keimaaman ditetapkan.
Ø    Pengorbanan Manusia
Agar lebih mudah mengerti dan memahami istilah pengorbanan manusia ini,  ada baiknya diawali dari pendapat seorang ahli yakni Roland de Vaux,[39]  ia meragukan pembacaan harafiah dari teks Alkitab dan berfikir bahwa anak sulung pastilah ditebus. Ia bertanya apakah memang pengorbanan anak sulung dipraktikkan secara teratur? Selanjutnya Roland menambahkan, Alkitab mencatat bahwa dua raja Yehuda yakni, Ahas (2 Raj 16:3)[40] dan Manasye (2 Raj. 21:6)[41] mempersembahkan anak laki-laki dan perempuan mereka sebagai korban manusia di “Tofet[42]  Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan untuk baal di lembah “Ben Himon”, untuk mempersembahkan anak laki-laki dan anak perempuan kepada Molokh sebagai korban dalam api (mulk).
Melalui kalimat yang tertulis dalam nas tafsiran ini, kita dapat memahami bahwa ada suatu syarat atau sistim persembahan yang akan disampaikan Allah. Untuk memahami hal ini, penulis mengutip pendapat dari beberapa ahli.
TH.C.Vriezen dalam bukunya “Agama Israel Kuno” mengatakan bahwa , ada beberapa istilah dan jenis persembahan yang dapat dipersembahkan kepada Allah. Istilah yang umum yang dipakai untuk persembahan ialah “ minkhah”. Istilah ini mengandung arti hadiah atau pemberian dan mencakup persembahan yang berdarah maupun tidak. Hal ini menekankan bahwa ada Pengorbanan.  Sehubungan dengan istilah pengorbanan, Ronald de Vaux dalam buku Philip J.King dan Lawrence E.Stager”[43] mengatakan bahwa pengorbanan merupakan suatu tindakan dengan banyak aspek.  Pengorbanan mempunyai banyak makna pada banyak tahapan, termasuk pemberian,komuni, dan pendamaian. Para nabi khususnya Amos,Yesaya dan Yeremia mengecam dengan keras peribadatan persembahan religius Israel sebagai pengganti tanggung – jawab komunitas :” Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepadaKu korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu (“minkhotekem”), Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak pandang.  Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir (Am.5:21-22,24; Yes 1:10-17;Yer 7:21-23).
Philip J.King dan Lawrence E.Stage[44] mengatakan mengenai sistim pengorbanan yang bermuara pada persembahan, dapat kita baca  di dalam Imamat 1-7.  Beliau menambahkan bahwa istilah yang dipakai untuk persembahan adalah “genus”, sedangkan untuk korban adalah “species”.  Persembahan yang akan dipersembahkan oleh bangsa Israel kepada Allah diserahkan sebagai korban bakaran. Istilah yang dipakai untuk menyebut korban bakaran adalah “Zebakh”. Persembahan ini, dibakar sebagian atau seluruhnya di atas altar (mezbah).
Di samping itu ada beberapa sebutan yang dipakai untuk menyebutkan korban bakaran ini antara lain  “ola,selamin,hatta,t dan asam”.  Ola” adalah turunan dari kata Ibrani”lh” yang artinya “membubung”. Digunakan dengan kata membubung, karena asapnya (baunya) yang membubung kepada yang ilahi yang menghirupnya.  Adapun jenis persembahan atau korban bakaran ini, bahannya adalah seekor burung jantan yang tidak bercela, lalu dibakar seluruhnya di atas altar, dipersembahkan dua kali sehari,pagi dan petang.
TH. C.Vriezen” menambahkan bahwa istilah korban “syelamin atau zebakh syelamin”, mengandung arti persembahan damai, korban keselamatan (Bdk.1 Sam.11:15).[45]  Persembahan ini terdiri dari binatang korban di mana hanya sebagian yang dibakar di atas altar, sisanya dimakan oleh pendonor dan keluarga pada sebuah pesta makan. (Baca.1 Sam 6:17).  Persembahan-persembahan yang demikian merupakan kesempatan untuk mengadakan perjamuan. antara Yahwe dan para imamNya. Para Imam mendapat bagian daging tertentu, sedangkan para penyembah (pembawa korban) menghabiskan sisanya dalam suatu perjamuan hikmat. Dengan demikian, ikatan antara Yahwe dengan penyembah diperkuat. Jelaslah bahwa persembahan semacam ini sesuai dengan upacara penobatan raja.[46] (Bdk. 1 Raj.1:25).
Dapat dibayangkan bahwa korban-korban semacam ini, juga berlangsung pada masa-masa raya yang lain lagi. Dalam bagian awal kitab Samuel (ps.1-3) tertulis tentang perjalanan tahunan ke Bait (Rumah Tuhan) di Silo. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pengertian, ternyata  korban dan doa memainkan peranan penting pada masa raya di Silo itu.  Sukar dipastikan, mana di antara ketiga masa raya resmi itu yang dimaksud; tetapi mungkin sekali masa raya musim gugur. Selain pesta di Silo itu, hanya disebut beberapa perayaan yang bersifat kekeluargaan, misalnya korban yang dipersembahkan oleh keluarga Daud di Betlehem menjelang bulan sabit (Baca.1 Sam.20:5 dyb).

Persembahan tidak bercacat’ ( ay 19-24)
Di dalam nas tafsiran ini, Allah mengingatkan bangsa Israel agar persembahan yang akan mereka tujukan kepada Allah janganlah bercacat. Adapun bentuk cacat yang dimaksud adalah antara lain: buta, patah tulang, luka,berbisul,berkedal atau yang berkurap (22).  Khusus untuk penyakit jenis’bisul” dalam bahasa Ibrani disebut “yabbelet”. Tradisi Yahudi menggunakan kata ini untuk hewan yang mempunyai kutil.[47]
Selanjutnya dikatakan bahwa domba yang terlalu panjang atau terlalu pendek boleh dipakai hanya untuk “persembahan sukarela” sebagai korban nazar tidak (23).  Kata “terlalu panjang” kita temukan juga dalam Im.21:18.[48] Dari hal ini dapat dimengerti bahwa ada ukuran yang telah ditentukan sebagai persembahan yang berkenan kepadaNya.
Selanjutnya dikatakan persembahan yang dipersembahkan itu janganlah “Buah pelirnya terjepit” (Bdk. 21:20).[49] Cacat demikian pada seekor hewan bahkan manusia, dianggap sangat parah, karena tidak dapat membuahkan anak.[50]
Dari syarat yang diberikan Allah dalam ayat ini dapat difahami, bahwa Allah tidak berkenan kepada persembahan yang cacat namun Ia menyukai persembahan yang terbaik (Bdk. Mal. 1:14).[51] Pada sisi yang lain dapat difahami bahwa, ketika seseorang benar-benar mau atau bersedia memberikan persembahan yang terbaik kepada Allah, maka tingkap-tingkap langit akan dibukakan kepadanya (Bdk. Kej. 7:11; 2 Raja 7:2).

Di dalam buku” Sejarah Kerajaan Allah[52] dikatakan, korban berarti persembahan. Manusia mempersembahkan sesuatu persembahan kepada Allah dengan maksud untuk memperoleh kemurahan hati Allah. Hal Ini dicapainya dengan membakar persembahannya di atas mezbah selaku lambang penyerahan yang sungguh-sungguh kepada Allah. Persembahan semacam ini terdapat pada semua bangsa dalam semua agama.
Korban ini dapat dibagi dua bagian yakni :
Pertama           :           korban pendamaian
Kedua             :           Korban pemujaan.
Golongan korban pertama terbagi lagi dalam korban penghapus dosa dan korban penebus salah. Golongan kedua dapat dibagi dalam korban bakaran, korban keselamatan dan korban sajian. Korban keselamatan terbagi lagi dalam tiga bagian yakni korban pujipujian, korban nazar dan korban sukarela. Korban pendamaian diberikan untuk meminta pendamaian bagi dosa. Dalam hal ini dimaksud dengan dosa-dosa tidak disengaja. Sedangkan untuk dosa-dosa yang disengaja, ketika korban itu diserahkan maka orang berdosa tersebut mengangkat tangan (tangan diangkat). Hal ini mengandung makna, bahwa di dalam pribadinya ada penyesalan dan pertobatan.[53]  Korban penghapus dosa dan korban penebus salah diserahkan dengan maksud, memperbaiki hubungan dengan Allah kembali dan untuk menebus salah. Korban pengahapus dosa ini dipersembahkan pada hari pendamaian besar untuk menebus dosa pada imam dan segenap Israel.
Hukum tentang korban bakaran terdapat dalam Imamat 1. Waktu mempersembahkan korban ini, orang yang berkorban harus meletakkan tangannya di atas kepala binatang korban sebagai tanda bahwa ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan sebagai gantinya binatang tersebut dibakar. Kemudian ia memotongnya dan menyiramkan darah binatang itu pada sekeliling mezbah.  Tiap pagi dan tiap malam korban bakaran semacam itu diberikan. Seterusnya dalam Imamat fasal 3 dan 7:11-12,28-34 diuraikan tentang syarat-syarat korban keselamatan. Cara mempersembahkan korban ini sama dengan korban bakaran, tetapi lemaknya yang dibakar. Bagian dada dan bahu binatang korban itu adalah untuk imam. Bagian-bagian ini ditunjukkan di hadapan hadirat Tuhan sebagai tanda, bahwa itu dipersembahkan untuk Tuhan. Sisa daging yang lain dimakan oleh orang-orang yang berkorban dan keluarganya dan kawan-kawannya pada suatu perjamuan sebagai lambang persekutuan dengan Allah. Selanjutnya korban pujipujian, yang dipersembahkan sebagai tanda terima-kasih atas karunia-karunia yang diterimanya dari Tuhan. Korban sukarela dipersembahkan dengan sukarela, jadi tidak didorong oleh sesuatu janji. Korban sajian terdiri dari tepung yang terbaik, dicampur dengan minyak, berupa roti tak beragi. Biasanya ini dipersembahkan sebagai korban tambahan pada korban bakaran dan korban sembelihan sebagai lambang persembahan hasil buni negeri itu kepada Tuhan selaku pemujaan. Untuk memahami atau melihat arti persembahan secara khusus, kita berangkat dari apa yang tertulis dalam Hosea 6:6 dimana dikatakan  Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan dan menyukai pengenalan akan Allah daripada korban-korban bakaran”.
Dr. A. de Kuiper dalam bukunya “Tafsiran Alkitab, Kitab Hosea” mengatakan dalam ayat ini terang terlihat bahwa Allah lebih menyukai kasih setia (Ibr,Khesed) daripada korban bakaran. Ia mau supaya Israel tetap setia dan tinggal dalam perjanjianNya. Allah menyatakan apa yang Ia sukai atau berkenan kepadaNya (Bdk. 1 Sam 15:22).[54]
Seluruh korban-korban ini adalah gambaran dari korban yang diberikan Kristus menebus dosa.[55] Yesus sendiri bukan menolak ibadah korban, tetapi merelatifkannya. Artinya merealisasikannya kepada kehidupan sehari-hari dan kepada kesetiaan akan perjanjian Tuhan. Yang ditolak adalah perasaan keamanan dan keyakinan palsu, yang timbul di tempat di mana ibadah dimutlakkan sebagai jaminan keselamatan. Seolah-olah kebaktian dapat mengerjakan perkenanan Allah. Padahal yang dituju ialah pengakuan akan perbuatan-perbuatan Allah dalam sejarah dan penempatan diri di atas dasar itu. Pertobatan yang sungguh-sungguh bukan penyesalan dari mulut saja atau ketaatan lahiriah yang diminta Allah. Yang perlu ialah cinta kasih dan pelaksanaan iman, yang operatif dalam praktek, mencegah malapetaka politik, ibadah korban tidak mencukupi, kalau tidak didahului dan disertai sikap berkorban.  (Bdk.Mark.10:45). Korban Kristus diterima sebagai korban penghapus dosa, yang berkenan kepada Allah. Dalam Matius 9:13 dikatakan “Karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”. Kematian dan pengorbananan Yesus Kristus, sekali untuk selamnya.[56] KematianNya telah dinubuatkan sejak PL (Bdk.Yes 53:7).[57]  PengorbananNya adalah untuk penebusan manusia (Baca.Luk 24:46). Di dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, mengatakan bahwa kematian Yesus menyatakan kerendahan hatiNya.[58] Hal ini Yesus lakukan   adalah      sebagai wujud nyata dari kasihnya agar manusia dilepaskan dari kuasa dosa dan maut (Rom. 6: 3-8; Gal 2:20).[59]
Oleh karena itu selaku orang-orang yang telah ditebus dan menghidupi karya pengorbanan dari Yesus, kita terpanggil untuk mempersembahkan seluruh totalitas kehidupan kita untuk keagungan-Nya.
                       



















Kini tiba saatnya bagi penulis untuk memaparkan atau menguraikan refleksi persembahan di tengah-tengah masa kini. Gereja telah lama melaksanakan persembahan di dalam ibadah atau kebaktian. Persembahan yang diberikan atau diserahkan berbentuk uang atau natura. Sehubungan dengan hal itu dapat di fahami, bahwa pelayanan di tengah-tengah gereja dapat berjalan dengan baik apabila didukung dengan dana, yang datangnya dari warga jemaat. Namun apabila diamati dengan teliti, ketika seseorang menyerahkan persembahannya untuk Tuhan, sering terperangkap kepada suatu sikap untuk memilih atau memberikan persembahan yang terkecil dari apa yang kita miliki. Bahkan lebih tragis lagi, seseorang bisa saja tergoda untuk menukarkan dari apa yang ada padanya dengan bilangan atau nilai yang terkecil sebelum mengikuti kebaktian di tengah-tengah gereja.
Berangkat dari istilah “Mandurung” dalam gereja HKBP, memang kadang kurang membuahkan dampak atau hasil yang positif, sebab dalam istilah mandurung, di dalam kata itu terkandung pengertian bahwa semua jenis persembahan (nilai besar atau kecil) boleh ikut di dalamnya.
Untuk menanggulangi atau mengantisifasi hal ini, para hamba Tuhan (Pelayan Gereja) terpanggil untuk memberikan pemahaman yang benar kepada jemaat. Perlu disampaikan bahkan ditegaskan, bahwa istilah mandurung jangan dipakai lagi dalam hal pemberian persembahan. Sebaiknya istilah yang kita gunakan adalah” Papungu atau pasahat pelean atau menyerahkan persembahan”. Sebutan papungu pelean atau menyerahkan persembahan mengandung arti dan makna yang dalam sebab di dalamnya terkandung suatu pengertian, persembahan yang diberikan oleh warga jemaat, didorong atau berangkat dari pegenalannya atas berkat yang ia terima dari Tuhan. Di samping itu pada saat menyerahkan persembahan satu hal yang tak boleh dilupakan yakni hendaknya dipersembahkan dengan sukarela serta di dalam kasih dan kemurahan hati (Bdk. Im.22:19; Mat.5:23-24).

Di dalam gereja HKBP ada beberapa istilah dan bentuk persembahan antara lain :

-                      Persembahan Mingguan.[61]
Persembahan ini mengandung arti persembahan yang diberikan pada saat mengikuti ibadah atau kebaktian di tengah – tengah gereja. Biasanya persembahan mingguan inilah yang digunakan untuk biaya operasional gereja setempat.


-                      Persembahan bulanan.
Jenis persembahan ini diberikan setiap bulannya oleh jemaat kepada gereja tujuannya adalah agar jemaat tidak terbebani dalam pemberiannya.

-                      Persembahan tahunan (Pelean taon).
Didalam buku “ Lahir, berakar dan bertumbuh di dalam Kristus” diuraikan  bahwa pada mulanya (1950-1960) iuran berbentuk natura yaitu berupa beras atau padi.  Kemudian nilai beras merosot maka bentuknya diganti menjadi “uang”. Mengenai jumlah nominal yang dibayar warga jemaat kepada gereja (Huria), biasanya disesuaikan dengan kemampuan atau keaadaan jemaat tersebut.

-                      Persembahan pribadi sebagai ucapan syukur.
Johanes Chrysostomus’[62] mengatakan warga jemaat sepatutnya menyerahkan persembahan berawal dari pengenalan akan kebaikan Tuhan yang dianugerahkan dalam kehidupannya. Persembahan ini layak diberikan oleh si kaya atau si miskin, tuan atau hamba. Persembahan ini juga berawal ketika seseorang benar-benar merasakan berkat Tuhan tercurah ke dalam kehidupannya, misalnya ia sembuh dari sakit, ulang tahun, anak lahir dan masih banyak motivasi yang lain.

-                      Persembahan kebaktian khusus
Hal ini dapat ditemukan misalnya pada saat acara memasuki rumah baru, acara pelayanan Perjamuan Kudus kepada jemaat sakit, acara kebaktian di wilayah atau sektor. Persembahan kebaktian khusus juga termasuk ketika kebaktian pernikahan dilaksanakan, Sakramen Perjamuan Kudus, kebaktian memasuki rumah baru, kebaktian perayaan ulang tahun dan perayaan ulang tahun pernikahan.

-                      Persembahan Kategorial .
Persembahan kategorial yakni, persembahan kebaktian Sekolah Minggu, remaja, pemuda/i, kaum Bapak, lansia, dan kaum ibu.

-                      Pesta-pesta Jemaat[63]
Salah satu pesta yang setiap tahun diadakan oleh jemaat HKBP adalah “Pesta Parolopolopon”.  Pesta ini dilaksanakan untuk memperingati ulang tahun kemadirian HKBP yang dirayakan pada setiap minggu pertama bulan Juli. Semua hasil pesta dikirimkan ke kantor pusat HKBP untuk digunakan sebagai pelayanan umum HKBP.
Pada tahun-tahun belakangan ini, hasil pesta parolopolopon digunakan untuk pembangunan umum HKBP, seperti gedung kantor pusat. Selain pesta peolopolopon ada juga pesta-pesta khusus jemaat yang digunakan untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan jemaat setempat.

Berbicara mengenai “Doa penyerahan persembahan”, bahwa sejak PL yang menjadi alamat dari persembahan itu adalah Allah.[64] Di dalam doa penyerahan persembahan tersebut di dalamnya harus disertai dengan ucapan syukur, agar berkenan atau diterima Allah (Baca.Maz. 50:8,14).[65] Di samping itu beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ketika menyerahkan persembahan yakni, tidak bercela (Im. 22:19), terbaik (Mal. 1:14), dipersembahkan dengan sukarela (Im. 22:19), dipersembahkan dengan benar (Mal. 3:3), dipersembahkan dengan kasih dan kemurahan hati (Mat. 5:23-24), dan dipersembahkan oleh iman (Ibr 5:1)[66]
Di dalam gereja (khusus HKBP) pada saat kebaktian atau ibadah selesai, dan jemaat telah menyerahkan persembahannya, maka di bacakanlah doa penutup[67]. Adapun isi doa tersebut sebagai berikut : “Bapa kami yang di Sorga kami mengaku bahwa Engkau adalah sumber dari segala berkat yang berlimpah dalam kehidupan kami masing-masing. Sebahagian dari karunia itu kami serahkan sebagai persembahan kepadaMu. Ajarlah kami untuk senantiasa mengucapkan terima-kasih kepadaMu di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, Juru Selamat kami.” Amin.
Penekanan doa ini adalah, agar setiap orang Kristen (Jemaat HKBP) benar-benar mengenal, menghitung dan mensyukuri segala berkat yang ia terima dari Allah dan selanjutnya bersedia mempersembahkan yang terbaik bagiNya sebagai jawaban atau resfon atas kasihNya. Di samping itu, musik juga memegang peran penting dalam hal penyerahan persembahan ( HKBP). Namun di gereja lain ada kalanya tidak begitu berperan. Dari fungsi musik seperti yang di sebutkan di atas, dapat difahami bahwa persembahan merupakan pengucapan syukur. Dan pengucapan syukur itu tidak terlepas dari pujipujian (nyanyian).[68]

Selanjutnya dalam tulisan ini, penulis juga membahas tentang persembahan kedua. Persembahan kedua ini biasanya disampaikan sesudah khotbah. Teknis pelaksanaannya, diserahkan ke depan altar atau di tempat duduk. Persembahan pertama biasanya dipakai untuk keperluan atau biaya operasional gereja, sedangkan persembahan sesudah khotbah diperuntukkan sebagai setoran ke Pusat.  Sejak Tahun 1970-1986, persembahan kedua ini diperuntukkan sebagai setoran ke Pusat, yang menjadi sumber keuangan Pusat.
Sadar atau tidak, dalam hal penyerahan atau penyetoran persembahan kedua ini, pada umumnya gereja HKBP di berbagai tempat tidak jujur. Hal ini terlihat, ketika Majelis Gereja membuat aturan bahkan kesepakatan seberapa besar (persen) yang akan disetorkan ke Pusat dari persembahan kedua tersebut. Setelah majelis sepakat, lalu ketetapan itu tidak dapat diganggu atau dirobah. Bagi jemaat tertentu, ada kalanya persembahan kedua itu diserahkan 10%,15% ,20% atau 25%.[70] Melalui hal dapat digarisbawahi, sebenarnya kejujuran jarang ditemukan  dalam hidup berjemaat.  Lebih menyedihkan lagi, ketika pelayan penuh waktu mencoba menegor sikap tersebut, dengan suara lantang dan wajah sinis, majelis akan berkata :”Aha huroha naung dibahen Pusat tu huria on, sada alamanak pe manang kalender ndang hea dilean?”  Pertanyaan inilah yang sering terdengar atau diucapkan oleh kebanyakan majelis gereja.[71]  Dan anehnya ketika pernyataan atau pertanyaan semacam ini disampaikan, para pelayan penuh waktu sepertinya kurang keberanian memberikan atau menyampaikan pemahaman yang sebenarnya tentang persembahan tersebut.
Berangkat dari isi doa ketika persembahan dipersembahkan kepada Tuhan, tentunya seluruh warga jemaat akan termotivasi untuk memberikan yang terbaik sebagai persembahannya kepada Tuhan. Selanjutnya para majelis tidak akan berani untuk mengutak-atik persembahan tersebut.

Pelean Na marboho adalah pengumpulan persembahan (kolecte) yang dilaksanakan pada minggu-minggu tertentu. Persembahan yang terkumpul dikhususkan untuk membantu unit-unit pelayanan di aras pusat HKBP. Jadwal pengumpulan pelean na marboho ini ditetapkan di dalam Almanak HKBP, misalnya pada setiap hari minggu peringatan turunnya RohKudus, persembahan kedua dikhususkan untuk Departemen Zending atau na marboho, diperuntukkan misalnya ke Lembaga – lembaga Sekolah Theologia, Dana Pensiun, dan lainnya.
Acara pengumpulan persembahan na marboho ini dalam ibadah Minggu di adakan sesudah khotbah dan biasanya jemaat memberikannya ke depan Altar (Pelean tu jolo). Tetapi sejak tahun 1970-an, banyak jemaat yang mengumpulkan persembahan menjadi tiga kali dalam ibadah minggu, meskipun hal itu tidak ada dalam aturan HKBP. Pengumpulan tiga kali persembahan adalah kebijaksanaan majelis jemaat setempat. Biasanya persembahan ketiga untuk pembangunan jemaat setempat, seperti pembangunan gedung gereja, perumahan para pelayan gereja (Full Time) dan lain-lain. Akibatnya persembahan pertama dan kedua dijalankan secara berturut menjelang khotbah dan kini disebut persembahan I-A dan I-B sementara persembahan sesudah khotbah disebut persembahan II.[73]

Di samping bertugas sebagai pelayan Firman, seorang pendeta juga terpanggil ikut serta memberikan persembahan kepada Tuhan. Persembahan ini dapat diberikan berbentuk, kolekte atau janji iman.[74] Hal ini sangat perlu mendapat perhatian yang serius dari seorang Pendeta. Seorang hamba Tuhan jangan terlalu sibuk menganjurkan atau menyuruh warga jemaat agar menyerahkan persembahannya, pada hal kita sediri lupa bahkan tidak pernah berperan serta di dalamnya.
Untuk itu seorang Pendeta (para pelayan Full Time) harus mau memberikan keteladanan di tengah-tengah jemaat yang dilayaninya dalam hal pemberian persembahan. Ketika jemaat melihat kita menghidupinya, tentunya mereka juga akan terpanggil untuk memberikan seuatu yang terbaik bagi Tuhan.
Persembahan yang dimaksud dapat juga diberikan ketika sebuah pesta diadakan di tengah-tengah gereja. Artinya para pelayan penuh waktu, jangan menjadi penonton setia, atau mencari-cari kesibukan yang lain agar tidak ikut di dalamnya. Berperan serta dalam memberi sumbangan melalui lelang yang diadakan misalnya, sangat perlu mendapat perhatian yang serius.

Sementara itu, pandangan Paulus tentang persembahan ia kutip dari apa yang tertulis dalam Roma 12 :1-2’[75] Tubuh itu adalah bait Allah dan alat yang dipakai oleh RohKudus. Allah hidup dan bekerja dalam tubuh manusia dan bekerja melalui tubuh tersebut. Untuk itu panggilan Paulus dalam ayat ini memberi pengertian atau panggilan kepada orang Kristen, untuk mengambil atau memakai tubuh tersebut untuk tugas-tugas atau pekerjaan yang digeluti. Artinya tubuh ini dipakai untuk melayani atau mengabdikan hidup seluruhnya kepada Allah. Hal itulah yang merupakan ibadah yang sejati kepada Allah.[76]
Hal senada juga dikatakan oleh “Dr.Th.Van den End” mengatakan, ajakan dan ajaran Paulus yang ini  dibukanya dengan berkata “ Saudara-saudara…aku menasihatkan kamu. Kata-kata pembukaan yang sama kita temukan juga dalam “1 Kor 10; 2 Kor.10:1, Ef.4:1. Sapaan saudara-saudara biasa dipakai Paulus bila mulai membicarakan perkara yang dianggapnya penting. Kata kerja Yunani sehubungan dengan ajakan ini adalah “parakalein” yang dapat diartikan dengan, memohon (2 Kor.12:8), mendorong untuk bertobat (Kis.2:40), dan menasihatkan  (1 Kor.1:10).  Seruan Paulus dilanjutkan dengan kalimat” supaya kamu mempersembahkan tubuhmu (Yun.“paristanai”) . Di sini pemakaiannya berkaitan dengan suasana lingkungan istana: menyediakan, mengabdikan diri kepada Raja. Sebaliknya di sini ‘paristanai, merupakan istilah peribadatan yang dipakai dalam lingkungan bait Allah.
Namun perlu dicermati, kalimat “mempersembahkan tubuh”, kalimat ini bukan berarti mengorbankan diri (bunuh diri) bukan pula diserahkan untuk dibunuh. Mempersembahkan tubuh menurut Paulus adalah, agar kehadiran orang Kristen di tengah-tengah dunia ini, pikiran, perkataan dan perbuatannya hendaknya menjadi kemuliaan bagiNya.
Pengertian “mempersembahkan” mengandung arti,  penyerahan secara total, seperti dalam uraian di atas jangan bercela. Oleh karena itu persembahan disebut juga sebagai persembahan hidup. Perkataan hidup menurut ”Dr.Th.Van Den end” harus benar-benar baru dan mau diperbaharui dan memperbaharui. [77]
Jadi persembahan yang hidup adalah penyerahan diri kita untuk menempuh kehidupan baru, menjauhi dosa dan menentang kuasa dosa itu dan berusaha hidup kudus. Istilah yang dipakai oleh Paulus untuk hidup kudus adalah” hagiasmos” (dari kata hagios= kudus) yang artinya pengudusan. Akhirnya Paulus menulis “itu adalah ibadahmu yang sejati”. Istilah yang digunakan untuk kata ibadah dalam bahasa Yunani yakni “logike latreia’ yang berarti “pengabdian”. Di dalam bahasa Ibrani, pengudusan diterjemahkan dengan “latreia, yaitu “abodah” (yang serumpun dengan Arab/Indonesia = ibadah).
Dave Hagelberg”,  mengatakan persembahan hidup bukanlah sesuatu yang hanya sekali saja dilakukan dalam proses pendewasaan Kristen.  Namun Orang Kristen harus hidup dalam ketaatan karena iman yang bertumbuh. Sama seperti penyerahan yang diuraikan dalam Roma 6, dimana  dikatakan anggota-anggota tubuh kita harus menjadi “Alat-alat kebenaran’. Di dalam Roma 12 :2 Paulus mengatakan, “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Ucapan yang disampaikan oleh rasul Paulus, bukanlah suatu ajakan agar orang percaya menjauhi dunia, dalam arti kenyataan jasmani. Yang dimaksud di sini bukan pula anjuran untuk “beraskese”.[78]  Secara positif, anjuran Paulus berbunyi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Kalimat ini mengandung makna, ada perubahan yang diharapkan dari orang-orang Kristen yakni perubahan hati, yang terwujud dalam seluruh sendi kehidupan.  Perubahan itu berlangsung oleh pembaharuan budi. Istilah dalam bahasa Yunani dipakai dengan kata ”nous” yang diterjemahkan” budi”.  Budi dipilih karena dalam hubungan ini memang yang dimaksud adalah perubahan kelakuan manusia, bukan hanya perubahan pikirannya saja. Pusat kemauan itu diperbaharui terlebih di dalam mengambil keputusan-keputusan yang menentukan tindakan kita (Bdk.Ams. 4:23). Ketika hati seseorang dibaharui, maka ia akan dapat membedakan manakah kehendak Allah. Kata kerja Yunani sehubungan dengan hal ini adalah ”dokimazein “ yang berarti  memeriksa, menguji.  Jadi dalam semua hal diperlukan pertimbangan yang matang sebelum membuat atau mengambil suatu keputusan. Paulus mengajak agar apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna menjadi prioritas kita.  Yang baik itu bukanlah suatu yang abstrak,tetapi yang baik itu menyatakan diri dalam pergaulan antara seorang percaya dengan Allah. Hal ini merupakan bagian dari pengertian ucapan Yesus dalam Mark.12:30.[79] Yang baik dan yang berkenan itu bukanlah sesuatu yang dapat kita jangkau, yang dapat kita anggap sebagai (sudah) terlaksana (Bdk. Mark. 10:20). Tetapi kesempurnaanya merupakan tujuan yang selalu harus kita kejar. [80]























Setelah menulis dan memahami uraian dari masing-masing pokok bahasan, mulai dari Bab I sampai Bab IV, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.                  Persembahan merupakan jawaban atau tindakan yang dilakukan oleh orang-orang percaya sebagai resfon manusia terhadap pelayanan kasih Allah. Memberi persembahan kepada Allah berarti memberi sesuatu kepada Allah, baik berupa uang, harta, tubuh maupun semua aspek kehidupan, sebagai penyataan penyembahan kepadaNya. Pemberian persembahan tersebut mencerminkan penghayatan umat terhadap ibadah atau penghayatan atas persekutuan umat di hadapan Allah. Persembahan pada hakekatnya mengandung makna yakni untuk menyenangkan hati Allah. Persembahan Kristen juga adalah partisipasi orang Kristen dalam pelayanan Kristus. Memberi persembahan kepada Allah berarti memberi sesuatu kepada Allah, baik berupa uang,harta, tubuh maupun semua aspek kehidupan, atas kehidupan,pemeliharaan atau kecukupan yang diberikanNya kepada setiap orang (Baca.2 Kor.9:12a).
2.                  Melalui nas tafsiran yang tertuang dalam makalah ini, penulis memetik beberapa kesimpulan yang perlu mendapat perhatian dari selaku orang Kristen yakni:
v    Ada beberapa jenis persembahan yang dipersembahkan kepada Allah, yakni persembahan nazar,sukarela dan korban keselamatan. Satu hal yang perlu mendapat perhatian ketika menyerahkan persembahan tersebut adalah tidak bercacat. Kalimat ini menandung arti bahwa orang yang mempercayai Allah sebagai sumber segalaberkat dalam kehidupannya harus berusaha memperikan yang terbaik dari miliknya.
v    Paulus menekankan bahwa persembahan yang benar adalah ketika orang-orang percaya hidup sebagai orang-orang yang benar-benar mencerminkan hidup yang berkenan kepada Allah. Orang Kristen harus berani tampil beda dalamkehidupannya dalam perkataan maupun peruatannya.
v    Persembahan terbesar adalah disaat Yesus Kristus bersedia mengorbankan diriNya untuk menebus umat manusia dari dosa. Ia rela mati untuk kelepasan kita (Yoh 3:16).Inilah pengorbanan yang terbesar yang telah dinubuatkan sejak PL.
3.         Bila diperhadapkan dengan kehidupan kekristenan saat ini, melalui nas tafsiran di atas, orang kristen diingatkan untuk memberikan atau mempersembahkan yang terbaik kepada Allah sebagai resfon atas kasih yang dilimpahkanNya. Dalam hal persembahan ini sangat diperlukan kejujuran. Kita diingatkan untuk mencoba menghitung segala berkat yang dilimpahkan oleh Allah kepada kita dan meresfoninya dengan cara memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki.
4.                  Pendeta tidak terlepas dari hal persembahan. Artinya seorang pendeta tidak hanya sibuk menganjurkan warganya agar memberi persembahan kepada Tuhan, namun ia sendiri harus benar-benar mengaktualisasikannya dalam kehidupan dan pelayanannya (Bdk.1 Kor.9:27).
5.                  Berusaha hidup jujur dalam hal pengelolaan keuangan (persembahan) jemaat, sangat perlu mendapat perhatian yang serius dari para Majelis gereja. Artinya tidak mencoba untuk mengutak-atik persembahan yang telah diberikan jemaat.

Berdasarkan uraian-uraian di dalam tulisan ini, maka penulis mencoba memberikan saran-saran sebagai berikut :
v    Melalui tulisan ini diharapkan warga jemaat dan seluruh pelayan benar-benar memahami bahwa persembahan hendaknya benar-benar diaktualisasikan di tengah-tengah gereja. Untuk itu setiap warga jemaat dan pelayan di tengah-tengah gereja, hendaknya semakin serius menghidupinya. Seorang pendeta hendaknya tidak pernah ragu untuk memberikan pemahaman yang sebenarnya tentang arti dan makna persembahan, sehingga warga jemaat termotivasi memberikan yang terbaik dari apa yang dimilikinya.
v    Dalam hal memotivasi atau memberikan pemahaman yang konkrit kepada warga jemaat perihal persembahan, seorang hamba Tuhan hendaknya benar-benar dibekali dengan Firman Tuhan. Tidak hanya itu, dari seorang pendeta juga harus mampu memberikan keteladanan kepada jemaatnya.
v    Khusus kepada jemaat HKBP Buntu Raja dan HKBP Sitanggor, setelah melihat,mengamati dan mendengar informasi dari Majelis Gereja, warga jemaat sangat perlu mendapat pencerahan atau informasi perihal persembahan, agar warga jemaat benar-benar mengenal dan mensyukuri segala berkat yang tercurah dalam kehidupannya.


.. xiv


[1] HKBP,  Buku Ende, (Jakarta: LAI, 2003)
[2] Ladestam Sinaga, Menjejeri Langkah Yesus, (Malang: Gandum Mas 1995), hal. 34-36
[3] G.C van Niftrik, B.J Boland,  Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal. 243
[4] Warga jemaat berkewajiban memikirkan segala kebutuhan di jemaat dengan mempersembahkan diri sesuai dengan talenta yang diberikan Tuhan kepadanya maupun melalui penyampaian berbagai persembahan dari hati yang tulus dan penuh sukacita”.
[5] J.R Hutauruk, Lahir, berakar dan bertumbuh di dalam Kristus,  (Pearaja: Kantor Pusat HKBP, 2011), hal.75-76
[6] “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”.
[7] Istilah dikhususkan dalam bahasa Ibrani dipakai dengan istilah’ khe,rem. Kata ini bersifat teknis menunjuk kepada apa yang harus diserahkan secara mutlak kepada Allah.
[8] HKBP, Agenda (Pearaja: Kantor Pusat HKBP, 2004 ), hal. 5
[9] Ulrich Beyer, Memberi Dengan Sukacita, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011),  hal. 89-90
[10] C.Barth,  Teologi PL.I (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988), hal. 79.
[11] C. Barth,  Teologi PL 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988 ), hal. 424-425
[12] Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh, membinasakan; Aku datng, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari; sehingga serigala itu menerkam mencerai-beraikan domba-domba itu.
[13] Echafacs berarti kematian sekali untuk selama-lamanya.
[14] Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutNya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu dan di depan orang- orang yang menggunting bulunya ia tidak membuka mulutnya.
[15] Donald Guthri, Teologi PB 2 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hal. 70-71
[16] Robert M.Paterson,  Tafsiran Kitab Imamat  (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), hal. 7-15
[17] Robert. hal 75
[18] Istilah yang dipakai untuk “kudus” adalah qadesy (Ibrani), hagios (Yunani). Kedua istilah ini mengandung arti, terpisah (dikhususkan).
[19] Robert, hal. 90
[20] “ Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya :” Karena aku telah menariknya dari air”.
[21] J.D. Douglash, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, (Jakarta: YKBK, 1998), hal. 102
[22] Wahono Wismoady,  Di sini Kutemukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990), hal. 102
[23] “ Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya”.
[24] “ Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya :” Besok hari raya bagi Tuhan”.
[25] Di sebelah baratdaya Gosyen ( daerah Tumilat* Gosyen) di Propinsi ke – 10 Mesir Bawah, disebut “Lembu Hitam”. Di Mesir, lembu jantan atau anak lembu menjadi lambing kesuburan di dalam alam dan lambing kekuatan ragawi. Namun di Kanaan lembu jantan atau anak lembu menjadi binatang Baal atau Hadad, dewa- dewa angin tofan, kesuburan serta tumbuh-tumbuhan. Bagaimanapun  juga, pemujaan anak lembu itu berarti pengurangan hak daulat Allah Israel (Bdk.”Hari Raya bagi Tuhan” (Kel 32:5).
[26] “ Jikalau korban sembelihan yang dipersembahkan itu merupakan korban nazar atau korban sukarela, haruslah itu dimakan pada hari mempersembahkannya dan yang selebihnya boleh juga dimakan pada keesokan harinya”.
[27] Suatu jerat bagi manusia ialah kalau ia tanpa berfikir mengatkan “ kudus” dan baru menimbang-nimbang sesudah bernazar.
[28] Jikalau engkau berdoa kepadaNya, Ia akan mengabulkan doamu, dan engkau akan membayar nazarmu”
[29] F.L.Baker, Sejarah Kerajaan Allah, (Jakarta: YKBK, 1999),  hal. 233 - 234
[30] Philip J. King & Lawrence E. Stager,  Kehidupan Orang Israel Alkitabiah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), hal. 402
[31] Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah Tuhan dalam hatinya,” Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat sejak kecilnya dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah kulakukan”.
[32] “ Mesir dikiaskan pada lembu muda yang elok”
[33] Robert, hal. 54
[34] “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera”.
[35]  Philip, hal. 405
[36] “Lalu Tuhan membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta muzizat. Ia membawa kami ke tempat ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah kauberikan kepadaku ya Tuhan”.
[37] “ Janganlah lalai mempersembahkan hasil gandummu dan hasil anggurmu. Yang sulung dari anakmu laki-laki haruslah kau persembahkan kepada-Ku”.
[38] Wahono, hal. 96
[39] Roland de Vaux,  Studies in old Testamen Sacrifice, (Minneapolis: Publishing House),  hal. 71
[40] “ Tetapi ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel, bahkan dia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau Tuhan dari depan orang Israel.
[41] “ Bahkan, ia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, melakukan ramal dan telaah, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh peramal. Ia melakukan banyak yang jahat di mata Tuhan”.
[42] “Tofet” adalah sebuah bukit pengorbanan di lembah Himon, tidak jauh di luar kota Yerusalem; di situ anak-anak dikorbankan kepada dewa Molkh. Yeremia menubuatkan bahwa tempat ini akan dipakai untuk kuburan (Yer. 7:32). Tofet berasal dari bahasa “Aram’ dengan akar kata”tpt” artinya tempat perapian. Hal ini cocok dengan kenyataan bahwa korban-korban untuk Molokh dibakar di perapian ( Bdk. 2 Raj 23:10).
[43] Philip,  hal. 111
[44] Ibid, hal. 234
[45] “ Lalu pergilah seluruh bangsa itu ke Gilgal dan menjadikan Saul raja di sana di hadapan Tuhan di Gilgal, dan mereka mempersembahkan di sana korban keselamatan di hadapan Tuhan, dan bersukarialah di sana Saul dan semua orang Israel dengan sangat”.
[46] Raja dalam bahasa Ibrani,”melek dan Yunani ‘basileus”. Basileus berarti penguasa pewaris pemerintah yang syah, pembimbing kehidupan rakyatnya melalui keadilan atau ketidakadilan.
[47] Douglash, hal. 235
[48] “ Karena setiap orang yang bercacat badannya tidak boleh datang mendekat; orang buta, orang timpang, orang yang bercacat mukanya, orang yang terlalu panjang anggotanya”.
[49] “ Orang yang berbongkol atau yang kerdil badannya atau yang bular matanya, orang yang berkedal atau berkurap atau yang rusak buah pelirnya”.
[50] Robert, hal. 102
[51] “ Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini raja yang besar firman Tuhan semesta alam, dan namaku ditakuti di antara bangsa-bangsa”.
[52] Sejarah K.A Karangan Dr.F.L.Baker hal 367-369
[53] “ Dalam PL. istilah yang digunakan untuk pertobatan adalah “ syuv” (Ibrani) yang mengandung arti, berputar, berbalik, kembali. Sedangkan dalam PB, istilah yang digunakan untuk tobat adalah “ metanoia” yang berarti memperbaiki kesalahan”.
[54] “ Sesungguhnya mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan.
[55] Yoh.3:16’ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini kemudian Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
[56] Echafacs artinya ketian sekali untuk selamanya.
[57] ‘ Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.
[58] ‘ Ayat 7-8’ Melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.
[59] “ Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku”.
[60] Hutauruk, hal. 224-225
[61] Ibid
[62] Bayer Ulrich, Memberi dengan Suka Cita, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hal. 109
[63] Hutauruk, hal, 225
[64] “ Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan. Habil juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya, maka Tuhan mengindahkan Habil dan korban persembahannya itu
[65] “ Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapanKu?. Perembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada yang mahatinggi.
[66] ----------,  Buku Pedoman Pokok-pokok Isi Alkitab. (Jakarta: Yayasan Kalam Hidup),  hal. 333.
[67] Agenda, hal. 5
[68] J.L.Ch.Abineno,  Gereja Dan Ibadah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), hal. 23-24.
[69] Hutauruk, hal. 224 - 229
58.Berangkat dari pengalaman dan pengamatan penulis “Sikripsi” ini.

[72]  Hutauruk,  hal. 224-228.
[73] Hutauruk,  hal. 224-228
[74] Ctt. Janji iman atau nazar sudah dilaksanakan oleh beberapa anggota jemaat terlebih di kota – kota besar. Hal ini bisa dalam bentuk kolecte atau perpuluhan.
[75] Karena itu saudara-saudara demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
[76] William Barclay , Pemahaman Alkitab,  Kitab Roma. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990), hal.134
[77] Van den End,  Taf.Alkitab Surat Rom (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), hal.362 – 369”
[78] Askese berasal dari bahasa Yunani : askeo (berusaha), askese (latihan). Pada mulanya istilah ini dipergunakan dalam filsafat Stoa untuk menunjukkan praktek-praktek memerangi kejahatan dan mengejar kebajikan.
[79] “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”
[80] Van den End,  hal. 234-235”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar