Kamis, 31 Januari 2013

Kebutuhan Dasar Untuk Perkembangan Kepribadian Anak Usia 6 – 12 Tahun



 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Masalah
Orangtua dalam mengasuh, membesarkan dan mendidik anaknya tidak jarang melakukan tindakan yang keliru. Menurut P. Hutapea, ada tiga hal yang dapat disebutkan sebagai  pendekatan yang keliru dari orangtua dalam mengasuh, membesarkan dan mendidik anaknya, yaitu:[1]
  1. Over-indulgence (membela secara berlebihan) atas kesalahan perilaku anak. Akibatnya anak menganggap semua perilakunya benar.
  2. Over-protection (menjaga anak secara berlebihan). Artinya orangtua tidak memberikan keleluasaan kepada anak dalam mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan tugas perkembangannya. Akibatnya anak tidak bertanggung jawab untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dapat dilakukan.
  3. Inconsistent (tidak konsisten) dalam menanamkan nilai. Artinya orangtua tidak punya pendirian yang tetap dalam mengajarkan nilai-nilai kehidupan terhadap anak. Kadang-kadang satu saat nilai diajarkan dengan tegas. Saat yang lain, nilai itu diabaikan ataupun dilanggar. Akibatnya anak mengalami kebingungan dalam mewujudkan nilai-nilai dalam kehidupannya.
Mungkin para orangtua tidak menyadari apa dampak dari cara pendekatan yang dilakukannya terhadap anak. Cara pendekatan di atas merupakan tindakan yang dapat menghambat perkembangan kepribadian anak.
Proses perkembangan kepribadian anak berlangsung di dalam cara mengasuh, membesarkan dan mendidik anak. Berangkat dari proses perkembangan anak, penulis beranggapan bahwa kepribadian seorang anak adalah sesuatu yang bertumbuh dan berkembang. Dengan demikian, jika kepribadian itu adalah sesuatu yang bertumbuh dan berkembang maka ada yang menjadi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak tersebut. Dalam tulisan ini kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak itu adalah:
1) Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisik anak.
2) Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan emosional anak. 
3) Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan spiritual anak.
Dengan adanya kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak, maka perkembangan kepribadian anak ditentukan oleh terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar tersebut. Seorang anak yang berusia 6 – 12 tahun belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhannya, karena ketergantungannya kepada keluarga. Dengan demikian, terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar tersebut ditentukan oleh siapa yang memenuhi kebutuhan tersebut, bilamana kebutuhan itu dipenuhi dan bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut. Pihak yang pertama sekali bertanggung jawab terhadap terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar tersebut adalah orangtua, gereja, sekolah dan lingkungan sosial anak. Gereja, sekolah dan lingkungan sosial anak berperan (ambil bagian/ bukan penanggung jawab penuh) untuk menolong orangtua. Dengan demikian pada hakikatnya yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar anak tersebut adalah orangtua. Hal ini terjadi karena di dalam pengasuhan orangtualah pertama sekali terjadi perkembangan kepribadian anak berlangsung.
Anak yang mendapatkan pengasuhan optimal dari kedua orangtuanya, cenderung akan bertumbuh dan berkembang secara lebih baik. Itu juga merupakan salah satu Hak Dasar Anak, yaitu hak untuk hidup layak serta bertumbuh dan berkembang. Menurut Mary Go Setiawani,[2] anak memiliki hak untuk menikmati standar hidup yang lebih baik, mendapatkan asupan gizi yang seimbang, air bersih, tempat tinggal yang aman dan nyaman, mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. Anak juga berhak untuk memperoleh pendidikan yang memadai, serta mendapat kesempatan untuk bermain, dan mendapat kesempatan untuk berkreasi dan beristirahat.[3]
Dalam tulisan ini, penulis memaparkan apa saja yang menjadi kebutuhan dasar anak dalam perkembangan kepribadiannya. Penulis ingin mengembangkan topik ini dengan menetapkan batasan usia anak serta kebutuhan dasar apa yang dibutuhkan anak pada usia tersebut untuk perkembangan kepribadiannya. Batasan usia yang ditetapkan penulis adalah usia 6 – 12 tahun.
Alasan menetapkan usia 6 – 12 tahun adalah karena pada usia ini ditentukan bagaimana perkembangan manusia itu. Usia 6 – 12 tahun adalah dasar untuk perkembangan kepribadian anak. Elizabeth B. Hurlock mengatakan bahwa usia 6 – 12 tahun adalah usia kelompok (akhir masa kanak-kanak).[4] Tahap usia 6 – 12 tahun adalah sebagai dasar dari periode kehidupan manusia. Anggapan bahwa pola kepribadian dasar seseorang juga terbentuk pada tahap usia ini. Dengan demikian masa usia kelompok ini adalah masa bertumbuh kembangnya segenap aspek dan fungsi yang ada dalam diri seseorang. Pada tahap usia ini, anak mulai mengalihkan perhatian dan hubungan intim dalam keluarga ke kerjasama antar teman. Pada tahap usia ini, anak mulai belajar ketrampilan fisik, membentuk sikap sehat, belajar bergaul, mengalami pembentukan hati nurani dan nilai moral, membentuk ketrampilan dasar, memperoleh kebebasan pribadi, dll.[5] Untuk itulah penulis mengangkat topik ini dengan judul:
Kebutuhan Dasar Untuk Perkembangan Kepribadian Anak Usia 6 – 12 Tahun

1.2.  Rumusan Masalah
Penulis merumuskan masalah tersebut sebagai berikut:
  1. Semakin banyaknya ragam atau bentuk kebutuhan manusia, maka kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun juga semakin banyak. Dengan demikian yang menjadi pertanyaan adalah: Apa itu kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun?
  2. Jika ada kebutuhan dasar tentu ada yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Dengan demikian yang menjadi pertanyaan adalah: Siapa yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadiaan anak usia 6 – 12 tahun?
  3. Jika ada kebutuhan dan ada yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tentu ada metode atau cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan demikian yang menjadi pertanyaan adalah: Bagaimana cara memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 -12 tahun?
1.3.  Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan dan mendalami kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui apa kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun.
  2. Mengetahui siapa yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun.
  3. Mengetahui bagaimana cara memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun. 

1.4.   Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini, penulis mengharapkan supaya memperoleh pemahaman yang baik tentang mengasuh, membesarkan dan mendidik anak, yaitu:
  1. Mengetahui apa saja yang menjadi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun.
  2. Orangtua dapat mengasuh, membesarkan dan mendidik anak, tanpa menghilangkan apa yang menjadi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun.
 

1.5.   Skopus Penelitian
Skopus dari penelitian ini adalah kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun dari:
1. Sudut perkembangan fisik anak
2. Sudut perkembangan emosional anak
3. Sudut perkembangan spiritual anak.

1.6.  Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pemahaman terhadap tulisan ini, maka penulis membuat sistematika, sebagai berikut:
1.  Bab I yaitu pendahuluan yang memaparkan alasan memilih judul,   rumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, skopus penelitian dan sistematika penulisan.
2.   Bab II yaitu kerangka teori yang memaparkan landasan teologi terhadap topik, dan beberapa pengertian.
3.   Bab III yang berisi metodologi penelitian yang memaparkan alasan memilih metode studi kepustakaan, faktor-faktor penting dan prinsip-prinsip yang digunakan dalam penelitian, ciri pertumbuhan dan perkembangan anak usia 6 – 12 tahun.
4.   Bab IV yaitu pembahasan yang memaparkan kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun (1. kebutuhan perkembangan fisik, 2. kebutuhan perkembangan emosional dan 3. kebutuhan perkembangan spiritual), peran gereja dalam menolong orangtua, orangtua dan kebutuhan anak.
5.   Bab V adalah kesimpulan.




BAB II
KERANGKA TEORI

2.1. Landasan Teologi
            A. Alkitab
            Dalam landasan teologi tentang kebutuhan dasar dan perkembangan kepribadian, yang diuraikan bukan penganalisaan terhadap teks-teks Alkitab yang berbicara tentang hal itu. Uraian landasan teologi ini, hanya memperlihatkan bahwa manusia (anak-anak) yang diciptakan Tuhan itu adalah manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan termasuk memiliki kebutuhan dasar untuk perkembangannya. Landasan teologi ini juga memperlihatkan bahwa Tuhan melalui firmanNya di dalam Alkitab menginginkan, bahkan mengharuskan supaya manusia (anak-anak) itu berkembang, (1 Kor. 13:11).[6] Perkembangan yang diinginkan adalah perkembangan di dalam fisik ataupun psikis[7] (perkembangan kepribadian). Perkembangan itu berlangsung di dalam cara memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dasar manusia (anak-anak) itu.
            Dengan tujuan seperti di atas, di sini akan dipaparkan kesaksian Alkitab mengenai kebutuhan dan perkembangan manusia.

            I. Perjanjian Lama
            Manusia yang diceritakan di dalam Alkitab adalah manusia yang mempunyai berbagai kebutuhan hidup. Hal ini dapat dilihat ketika Tuhan Allah menciptakan manusia. Setelah menciptakan manusia, Tuhan Allah tidak membiarkan manusia itu sendiri. Tuhan Allah memenuhi apa yang menjadi kebutuhan manusia itu untuk perkembangannya. Hal itu dilakukan Tuhan Allah dengan menempatkan manusia itu di taman Eden (Kej. 1:29-30; Kej. 2:15-16).[8] Hal inilah yang bagi umat Israel disebut dengan pemeliharaan Tuhan Allah terhadap ciptaanNya. Pemeliharaan itu nyata di dalam perkembangan umat manusia.
            Perkembangan umat manusia yang dimasudkan adalah kemajuan manusia di berbagai lapangan kehidupan. Jumlah manusia yang mula-mula hanya sepasang  (laki-laki dan perempuan) menjadi semakin banyak. Manusia yang dulunya hanya berada di taman Eden, telah menempati berbagai daerah demi daerah dan benua demi benua, sehingga ruang hidupnya semakin luas. Manusia berkembang dalam mempelajari bagaimana mempergunakan kekayaan alam dan bagaimana menghindarkan diri dari bahaya. Manusia mengalami perkembangan di dalam kehidupan sosial-masyarakatnya. Hal ini dapat terlihat melalui terciptanya struktur di dalam kehidupan manusia itu. Manusia belajar hidup di dalam keluarga, kelompok atau klan. Manusia mengalami perkembangan di dalam kebudayaan, seperti di bidang kesenian, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, khususnya penulisan sejarah.
Kitab-kitab Perjanjian Lama menyebut semuanya dan menempatkannya di dalam hubungan penciptaan dunia oleh Tuhan Allah yang memelihara makhluknya sedemikian sehingga perkembangan itu dimungkinkan. Masih banyak perkembangan yang dialami manusia di dalam pemeliharaan Tuhan Allah yang tidak dapat disebutkan di dalam tulisan ini. Tetapi dengan informasi di atas, dengan singkat dapat dikatakan bahwa manusia itu dibolehkan berkembang dan maju di segala lapangan kehidupannya.[9] Perkembangan yang dialami manusia itu bermula di dalam keluarga yang dibentuk oleh manusia sendiri.
            Di dalam Perjanjian Lama, keluarga adalah sebuah unit terkecil dari masyarakat. Keluarga merupakan tempat di mana setiap individu (anggota keluarga) menemukan identitasnya. Keluarga adalah penyokong setiap anggota keluarga di bidang ekonomi, sosial dan spiritual. Francis Bridger mendefenisikan keluarga sebagai berikut: “In biblical societies (especially Israel) the family was a self-supporting economic, social and spiritual unit in itself.” [10]
Dalam Perjanjian Lama, satu keluarga terdiri dari orangtua (ayah dan ibu), anak laki-laki, anak perempuan, hamba laki-laki dan hamba perempuan (bnd. Ul. 16:11; 14).[11] Di dalam keluarga orang Israel, orangtua terpanggil untuk membesarkan, mengasuh dan mendidik anaknya (Ams. 22:6).[12] Jadi dapat dikatakan orangtua ada di dunia ini untuk mengasuh, membesarkan dan mendidik anak-anaknya (Mzm. 78:5-8).[13]  Dengan adanya panggilan terhadap orangtua, maka orangtua mempunyai beberapa tugas untuk mengasuh, membesarkan dan mendidik anaknya, yaitu:[14]
  1. Orangtua berperan untuk mencukupi kebutuhan fisik anak mereka (Kej. 3:19; Mzm. 104:27).[15]
  2. Orangtua berperan untuk mengajarkan moral kepada anak mereka (Kel. 20:8-10; Ayb. 1:5).[16]
  3. Orangtua berperan untuk mengajarkan anak mereka tentang hukum (Kel. 13:14; Ul. 11:19; Yos. 4:6 dst).[17]
  4. Orangtua berperan untuk mengajarkan disiplin kepada anak mereka (Ams. 13:24; 19:18; 29:17).[18]
  5. Orangtua berperan untuk mengajarkan tentang Tuhan Allah kepada anak mereka (Ul. 6:4-9).[19]
Agar bimbingan dan asuhan yang diberi orangtua disambut oleh anak, maka anak juga terpanggil untuk bertanggung jawab menuruti asuhan orangtuanya. Kepatuhan seorang anak terhadap orangtua sangat tegas diaturkan di dalam kehidupan keluarga orang Israel. Setiap anak harus menghormati orangtuanya, hal ini dilakukan supaya anak lanjut umur di tanah yang sudah diberikan Tuhan Allah kepada mereka (Kel. 20:12).[20] Bila seorang anak tidak mematuhi apa yang diajarkan oleh orangtuanya kepadanya maka hukuman yang diterima adalah kematian (Ul. 21:18-21).[21] Sebaliknya seorang anak yang mematuhi pengajaran orangtuanya maka akan mendatangkan sukacita kepada orangtuanya (Ams. 10:1).[22]  Langkah atau cara, khususnya kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dasar itu, orang Israel melakukannya dengan cara berulang-ulang. Artinya kebutuhan dasar itu tidak dipenuhi hanya untuk satu, dua atau tiga kali saja, tetapi pemenuhan itu berlangsung secara kontiniu atau berkesinambungan (Ul. 6:7).[23]
Bimbingan, asuhan dan pengajaran yang diterima anak tidak hanya dari orangtua saja, melainkan dari para Rabi (guru). Anak menerima bimbingan, asuhan dan pengajaran di rumah atau di tempat ibadah dan di sekolah.
            Melalui penjelasan di atas dapat dilihat bahwa di dalam keluarga, Bait Suci dan sekolahlah terjadi perkembangan anak, baik secara fisik maupun psikis. Dalam tulisan ini perkembangan itulah yang disebut dengan perkembangan kepribadian anak. Perkembangan yang dialami anak itu berlangsung di dalam cara mengasuh, membesarkan dan mendidik anak. Perkembangan kepribadian anak itu terjadi dengan dipenuhinya kebutuhan dasar anak itu. Kebutuhan dasar anak meliputi kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisik anak (Mzm. 104:27), sudut emosional anak (Kel. 20:10; Ayb 1:5; Ams. 13:24; 19:18; 29:17) dan sudut spiritual anak (Ul. 6:4-9; Ul. 11:19; Yos. 4:6, 24:15c). Tujuan dari pemenuhan kebutuhan dasar anak oleh orangtua adalah supaya perkembangan kepribadian si anak dapat berlangsung dengan baik mulai dari lahir sampai masa tua si anak nantinya (Ams. 22:6).[24] 

II. Perjanjian Baru
            Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri sebagai manusia sejati mengalami proses perkembangan itu. Dia bertambah besar dan makin kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada padaNya (Luk. 2:40; 52).[25] Sama seperti manusia lainnya, ada juga terdapat pada Yesus pertumbuhan atau perkembangan. Pertumbuhan atau perkembangan yang dialami Yesus berlangsung di dalam perkembangan fisik, emosional dan spiritual.[26] Perkembangan ini dapat dilihat pada Luk. 2:41-52. Dalam perikop ini diceritakan bagaimana Yesus tertinggal di Yerusalem ketika Ia berumur 12 tahun. Ia pergi ke sana dalam satu ziarah agama bersama Maria dan Yusuf, untuk ikut serta dalam satu pesta besar agama Yahudi. Ketika orangtuaNya akhirnya menemukan Dia di Bait Allah, Ia bertanya kepada mereka: “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?”[27]
Di samping itu, Yesus juga mengajarkan para murid untuk berkembang hingga ke tahap sempurna, sebagaimana Bapa di surga sempurna adanya (Mat. 5:48).[28] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perkembangan adalah kehendak dan perintah Allah kepada manusia.
            Bagi orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru, seorang anak mengalami perkembangan, baik secara fisik atau psikis. Perkembangan ini berlangsung di dalam kehidupan keluarga dan kehidupan keagamaan. Bagi orang Yahudi, perkembangan yang dialami seorang anak memiliki tahapan-tahapan perkembangan. Tahapan-tahapan tersebut tidak jauh berbeda dengan tahapan-tahapan pada zaman Perjanjian Lama. Tahapan-tahapan itu adalah sebagai berikut:[29]
  1. Pada umur enam atau tujuh tahun mereka mulai dengan pengajaran (bimbingan) elementer, yaitu mempelajari bahasa Ibrani, Taurat, nubuat dan tulisan-tulisan lainnya, misalnya Mazmur. Pengajaran tersebut berlangsung di rumah ibadah, sehingga nama pengajaran ini disebut dengan sekolah rumah ibadah.[30]
  2. Kira-kira umur sepuluh tahun sampai sebelas tahun, mereka mulai dengan pengajaran (bimbingan) yang sebenarnya. Artinya mereka boleh diterima di rumah Talmud atau semacam “SMP”. Di sana mereka mempelajari Misyna, suatu penafsiran tentang isi Taurat (pengajaran kebenaran-kebenaran agama). Di samping itu, mereka juga diajarkan tentang ilmu bintang, ilmu hitung, ilmu bumi dan ilmu hayat (pendidikan profesional), tetapi bukan sebagai mata pelajaran pokok, melainkan sebagai mata pelajaran pelengkap yang diperlukan untuk menyoroti persoalan yang mungkin timbul.[31] 
  3. Dan pada umur dua belas tahun atau tiga belas tahun mereka diwajibkan untuk menurut (melaksanakan) seluruh syariat Yahudi. Pada tahap ini anak dianggap sebagai anak syariat.
Bagi orang Kristen mula-mula, pemahaman tentang perkembangan manusia diterima dari pengajaran yang diberikan Paulus. Paulus mengungkapkan perkembangan individu itu seturut dengan perkembangan kepribadiannya (1 Kor. 13:11).[32] Artinya, perkembangan kepribadian itu adalah sebuah proses yang panjang mulai dari kanak-kanak sampai dewasa.[33] Perkembangan kepribadian itu mencakup kecerdasan intelektual, emosional, moral dan spiritual yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef. 4:13).[34] Artinya, perkembangan kepribadian itu adalah kedewasaan penuh di dalam pengetahuan tentang Kristus, percaya dan bertumbuh di dalam Kristus.[35] Proses perkembangan itu berlangsung terus-menerus, bertahap dan berkelanjutan, rapi, tertib dan tersusun (Ef. 4:15; Flp. 2:15).[36] Setiap individu dan komunitas kristiani berkembang secara integral dan holistik (Kol. 1:10; 2 Pet. 3:18).[37] Berkembang secara integral dan holistik artinya berkembang melalui pengetahuan yang dari Allah secara utuh dan menyeluruh yang diwujudnyatakan di dalam perbuatan baik.[38]
Dengan adanya perkembangan yang dialami manusia yang sekaligus kehendak dan perintah Allah kepada manusia, maka manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan untuk perkembangannya. Perkembangan dapat berlangsung apabila setiap kebutuhan yang sesuai dengan tahap dan dinamika perkembangan kepribadian manusia itu dapat terpenuhi. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan manusia seutuhnya yaitu kebutuhan fisik dan psikis.
           
B. Pandangan Teolog-Pedagog
            Selain landasan teologi dari Alkitab, menurut penulis ada baiknya jika dipaparkan sepintas pandangan dari Teolog-Pedagog tentang kebutuhan dasar dan perkembangan kepribadian.
            I. Martin Luther (1483-1546).
            Martin Luther adalah seorang yang dicintai oleh anak-anak. Dia bermain dengan anak-anak, bernyanyi bersama mereka, menulis Katekismus Kecil bagi mereka dan membacanya bersama mereka. Dia dicintai anak-anak, bahkan sampai dirumahnya sendiri Luther dikelilingi oleh anak-anak. Bagi Luther, seorang anak itu memiliki kebutuhan dasar, tidak hanya kebutuhan yang diperlukan tubuh tetapi juga kebutuhan yang diperlukan jiwa juga.[39] Kebutuhan itu adalah sesuatu yang harus dipenuhi untuk perkembangan kepribadian anak. Dalam hal memenuhi kebutuhan dasar tersebut, sebagaimana dikutip oleh Robert R. Boehlke, Luther memakai istilah “memelihara kaum muda”.[40] Pemenuhan kebutuhan dasar tersebut dibungkus di dalam tugas mulia orangtua untuk mendidik anak-anak mereka. Pendidikan itu dilaksanakan di dalam pembimbingan dan perbaikan/pembetulan (guidance and correction) atas kehidupan anak.[41]
            Dalam pemenuhan kebutuhan dasar ini, sebagaimana dikutip oleh Boehlke dan Kooiman, Luther merumuskan di dalam konsep Pendidikan Agama Kristen (PAK).
“PAK bertujuan untuk melibatkan semua warga jemaat, khususnya anak-anak, dalam rangka belajar teratur dan tertib agar semakin sadar akan dosa mereka serta bergembira dalam Firman Tuhan yang memerdekakan mereka, di samping memperlengkapi mereka dengan iman, khususnya pengalaman berdosa, Firman tertulis, Alkitab dan rupa-rupa kebudayaan. Sehingga mereka mampu melayani sesamanya dan negara serta mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen yaitu gereja.[42]
PAK yang dirumuskan Luther berlangsung di dalam sekolah, menurut dia anak-anak harus berkembang menjadi laki-laki yang diidamkan, demikian pula anak-anak perempuan. Oleh sebab itu, mereka harus diajarkan dan dididik secara baik.”[43]


            II. Yohanes Amos Comenius (1592-1670)
            Pandangan Comenius, sebagaimana dikutip oleh Boehlke[44] tentang pemenuhan kebutuhan dasar berangkat dari pemahamannya tentang jati diri manusia (termasuk anak-anak) sebagai “kemuliaan Allah” yang diciptakan segambar dengan Allah (1 Kor. 11:7; Kej. 1:26). Melalui jati diri itu, Comenius mengartikan manusia itu sebagai:
  1. Mahluk yang rasional, artinya manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui segala hal.
  2. Tuan atas segala mahluk, di dalam ketuanan itu termasuk kewajiban mengendalikan diri artinya setiap orang selalu bertanggung jawab kepada Tuhan.
  3. Mahluk yang wajib mencerminkan semua sifat asli dari gambar Allah di dalam dirinya, mengetahui banyak, bertindak secara moral dan senantiasa mengabdikan diri kepada Tuhan.
Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka manusia telah kehilangan jati diri sebagai “kemuliaan Allah” (Rom. 3:23). Melalui dosa manusia sudah kehilangan arti sebenarnya sebagai manusia. Namun, walaupun manusia kehilangan jati dirinya karena dosa, manusia masih dapat memenuhi jati dirinya yang segambar dengan Allah. Dengan demikian manusia harus diajar untuk tidak berbuat dosa dan tidak gagal dalam panggilannya memenuhi jati dirinya yang segambar dengan Allah. Dengan adanya keharusan manusia untuk memenuhi jati dirinya yang segambar dengan Allah, maka manusia itu memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan dasar itu bertujuan untuk mengembalikan arti manusia yang sebenarnya yang sudah hilang karena dosa.
Kebutuhan dasar untuk mengembalikan arti manusia yang sebenarnya, Comenius rumuskan di dalam kebutuhan manusia dari segi psikologi pendidikan agar dapat bertumbuh sehat. Kebutuhan itu adalah sebagai berikut:
  1. Berada (on being). Berada dalam kehidupan ini dengan menghargai hidup kini dan mengharapkan hidup selama-lamanya. Hidup tidak hanya sebatas fisiologi saja, tetapi mencakup kepenuhan hidup di dalam Kristus, sehingga apabila individu itu mati maka akan berlangsung peristiwa pemenuhan yaitu kehidupan yang kekal.
  2. Penghargaan. Manusia butuh penghargaan dan untuk itu tiap individu sejak kecil sudah harus dididik untuk menghargai tubuhnya supaya kelak tidak terjadi kesulitan dalam masa dewasa. Sejalan dengan itu diperlukan akal sehat karena di dalam tubuh yang sehat terdapat akal yang sehat. Manusia adalah mahluk yang paling dihargai Allah dan oleh sebab itu ia butuh untuk dihargai, dan disukai oleh orang lain.
  3. Ingin tahu. Manusia butuh untuk mengetahui lingkungan sekitarnya yang diperoleh melalui indera, akal dan iman. Pengetahuan yang luas dan mendalam tentang lingkungan baik alam maupun sosial akan dapat mengatasi kesalahan yang bersumber dari lingkungan itu.
  4. Pemahaman. Manusia tidak cukup hanya mengetahui tetapi juga butuh memahami apa yang diketahuinya. Pemahaman yang dangkal dapat berakibat buruk terhadap hubungannya dengan sesama.
  5. Kebebasan. Manusia mempunyai kebebasan yang tidak dapat dihalangi untuk memilih dan menentukan yang terbaik baginya. Kebebasan adalah hakikat manusia sebagai mahluk Imago Dei, ciptaan Allah.
  6. Aktualisasi. Manusia butuh kesempatan untuk aktif memanfaatkan seluruh bakat dan potensinya. Bekerja aktif untuk mengembangkan bakat dan potensi itu secara bebas akan menjauhkan individu itu dari kemalasan dan kemiskinan.
  7. Kecukupan. Manusia membutuhkan keperluan yang cukup untuk kehidupan fisiknya. Kecukupan yang dimaksud adalah rasa puas atas diri dan miliknya sendiri, sebagaimana dikatakan dalam 1 Raj. 4:25, “...masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya...”
  8. Keamanan. Rasa aman berakar pada ketentraman batin yang timbul dari hasil memanfaatkan dan menikmati milik sendiri dengan tenang dan damai.
  9. Berkat Allah. Manusia butuh akan nikmat berkat Allah, yaitu kesenangan yang mendalam, sukacita yang berdasarkan kepercayaan bahwa kehidupan ini berporos pada Allah.
 
III. Friederich W. A. Froebel (1782-1852)
Sebagaimana dikutip oleh Boehlke,[45] Froebel memahami bahwa manusia itu adalah satu makhluk yang memiliki jati diri. Manusia memiliki jati diri karena manusia itu sendiri adalah pengejawantahan dari Roh Allah. Walaupan manusia itu adalah pengejawantahan dari Roh Allah namun, ia bukan makhluk yang sudah sempurna, melainkan makhluk yang sedang dalam perkembangan kepribadian. Artinya manusia yang sudah memiliki jati diri itu masih harus memenuhi jati dirinya untuk menjadi makhluk yang sadar, bernalar dan merdeka. Karena adanya tugas manusia untuk memenuhi jati dirinya, maka manusia memiliki kebutuhan dasar untuk memenuhi jati dirinya itu.
Tahapan umur manusia yang sedang mempelajari jati dirinya adalah tahapan usia 7 – 10 tahun. Anak usia 7 – 10 tahun (masa anak tanggung atau masa anak untuk belajar) adalah tahapan usia anak yang sedang mempelajari jati dirinya sebagai anggota keluarga.[46] Dengan demikian pada tahapan usia ini seorang anak memiliki kebutuhan dasar untuk mempelajari yang akhirnya akan menemukan jati dirinya. Kebutuhan dasar itu adalah:[47]
  1. Kebutuhan jasmani, yaitu kebutuhan agar anak mampu menjadi seorang yang sehat dan mampu mengendalikan diri.
  2. Kebutuhan nalari, yaitu kebutuhan agar anak mampu memperoleh pengetahuan dan pengertian.
  3. Kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan agar anak mampu mengungkapkan perasaannya.
  4. Kebutuhan rohani, yaitu kebutuhan agar anak senantiasa sadar akan kesatuannya dengan Allah.

2.2. Pengertian Kebutuhan Dasar
            Di dalam tulisan ini, pokok pembahasan tentang kebutuhan dasar itu memiliki batasan. Kebutuhan dasar itu hanya ditinjau dari tiga sudut yang berbeda. Pertama, kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisik. Kedua, kebutuhan dasar dari sudut perkembangan emosional. Ketiga, kebutuhan dasar dari sudut perkembangan spiritual.[48]
            Setiap manusia memiliki kebutuhan masing-masing. Kebutuhan itu merupakan suatu substansi seluler (benda atau keadaan yang memiliki bentuk)  yang harus dimiliki oleh organisme agar organisme tersebut dapat bertahan hidup. Kebutuhan itu bersifat pokok atau sesuatu yang diperoleh, diidamkan atau diinginkan oleh fisik maupun psikis. Menurut James Mark Baldwin, kebutuhan itu adalah keinginan alami datang dari dalam organisme itu sendiri, yang harus dipenuhi secara berulang-ulang. Jika kebutuhan itu dipenuhi dengan baik maka individu itu akan berkembang dengan baik. Sebaliknya jika tidak terpenuhi kebutuhan itu dengan baik maka individu akan mengalami sakit atau depresi.[49] Bagi manusia ada yang dikatakan sebagai kebutuhan dasarnya sebagai individu. Kebutuhan dasar manusia itu adalah kebutuhan primer atau fundamental yang vital (pokok atau paling mendasar yang paling penting) bagi manusia.[50]
            Melalui penelitian, akal sehat dan dengan pemahaman tentang diri sendiri, bahwa setiap anak memiliki sejumlah kebutuhan dasar. Orang dewasa juga memiliki kebutuhan yang sama, tidak peduli berapa usianya. Tetapi pemenuhan kebutuhan dasar ini adalah sangat penting pada masa anak-anak di mana sikap dan pandangannya (kepribadiannya) tentang kehidupan sedang dibentuk dan berkembang. Bila kebutuhan dasar itu tidak terpenuhi, maka si anak akan terganggu dan mencari pemuasan dengan cara yang salah bahkan mungkin menyakitkan. John M. Drescher[51] mengutip pendapat Psikiater Karl Menninger yang mengatakan:
            “Satu individu bergerak ke salah satu arah bila kebutuhan dasar ini tidak dipenuhi. Mungkin individu menarik diri, bergerak ke arah diri sendiri, yang disebut reaksi melarikan diri, atau individu mengembangkan reaksi menyerang menjadi agresor (individu yang agresif), bergerak ke arah orang lain.”

Sebaliknya jika terpenuhi, si anak tidak bergerak ke arah diri sendiri atau mengembangkan reaksi menyerang. Dengan demikian perkembangan kepribadian si anak dapat berlangsung dengan baik.
Kebutuhan primer atau fundamental yang vital bagi anak usia 6 – 12 tahun dalam tulisan ini adalah:
  1. Kebutuhan perkembangan fisik, misalnya kebutuhan untuk makan dan minum.
  2. Kebutuhan emosional, misalnya kebutuhan untuk berarti, rasa aman, diterima, disiplin, dan mengaktualisasikan diri.
  3. Kebutuhan sipritual, misalnya kebutuhan akan kehadiran Tuhan.
Setiap kebutuhan dasar itu dipenuhi secara bertahap dan berkelanjutan. Artinya kebutuhan dasar itu dipenuhi oleh orangtua secara tahap demi tahap, yang pada akhirnya tidak hanya secara bertahap lagi, tetapi menjadi secara berkelanjutan. Pemenuhan kebutuhan dasar anak dapat dilakukan tanpa berurutan, sehingga semua kebutuhan dasar itu dapat dipenuhi secara tanpa berurutan, artinya di dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, orangtua dapat melakukannya dengan tidak memenuhi kebutuhan anak itu secara satu-persatu dan berurutan. Misalnya, orangtua tidak harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan anak untuk berarti baru memenuhi kebutuhan anak untuk disiplin, atau tidak harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan anak untuk dipuji baru memenuhi kebutuhan anak untuk diterima.
Dengan demikian dapat dikatakan pemenuhan kebutuhan dasar itu dapat dilakukan secara acak, apakah terlebih dahulu memenuhi kebutuhan yang satu kemudian memenuhi kebutuhan yang lain atau pemenuhan itu berlangsung secara keseluruhan. Misalnya, memenuhi kebutuhan anak untuk dicintai dapat sekaligus dipenuhi dengan memberikan pujian kepada anak. Namun dari semua kebutuhan dasar anak itu yang pertama sekali harus dipenuhi adalah kebutuhan perkembangan fisik, selanjutnya kebutuhan dasar yang lain dapat dipenuhi secara tidak berurutan.
   
2.3. Pengertian Perkembangan Kepribadian
            Perkembangan adalah bahagian dari pertumbuhan. Banyak orang menggunakan istilah “pertumbuhan” dan “perkembangan” secara bergantian. Dalam kenyataan kedua istilah itu berbeda, walaupun dapat dipisahkan, namun keduanya tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif  yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Artinya individu itu tidak saja menjadi lebih besar secara fisik, tetapi ukuran dan struktur organ dalam dan otak meningkat. Akibat adanya pertumbuhan otak, individu itu mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk belajar, mengingat dan berpikir. Individu tumbuh secara mental maupun fisik. Pertumbuhan adalah sifat alami dan proses alami manusia. Pertumbuhan ditandai dengan perkembangan ke arah yang lebih matang, sempurna, terlepas dari wujudnya apakah dalam wujud perubahan, pembaharuan atau peningkatan. Sebaliknya perkembangan, berkaitan dengan perubahan kualitatif  dan kuantitatif. Perkembangan dapat didefenisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. Progresif, menandai bahwa perubahan itu terarah, membimbing perubahan itu ke arah yang lebih maju. Teratur dan koheren, menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau yang mengikutinya.[52]
Dengan demikian perkembangan dan pertumbuhan itu adalah suatu perubahan yang berlangsung dalam organisme secara berkesinambungan dan progresif (tahap demi tahap) dari lahir sampai mati.[53]  Tahapan-tahapan perubahan itu berlangsung dengan normal pada organisme dari lahir sampai mati yang meliputi kematangan dan pengalaman.[54]
            Menurut pengertian secara umum, kepribadian (personality) adalah suatu istilah yang mengacu pada gambaran-gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompoknya atau masyarakatnya. Kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterima itu.[55] Di samping itu, kepribadian juga sering diartikan atau dihubungkan dengan ciri tertentu yang menonjol pada diri individual. Oleh karena itu, defenisi kepribadian menurut pengertian umum menunjuk pada bagaimana individu tampil atau menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya.
            Pengertian tentang kepribadian juga banyak menarik perhatian dari para ahli psikologi. Di bawah ini akan diterangkan sekilas pendapat beberapa ahli tentang kepribadian:
  1. Gordon Allport
Psikolog Amerika (1897-1967), terkenal secara luas sebagai penganjur satu sistem kepribadian, yang menekankan masalah individu. Allport mendefenisikan bahwa kepribadian itu adalah organisasi dinamis di dalam individu yang terdiri dari sistem-sistem psikofisik (mental-fisik) yang menentukan tingkah laku dan pikirannya secara karakteristik. Sebagaimana dikutip R.D. Kahoe, yang dimaksud Allport dengan organisasi dinamis ialah bahwa kepribadian manusia merupakan organisasi kebiasaan-kebiasaan, sikap-sikap, sifat-sifat dan karakter yang terus-menerus berkembang. Konsep kepribadian itu Allport rumuskan di dalam istilah Proprium (self atau diri).[56] Sebagaimana dikutip Schultz, proprium yang dimaksud Allport menunjuk kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium terdiri dari hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik.[57]
  1. Henry A. Murray
Psikolog Amerika (1893-...), kepala proyek penelitian yang luas mengenai kepribadian yang normal. Sebagaimana dikutip R.L. Timpe, Murray mendefenisikan bahwa kepribadian itu sebagai kesinambungan dari bentuk-bentuk dan kekuatan fungsional yang dimanifestasikan lewat urutan-urutan dari proses-proses regnant (otak) yang terorganisasi dan perilaku-perilaku lahiriah dari lahir sampai mati. [58] Menurut pendapat Murray, sebagaimana dikutip oleh Chaplin bahwa kebutuhan-kebutuhan diorganisasikan dengan kepribadian. Artinya kepribadian merupakan sauatu proses dinamis, seperti yang diungkapkan oleh banyaknya kebutuhan yang memainkan peranan penting dalam pengorganisasiannya.[59]

  1. Alfred Adler
Psikiater Austria (1870-1937), ajaran-ajarannya dapat dianggap sebagai landasan dasar bagi banyak perkembangan teori kepribadian serta psikoterapi. Menurut pendapat Adler, sebagaimana dikutip F.H. Sianipar bahwa kepribadian itu adalah satu gaya hidup individu, atau cara yang karakteristik mereaksinya seseorang terhadap masalah-masalah hidup termasuk tujuan-tujuan hidup. Gaya hidup manusia itu ditentukan melalui kedudukan manusia itu di dalam keluarga sewaktu anak-anak, yang akhirnya menjadi permanen dan khas dalam perkembangan kepribadian si anak sampai umur dewasa.[60]
Dengan memperhatikan pendapat ketiga ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kepribadian itu adalah sifat, karakter yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakan dirinya dengan orang lain dan kepribadian itu mencakup beberapa bagian dari kehidupan yaitu kehidupan spritualitas, perasaan dan jasmani. Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungannya misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir.
Dari uraian pengertian tentang perkembangan dan kepribadian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian perkembangan kepribadian. Pengertian tentang perkembangan kepribadian dalam tulisan ini adalah perkembangan sifat hakiki dalam satu individu, sifat hakiki itu berlangsung secara berkesinambungan dan progresif dari lahir sampai matinya individu itu. Sifat hakiki itu mencakup perubahan di dalam perkembangan fisik, emosional dan spritual.
Dengan demikian perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun adalah perkembangan sifat hakiki yang berlangsung secara berkesinambungan dan progresif dalam diri anak usia 6 – 12 tahun. Sifat hakiki itu mencakup perubahan di dalam perkembangan fisik, emosional dan spiritual anak usia 6 – 12 tahun.

 
BAB III
CIRI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
USIA 6 – 12 TAHUN

3.1. Alasan Memilih Metode Kepustakaan
            Metode kepustakaan adalah salah satu dari berbagai metode penelitian yang ada. Metode kepustakaan adalah suatu penyelidikan terhadap data yang ada serta menelaahnya secara tekun. Dengan mengadakan penyelidikan terhadap data yang sudah ada, maka tugas peneliti dalam metode kepustakaan adalah menggali teori-teori yang telah berkembang dalam bidang ilmu yang sedang diteliti. Metode kepustakaan meliputi pengidentifikasian, penjelasan sumber dan penguraian secara sistematis dari dokumen-dokumen yang mengandung informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.[61] 
            Alasan memilih metode kepustakaan adalah karena peneliti ingin mengidentifikasi, menjelaskan dan menguraikan secara sistematis tentang kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun. Dalam mengadakan penyelidikan terhadap data yang telah ada, peneliti menggali teori-teori yang telah berkembang tentang kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun.
             Oleh karena itu metode kepustakaan tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi, menjelaskan dan menguraikan secara sistematis tentang kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun sehingga diperoleh maksud dan tujuan dari rumusan masalah yang sudah dirumuskan di bab pendahuluan.

3.2. Faktor-faktor dan Prinsip-prinsip Penting dalam Penelitian Kepustakaan
            Ada beberapa faktor dan prinsip penting dalam penelitian kepustakaan, yang perlu diperhatikan para peneliti untuk memulai sampai mengakhiri proses penelitian. Proses penelitian itu disebut sebagai metode pengumpulan data, yaitu:[62]
  1. Menelusuri kepustakaan yang menjadi bahan bacaan sebagai data dalam penelitian.
Menelusuri kepustakaan yang menjadi bahan bacaan sebagai data dalam penelitian dilakukan di perpustakaan. Kepustakaan itu dapat berbentuk: buku teks, jurnal (majalah ilmiah yang berisi tulisan ilmiah), periodical (majalah ilmiah yang ditulis secara berkala), dll.
  1. Membaca dan mencatat kepustakaan yang sudah ditelusuri.
Membaca dan mencatat kepustakaan yang sudah ditelusuri adalah bagian yang penting dalam studi kepustakaan setelah selesai menelusuri kepustakaan yang menjadi bahan bacaan. Tahap membaca dan mengutip bahan bacaan berguna untuk menghindarkan duplikasi yang tidak diperlukan dengan melihat apakah masalah penelitian sudah pernah diuji ataukah masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang masalah tersebut. Membaca dan mencatat kepustakaan juga berguna untuk memperoleh ide, keterangan-keterangan yang berguna dalam memecahkan masalah dan sekaligus menambah pengetahuan peneliti terhadap masalah tersebut.
  1. Menulis hasil dari kepustakaan yang sudah dibaca
Dalam menulis hasil, peneliti sudah dapat mengidentifikasi, menjelaskan dan menguraikan secara sistematis kepustakaan yang sudah dibaca di dalam penulisan akhir penelitian, yaitu skripsi. Tahap yang ketiga ini disebut dengan penulisan sikripsi.


3.3. Ciri Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 6 – 12 Tahun
Sesuai dengan pengertian tentang perkembangan kepribadian dalam tulisan ini yaitu perkembangan sifat hakiki dalam satu individu, sifat hakiki itu berlangsung secara berkesinambungan dan progresif dari lahir sampai matinya individu itu. Sifat hakiki itu mencakup perubahan di dalam perkembangan fisik, emosional dan spiritual.

3.3.1. Sifat hakiki perubahan perkembangan fisik anak usia 6 – 12 tahun
Untuk memperoleh gambaran yang lengkap mengenai perkembangan anak, perlu membahas perkembangan fisik anak. Perkembangan fisik dianggap penting untuk dipelajari, karena baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kebutuhan perkembangan fisik anak. Usia 6 – 12 tahun merupakan periode pertumbuhan yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas.[63] Sejalan dengan itu Mary Go Setiawani menjelaskan bahwa pertumbuhan anak usia 6 – 12 tahun sangat lambat tetapi mantap.[64]
Supaya lebih jelas memahami bagaimana perkembangan fisik pada akhir masa anak-anak, Hurlock menjelaskannya seperti di bawah ini:[65]
  1. Tinggi dan Berat Badan
Kenaikan tinggi pertahun adalah 2 sampai 3 inci. (1 cm = 0.3937 in). Kenaikan berat badan lebih bervariasi daripada kenaikan tinggi, berkisar antara 3 – 5 pon pertahun. (1 pon = 0.5 kg).[66]
  1. Perbandingan Tubuh
Meskipun kepala masih terlampau besar dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya, beberapa perbandingan wajah yang kurang baik menghilang dengan bertambah besarnya mulut dan rahang, dahi melebar dan merata, bibir semakin berisi, hidung menjadi lebih besar dan lebih berbentuk. Badan memanjang dan lebih langsing, leher menjadi lebih panjang, dada melebar, perut tidak buncit, lengan dan tungkai memanjang dan tangan serta kaki dengan lambat tumbuh membesar.
  1. Kesederhanaan
Perbandingan tubuh yang kurang baik yang sangat mencolok pada masa akhir anak-anak menyebabkan meningkatnya kesederhanaan pada saat itu. Di samping itu, kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kecenderungan untuk berpakaian seperti teman-teman tanpa memperdulikan pantas tidaknya, juga menambah kesederhanaan.
  1. Perbandingan Otot-Lemak
Selama akhir masa anak-anak, jaringan lemak berkembang lebih cepat daripada jaringan otot yang perkembangannya mulai melejit pada awal pubertas. Anak yang berbentuk endomorfik (panjang-langsing) jaringan ototnya jauh lebih banyak daripada jaringan lemak, sedangkan pada tubuh mesomorfik (tubuh lebih berat) keadaanya terbalik. Pada bentuk tubuh endomorfik tidak terdapat jaringan yang melebihi jaringan lainnya sehingga cenderung tampak kurus.
  1. Gigi
Pada akhir masa akhir anak-anak (transisi ke masa pubertas), umumnya seorang anak sudah memiliki dua puluh dua gigi tetap.
Dengan perkembangan fisik seperti di atas, maka ada kategori dari keterampilan akhir masa anak-anak. Keterampilan yang dimaksud adalah kemampuan yang dipelajari dan dimiliki anak. Keterampilan yang dipelajari oleh anak-anak yang lebih besar sebagian bergantung pada lingkungan, sebagian pada kesempatan belajar, sebagian pada bentuk tubuh dan sebagian lagi bergantung pada apa yang sedang digemari oleh teman-teman sebaya. Hurlock mengkategorikan keterampilan itu ke dalam empat jenis keterampilan, yaitu:[67]
  1. Keterampilan menolong diri sendiri (self-help)
Untuk mencapai kemandiriannya, anak harus mempelajari keterampilan motorik yang memungkinkan si anak mampu melakukan segala sesuatu bagi diri si anak sendiri. Anak yang lebih besar harus dapat makan, berpakaian, mandi dan berdandan sendiri hampir secepat dan semahir orang dewasa, dan keterampilan tidak memerlukan perhatian sadar yang penting pada awal masa kanak-kanak
  1. Keterampilan menolong orang lain (social-help)
Keterampilan menurut kategori ini bertalian dengan menolong orang-orang lain. Di rumah mencakup membersihkan tempat tidur, membersihkan debu dan menyapu; di sekolah mencakup mengosongkan tempat sampah dan membersihkan papan tulis; dan di dalam kelompok bermain mencakup menolong membuat alat-alat permainan. Dengan kata lain anak harus menjadi anggota yang kooperatif.
  1. Keterampilan sekolah
Pada tahun permulaan sekolah, sebagian besar pekerjaan melibatkan keterampialn motorik. Di sekolah, anak mengembangkan pelbagai keterampilan yang diperlukan untuk menulis, menggambar, mewarnai, pekerjaan tangan, menari, dll. Semakin banyak dan semakin baik ketrampilan yang dimiliki, semakin baik pula penyesuaian sosial yang dilakukan dan semakin baik prestasi sekolahnya, baik dalam prestasi akademis maupun dalam perstasi yang bukan akademis.
  1. Keterampilan bermain
Anak yang lebih besar belajar pelbagai keterampilan seperti melempar dan menangkap bola, naik sepeda, berenang, dll. Hal ini bertujuan supaya si anak dapat menikmati kegiatan kelompok sebaya.
           
3.3.2. Sifat hakiki perubahan emosional anak usia 6 – 12 tahun
            Untuk memperoleh gambaran yang lengkap mengenai perkembangan anak, perlu membahas perubahan emosional anak. Perubahan emosional dianggap penting untuk dipelajari, karena baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kebutuhan emosional anak.
            Umumnya, ungkapan emosional pada akhir masa anak-anak merupakan ungkapan yang menyenangkan. Anak tertawa genit atau tertawa terbahak-bahak, menggeliat-geliat, mengejangkan tubuh atau berguling-guling di lantai; dan pada umumnya menunjukkan pelepasan dorongan-dorongan yang tertahan. Namun pada tahap usia ini, tidak semua emosi menyenangkan. Banyak ledakan amarah terjadi pada dan anak menderita kekhawatiran dan perasaan kecewa. Anak mengungkapkan ledakan amarah seperti perilaku pada masa pra-sekolah.     Menurut Hurlock, pola emosi yang umum pada akhir masa kanak-kanak sama dengan pola pada awal masa kanak-kanak, yaitu amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih dan kasih sayang. Emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak adalah sebagai berikut:[68] 
  1. Amarah
Penyebab amarah yang paling umum adalah pertengkaran mengenai permainan, tidak tercapainya keinginan dan serangan yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa marah dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat-lompat atau memukul. Rasa marah adalah ekspresi yang lebih sering diungkapkan pada masa anak-anak. Rasa marah ini dilakukan anak untuk mencari perhatian orang lain.
  1. Takut
Pembiasaan, peniruan, dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut, seperti cerita-cerita, gambar-gambar, acara radio dan televisi, dan film-film yang mengandung unsur-unsur menakutkan. Pada mulanya reaksi anak terhadap rasa takut adalah panik; kemudian menjadi lebih khusus seperti lari, menghindar dan bersembunyi, menangis.
  1. Cemburu
Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orangtua beralih kepada orang lain di dalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkannya dengan kembali berperilaku seperti anak kecil, seperti mengompol, pura-pura sakit atau menjadi nakal. Perilaku ini semua bertujuan untuk menarik perhatian.
  1. Ingin Tahu
Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang baru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik; kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, ia bereaksi dengan bertanya.
  1. Iri Hati
Anak-anak sering iri hati mengenai kemampuan atau barang yang dimiliki orang lain. Iri hati ini diungkapkan dalam bermacam-macam cara, yang paling umum adalah mengeluh tentang barangnya sendiri, dengan mengungkapkan keinginan ingin memiliki barang seperti dimiliki orang lain, atau mengambil benda-benda yang menimbulkan iri hati.
  1. Gembira
Anak-anak merasa gembira karena sehat, situasi yang tidak layak, bunyi yang tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat atau memeluk benda atau orang yang membautnya bahagia.
  1. Sedih
Anak-anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.
  1. Kasih Sayang
Anak-anak belajar mencitai orang lain, binatang atau benda yang menyenangkannya. Ia mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar tetapi ketika kecil anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk dan mencium objek kasih sayangnya.
            Walaupun memiliki pola emosional anak yang sama antara awal masa anak-anak dengan akhir masa anak-anak, dua pola ini memiliki perbedaan di dalam dua hal. Pertama, perbedaan dalam jenis situasi yang membangkitkan emosi dan kedua, bentuk ungkapannya. Dari pengalaman, anak mengetahui bagaimana anggapan orang lain tentang berbagai bentuk ungkapan emosional. Dalam keinginan pelbagai bentuk yang ternyata secara sosial tidak dapat diterima. Dengan bertambah besarnya badan, anak-anak mulai mengungkapkan amarah dalam bentuk murung, menggerutu dan pelbagai ungkapan kasar. Ledakan amarah menjadi jarang karena anak mengetahui bahwa tindakan semacam itu dianggap sebagai perilaku bayi.
            Sebagaimana adanya perbedaan dalam cara anak mengungkapkan emosi, ada juga perbedaan dalam jenis situasi yang membangkitkan emosi. Umumnya, anak yang lebih besar lebih cepat marah kalau dihina, dibanding dengan anak yang lebih kecil. Hal ini terjadi karena anak yang lebih besar lebih mengerti apa arti sebuah komentar yang bersifat merendahkan dibanding dengan anak yang lebih muda.  Demikian juga dengan rasa ingin tahu, bagi anak yang lebih besar rasa ingin tahu dalam dirinya akan timbul jika sesuatu itu sangat menarik perhatiannya. Sedangkan bagi anak yang lebih kecil, rasa ingin tahu timbul hanya melalui sesuatu yang baru dan berbeda saja.[69]
           
3.3.3. Sifat hakiki perubahan spiritual anak usia 6 – 12 tahun
            Untuk memperoleh gambaran yang lengkap mengenai perkembangan anak, perlu membahas perubahan spiritual anak. Perubahan spiritual dianggap penting untuk dipelajari, karena baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kebutuhan spiritual anak.
            Spiritual dalam hal ini adalah mengenai keyakinan dan tata cara, artinya sifat hakiki perubahan spiritual itu berkaitan dengan apa yang diyakini anak dan bagaimana tata cara anak mengetahui apa yang diyakini itu. Konsep mengenai perubahan spiritual anak ini dikembangkan di dalam pendidikan dan pengalaman yang diterima anak. Dengan demikian perkembangan spiritual anak ditentukan melalui pendidikan dan pengalaman yang diterima si anak mengenai spiritualitas.
Sepanjang masa anak-anak, perubahan spiritual itu memiliki variasi karena dibangun atas dasar konsep yang dikembangkan oleh pendidikan dan pengalaman yang berbeda. Hurlock mengatakan anak-anak memiliki variasi spiritual, yaitu:[70]
  1. Tuhan
Tuhan adalah seorang yang sangat besar, berpakaian putih, berwajah angker atau ramah dan berjangut putih. Dia seorang “pengawas” dan menghukum mereka yang berbuat salah, walaupun Dia menerima permohonan ampun yang dipanjatkan lewat doa. Dia membalas mereka yang baik dan mengirimkan mereka ke surga bila meninggal.
  1. Surga
Surga adalah tempat kediaman Tuhan di tengah awan, tempat orang memperoleh segala sesuatu yang mereka impikan, tempat kedamaian abadi dan kebahagian.
  1. Malaikat
Orang yang baik hidupnya akan masuk ke surga setelah meninggal dan menjadi malaikat, berjubah putih panjang.
  1. Neraka
Neraka merupakan tempat di bawah bumi, tempat penderitaan abadi dan hukuman bagi mereka yang berkelakuan buruk semasa hidup.
  1. Iblis
Neraka dikuasai oleh iblis, yang tampil sebagai seorang laki-laki bertanduk dan berekor. Ia membawa sebatang garpu panjang dan seluruh tubuhnya berwarna merah.
  1. Mukjizat
Mukjizat adalah suatu tindakan yang hanya dapat dilakukan Tuhan.
  1. Alkitab
Alkitab ialah sebuah buku yang ditulis Tuhan. Setiap kata dalam Alkitab benar dan meragukan kebenarannya adalah dosa.

  1. Doa
Doa merupakan cara meminta sesuatu yang penting kepada Tuhan.
  1. Kematian
Pada saat orang meninggal, mereka tertidur dan tidak pernah bangun kembali. Kematian mungkin disebabkan usia lanjut, penyakit atau ketidakpatuhan kepada Tuhan.
  1. Kehidupan setelah kematian
Sesudah mati, orang pergi ke surga atau ke neraka, tergantung kelakuan mereka semasa hidup.

 
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Kebutuhan Dasar Anak Usia 6 – 12 Tahun
Dalam bab pendahuluan telah disebutkan bahwa kepribadian itu merupakan sesuatu yang bertumbuh dan berkembang. Karena kepribadian itu merupakan sesuatu yang bertumbuh dan berkembang maka ada yang menjadi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak tersebut. Kebutuhan dasar itu adalah:      1) Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisik anak.
2) Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan emosional anak. 
3) Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan spiritual anak.
            4.1.1. Kebutuhan Dasar dari Sudut Perkembangan Fisik
Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisik anak adalah kebutuhan perkembangan jasmani anak atau sering disebut dengan kebutuhan untuk mempertahankan fisik. Kebutuhan perkembangan fisik meliputi kebutuhan makanan-minuman dan tempat tinggal. Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisik dalam tulisan ini adalah kebutuhan untuk tubuh anak.
Salah satu tugas perkembangan pada masa akhir anak-anak (usia 6-12 tahun) adalah keterampilan sekolah. Pada tahun permulaan sekolah, sebagian besar pekerjaan melibatkan keterampilan motorik. Di sekolah, anak mengembangkan pelbagai keterampilan yang diperlukan untuk menulis, menggambar, mewarnai, pekerjaan tangan, menari, olah raga, bermain, dll. Agar keterampilan sekolah ini dapat berlangsung dengan baik maka seorang anak membutuhkan kebutuhan akan makanan dan minuman.
Kebutuhan akan makanan dan minuman dalam istilah psikologi disebut dengan kebutuhan akan gizi.[71] Kebutuhan akan gizi sangat anak perlukan untuk menjaga kekebalan tubuh tetap kuat dalam melaksanakan aktivitas fisik.[72] Seorang anak yang berusia sembilan tahun harus berangkat ke sekolah pukul 06.00, pulang sekolah pukul 15.00. Ini biasanya dilanjutkan dengan segala macam kursus, dari komputer sampai bahasa Inggris, hingga pukul 18.00.[73] Di rumah ia masih harus mengerjakan perkerjaan rumah (PR) dan mempersiapkan pelajaran untuk esok harinya. Dengan aktivitas fisik seperti itu, stamina anak akan cepat loyo kalau tidak ditunjang dengan intake (pemberian/pemasukan) gizi yang cukup dan berkualitas.[74]
Melihat banyaknya aktivitas fisik yang harus dilakukan anak usia 6 – 12 tahun, maka dia harus memperoleh nutrisi yang cukup untuk melakukan semua aktivitas itu. Dengan demikian seorang anak usia 6 – 12 tahun sangat membutuhkan makanan yang memiliki gizi yang baik untuk perkembangan fisiknya. Untuk lebih jelas tentang kebutuhan dasar untuk perkembangan fisik anak ada baiknya diketahui bahan makanan apa yang dibutuhkan anak untuk melakukan tugas perkembangannya.
Bahan makanan bagi tubuh memiliki beberapa fungsi. Bahan makanan yang sangat penting bagi ketahanan fisik anak (manusia) adalah bahan makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.[75] Bahan makanan ini mempunyai peranan yang berbeda-beda bagi tubuh.
1) Karbohidrat dan lemak merupakan bahan makanan yang berfungsi untuk menghasilkan energi yang sangat dibutuhkan tubuh. Beberapa contoh bahan makanan yang banyak mengandung karbohidrat dan lemak adalah gula, madu, coklat gandum dan beras.
2) Protein sangat besar peranannya untuk mempertahankan kondisi kesehatan tubuh agar kuat terhadap serangan penyakit. Protein berasal dari bahan makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan. Atas dasar ini protein itu dikelompokkan menjadi protein hewani dan protein nabati. Bahan makanan yang mengandung protein hewani adalah daging, susu dan telur dan keju. Sedangkan makanan yang mengandung protein nabati adalah biji-bijian dan kacang-kacangan.
3) Vitamin memiliki fungsi utamanya adalah sebagai pengatur (regulator) pada tubuh. Vitamin juga berfungsi untuk pertumbuhan, penjaga kesehatan. Sumber-sumber makanan yang mengandung vitamin terdapat pada sayuran dan buah-buahan.
4) Mineral sangat dibutuhkan untuk kepentingan bagi pembentukan hormon, tulang, gigi dan darah. Di samping itu mineral juga berfungsi sebagai regulator di dalam tubuh. Fungsi regulator ini sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan jalannya metabolisme di dalam tubuh. Bahan makanan yang banyak mengandung mineral antara lain ialah susu, sayuran, daging, garam beryodium dan buah-buahan.
5) Air merupakan satu zat yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Air sangat vital sekali bagi kelangsungan hidup manusia, hampir sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air. Beberapa fungsi air yang ada kaitannya dengan pembicaraan mengenai bahan makanan, yaitu:
  1. Sebagai pelarut nutrisi agar mudah dicerna dan diangkut ke seluruh jaringan.
  2. Pengangkut zat-zat sampah hasil metabolisme jaringan tubuh ke luar.
  3. Sebagai media bagi terjadinya reaksi kimia dalam tubuh.
Air dapat masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara, yaitu melalui air minum, makanan berupa buah-buahan dan sayuran yang mengandung air atau bahan makanan lainnya yang banyak mengandung air.
            Dari uraian di atas dapat digolongkan jenis bahan makanan berdasarkan fungsinya. Berdasarkan fungsinya, bahan makanan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:[76]
  1. Kelompok bahan makanan penghasil energi yaitu semua nutrisi atau bahan makanan yang dapat menghasilkan kalori sebagai penghasil energi. Bahan makanan yang dapat menghasilkan energi itu antara lain: lemak, karbohidrat dan protein.
  2. Kelompok bahan makanan pembangun tubuh. Kelompok nutrisi ini dapat menjalankan fungsi pembangun bagian-bagian tubuh manusia. Nutrisi utama yang memiliki peranan sebagai pembangun tubuh adalah protein. Di samping protein, lemak juga dapat digolongkan ke dalam nutrisi pembangun tubuh, hanya bukan yang utama.
  3. Kelompok bahan makanan pengatur (regulator). Kelompok nutrisi ini memegang peranan sebagai pengatur fungsi tubuh dan menjaga keseimbangan metabolisme tubuh, antara lain vitamin, mineral dan air.
Apabila terjadi kekurangan (defisiensi) salah satu bahan makanan di atas dalam waktu yang cukup lama, dapat menyebabkan gangguan bagi tubuh yang akhirnya mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang tidak memperoleh pemenuhan kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisiknya secara baik cenderung mudah lelah dan mudah tersinggung. Mereka kurang berminat terhadap pelajaran di sekolah atau bermain dengan teman sebayanya dan umumnya penyesuaian sosialnya memprihatinkan.[77]
Salah satu cara orangtua di dalam memenuhi nutrisi gizi pada anak adalah menerapkan konsep serapan pagi terhadap anak. Menurut berbagai kajian,[78] frekuensi makan yang baik adalah tiga kali sehari yang mengacu menu empat sehat lima sempurna.[79] Ini berarti makan pagi (sarapan) hendaknya jangan diting­galkan. Seringkali orang mengabai­kan sarapan karena diburu oleh waktu yang sempit. Sebagian orang harus meninggalkan rumah sejak pagi-pagi untuk memulai aktivitasnya di tempat kerja. Sementara di rumah sarapan pagi belum tersedia, akhirnya sarapan ditinggalkan tanpa ada perasaan bersalah.
Secara kuantitas dan kualitas rasa­nya sulit untuk memenuhi kebutuhan gizi apabila seorang anak hanya makan satu kali atau dua kali sehari. Keterbatasan volume lambung menyebabkan anak tidak bisa makan sekaligus dalam jumlah banyak. Itulah sebabnya makan dila­kukan secara frekuentif yakni tiga kali sehari termasuk sarapan pagi.
Makan pagi adalah suatu kegiatan yang penting sebelum melakukan aktivitas fisik pada hari itu. Paling tidak ada dua manfaat yang bisa diam­bil kalau anak melakukan sarapan pagi. Pertama, sarapan pagi dapat menye­diakan karbohidrat yang siap diguna­kan untuk meningkatkan kadar gula darah. Dengan kadar gula darah yang terjamin normal, maka gairah dan konsentrasi kerja bisa lebih baik se­hingga berdampak positif untuk meningkatkan produktivitas. Kedua, pada dasarnya sarapan pagi akan memberikan kontribusi penting akan beberapa zat gizi yang diperlukan tubuh seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Ketersediaan zat gizi ini bermanfaat untuk berfungsinya pro­ses fisiologis dalam tubuh.
Melewatkan makan pagi akan me­nyebabkan tubuh kekurangan glukosa dan hal ini menyebabkan tubuh lemah dan kurang konsentrasi karena tiada­nya suplai energi. Jika hal ini terjadi, maka tubuh akan membongkar perse­diaan tenaga yang ada dari jaringan lemak tubuh. Tidak sarapan pagi me­nyebabkan kekosongan lambung selama 10-11 jam karena makanan ter­akhir yang masuk ke tubuh anak ada­lah makan malam pukul 19.00.
Dengan memperhatikan uraian tentang kebutuhan dasar anak untuk perkembangan fisiknya, maka orangtua hendaknya mempu mengatur pola makan dari anak-anaknya. Pola makan seorang anak pada dasarnya dapat dibentuk oleh keluarganya. Kalau orangtua dapat memperhatikan pola konsumsi anak-anaknya, maka mereka bisa mengontrol dan menasihati makanan apa yang seyogianya dikonsumsi dan makanan apa yang sebaiknya dihindari. Pepatah mengatakan, you are what you eat. Kalau anak biasa makan sampah, maka yang keluar adalah sampah. Namun, bila yang anak makan adalah makanan bergizi dengan menu seimbang, niscaya anak pun akan menjadi insan yang berkualitas.[80]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisik anak sangat menentukan terhadap perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun.
           
            4.1.2. Kebutuhan Dasar dari Sudut Perkembangan Emosional
            Kebutuhan dasar dari sudut emosional anak adalah kebutuhan yang berkaitan dengan ekspresi emosi atau kebutuhan yang berkaitan dengan perubahan-perubahan yang  mendalam yang menyertai emosi. Supaya lebih memahami apa itu kebutuhan dasar dari sudut emosional anak, ada baiknya terlebih dahulu memahami apa itu emosi. Akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e-“  untuk memberi arti “bergerak menjauh”, artinya emosi berkaitan dengan suatu tindakan atau kegiatan.[81] Emosi dalam makna paling harafiah adalah “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu dari individu”[82]
Menurut Daniel Goleman [83] emosi merupakan inti dari daya hidup individu. Artinya emosi berperan dalam membentuk kemampuan dasariah manusia untuk mempertahankan hidup yang disebut dengan kecerdasan emosional. Mempertahankan hidup artinya, emosi dapat menolong melindungi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Hal ini merujuk pada suatu kesehatan dan kesejahteraan dari perasaan dan pikiran, biologis dan psikologis, dan  bertindak dari individu. Menurut Goleman:[84]
“Orang dengan keterampilan emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka; orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merampas” “kemampuan mereka untuk memusatkan perhatian pada pekerjaan dan memiliki pikiran yang jernih.”

Sejalan dengan Goleman, Lawrence E. Shapiro[85] juga berpendapat:
“Anak-anak dengan keterampilan emosional lebih bahagia, lebih percaya diri dan lebih sukses di sekolah. Keterampilan emosional menjadi fondasi bagi anak-anak kita untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, peduli kepada orang lain dan produktif. Memiliki EQ tinggi mungkin lebih penting dalam pencapaian keberhasilan ketimbang IQ tinggi yang diukur berdasarkan uji standart terhadap kecerdasan kognitif verbal dan non-verbal.”

Dari defenisi tersebut dapat dikatakan bahwa emosi itu adalah berkaitan dengan suasana hati (pikiran, perasaan dan nafsu) yang diwujudkan melalui tempramen (bentuk tindakan). Dengan demikian kebutuhan dasar dari sudut emosional anak adalah kebutuhan yang diperlukan untuk membangun kecerdasan (keterampilan) emosional anak.




Kebutuhan dasar dari sudut emosional anak untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun dalam tulisan ini adalah:
  1. Kebutuhan akan berarti
Yohan Amos Comenius[86] sebagaimana dikutip oleh Boehlke berpendapat bahwa seorang anak (bahkan orang dewasa) sangat membutuhkan kebutuhan akan berarti. Comenius memakai istilah penghargaan untuk menunjuk kebutuhan akan berarti. Manusia butuh penghargaan dan untuk itu tiap individu sejak kecil sudah harus dididik untuk menghargai tubuhnya supaya kelak tidak terjadi kesulitan dalam masa dewasa. Sejalan dengan itu diperlukan akal sehat karena di dalam tubuh yang sehat terdapat akal yang sehat. Manusia adalah mahluk yang paling dihargai Allah dan oleh sebab itu ia butuh untuk dihargai dan disukai oleh orang lain.
Sejalan dengan Comenius, Howard J. Clinebell[87] juga berpendapat bahwa seorang anak (bahkan orang dewasa) sangat membutuhkan  kebutuhan akan berarti. Berarti maksudnya adalah setiap manusia menginginkan supaya orang lain menghargai dia. Bagi Clinebell, kebutuhan akan berarti adalah kebutuhan akan penghargaan dari orang lain. 
Sejalan dengan Comenius dan Clinebell, John M. Drescher[88] juga berpendapat bahwa anak yang selalu mendapatkan kebutuhan akan berarti pada masa akhir anak, memiliki dasar kuat untuk keseimbangan dan kesehatan emosional sepanjang hidupnya. Sebagai manusia, seorang anak butuh untuk diperhatikan, dihargai dan dicintai sebagaimana adanya. Kebutuhan akan diperhatikan, dihargai dan dicintai adalah kebutuhan dasar anak akan berarti. Kebutuhan akan berarti membantu anak menumbuhkan kepercayaan diri.
Dengan memperhatikan pendapat tiga ahli di atas, dapat dikatakan bahwa kebutuhan akan berarti merupakan salah satu kebutuhan dasar anak untuk membangun kecerdasan emosionalnya. Melalui kebutuhan akan berarti ini, seorang anak sedang membangun keyakinan diri di atas fondasi yang kuat.[89] Keyakinan diri dapat menjadi salah satu alat yang ampuh bagi anak-anak apabila dibangun di atas fondasi yang kuat dan didasarkan pada pemahaman dan pengertian. Didasarkan pada pemahaman dan pengertian artinya anak memahami dan mengerti bahwa keberadaan mereka memiliki arti bagi orang disekitarnya.
Dikatakan kebutuhan dasar anak akan berarti telah terpenuhi adalah apabila si anak sudah memiliki perasaan menjadi diri sendiri, identitas diri yang jelas dan perasaan berharga.[90]
Perasaan menjadi diri sendiri mulai berkembang pada awal kehidupan anak. Perasaan ini dipengaruhi oleh sikap dari orangtua dengan jenis kelamin yang sama. Seorang anak laki-laki mengembangkan kemampuan melakukan sesuatu melalui kepastian, dorongan dan sikap dari orangtua laki-laki. Sedangkan anak perempuan mengembangkan sebagian besar dari kemampuan dan keberhasilannya melalui kepastian, dorongan dan sikap dari orangtua perempuan.
Berbeda dengan perasaan menjadi diri sendiri, anak memiliki identitas diri diperoleh terutama dari orangtua dengan seks yang berlawanan. Hubungan orangtua perempuan dengan anak laki-lakinya berkaitan dengan identitas diri si anak dan hubungan orangtua laki-laki dengan anak perempuannya berkaitan dengan identitas diri si anak kelak.
Sedangkan perasaan berharga timbul terutama dari perasaan anak bahwa mereka dicintai, dihargai dan disukai sebagaimana adanya. Hal ini dinyatakan pada anak baik oleh orangtua laki-laki maupun orangtua perempuan. Orangtua perlu menyatakan cinta secara bebas terhadap satu sama lain dan terhadap anak bila ingin supaya anak mengembangkan perasaan berharga yang wajar dan sehat.
Bagaimana membangun perasaan menjadi diri sendiri, memiliki identitas diri yang jelas dan memiliki perasaan berharga pada seorang anak? Drescher mengusulkan tujuh tindakan yang perlu dilakukan orangtua, yaitu:[91]
    1. Sikap orangtua pada diri sendiri
Sikap orangtua pada diri sendiri merupakan hal dasar dalam membangun perasaan menjadi diri sendiri anak. Bila orangtua memiliki perasaan berharga dalam dirinya, maka orangtua akan menyampaikan perasaan berharga yang ia miliki kepada anak. Sebaliknya jika orangtua tidak memiliki perasaan berharga dalam dirinya, otomatis orangtua tidak akan pernah dapat menghargai anaknya, apa lagi membangun harga diri anaknya.


    1. Membiarkan anak membantu pekerjaan rumah tangga
Seorang anak sangat senang sekali membantu pekerjaan rumah tangga (memasak, mencuci, dll) walaupun sebenarnya ia belum mampu melaksanakannya dengan baik. Walaupun demikian halnya, orangtua tidak seharusnya melarang anak untuk mengerjakannya, sebaliknya orangtua dapat memberikan pujian atas apa yang sudah berhasil anak lakukan. Dengan demikian pekerjaan sehari-hari yang sudah anak lakukan akan menumbuhkan perasaan bahwa ia memiliki tugas-tugas yang penting dan telah berhasil melakukannya. Jadi membiarkan anak membantu pekerjaan rumah sangat penting untuk membangun perasaan berarti dalam diri si anak.
    1. Memperkenalkan anak kepada orang lain
Orangtua secara tidak sadar sering menghambat perkembangan perasaan berarti dalam diri anaknya. Tindakan itu orangtua lakukan dengan cara tidak memperkenalkan anaknya kepada orang lain. Seorang anak sangat senang jika diperkenalkan orangtuanya kepada orang lain. Tidak jarang seorang anak mencari perhatian ketika orangtuanya mendapat tamu di rumah. Seorang anak akan selalu mondar-mandir supaya ia diperkenalkan kepada tamu tersebut. Seorang anak yang jarang diperkenalkan kepada orang lain akan mengalami perasaan kurang percaya diri yang akhirnya setelah beranjak dewasa menjadi seorang pemalu. Misalnya dalam satu keluarga orang Batak,[92] anak-anak sering disuruh pergi jika orangtua sedang berbicara dengan orang lain di rumahnya. Tindakan seperti ini tidak baik karena dapat menghambat perkembangan perasaan berarti dalam diri anak. Jadi memperkenalkan anak kepada orang lain sangat penting di dalam mengembangkan perasaan berarti dalam diri anak.
    1. Membiarkan anak berbicara untuk dirinya sendiri
Orangtua memang merupakan orang yang paling mengenal keberadaan anaknya (misalnya tingkah lakunya, sifatnya, wataknya, dll). Hal ini menjadikan orangtua sering berbicara atas nama si anak bahkan menganggap anak tidak layak berbicara untuk diri sendiri. Tindakan seperti ini sering menghambat perkembangan perasaan berarti dalam diri anak. Jadi membiarkan anak berbicara untuk dirinya sendiri sangat penting di dalam mengembangkan perasaan berarti dalam diri anak.[93]
    1. Memberikan kesempatan untuk anak memilih dan sedapat mungkin menghormati pilihannya
Orangtua sering memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya. Tindakan orangtua yang memaksakan kehendaknya dapat menghambat perkembangan perasaan berarti dalam diri anak. Oleh karena itu anak-anak harus diberikan banyak kesempatan untuk memilih dan orangtua sedapat mungkin menghormati pilihan anak. Sedapat mungkin berarti jika pilihan anak bisa membahayakan si anak ada baiknya orangtua menentang pilihan si anak dengan penjelasan yang dapat diterima si anak.[94]
    1. Meluangkan waktu bersama anak
Waktu bersama dengan anak sering terlupakan oleh orangtua, seorang anak sangat butuh berada dekat dengan orangtuanya. Bila orangtua tidak meluangkan waktu bersama anak, anak akan memakai waktu mereka dengan cara yang tidak menyenangkan seperti, mengeluh, berkelahi dan pola-pola kemarahan lainnya. Abdul Lathief [95] mengutip pendapat Mimi Patomonodewo (Psikolog perkembangan anak dari Universitas Indonesia) mengatakan: “Bermain sangat penting untuk perkembangan kejiwaan anak dan mempererat hubungan orangtua dengan anak. Dalam sehari orangtua diharapkan menyediakan waktu 20 menit untuk bermain dengan anak.”
Meluangkan waktu bersama anak tentu bukan hanya untuk bermain, tetapi juga untuk kegiatan yang lain, misalnya berbicara tentang sekolah, kesehatan dan lain sebagainya. Meluangkan waktu bukan sedikit banyaknya waktu yang dipergunakan bersama anak tetapi yang menjadi inti adalah bagaimana orangtua dapat membangun rasa berarti dalam diri anak dengan mendengarkan keprihatinan mereka. Meluangkan waktu artinya mendengarkan apa yang dikatakan anak ketika mereka berbicara. Misalnya lebih baik menyingkirkan koran terlebih dahulu kemudian melihat wajah si anak, baru menjawab pertanyaannya dari pada menjawabnya tanpa menyingkirkan koran dan melihatnya. Dengan demikian meluangkan waktu bersama anak sangat penting di dalam mengembangkan perasaan berarti dalam diri anak.
    1. Menumbuhkan perasaan berarti dan berharga terhadap anak
Menumbuhkan perasaan berarti dan berharga dalam diri anak dapat dilakukan dengan cara mempercayakan hal-hal yang mengherankan bagi anak. Misalnya tidak salah orangtua menyuruh anaknya yang masih duduk di kelas dua SD untuk membeli gula ke warung. Dalam tindakan itu orangtua telah membangun perasaan berarti dalam diri anaknya. Sebab anak-anak bertumbuh dalam tanggung jawab dan keberhasilan sepanjang mereka diberi kepercayaan. Anak-anak dipercayai dengan hal-hal yang dapat menimbulkan keheranan akan memompa perasaan berarti yang begitu mendasar bagi kehidupan si anak kelak.
           
  1. Kebutuhan akan rasa aman
Yohan Amos Comenius[96] sebagaimana dikutip oleh Boehlke berpendapat bahwa seorang anak (bahkan orang dewasa) sangat membutuhkan kebutuhan akan rasa aman. Rasa aman pada seorang anak berakar pada ketentraman batin anak yang timbul dari hasil memanfaatkan dan menikmati apa yang anak miliki dengan tenang dan damai.
            Sejalan dengan Comenius, Howard J. Clinebell[97] juga berpendapat seorang anak (bahkan orang dewasa) sangat membutuhkan kebutuhan akan rasa aman. Perasaan aman dan ketenangan muncul dalam diri seorang anak melalui adanya hubungan yang baik dengan orang lain, melalui hubungan yang ada itu seorang anak merasa diinginkan dan diterima orang lain.
            Sejalan dengan Comenius dan Clinebell, John M. Derscher[98] juga berpendapat bahwa seorang anak haus akan rasa aman. Anak itu memiliki kebutuhan yang kuat dalam dirinya untuk mendapatkan rasa aman. Drescher mengatakan bila kebutuhan dasar anak akan rasa aman ini tidak terpenuhi, maka si anak mungkin saja melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Dengan memperhatikan pendapat tiga ahli di atas, dapat dikatakan bahwa kebutuhan akan rasa aman merupakan salah satu kebutuhan dasar anak untuk membangun kecerdasan emosionalnya. Bagaimana menciptakan rasa aman pada anak?
Dengan singkat Comenius dan Clinebell sudah manjawabnya yaitu rasa aman datang dari hubungan yang baik dengan orang lain, melalui hubungan itu seorang anak merasa diinginkan dan diterima orang lain. Selain melalui hubungan yang baik dengan orang lain, rasa aman muncul melalui ketentraman batin anak yang timbul dari hasil memanfaatkan dan menikmati apa yang anak miliki dengan tenang dan damai.
Mungkin yang lebih penting sekarang adalah usaha-usaha apa saja yang harus orangtua lakukan untuk menciptakan rasa aman pada anak-anaknya? Permasalahan ini dapat dijawab dengan mengikuti pendapat Drescher mengenai menciptakan rasa aman pada anak, yaitu:[99]
    1. Rasa aman antara ayah dan ibu
Cinta yang dimiliki ayah dan ibu terhadap satu sama lain adalah hal yang paling penting. Pertentangan terus-menerus antara orangtua akan membuat si anak hancur dan tidak memberi dasar yang kuat baginya untuk berdiri. Walaupun terjadi perbedaan pendapat antara ayah dan ibu dalam hal hidup berumah tangga, anak kiranya selalu merasakan dan melihat bahwa orangtuanya adalah pasangan suami istri yang saling mencintai, menyayangi, mempercayai dan setia.
Memang persoalan rumah tangga sering membuat perbedaan pendapat di antara para orangtua yang akhirnya bisa memunculkan pertengkaran. Hal itu dapat dimaklumi, tetapi kalaupun hal itu terjadi sebaiknya pertengkaran itu tidak dilihat oleh anak. Drescher mengutip pendapat Kenneth Foreman bahwa anak-anak yang nakal berasal dari segala jenis keluarga (rumah) kecuali anak yang nakal tidak pernah berasal dari keluarga di mana ada harmoni antara suami istri.
    1. Cinta orangtua yang kaya dan terus-menerus bagi anak
Melalui cinta kasih orangtua, anak-anak memperoleh rasa aman yang pertama dalam dunia yang serba asing bagi si anak. Cinta yang mengikat ini berarti menerima anak dalam keadaan baik maupun nakal. Cinta orangtua yang kaya dan terus-menerus itu dapat diwujudkan melalui pelukan, ciuman dan memberitahukan bahwa mereka mencintai si anak.
    1. Kebersamaan keluarga
Anak merasa aman bila mengalami kuatnya kebersamaan dalam keluarga di mana ia hidup. Kebersamaan keluarga ini dapat diwujudkan melalui kebiasaan rutin yang teratur di dalam keluarga. Sebagai contoh kebiasaan rutin yang teratur dalam keluarga adalah jadwal yang teratur untuk makan, tidur, rekreasi, dll.
    1. Disiplin yang tepat
Gemas campur frustasi membuat ibu Alex akhirnya mengeluarkan ancaman terhadap anaknya yang berusia 8 tahun. “Baik sudah enam kali ibu minta kamu membereskan mainanmu, sekarang terserah,” teriaknya. “Tetapi, selama seminggu ini kamu tidak boleh nonton televisi.” Ancaman ibu Alex berhasil sehingga Alex segera bergerak melakukan perintah ibunya. Lalu dengan suara memelas Alex mulai merayu ibunya, “Ibu, boleh ‘kan malam ini saya nonton televisi. Acara favorit saya ada di televisi malam ini. Boleh ‘kan...” Mendengar suara yang begitu memelas, si ibu langsung menyerah sambil berpesan, “Tetapi, untuk kali ini saja, lain kali tidak.”[100]
Dari pengalaman di atas dapat dilihat bahwa orangtua terkadang sering tidak mampu menentukan sikap terhadap perilaku anak, sehingga anak-anak berperilaku sesuai dengan apa yang diinginkan oleh si anak. Orangtua yang tidak mampu menentukan sikap terhadap perilaku anak merupakan ancaman terhadap rasa aman anak. Anak-anak seperti ini tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya diharapkan dari mereka atau apa yang tidak boleh dan boleh dilakukan sehingga tidak ada keteraturan dalam hidup si anak.
Oleh karena itu, orangtua penting untuk menerapkan disiplin. Disiplin diterapkan secara benar dan dalam cinta kasih. Penerapan disiplin yang seperti ini akan mendatangkan damai dan keteraturan bagi hidup si anak.
    1. Perasaan dimiliki
Dimiliki adalah kebutuhan psikologis yang sangat dalam. Anak-anak ingin menjadi bagian dari keluarga, kelas atau kelompok. Bila mereka tidak menjadi bagian dari keluarga, kelas atau kelompok, mereka merasa tidak aman. Perasaan dimiliki sangat penting bagi rasa aman setiap anak. Bila anak merasa dimiliki dalam keluarganya dan sungguh-sungguh dihargai di situ, anak tersebut tidak jauh lagi dari perasaan diterima, dicintai dan dihargai oleh orang lain maupun Tuhan. Perasaan dimiliki memberikan rasa aman pada anak tersebut.
Perasaan dimiliki dapat ditumbuhkan dengan melakukan suatu pekerjaan dengan bersama-sama. Artinya orangtua bekerjasama dengan anak dalam suatu pekerjaan rumah. Anak-anak akan mendapatkan kepastian jika pendapat mereka diperhitungkan dan jika mereka dilibatkan dalam pengalaman keluarga yang serius maupun yang menggembirakan. Mereka merasa dimiliki jika mereka ikut serta dalam tanggung jawab dan kerja keluarga.
Menurut Seto Mulyadi,[101] (Ketua Komnas Perlindungan Anak), perasaan dimiliki dapat diwujudkan oleh orangtua melalui sikap orangtua yang demokratik. Yaitu dengan cara menggelar pertemuan keluarga pada setiap akhir minggu. Dalam suasana yang nyaman, seluruh anggota keluarga mengambil tempat di dalam rumah, lalu masing-masing anggota keluarga mencoba untuk saling mengungkapkan isi hatinya. Anak yang pertama kali diberi kesempatan untuk menyampaikan kritik terhadap orangtua, sementara orangtua dengan rendah hati menerima kritik tersebut. Pada gilirannya anak pun akhirnya juga belajar berani menerima kritik dari orangtuanya.
Melalui diskusi seperti di atas, anak merasa dimiliki oleh keluarganya dan sungguh-sungguh dihargai di situ, anak tersebut tidak jauh lagi dari perasaan diterima, dicintai dan dihargai. Akhirnya diskusi seperti itu dapat memberikan rasa aman pada anak.

  1. Kebutuhan akan diterima
Anak perlu merasakan bahwa sifat kekanak-kanakan mereka diterima. Mereka perlu dikasihi dan diterima, bukan mereka telah melakukan sesuatu, tetapi karena mereka memiliki nilai manusiawi.[102] Jika suasana di keluarga mencakup penerimaan yang bahagia dan memuaskan atas anak-anak, mereka akan merasa dihargai dan dapat bertahan dengan kuat.[103] Penerimaan itu bukan berarti perilaku mereka yang diterima, tetapi menerima harga diri dan nilai anak itu sendiri. Dengan demikian anak akan merasa senang dan mengalami perkembangan kepribadian yang baik bila diterima. Sebaliknya bila anak hidup dalam lingkungan yang tidak menerima mereka, maka akan timbul jiwa yang penuh ketakutan dan rasa bersalah. Jiwa yang penuh ketakutan dan rasa bersalah yang ada dalam diri anak dapat menghambat perkembangan kepribadiannya.[104]
Bila rasa diterima sangat dibutuhkan anak untuk perkembangan kepribadiannya, maka hal-hal apa yang dapat dilakukan orangtua supaya anak mengetahui bahwa mereka diterima? Pertanyaan ini Drescher jawab sebagai berikut:[105]
  1. Mengakui bahwa setiap anak adalah unik
Tidak ada dua anak yang serupa, bahkan walaupun itu kembar siam. Setiap anak memiliki karakter yang khas yang saling berbeda. Karakter mereka yang khas itulah yang hendaknya dapat diterima oleh orangtua. Seorang anak yang mendapat penerimaan dari orangtuanya lebih cenderung kepribadiannya dapat berkembang dengan baik.
  1. Membantu anak agar mendapatkan kepuasan dalam apa yang berhasil dikerjakannya
Seorang anak selalu ingin mendapatkan kepuasan dalam apa yang berhasil dikerjakannya. Usaha yang dapat memberikan anak kepuasan dalam apa yang anak lakukan adalah mendorong si anak melakukannya dengan memberi semangat. Memberi semangat artinya membimbing anak untuk melakukan pekerjaan yang dia lakukan, bukan sebaliknya melindungi anak secara berlebihan. Melindungi anak secara berlebihan dapat menimbulkan perasaan tidak diterima dalam diri anak. Artinya seorang anak akan beranggapan bahwa orangtuanya tidak membiarkan dia untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tetapi dengan memberi semangat, anak dapat merasakan penerimaan dari orangtuanya terhadap apa yang anak lakukan. Dengan memberi semangat orangtua tidak hanya menerima si anak, tetapi juga menyiapkannya untuk kehidupan mendatang.
  1. Membiarkan anak mengetahui bahwa orangtuanya mencintainya, menginginkannya dan senang berada di sampingnya
Penerimaan terhadap anak dapat diwujudkan melalui ungkapan-ungkapan bahwa mereka dicintai, diinginkan dan senang berada di dekatnya. Seorang anak mengetahui bahwa mereka dicintai oleh orangtuanya atau tidak, diinginkan orangtuanya atau tidak. Anak-anak mengetahui bahwa mereka dicintai, diterima dan senang berada di dekatnya bila orangtua menyediakan waktu untuk berada bersama mereka, untuk menolong mereka dengan hal-hal yang dilakukan dan kalau orangtua memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperlihatkan cinta kasih kepada mereka. 
  1. Menerima teman-teman anak
Seorang anak akan merasakan penerimaan dari orangtuanya, jikalau orangtuanya juga menerima teman-teman anak. Teman sangatlah penting bagi anak. Bagi anak rumah adalah tempat di mana dia dengan bebas dapat membawa temannya berkunjung. Dengan demikian biarkan anak-anak mengetahui bahwa orangtuanya menghargai dan menerima kehadiran teman-teman mereka. Orangtua tidak perlu menghawatirkan bila anak memiliki teman yang tidak baik. Karena seorang anak tidak mengajak anak-anak yang tidak ia senangi untuk berkunjung ke rumahnya.
  1. Mempertahankan hubungan yang jujur dan sungguh-sungguh dengan anak-anak
Perasaan diterima dalam diri anak dapat juga terwujud melalui hubungan yang jujur dan sungguh-sungguh antara orangtua dan anak. Hubungan yang jujur dan sungguh-sungguh itu adalah keterbukaan antara orangtua dan anak. Artinya orangtua hendaknya mampu menerima keberadaan anak dan sebaliknya anak dapat menerima keberadaan orangtuanya.
  1. Dengarkan apa yang dikatakan anak 
Mendengarkan apa yang dikatakan anak sangat mempengaruhi perasaan anak mengenai penerimaan dari orangtuanya akan keberadaannya. Seorang anak merasa diterima ketika orangtua mengambil waktu untuk mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakannya.

  1. Kebutuhan akan disiplin
Howard. J. Clinebell mengatakan bahwa hidup manusia berada dalam suatu struktur yang tidak dapat dielakkan. Struktur itu adalah keteraturan, hukum atau undang-undang yang dicipta untuk menetapkan batas dari tingkah laku. Dengan demikian stuktur yang tercipta itu menjadi kebutuhan bagi manusia, khususnya anak. Clinebell menyebutnya dengan istilah Limits.[106]
Menetapkan batasan tingkah laku anak kemungkinan memiliki arti pembentukan sifat anak secara menyeluruh melalui pemberian semangat pada tingkah laku yang baik dan membetulkan tingkah laku yang salah. Pengertian tersebutlah yang John M. Drescher sebut dengan istilah Disiplin.[107]
Disiplin yang tepat dapat menolong anak untuk mengembangkan pengendalian diri dan pengarahan diri sehingga mereka dapat mengembangkan hati nurani untuk membimbing tindakan mereka.[108] Disiplin merupakan suatu hubungan belajar dan mengajar di antara orangtua dan anak, orangtua mendisiplinkan anak dan anak akan bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri.[109] Phil Batchelor mengutip ungkapan Lyman Abbot yang mengatakan orangtua mempunyai tugas untuk mengatur anak-anaknya. Tetapi tujuan pengaturan yang baik adalah mempersiapkan anak agar dapat mengatur dirinya sendiri.[110]
Dengan demikian disiplin itu merupakan sesuatu yang dibutuhkan anak untuk membantu anak belajar dan berkembang. Disiplin perlu untuk perkembangan anak, karena disiplin itu sendiri dapat memenuhi beberapa kebutuhan tertentu dari anak. Beberapa kebutuhan itu adalah:[111]
·         Disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
·         Dengan membantu anak menghindari perasaan bersalah dan rasa malu akibat perilaku yang salah – perasaan yang pasti mengakibatkan rasa tidak bahagia dan penyesuaian yang buruk – disiplin memungkinkan anak hidup menurut standar yang disetujui kelompok sosial dan dengan demikian memperoleh persetujuan sosial.
·         Dengan disiplin, anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan. Hal ini esensial bagi penyesuaian yang berhasil dan kebahagiaan.
·         Disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan darinya.
·         Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani – “suara dari dalam” pembimbing dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku

Jika disiplin itu merupakan sesuatu yang dibutuhkan anak untuk membantu anak belajar dan berkembang. Maka sangat penting untuk menanamkan disiplin terhadap anak. Bagaimana cara menanamkan disiplin yang baik? Cara menanamkan disiplin yang baik adalah cara mendisiplin demokratis. Cara mendisiplin domokratis adalah metode yang menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Pemberlakuan disiplin demokratis diawali dan diterapkan dengan penuh kasih sayang, sungguh-sungguh dan berlaku secara konsisten.[112]
Metode ini lebih menekankan aspek edukatif daripada aspek hukumannya. Metode ini menggunakan hukuman dan penghargaan, dengan penekanan yang lebih besar pada penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman fisik. Hukuman hanya dilakukan bila terdapat bukti bahwa anak-anak secara sadar menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak memenuhi standar yang diharapkan, orangtua yang demokratis akan menghargainya dengan pujian atau persetujuan lain.

  1. Kebutuhan akan mengaktualisasikan diri
Mengaktualisasi diri berarti manusia butuh kesempatan untuk aktif memanfaatkan seluruh bakat dan potensinya. Bekerja aktif untuk mengembangkan bakat dan potensi itu secara bebas akan menjauhkan individu itu dari kemalasan dan kemiskinan.
Abraham H. Maslow[113] mengatakan aktualisasi diri merupakan unsur penting dalam memotivasi manusia untuk berkembang. Dengan demikian aktualisasi diri menjadi suatu kebutuhan dalam diri manusia. Kebutuhan akan mengaktualisasikan diri adalah kebutuhan untuk menumbuhkan, mengembangkan dan menggunakan seluruh potensi diri. Melalui kebutuhan akan mengaktualisasikan diri inilah manusia mengalami kepuasan hidup.
Menurut Hurlock aktualisasi diri bagi seorang anak nampak di dalam perkembangan sosial anak. Artinya aktualisasi diri anak nampak dari perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Dengan demikian kebutuhan aktualisasi diri anak adalah kebutuhan anak menjadi orang yang mampu bermasyarakat.[114] Di dalam hidup bermasyarakatlah seorang anak mengembangkan daya kreasi, daya mandiri, daya percaya diri dan daya alam bawah sadarnya.
Demikian pula dengan seorang anak, jika tidak ada halangan (mis. larangan dari orangtua) dalam mengembangkan daya kreasi, daya mandiri, daya percaya dirinya, dan dengan aktif mengembangkan daya alam bawah sadarnya, maka ia akan memiliki rasa kepuasan dalam mengaktualisasikan dirinya.[115]
 
            4.1.3. Kebutuhan Dasar dari Sudut Perkembangan Spiritual
Kebutuhan dasar dari sudut spiritual anak adalah kebutuhan yang berkaitan dengan kehidupan rohani anak atau kebutuhan yang berkaitan dengan keyakinan religius anak. Froebell sebagaimana dikutip oleh Boehlke mengatakan kebutuhan spiritual adalah kebutuhan supaya anak senantiasa sadar akan kesatuannya dengan Allah.[116] Anak-anak sangat membutuhkan kehadiran Tuhan dalam perkembangan kepribadiannya. Penting bagi mereka untuk mengetahui di mana mereka berdiri bersama Tuhan. Dengan demikian konsep tentang Tuhan harus ditumbuhkan dalam diri anak. Artinya orangtua harus mampu menjelaskan kepada anak tentang citra Tuhan.[117]
Bagi orang tua, anak sebagai titipan Tuhan sangat berharga nilainya. Anak tidak bisa diukur secara materi. Maka kebutuhan anak secara jasmani, empat sehat lima sempurna perlu perhatian lebih dari orangtua. Demikian juga halnya dengan kebutuhan rohani anak. Anak membutuhkan makanan rohani yang baik. Dalam memenuhi kebutuhan rohani anak, Alex Pann menjelaskan, orangtua perlu lebih proaktif merangsangnya.
"Sebab kebutuhan rohani ini sangat menentukan kepribadian anak, dan prinsip hidup anak ke depan. Maka, caranya kita tidak cukup menyerahkan anak ke gereja dengan Sekolah Minggu dan kegiatan-kegiatan gerejawi. Orangtua wajib menjadi guru rohani anaknya dengan mengajarkan sesuai dengan firman Allah. Sebelum anak tidur, selama anak bermain, selama anak di sekolah dan di mana pun anak berada, orangtua harus bisa menyertainya dengan kebenaran-kebenaran firman Allah,"[118]

Dengan demikian terpenuhi atau tidaknya kebutuhan spiritual anak ditentukan oleh keluarga di mana hidup. Kehidupan keluarga – baik ataupun buruk – mau tidak mau merupakan pembentukan rohani para anggota keluarga. Kehidupan keluarga orang percaya merupakan konteks awal dan paling alami bagi pembentukan rohani anak-anak.[119] Horace Bushnell melihat betapa pentingnya peranan keluarga di dalam membentuk kehidupan rohani anak. Drescher mengutip pendapat Bushnell yang mengatakan: “Rumah dan agama adalah kata-kata yang bersaudara, rumah adalah tempat kedudukan agama; agama adalah elemen yang kudus dari rumah... Sebuah rumah tanpa atap adalah seperti keluarga tanpa agama.”[120]
Pembentukan rohani dalam tulisan ini adalah pembentukan rohani Kristen. Pembentukan rohani anak adalah suatu kenyataan hidup yang utama.[121] Artinya pembentukan rohani bukanlah sekedar suatu pilihan – yang boleh dipilih atau boleh tidak dipilih. Pembentukan rohani yang diterima anak adalah suatu proses di mana anak menjadi serupa dengan Kristus.[122]
Dengan demikian kebutuhan spritual anak merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Usaha yang dapat dilakukan keluarga untuk memenuhi kebutuhan anak akan kehadiran Tuhan adalah orangtua harus mampu memberikan citra Allah melalui tindakannya sendiri. Orangtua harus mampu menjadi: Pertama, teladan kesucian, artinya orangtua menjadi teladan bagi anak dalam hidup suci. Kedua, penyelenggara ilahi, artinya orangtua mampu meyempurnakan kehidupan rohani anak.[123]
 Dalam memperkenalkan Tuhan bagi anak, sangat penting untuk menceritakan cerita-cerita yang terdapat dalam Alkitab, setelah itu perlu juga nyanyian-nyanyian rohani, percakapan rohani, ayat hafalan dan doa.[124] Nyanyian, percakapan, ayat hafalan dan doa merupakan penghantaran iman yang alami atau penyampaian keyakinan secara spontan anak terhadap kehadiran Tuhan.[125] Baru setelah itu melaksanakan kebaktian keluarga yang dilanjutkan dengan kegiatan Sekolah Minggu di gereja.

4.2. Peran Gereja dalam Menolong Orangtua
            Dari pemaparan tentang kebutuhan dasar anak di atas, dapat dilihat bahwa yang paling berperan untuk memenuhinya terhadap anak adalah orangtua. Sekarang dalam bagian ini, akan dijelaskan tentang bagaimana peran gereja di dalam menolong orangtua untuk memenuhi kebutuhan dasar anak tersebut.
Pada dasarnya yang bertugas untuk pembinaan dan pemberdayaan orangtua dalam memenuhi kebutuhan dasar anak adalah gereja. Mengapa? Sebab gereja terdiri dari keluarga-keluarga. Dengan kata lain, keluarga adalah “tiang-tiang” gereja. Roger Lincoln Shinn mendefenisikan bahwa persekutuan Kristen adalah sebuah keluarga dari keluarga-keluarga (The family of families).[126] Dengan demikian kalau keluarga anggota gereja sehat, maju dalam sikap, iman, mental dan perilaku maka maju pulalah gereja. Sebaliknya, kalau kualitas hidup beriman keluarga anggota gereja lemah, maka lemah pulalah mutu kehidupan gereja.
Dengan demikian gereja harus mengambil peranan di dalam menolong orangtua untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan anak-anak dari anggota jemaatnya. Para pekerja gereja hendaknya memikirkan bagaimana gereja dapat berperan aktif dalam menolong orangtua untuk memenuhi kebutuhan dasar anaknya. Untuk memahami bagaimana peran gereja dalam menolong orangtua memenuhi kebutuhan dasar anak, ada baiknya terlebih dahulu memahami bagaimana hubungan antara gereja dengan keluarga (orangtua) 
Hubungan antara gereja dengan keluarga (orangtua) dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak adalah hubungan yang saling membangun, memperbaiki dan mendukung.[127] Hubungan yang ada itu bertujuan untuk menjadikan orang-orang percaya (keluarga Kristen), khususnya anak-anak bertumbuh menjadi seperti Kristus. Gereja membangun, memperbaiki dan mendukung orang-orang percaya mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef. 4:13).[128] Hubungan antara gereja dan keluarga (orangtua) dapat terwujud di dalam pelaksanaan Pendidikan Kristen. Melalui Pendidikan Kristen, gereja menolong orangtua untuk mengasuh, membesarkan dan mendidik anaknya menjadi bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus.[129]
Gereja di dalam menolong orangtua terwujud di dalam usaha gereja membangun keluarga. Usaha membangun keluarga ini menjadi program utama dari gereja. Ada tiga prinsip dasar gereja di dalam membangun keluarga, yaitu:[130]
  1. Mengajarkan orangtua supaya bersikap seorang pendidik di dalam keluarga, artinya gereja menolong orangtua untuk dapat mendidik anak-anaknya tentang kehidupan Kristen. Prinsip ini dapat terwujud setelah gereja memenuhi apa yang diperlukan orangtua untuk menjadi seorang pendidik. Menjadi seorang pendidik di dalam keluarga orangtua perlu:
    1. Diberikan penjelasan alkitabiah tentang tanggung jawab dan tugas mereka sebagai orangtua.
    2. Menjadikan Alkitab sebagai keperluan pribadi mereka
    3. Dipersipakan menjadi pemimpin kerohanian anggota keluarga
    4. Diberi pemahaman tentang perkembangan kebutuhan-kebutuhan dari anak-anaknya dan mengajarkan bagaimana memenuhi kebutuhan itu sesuai dengan kehidupan Kristen
    5. Bergabung dengan orangtua Kristen lainnya untuk berbagi pengalaman mengenai standar-standar kehidupan Kristen.
    6. Dilatih untuk memakai waktu di dalam keluarga secara kreatif.
  2. Menghubungkan pelayanan gereja ke dalam keluarga, artinya gereja tidak hanya melayani jemaat di gedung gereja saja. Melalui pelayanan gereja ke dalam keluarga orangtua tertolong di dalam membimbing anak mereka sesuai dengan kebenaran Alkitab. Prinsip ini dapat terwujud melalui:
    1. Orangtua harus menerima dengan baik apa yang diberitahukan dan diajarkan oleh gereja
    2. Orangtua harus mendukung dan menyetujui usaha-usaha pengajaran gereja
    3. Orangtua harus membimbing anak-anaknya untuk melihat kenyataan dari apa yang diajarkan di dalam gereja melalui perbuatan sehari-hari.
    4. Orangtua harus membimbing anak-anaknya untuk menerima Allah melalui kebenaran yang ada di dalam Alkitab
    5. Orangtua dan guru harus berbagi pengalaman tentang pertumbuhan spiritual anak.
  3. Merancang program gereja yang dapat menolong keluarga untuk menerapkan kehidupan Kristiani di dalam rumah. Artinya gereja juga memberikan tugas kepada orangtua untuk turut serta menerapkan kehidupan Kristiani di dalam keluarga mereka. Prinsip ini terwujud melalui perkunjungan yang dilakukan petugas gereja ke rumah-rumah. Perkunjungan ini dapat dilakukan dalam satu atau dua kali dalam seminggu.
Dengan demikian peran gereja dalam menolong orangtua adalah memperlengkapi para orangtua agar mampu berbuat sebagai motivator, fasilitator dan pelatih bagi anak dalam rumah. Untuk memperlengkapi dan memberdayakan para orangtua ini, gereja mengembangkan program pendidikan menjadi orangtua yang efektif.  
Di samping itu gereja juga perlu memperlengkapi orangtua dengan:
a.                   Konseling dan penyuluhan perkawinan
Dalam suatu perkawinan yang baik atau keluarga yang baik terdapat suatu pendampingan timbal balik. Dan masing-masing terus saling mendukung pertumbuhan dalam rangka pemenuhan potensi yang diberikan Allah kepada mereka. Tidak ada bidang pelayanan lainnya yang lebih mendasar nilai-nilai kepribadian berjangka panjang secara lebih memokok. Melalui penyuluhan dan konseling perkawinan serta keluarga, gereja dapat memberikan sumbangannya bagi kesehatan mental, kesehatan jasmani dan kesehatan rohani dari pasangan perkawinan dan anak-anak mereka. Melalui penyuluhan dan konseling perkawinan, gereja dapat menolong keluarga sebagai taman kepribadian manusia. Artinya keluarga adalah tempat utama di mana orang terbentuk (melalui proses sosialisasi). Dan orangtua adalah “arsitek keluarga”.[131]
b.                  Pembinaan kerohanian dan nilai-nilai bagi orangtua
Pembinaan kerohanian ini dapat diwujudkan melalui pelaksanaan Penelaahan Alkitab (PA) atau kelompok pertemuan rohani untuk pasangan suami-istri. Melalui pembinaan ini, gereja menolong orangtua mendidik anak-anak mereka di dalam terang firman Tuhan.[132]
c.                   Forum persekutuan orangtua dengan anak
Margaret Sawin telah mengembangkan suatu model pendidikan dan pendampingan keluarga yang disebut “Perkumpulan Keluarga” (Family Clusters).[133] Satu kelompok terdiri dari empat atau lima keluarga yang dicirikan oleh berbagai tahap siklus kehidupan keluarg, ditambah dengan beberapa orang yang hidup sendirian (membujang). Perkumpulan seperti ini biasanya melibatkan dua puluh hingga dua puluh lima orang. Mereka berjanji bertemu sekali seminggu selama dua setengah jam. Tiap perhimpunan merupakan rangkaian pengalaman belajar yang berkesinambungan selama sepuluh minggu. Sawin meringkaskan tujuan kelompok itu sebagai berikut:[134]
1.      Menyediakan suatu kelompok antar usia dari unit keluarga di mana anak-anak dapat mudah bergaul  dengan orang dewasa dan orang dewasa dengan anak-anak.
2.      Menyediakan suatu kelompok yang dapat bertumbuh dalam hal saling mendukung dan upaya gotong-royong.
3.      Menyediakan suatu kelompok di mana para orangtua dapat memperoleh prespektif tentang anak-anak mereka melalui kontak dengan anak-anak lain dan melalui persepsi orang dewasa lainnya tentang anak-anak mereka. Dan bersamaan dengan itu, anak-anak dapat memperoleh prespektif tentang orangtua mereka melalui kontak dengan para orangtua lainnya dan melalui presepsi anak-anak lainnya tentang orangtua mereka.
4.      Menyediakan suatu kesempatan bagi keluarga untuk menilai pengalaman-pengalamannya yang berkaitan dengan diri mereka secara individu, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota kelompok dan sebagai anggota dari persekutuan orang percaya.
5.      Menyediakan suatu kelompok di mana terdapat kesempatan bagi setiap keluarga untuk saling meneladani aspek-aspek dari sistem keluarga mereka. Misalnya dalam hal berkomunikasi, mengambil keputusan, menjalankan disiplin, bergaul, menanggulangi masalah, dan lain-lain.
6.      Menyediakan pengalaman bersama di antara orang berbeda usia di mana orang dewasa dapat menyampaikan keprihatinan mereka berkaitan dengan arti dari pengalaman hidup mereka di tengah zaman di mana terjadi perubahan sosial yang cepat dan penyimpangan nilai-nilai tradi­sional. Dalam kelompok itu anak-anak dapat menghadapi pengalaman dunia nyata mereka dengan menggunakan kelompok sebagai suatu tempat untuk memeriksa pengalaman mereka di tengah sistem dukungan dan sistem nilainya.
7.      Membantu keluarga untuk menemukan dan mengembangkan kekuatan mereka melalui kasih, pemeliharaan, kebahagiaan, dan penciptaan yang ditingkatkan.
8. Menyediakan kesempatan untuk intervensi positif ke dalam sistem keluarga sehingga memudahkan hidup mereka dan memperlancar pertumbuhan bersama secara produktif.
                       
4.3. Orangtua dan Kebutuhan Anak
            Dari bab-bab terdahulu sudah dikatakan bahwa yang paling berperan aktif di dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak adalah orangtua. Dengan demikian untuk lebih memahami bagaimana peran orangtua di dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, maka sangat perlu diketahui apa peran orangtua di dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. Dalam tulisan ini ada tiga peran atau tugas orangtua di dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, yaitu:[135]
  1. Sebagai motivator
Orangtua sebagai motivator artinya orangtua bertugas sebagai pendukung di dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian. Terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar anak itu tergantung kepada orangtua anak. Jika memang seorang orangtua tidak memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhan dasar anaknya, tentu kebutuhan dasar anak itu tidak terpenuhi sehingga perkembangan kepribadian anak itu pun secara otomatis akan terganggu. Sebaliknya, jika seorang orangtua memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhan dasar anaknya, tentu kebutuhan dasar anak itu akan terpenuhi sehingga perkembangan kepribadian anak itu pun dapat berlangsung dengan baik. Demikian juga orangtua perlu mengerti cara saat untuk memberi motivasi pada anak, agar anak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, sekaligus anak merasa dirinya disukai dan dihargai.
Sebagai contoh, salah satu kebutuhan dasar anak adalah kebutuhan akan rasa aman. Tentu seorang anak yang berusia 6 – 12 tahun belum mampu menciptakan rasa aman bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini orangtua harus menjadi motivator bagi anak dengan memberikan rasa aman melalui pelukan, sentuhan, kata-kata, dll. Sehingga kebutuhan dasar anak akan rasa aman dapat terpenuhi.
  1. Sebagai fasilitator
Orangtua sebagai fasilitator artinya orangtua bertugas sebagai orang yang memberikan fasilitas kepada anak di dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak. Terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar anak itu tergantung kepada orangtua anak. Jika memang seorang orangtua tidak mampu memberikan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan dasar anaknya, tentu kebutuhan dasar anak itu tidak terpenuhi sehingga perkembangan kepribadian anak itupun secara otomatis akan terganggu. Sebaliknya, jika seorang orangtua memiliki kemampuan memberi fasilitas untuk memenuhi kebutuhan dasar anaknya, tentu kebutuhan dasar anak itu akan terpenuhi sehingga perkembangan kepribadian anak itu pun dapat berlangsung dengan baik.
Fasilitator mencakup upaya orangtua untuk menciptakan suasana psikis yang membuat anak merasa dirinya diterima sebagaimana ia adanya, disenangi, diberi kebebasan aktualisasi diri sekaligus dibimbing dalam disiplin.
Sebagai contoh, salah satu kebutuhan dasar anak adalah kebutuhan akan makanan. Tentu seorang anak yang berusia 6 – 12 tahun belum mampu mencari makanannya sendiri. Dalam hal ini orangtua harus memfasilitasi anak dengan memberikan makanan, sehingga kebutuhan dasar anak akan makanan dapat terpenuhi.
  1. Sebagai pelatih
Orangtua sebagai pelatih artinya orangtua bertugas sebagai orang yang memberikan arahan kepada anak di dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak. Terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar anak itu tergantung kepada orangtua anak. Jika memang seorang orangtua tidak mampu mengarahkan anak di dalam memenuhi kebutuhan dasar anaknya, tentu kebutuhan dasar anak itu tidak terpenuhi sehingga perkembangan kepribadian anak itupun secara otomatis akan terganggu. Sebaliknya, jika seorang orangtua mampu mengarahkan anak di dalam memenuhi kebutuhan dasar anaknya, tentu kebutuhan dasar anak itu akan terpenuhi sehingga perkembangan kepribadian anak itupun dapat berlangsung dengan baik. Pelatih mencakup upaya orangtua untuk menolong anak mengembangkan potensi diri, mengatasi persoalan atau masalah, menetapkan pilihan yang bernilai.
Sebagai contoh, salah satu kebutuhan dasar anak adalah kebutuhan akan disiplin. Tentu seorang anak yang berusia 6 – 12 tahun belum mampu mendisiplinkan dirinya sendiri. Sehingga dalam hal ini orangtua harus mampu menjadi pelatih bagi anak tentang hidup disiplin. Sehingga kebutuhan dasar anak akan disiplin dapat terpenuhi.
Dengan memperhatikan uraian peran orangtua di atas, dapat dikatakan orangtua sangat berperan di dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun. Ketiga peran orangtua di atas berlangsung secara serentak di dalam memenuhi kebutuhan dasar anak.


 
BAB V
KESIMPULAN
            Dari penelitian terhadap topik melalui metode kepustakaan, ada beberapa hal yang dapat diambil sebagai kesimpulan:
1.      Kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun
Kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun dibagi ke dalam tiga bagian besar yaitu:
a.       Kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun dari sudut perkembangan fisik anak. Kebutuhan dasar dari sudut perkembangan fisik anak adalah kebutuhan perkembangan jasmani anak atau kebutuhan untuk mempertahankan fisik. Dalam tulisan ini, kebutuhan dari sudut perkembangan fisik anak adalah kebutuhan untuk tubuh anak yaitu kebutuhan akan gizi.
b.      Kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun dari sudut emosional anak. Kebutuhan dasar dari sudut emosional anak adalah kebutuhan yang berkaitan dengan ekspresi emosi atau kebutuhan yang berkaitan dengan perubahan-perubahan yang mendalam yang menyertai emosi. Dalam tulisan ini, kebutuhan dari sudut emosional anak adalah:
1.                  Kebutuhan akan berarti
2.                  Kebutuhan akan rasa aman
3.                  Kebutuhan akan diterima
4.                  Kebutuhan akan disiplin
5.                  Kebutuhan akan mengaktualisasikan diri
c.       Kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun dari sudut spiritual anak. Kebutuhan dasar dari sudut spiritual anak adalah kebutuhan yang berkaitan dengan kehidupan rohani anak atau kebutuhan yang berkaitan dengan keyakinan religius anak.

2.      Oknum atau pihak yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun
Oknum yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun adalah orangtua, gereja, sekolah dan lingkungan sosial anak. Gereja, sekolah dan lingkungan sosial anak berperan (ambil bagian/ bukan penanggung jawab penuh) untuk menolong orangtua. Dengan demikian pada hakikatnya yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun tersebut adalah orangtua. Hal ini terjadi karena di dalam pengasuhan orangtualah pertama sekali terjadi perkembangan kepribadian anak berlangsung.

3.      Cara untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun.
Cara untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk perkembangan kepribadian anak usia 6 – 12 tahun adalah orangtua harus mengetahui apa perannya di dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. Dalam tulisan ini ada tiga peran atau tugas orangtua di dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, yaitu: sebagai motivator, fasilitator dan pelatih.
           












[1] Kuliah PAK Anak oleh Pdt. P. Hutapea, Sem. Genap T.A. 2001-2002
[2] Mary Go Setiawani, Menerobos Dunia Anak, Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2004: hlm. 5-6. (selanjutnya akan disingkat Menerobos).
[3] Jahones Saragih, “Peranan Anak dalam Keluarga” dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan, (disunting Jhon Renis Saragih dan Bertha Lyna Tarigan), Medan 2007: hlm. 21-22.
[4] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan, Penerbit Erlangga, Jakarta 2004: hlm. 14. (selanjutnya akan disingkat Psikologi).
[5] Ediasri T. Atmodiwirjo, “Perkembangan anak: suatu tinjauan dari sudut psikologi perkembangan”, dalam Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (disunting Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsa), BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004: hlm. 4-6.
[6] 1 Kor. 13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
[7] Psikis adalah yang berhubungan dengan jati diri, prinsip hidup, asas hidup, pikiran, akal, ingatan, termasuk baik proses-proses kesadaran maupun ketidaksadaran. J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta 2006: hlm. 393.
[8] Kej. 1:29-30 Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian.
Kej. 2:15-16 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas
[9] C. Barth, Theologia Perjanjian Lama 1, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004: hlm. 68.
[10] Francis Bridger, Children Finding Faith, Scripture Union, London 1988: hlm. 140.
[11] Ul. 16:11 Haruslah engkau bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, engkau ini dan anakmu laki-laki serta anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, dan orang asing, anak yatim dan janda, yang di tengah-tengahmu, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana.
Ul. 16:14 Haruslah engkau bersukaria pada hari rayamu itu, engkau ini dan anakmu laki-laki serta anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu.
[12] Ams. 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu
[13] Mzm. 78:5-8 Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
[14] Roland de Vaux, Ancient Israel: Its life and institutions, McGraw-Hill Book Company, New York 1961: hlm. 48-50.
[15] Kej. 3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu. Mzm. 104:27 Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya.
Mzm. 104:28 Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tangan-Mu, mereka kenyang oleh kebaikan.
[16] Kel. 20:8-10 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
Ayb. 1:5 Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.
[17] Kel. 13:14 Dan apabila anakmu akan bertanya kepadamu di kemudian hari: Apakah artinya itu? maka haruslah engkau berkata kepadanya: Dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan.
Ul. 11:18-21 Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.
Yos 4:6-7 supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu? Maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya.
[18] Ams. 13:24 Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.
Ams. 19:18 Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.
Ams.29:17 Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.
[19] Ul. 6:4-9 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
[20] Kel. 20:12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
[21] Ul. 21:18-21"Apabila seseorang mempunyai anak laki-laki yang degil dan membangkang, yang tidak mau mendengarkan perkataan ayahnya dan ibunya, dan walaupun mereka menghajar dia, tidak juga ia mendengarkan mereka, maka haruslah ayahnya dan ibunya memegang dia dan membawa dia keluar kepada para tua-tua kotanya di pintu gerbang tempat kediamannya, dan harus berkata kepada para tua-tua kotanya: Anak kami ini degil dan membangkang, ia tidak mau mendengarkan perkataan kami, ia seorang pelahap dan peminum. Maka haruslah semua orang sekotanya melempari anak itu dengan batu, sehingga ia mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu; dan seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut."
[22] H. Haag, “nb” dalam The Dictionary of The Old Testament, (disunting G. Johannes Botter Weck dan Helmer Ringgren), Grand Rapids, Michigan 1977: hlm. 154-155.
Ams. 10:1 Amsal-amsal Salomo. Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.
[23] Ul. 6:7 Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
[24] Ams. 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
[25] Luk. 2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Luk. 2:52 Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
[26] B.J. Boland, Tafsiran Alkitab: Injil Lukas, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004: hlm. 71.
[27] John Drane, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-kritis, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2005: hlm. 59.
[28] Mat. 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
[29] J.L. Ch. Abineno, Yesus Dari Nazaret: Suatu uraian historis alkitabiah, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006: hlm. 3. Bnd. Roland de Vaux, Op. Cit, hlm. 48-50. Robert R. Boehlke, Siapakah Yesus Sebenarnya?, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2001: hlm. 21-23.
[30] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: dari Palto sampai Ignatius Loyola, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1998: hlm. 43-44. (selanjutnya akan disingkat Sejarah...Loyola).
[31] Robert R. Boehlke, Sejarah...Loyola: hlm. 44-45.
[32] 1 Kor. 13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
[33] V.C. Pfitzner, Kesatuan dan Kepelbagaian: tafsiran atas surat 1 Korintus, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004: hlm. 258.
[34] Ef. 4:13 Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,
[35] John R.W. Stott, Efesus, YKBK/OFM, Jakarta 2003: hlm. 163.
[36] Ef. 4:15 Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
Flp. 2:15 Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,
[37] Kol. 1:10 Sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,
2 Pet. 3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.
[38] Eduard Lohse, Colossians and Philemon, Fortress Press, Philadelphia 1975: hlm. 29.
[39] Ewald M. Plass (ed), What Luther Says: an anthology, Vol I Absolution – Giving, Concordia Publishing House, Missouri 1959: hlm. 137.
[40] Robert R. Boehlke, Sejarah...Loyola, hlm. 337.
[41] Ewald M. Palss, Op. Cit, hlm. 139.
[42] Robert R. Boehlke, Sejarah...Loyola, hlm. 342.
[43] W.J. Kooiman, Martin Luther: doktor dalam Kitab Suci; reformator gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006: hlm. 133.
[44] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: dari Y.A. Comenius – Perkembangan PAK di Indonesia, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1998: hlm. 26 ff. (selanjutnya akan disingkat Sejarah...Indonesia).
[45] Robert R. Boehlke, Sejarah...Indonesia, hlm. 305-306.
[46] Ibid, hlm. 315.
[47] Ibid, hlm. 360-361.
[48] Untuk lebih jelasnya tentang kebutuhan dasar tersebut, maka di bab IV akan diuraikan secara satu-persatu
[49] James Mark Baldwin dan G.F. Stout, “Need” dalam Dictionary of Philosophy and Psychology Vol. II, (disunting James Mark Baldwin), Mass. Peter Smith, Gloucester 1960: hlm. 146.
[50] J.P. Chaplin, Op-cit, hlm. 52.
[51] John M. Drescher, Tujuh Kebutuhan Anak: arti, jaminan, penerimaan, kasih, doa, disiplin dan Tuhan, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1992: hlm. 10. (selanjutnya akan disingkat Tujuh)
[52] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak: jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta 2004: hlm. 23. (selanjutnya akan disingkat Perkembangan 1).
[53] J.P. Chaplin, Op. Cit, hlm. 134.
[54] James Mark Baldwin dan E.B. Poulton, “Development” dalam James Mark Baldwin (peny), Op. Cit, hlm. 274
[55] Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak: peran moral, intelektual, emosional dan sosial sebagai wujud integritas membangun jati diri, Bumi Aksara, Jakarta 2006: hlm. 17. Bnd. James Drever, Kamus Psikologi, Bina Aksara, Jakarta 1988: hlm. 103.
[56] R.D. Kahoe, “Allport, G” dalam Baker Encyclopedia of Psychology, (disunting David G. Benner), Grand Rapids, Michigan 1985: hlm. 46.
[57] Duane Schultz, Psikologi Pertumbuhan: model-model kepribadian sehat, Kanisius,Yogyakarta 2006: hlm. 26.
[58] R.L. Timpe, “Needs” dalam David G. Benner (peny), Op. Cit, hlm. 751.
[59] J.P. Chaplin, Op. Cit, hlm. 315.
[60] F.H. Sianipar, Sejarah Ringkas Psikologi dan Penyembuhan Melalui Psikologi, Mitra Millenium, Jakarta 1997: hlm. 89-90.
[61] Sumanto, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, Andi Offset, Yogyakarta 1990: hlm. 11.
[62] Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta 1988: hlm. 113-131. Bnd. Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah: dasar metoda teknik, Tarsito, Bandung 1982: hlm. 251-261.
[63] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi: hlm. 148.
[64] Mary Go Setiawani, Menerobos: hlm. 24.
[65] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi: hlm. 149.
[66] Soetjiningsih dan IG.N.Gde Ranuh, Tumbuh Kembang Anak, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 1995: hlm. 56-57.
Tinggi Badan dan Berat Badan Anak Laki-Laki Menurut Usia
Usia
Tinggi Badan
Berat Badan
6 tahun
107.7 cm
16.93 kg
7 tahun
113.0 cm
18.64 kg
8 tahun
118.1 cm
20.40 kg
9 tahun
122.9 cm
22.25 kg
10 tahun
127.7 cm
24.33 kg
11 tahun
132.6 cm
26.80 kg
12 tahun
137.6 cm
29.85 kg

Tinggi Badan dan Berat Badan Anak Perempuan Menurut Usia
Usia
Tinggi Badan
Berat Badan
6 tahun
106.6 cm
16.06 kg
7 tahun
111.8 cm
17.71 kg
8 tahun
116.9 cm
19.62 kg
9 tahun
122.1 cm
21.82 kg
10 tahun
127.5 cm
24.36 kg
11 tahun
133.5 cm
27.24 kg
12 tahun
139.8 cm
30.52 kg


[67] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi: hlm. 151. Bnd.  Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan1: hlm 163. dan Mary Go Setiawani, Menerobos: hlm. 24-25.
[68] Elizabeth B.Hurlock, Psikologi: hlm. 116. Bnd. Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan1: hlm. 215-219. dan Mary Go Setiawani, Menerobos: hlm. 25.
[69] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi: hlm. 154.
[70] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak: Jilid 2, Erlangga, Jakarta 2004: hlm. 134. (selanjutnya akan disingkat Perkembangan 2).
[71] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi, hlm. 148.
[72] Hendrawan Nadesul, Membesarkan Bayi Jadi Anak Pintar, Penerbit Buku KOMPAS Jakarta 2007: hlm. 196.
[73] Bisa berlaku atau tidak berlaku untuk anak.
[74] Ali Khomsan, “Gizi untuk Menunjang Aktivitas Anak Sekolah”, dalam Membangun Komunikasi Bijak Orangtua dan Anak, (disunting Chris Verdiansyah), Penerbit Buku KOMPAS, Jakarta 2004: hlm. 70.
[75] G. Kartasapoetra dan H. Masetyo, Ilmu Gizi, Rineka Cipta, Jakarta 2003: hlm. 114-119.
[76] G. Kartasapoetra dan H. Masetyo, Op. Cit, hlm. 120.
[77] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan 1: hlm. 115. Bnd. Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004: hlm. 11.
[78] Ali Khomsan, Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan, RajaGrafindo Persada, Jakarta 2003: hlm. 103.
[79] Pola menu empat sehat lima sempurna adalah pola menu seimbang yang bila disusun dengan baik mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Pola menu empat sehat lima sempurna umumnya terdiri atas makanan sebagai berikut:
1. Makanan pokok untuk memberi rasa kenyang: nasi, jagung, ubi jalar, singkong, talas, sagu, serta hasil olah, seperti mie, bihun, makaroni, dan sebagainya.
2. Lauk untuk memberi rasa nikmat sehingga makanan pokok yang pada umumnya mempunya rasa netral, lebih terasa enak yaitu lauk hewani (daging, ikan, kerang, telur dan sebagainya) lauk nabati (kacang-kacangan dan hasil olahan, seperti kacang kedele, kacang hijau, kacang merah, tahu, tempe dan oncom.
3. Sayur untuk memberi rasa segar dan melancarkan proses menelan makanan karena biasanya dihidangkan dalam bentuk berkuah: sayur daun-daunan, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan sebagainya.
4. Buah untuk “mencuci mulut”: pepaya, nenas, pisang, jeruk, dan sebagainya
5. Susu.
 Sunita Almatsier, Op. Cit, hlm. 286-287
[80] Ali Khomsan, Op. Cit, hlm. 115
[81] Daniel Goleman, Emotional Intellegence: kecerdasan emosional, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004: hlm. 7.
[82] A.S. Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary Of Current English, Oxford University Press, Oxford 1974: hlm. 282.
[83] Daniel Goleman, Op. Cit, hlm. XV
[84] Daniel Goleman, Op. Cit,  hlm. 48
[85] Lawrence E. Shapiro, Mengajarkan Emotional Intellegence Pada Anak, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2003: hlm. 4.
[86] Robert R. Boehlke, Sejarah...Indonesia: hlm. 26-ff.
[87] Howard J. Clinebell, Mental Health Through Christian Community, Abingdon Press, New York 1965: hlm. 147. (selanjutnya akan disingkat Mental).
[88] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 21.
[89] Phil Batchelor, Cinta adalah Perbuatan: 9 prinsip mendidik anak secara sempurna, Penerbit Kanisius, Yogyakarta 1994: hlm. 19.
[90] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 25.
[91] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 26-29.
[92] Kuliah Antropologi Budaya Batak oleh Pdt. B.H. Nababan, Sem. Ganjil T.A.2006-2007
[93] Sebagai contoh, seorang kerabat bertanya kepada si anak “bagimana tadi sekolahnya?” tidak jarang orangtua yang menjawab duluan “baik-baik saja om, bilang..” kemudian anak menjawab baik-baik saja om. Padahal belum tentu apa yang anak jawab sebagai suatu kenyataan dalam sekolah. Tetapi karena orangtuanya sudah mengatakan seperti itu, akhirnya si anak menurut saja.
[94] Sebagai contoh, ketika seorang anak hendak memilih baju yang akan ia pakai orangtua sering memaksa anak untuk memakai baju yang tidak disukai anak. Tetapi ketika anak mengatakan “saya tidak suka memakai baju itu”, maka orangtua sering mengatakan “awas kalau tidak kamu pakai, tidak boleh kamu pergi bermain”.
[95] Abdul Lathief “Cukup 20 Menit Sehari”, dalam Chris Verdiansyah (peny), Op-cit, hlm. 70.
[96] Robert R. Boehlke, Sejarah...Indonesia: hlm. 26-ff.
[97] Howard J. Clinebell, Mental: hlm. 147.
[98] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 37.
[99] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 43-51.
[100] Retno Bintarti, “Pelajaran Disiplin untuk Anak” dalam Chris Verdiansyah (peny), Op. Cit, hlm. 100
[101] Seto Mulyadi, “Kata Pengantar” dalam Chris Verdiansyah (peny), Op. Cit, hlm. xi
[102] Mary Go Setiawani, Menerobos: hlm. 29.
[103] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 57.
[104] Mary Go Setiawani, Menerobos: hlm. 30.
[105] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 60-66.
[106] Howard. J. Clinebell, Mental: hlm. 147. Limits artinya ukuran-ukuran atau aturan-aturan yang sesuai.
[107] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 105. Disiplin artinya suatu tindakan yang memberi pengajaran kepada, mendidik dan melatih.
[108] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan 2: hlm. 97.
[109] Mary Go Setiawani, Menerobos: hlm. 32.
[110] Phil Batchelor, Op. Cit, hlm. 63.
[111] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan 2: hlm. 83.
[112] Martin P. Simon, “Guiding Parents in Child-Training and Discipline” dalam Adult Education in the Church, (disunting Roy B. Zuck dan Gene A. Getz), Moody Press, Chicago 1970: hlm. 306.
[113] J.P. Chaplin, Op. Cit, hlm. 288.
[114] Elizabeth. B Hurlock, Perkembangan 1: hlm. 250.
[115] Mary Go Setiawani, Menerobos: hlm. 34.
[116] Robert R. Boehlke, Sejarah...Indonesia: hlm. 361.
[117] Y.B. Mangunwijaya, Menumbuhkan Sikap Religius Anak, PT. Gramedia, Jakarta 1986: hlm.37.
[118] Alex Pann, “Anak Membutuhkan Makanan Rohani” dalam Narwastu Edisi Mei No. 44/2007
[119] Marjorie L. Thompson, Keluarga Sebagai Pusat Pembentukan: sebuah visi tentang peranan keluarga dalam pembentukan rohani, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2001: hlm. 1.
[120] John M. Drescher, Tujuh: hlm. 119-120.
[121] Ibid, hlm. 10
[122] Ibid, hlm. 12
[123] Nico Syukur Dister, Ayah dan Ibu: simbol Allah, Penerbit Kanisius,Yogyakarta 1997: hlm. 87-88.
[124] Lawrence O. Richards, Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif, Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2000: hlm. 236-238.
[125] Y.B. Mangunwijaya, Op. Cit, hlm. 14.
[126] Roger Lincoln Shinn, The Educational Mission of Our Church, United Church Press, Philadelphia 1962: hlm. 90.
[127] Lawrence O. Richards, Christian Education: seeking to become like Jesus, The Zondervan Corporation, Michigan 1975: hlm. 23.
[128] Ibid, hlm. 25
[129] Lawrence O. Richards, “Developing a Family – Centered Educational Program”, dalam Roy B. Zuck dan Gene A. Getz (peny), Op. Cit, hlm. 370.
[130] Ibid, hlm. 372-377
[131] Howard Clinebell, Tipe-Tipe Dasar Pendampingan Dan Konseling Pastoral: Sumber-sumber untuk pelayanan penyembuhan dan pertumbuhan, BPK Gunung Mulia dan Kanisius, Jakarta 2002: hlm. 319. (selanjutnya disingkat Tipe).
[132] Ibid, hlm. 379.
[133] Ibid, hlm. 383.
[134] Ibid, hlm. 384-385.
[135] Kuliah PAK Anak oleh Pdt. P. Hutapea, Sem. Genap T.A. 2001-2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar