Kamis, 31 Januari 2013

“Memahami Panggilan Tuhan dalam kisah Yusuf”



 BAB I
P E N D A H U L U A N

1.1. Latar Belakang Masalah

Setiap orang lahir dan hadir di dunia ini bukanlah karena kebetulan. Semuanya adalah atas rencana dan kehendak Tuhan (bnd. Yer 1:5). Terlepas bagaimana, dimana dan kapan seseorang itu lahir.  Seiring dengan hal tersebut, kehadiran seseorang di dunia ini terkandung panggilan Tuhan untuk melakukan hal yang dikehendaki-Nya. Panggilan tersebut adalah universal kepada setiap orang. Demikian juga bagi setiap orang percaya (Kristen) mengemban satu tanggung jawab iman untuk bersaksi tentang kebenaran Firman Tuhan di tengah dunia[1]. Dengan demikian, hidup manusia adalah panggilan Tuhan.
Namun harus diakui, dipanggil Tuhan memiliki banyak dimensi. Dalam panggilan terdapat suatu perintah yang akan dilaksanakan. Panggilan juga membutuhkan suatu proses, tidak tertutup kemungkinan seseorang menderita, ditindas diasingkan dan bahkan mati walaupun tidak semua orang mengalaminya. Penderitaan seperti itu dapat disebabakan oleh faktor dari dalam maupun luar diri yang dipanggil Tuhan tersebut. Penderitaan bisa juga mendapat rekomendasi dari Tuhan untuk mendisiplinkan orang yang dipanggil-Nya [2] (band. Kisah Ayub).
Seiring dengan hal tersebut diatas, terdapat juga respon dan reaksi yang bervariasi dari setiap orang yang dipanggil Tuhan. Sepintas dapat disebutkan, ada orang yang putus asa ketika penderitaan datang melanda  kehidupannya, walaupun kita juga harus mengakui dan memaknai perjuangan orang yang tetap bertahan dan menjadi martir dalam mempertahankan imannya. Mulai dari zaman pemberitaan Alkitab sampai saat ini hal tersebut sering terjadi, baik bagi jemaat maupun pelayan Gereja. Dalam panggilan Tuhan, kerelaan dan ketaatan manusia merupakan dimensi penting dalam panggilan.
Ditolak, dihina, dianiaya dan bahkan dibunuh oleh dunia (manusia) adalah hal yang bisa terjadi dalam menjalani hidup sebagai panggilan Tuhan (bnd. Luk. 17:25). Dengan demikian penderitaan terjadi dalam hidup. Terlepas dari sisi mana kita melihat makna dan arti penderitaan tersebut (sosial, budaya, agama dan politik). Penderitaan tersebut dapat berupa tekanan fisik ataupun mental. Penderitaan itulah yang sering membuat manusia merasa mendapat perlakuan ketidakadilan. Namun yang pasti, panggilan merupakan tindakan aktif Allah dalam mewujudkan damai sejahtera bagi manusia dan alam sekitarnya.
Dengan demikian muncul pertanyaan, apakah dipanggil Tuhan identik dengan penderitaan? Atau, apakah harus mengalami penderitaan? Dan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, bagaimanakah kita memahami totalitas hidup manusia sebagai panggilan? atau, apakah setiap manusia memahami bahwa setiap gerak hidupnya adalah proses panggilan Tuhan? Untuk sementara pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diterima dan dimaklumi karena memang tujuan manusia beragama adalah mencari keselamatan, bukan penderitaan. Jawaban sementara yang perlu dikaji lebih dalam lagi adalah bahwa penderitaan tersebut diakibatkan oleh keberdosaan manusia di hadapan Allah. Ini merupakan hukum kekal karena upah dosa adalah maut.[3] (bnd. Roma 6: 23). Namun pemahaman yang salah terhadap makna hidup sebagai panggilan, bisa juga menyebabkan kesalahan dalam praksisnya sehingga makna panggilan yang diembannya menjadi kabur. Tidak jarang muncul upaya untuk menjadi orang yang tidak menderita (berdasarkan ukuran kemanusiaan). Salah satu contoh adalah Gereja (pelayan/jemaat) yang menutup mata terhadap jemaat yang miskin ataupun menderita.[4]
Kitab Kejadian mengisahkan perjalanan hidup Yusuf, orang yang mengalami banyak warna kehidupan dalam menjawab panggilan Tuhan. Panggilan Tuhan membuatnya semakin jelas memahami Suka dan duka yang dialaminya sebagai suatu proses. Dia adalah putra yang dikasihi ayahnya Yakub, namun ia dibenci oleh saudaranya sampai akhirnya ia disingkirkan dan dijual ke Mesir menjadi budak. Budak merupakan salah satu “barang kepemilikan” majikannya dan boleh diperjualbelikan.[5] Dengan keadaan seperti itu Yusuf harus mengalami perubahan status dari anak kesayangan menjadi budak. Penderitaan tersebut tidak sampai di situ saja. Dia harus berjuang terhadap godaan jahat yang berujung pada fitnahan dari Potifar seorang pegawai istana Firaun. Ia harus mendekam di penjara oleh karena memperjuangkan kebenaran terhadap fitnahan tersebut.
Namun cerita Yusuf tidak berakhir dalam kisah penderitaannya. Dia seorang yang jujur dan gigih dalam bekerja. Hal yang lebih penting lagi, ia menyadari bahwa Tuhanlah yang merencanakan semuanya (Kej. 45:7). Penyertaan Tuhan membuatnya selalu hidup taat di hadapan Tuhan sehingga dia disayang oleh majikannya karena. Kuasa Tuhan atas dirinya untuk menafsirkan mimpi membuat dia diperhitungkan dalam kerajaan Firaun. Hal tersebut berawal ketika Yusuf menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti dari istana Firaun. Kemudian tafsiran yang dilakukannya terhadap mimpi firaun membuka peluang untuk memperoleh jabatan yang tinggi bagi Yusuf. Akhirnya, Yusuf menjadi penguasa atas seluruh negeri Mesir dan dia dikenal oleh seluruh pengisi negeri itu. Negeri Mesir menjadi kaya dan terkenal di bawah pimpinannya. Melalui semua peristiwa yang dialaminya, Yusuf mau memperkenalkan tujuan yang tersembunyi dari Allah yang telah mengirimnya.[6]
Kisah narasi Yusuf merupakan salah satu cerita tokoh besar yang terdapat dalam kitab Kejadian. Bahkan kisahnya menghabiskan lebih banyak pasal dalam kitab Kejadian daripada semua tokoh lainnya yaitu Adam, Nuh, Abraham, Ishak atau bahkan Ayahnya sendiri Yakub[7]. Narasi tersebut tentunya bukanlah suatu kebetulan semata. Narator mempunyai makna dan pesan sejarah yang penting untuk ditekankan pada zamannya dengan mengkombinasi dua sumber (Yahwis dan Elohist).[8] Artinya, cerita tentang Yusuf yang ditata seapik mungkin mempunyai target tersendiri dari narator. Paling tidak mengarahkan jemaat pada zamannya untuk mengingat kembali perjanjian Allah nenek moyang mereka. Di lain sisi, narator ingin menekankan bahwa tipelogis Yusuf pantas untuk diangkat ke permukaan sejarah dunia sebagai pedoman dalam berperilaku di hadapan Tuhan dan manusia.
Jika melihat posisi kisah Yusuf dalam kitab Kejadian, dalam Pentateukh dan bahkan dalam Alkitab, maka kita akan memperoleh pengertian yang lebih mendalam lagi. Mengapa para ahli teolog hanya menyebutkan Abraham, Ishak dan Yakub sebagai patriarkah tanpa mengikutkan Yusuf?  Cerita Yusuf merupakan narasi yang ditambahkan oleh redaktor. Hal tersebut bertujuan untuk menekankan bahwa penderitaan yang sedang dialami bangsa Israel pada saat itu adalah dalam rangka pemilihan bangsa itu menjadi umat Allah. Lebih lanjut Claus Westermann mengutip pendapat von Rad (dalam “The Joseph Narrative And Ancient Wisdom In The Problem Of Hexateukh) terhadap posisi kisah Yusuf dalam kitab Kejadian, mengatakan bahwa narasi tentang Yusuf adalah sebuah cerita kuno tentang pengajaran bijak.[9]
The Joseph story with its obvius didactic thrust belongs to the ancient wisdom teaching, but how can the Joseph story be a short strory and at the same time belong to the wisdom teaching? This rises the question of its composition and structure which alone can tell what it means”.
Oleh karena itu, muncul pertanyaan, apakah maksud narator dan redaktor melakukan penambahan tersebut? Hal itulah yang akan diuraikan lebih jauh dalam tulisan ini.
Dalam menulis kitab Kejadian, redaktor menggunakan legenda dan mitos dari dalam maupun luar Israel sebagai elemen dari cerita tersebut. Tidak tertutup kemungkinan juga ide-ide penulis dimasukkan untuk memformulasi cerita sampai seperti bentuk yang kita terima sekarang ini (termasuk cerita Yusuf). Banyak ahli sepakat bahwa cerita dalam Alkitab khusunya Kejadian banyak berasal dari Babilonia dan Mesir. Hal tersebut dapat diterima jika mempertimbangkan isi, tema dan bentuk cerita-cerita di luar Israel (Babilonia dan Mesir) yang memiliki kemiripan. Sementara zaman tradisi tersebut lebih awal daripada Alkitab (pra-history).[10]
Dalam kisah Yusuf, terdapat kunci yang selalu digunakan narator dalam mengungkapkan cerita Yusuf, yaitu kalimat ”Allah menyertai Dia” (Kej. 39: 2, 21, 23). Penekanan yang berulang kali ini, perlu dikaji lebih dalam, karena narator mempunyai maksud teologis tertentu. Demikian juga pernyataan Yusuf, “Allah memperlihatkan, Allah telah membuat (Kej. 41: 25, 28) dan pada akhirnya terdapat pengakuan dan kesaksian Yusuf bahwa “Allahlah yang menyuruh aku, Allahlah yang menempatkan aku menjadi raja atas seluruh Mesir”[11] (Kej. 45: 4-9). Berdasarkan pernyataan Alkitab dalam kisah Yusuf tersebut, terdapat suatu pengertian teologis bahwa Tuhanlah yang berkarya dalam sejarah dunia. Artinya, Tuhanlah yang berkuasa atas segala apa yang terjadi terhadap Yusuf. Tentunya Tuhan mempunyai rencana keselamatan bagi manusia melalui pemanggilan Yusuf. Melalui ketaatan Yusuf, rencana keselamatan dari Tuhan akan terwujud bagi bangsa Israel dan bagi sejarah keselamatan bangsa di dunia[12]. Dengan demikian, kisah Yusuf menjadi salah satu rangkaian cerita penting dalam perjalanan sejarah keselamatan dunia. Namun, Tuhanlah yang berkarya atas diri Yusuf, itulah makna yang ditekankan oleh narator sekitar abad 9-7 B.C. Pada saat itu Israel sedang mengalami masa-masa kelemahan terutama setelah reformasi Yehu meletus yang mengakibatkan hubungan Yehuda dan Israel rusak.[13]

1.2. Rumusan Masalah

Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas lebih jauh lagi, dapat dituliskan dalam beberapa bentuk pertanyaan berikut ini:
1.      Apakah maksud redaktor menambahkan kisah Yusuf ke dalam kitab Kejadian?
2.      Bagaimanakah memahami totalitas hidup sebagai panggilan Tuhan?
3.      Apakah makna panggilan dalan kehidupan jika dipahami dari kisah pemanggilan Tuhan kepada Yusuf?
4.      Apakah dipanggil Tuhan identik dengan penderitaan?
5.      Bagaimanakah sikap dan respon manusia yang dikehendaki Tuhan dalam memahami hidup sebagai panggilan?

1.3. Tujuan Tulisan

Tujuan tulisan ini adalah untuk memaparkan makna dan arti Panggilan manusia secara Alkitabiah di tengah-tengah kehidupannya, baik dalam suka maupun duka melalui tinjauan hermeneutis terhadap Kejadian 45: 1-28. Dengan demikian setiap orang tidak melihat penderitaan dalam kehidupannya sebagai suatu hukuman akibat dosa, namun sebagai proses mendisiplinkan diri dengan ketaatan dalam panggilan. Dengan pemaparan tersebut setiap orang yang dipanggil dapat memahami makna panggilannya dan tidak lari dari kenyataan bahkan tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan penderitaan bagi orang lain. Terkhusus bagi para pelayan tahbisan, diharapkan benar-benar menjadi Yusuf masa kini.

1.4. Manfaat Tulisan

Dengan tulisan ini, diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran untuk mengembangkan teologi, yaitu;
1.      Bagi saya sendiri, untuk lebih memahami makna panggilan Tuhan dalam kehidupan saya, keluarga dan ketika menjadi mahasiswa. Hal yang lebih penting lagi, melalui tulisan ini saya berharap dapat memahami dan menghidupi panggilan dan pemilihan Tuhan ketika saya menjadi pendeta kelak.
2.      Bagi setiap orang diharapkan dapat memahami dengan baik bahwa totalitas kehidupannya adalah suatu panggilan dari Tuhan. Dengan demikian suka dan duka dalam kehidupan adalah proses menuju kematangan dalam panggilan tersebut.
3.      Bagi Gereja, melalui tulisan ini diharapkan setiap orang percaya dapat memahami makna panggilan menjadi orang Kristen terlebih ketika menghadapi realitas hidup yang beraneka ragam, sehingga tidak menjadi lemah atau pindah agama. Namun memahami kehidupan ini sebagai proses menuju kematangan iman dalam rangka panggilan Tuhan.
4.      Bagi para pelayan tahbisan Gereja diharapkan melalui tulisan ini dapat memahami dengan baik makna panggilannya dalam berbagai situasi hidup bahkan penderitaan sekalipun. Dengan demikian tidak terjadi lagi peristiwa perebutan terhadap suatu jabatan yang dinilai berpenghasilan baik dari segi ekonomi.

 

1.5. Ruang Lingkup (skopus) Tulisan



Tulisan ini dibuat dengan judul: “Memahami Panggilan Tuhan dalam kisah Yusuf” (Studi Hermeneutis dengan Pendekatan Naratif terhadap Kejadian 45:1-28). Panggilan yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah tindakan aktif Tuhan terhadap manusia untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki-Nya. Panggilan Tuhan kepada manusia bersifat universal bagi seluruh ciptaan dalam rangka keselamatan. Pada bagian implikasi, tulisan ini diharapkan dapat menolong setiap orang percaya untuk memaknai iman dan panggilannya sebagai proses pendisplinan dalam kehidupan.

1.6. Defenisi Istilah
Panggilan
Dalam kamus bahasa Indonesia, kata “panggilan” diartikan sebagai imbauan, ajakan dan undangan. Terpanggil berarti diundang, diajak dari sekian banyak orang.[14] Dalam bahasa Ibrani, panggilan atau memanggil disebut ארק (qara) yang artinya to call, to proclaim, to summon, to invite, to recite, to praise, to appoint.[15] Dengan demikian memanggil lebih diartikan menamai, mengangkat, mengundang, menunjuk, mengumumkan seseorang untuk melakukan sesuatu hal. Dengan demikian panggilan/memanggil (qara) lebih menekankan adanya tindakan Allah yang menunjuk, menamai, mengangkat umat-Nya sebagai pilihan. Tindakan aktif tersebut menjadikan terpisah dari yang lain dan memiliki hubungan yang khusus dengan Allah. Allah sendirilah yang memulai panggilan ini.[16]  Panggilan tersebut bertujuan untuk mendatangkan damai sejahtera dan keselamatan bagi umat manusia sepanjang masa.

1.7. Sistematika Penulisan
Bab I   Pendahuluan
                  Latar Belakang Masalah
                  Rumusan Masalah
                  Tujuan Penulisan
                  Manfaat Tulisan
                  Ruang Lingkup Pembahasan
                  Defenisi Istilah
                  Sistematika Penulisan
Bab II  Kerangka Teori
2.1.   Latar Belakang Teks
            2.2.   Landasan Teologis Hermeneutis Kitab Kejadian
  2.2.1. Pengantar
         2.2.2. Teologi Kitab Kejadian
            2.2.3. Panggilan Tuhan kepada Manusia Secara Universal
2.3.   Sejarah Penelitian Hermeneutis Teologis
                     2.3.1. Sumber Kitab Kejadian
  2.3.2. Sejarah Penelitian Hermeneutis terhadap Pasal 45
  2.3.3. Teologi dan Hipotesa dalam Pasal 45
Bab III            Metodologi Penelitian
3.1. Pengantar: Metode Deskripsi Biblika Murni dengan Pendekatan   Naratif (Narrative Approach)
3.2.   Alasan Memilih Metode Pendekatan Naratif
            3.3. Ruang Lingkup Pendekatan Naratif sebagai salah satu Upaya Berteologi
3.4.    Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Naratif
3.5.    Persoalan Pendekatan Naratif terhadap Kitab Kejadian
Bab IV            Pembahasan
            4.1.   Permasalahan Kritis
                     4.1.1. Memahami kitab Kejadian secara Kanonik
                     4.1.2. Kitab Kejadian sebagai bagian dari Hexateukh?
         4.1.3. Arti Penting Teks dalam Pentateukh
                     4.1.4. Latar Belakang Sejarah Cerita Yusuf
                     4.1.5. Konteks Penulisan Cerita Yusuf
                     4.1.6. Posisi Narasi Yusuf dalam Kitab Kejadian
         4.1.7. Posisi Teks dalam cerita Yusuf (Kej. 37-45)
4.2.  Tafsiran
         4.2.1. Aspek Struktur
         4.2.2. Aspek Penciptaan
         4.2.3. Aspek Pragmatis
         4.2.4. Aspek Referensial
         4.2.5 Pesan-Pesan Teologis
4.3.   Refleksi
Bab V  Kesimpulan

 B A B II
K E R A N G K A   T E O R I

2.1. Latar Belakang Teks
Kitab Kejadian ditulis sebagai sebuah narasi. Sehingga dibutuhkan pemahaman terhadap tradisi dan budaya yang berkembang pada saat teks itu muncul, yaitu Budaya bangsa Mesopotamia[17]. Budaya dan peradaban masa ini diperkirakan banyak mempengaruhi cerita nenek moyang Israel, khususnya dalam kitab Kejadian dan umumnya cerita Pentateukh.[18] 
Kitab Kejadian digolongkan atas dua bagian:[19] Pertama, pasal 1-11; yang menceritakan permulaan zaman purbakala, kedua pasal 12-50 yang berisi sejarah nenek moyang Israel. Kisah Yusuf terdapat dalam bagian kedua. Bagian kedua kemudian digolongkan atas dua bagian besar, yaitu kisah Patriarkh (pasal 12-36) dan kisah Yusuf itu sendiri (pasal 37- 50).
Kisah Yusuf merupakan satu bagian tunggal dengan struktur cerita yang utuh. Ceritanya ditata dengan rapi, dengan alur yang teratur. Tidak ada dasar pembentukan cerita itu sebelumnya, namun cerita tersebut sengaja dicipta sebagai pengajaran hikmat.[20] Hal tersebut mengindikasikan bahwa kisah Yusuf berasal dari karya satu tangan. Pasal 45 yang menjadi perikop bahasan penulis, dibangun dengan Sumber Y dan E secara bersama-sama.[21] Adakalanya kedua sumber tersebut membentuk satu ayat tertentu, misalnya ayat 5. Dengan demikian, diperlukan pemahaman latar belakang singkat dari kedua sumber tersebut, karena teologi sumber tersebut akan yang mendasari pembentukan cerita Yusuf.
Sumber Yahwist; ditulis di Yehuda pada masa pemerintahan Daud sekitar abad ke-9 sampai abad ke-8 sM.[22] Pada masa ini penulis Yahwist menyusun sejarah permulaan penciptaan dan asal usul bangsa Israel hingga pemanggilan mereka menjadi bangsa pilihan Tuhan.[23] Penulis Yahwist sangat ahli dalam menyusun historis keduabelas suku Israel. Hal ini dimaksudkan untuk membangun persatuan dalam kerajaan Daud. Sejarah tersebut ditata sedemikian apiknya  dengan mengarahkan cerita bahwa semua musuh bangsa Israel akan luput terhadap mereka. Penulis Yahwist menempatkan “musuh nasional” bangsa Israel sepanjang sejarah yaitu bangsa Mesir. Hal ini sangat mungkin, karena musuh utama Israel pada masa Daud adalah juga bangsa Mesir.
Sumber Elohist; lahir di kerajaan Utara (Israel) tahun 800-700 sM. Pada saat itu sinkritisme baalistis[24] melanda kehidupan Israel sehingga timbul gerakan nabi yang menentang pola kehidupan tersebut yang terutama dikemundangkan oleh nabi Elia dan Elisa. Sinkritisme tersebut disebabkan oleh kesuburan daerah Israel Utara yang memungkinkan pengembangan pertanian. Dengan kondisi yang demikian, Israel terbuka terhadap pengaruh luar yang mempunyai kepercayaan lain. Pada saat ini Israel dipimpin oleh Yerobeam yang memisahkan diri dari Yehuda. Dalam bidang kultus, Yerobeam memperbaharui kuil-kuil di Betel dan Dan. Pemugaran kuil ini dimaksudkan untuk mendapat dukungan dari para imam dan juga untuk menghimpun kekuatan, karena umat Israel akan beribadah ke tempat tersebut. Yahweh yang mereka sembah mendapat pengaruh dari bangsa asing yang mengenal allah El. Sehingga nama Yahweh sering disebut dengan El.[25]
Kemungkinan Yerobeam pernah membaca teks Yahwis yang telah terdokumen sebelumnya, yang menceritakan pengalaman para Patriarkh dan masa Keluaran, serta pengalaman Yusuf di Istana Mesir. Artinya, Yerobeam mengadopsi cerita Yahwist yang menceritakan kemenangan Israel. Kemenangan tersebut diangkat kembali dalam cerita nenek moyang untuk meyakinkan umat akan penyertaan Tuhan saat itu. Kemudian, terjadi perubahan-perubahan dalam menceritakan kembali teks tersebut seperti penyebutan nama Tuhan dengan Elohim, yang kemudian dikenal sebagai Elohist (sumber E).[26]
Peredaksian kitab Kejadian yang dilakukan sekitar abad ke-4. Redaktor kitab Kejadian mengangkat dan meredaksi kembali cerita Yusuf yang bertujuan untuk menekankan bahwa umat Israel akan selalu dalam penyertaan Tuhan. Tuhan akan meluputkan musuh mereka, dan akan takluk kepada mereka. Kemungkinan redaktor melakukan kombinasi sumber J dan E dalam membangun cerita Yusuf bertujuan mengajak umat Israel untuk bersatu kembali, karena mereka berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Yusuf.

2.2. Landasan Teologis Hermeneutis Kitab Kejadian

            2.1.1. Pengantar

Kitab Kejadian disebut dengan “Genesis”(bahasa Yunani). Dalam bahasa Ibrani disebut dengan Beresyit yang berarti “pada mulanya” yang merupakan kata pertama dalam kitab Kejadian dan kata permulaan untuk Alkitab[27].  Kitab Kejadian bukanlah sekadar Alkitab ilmu pengetahuan, kendatipun banyak para ilmuwan yang memberi penyelidikan terhadap kitab tersebut. Kitab Kejadian juga bukan buku biografi, meskipun memuat kisah tokoh yang hidup pada suatu zaman di tempat tertentu. Kitab Kejadian bukan juga sekadar kitab sejarah, meskipun ia lahir dalam sejarah. Namum Kejadian adalah kitab teologi, yang mengisahkan karya Tuhan terhadap dunia, meskipun teologi itu sendiri tidak diuraikan secara sistematis. Oleh karena itu, memahami kitab Kejadian, haruslah secara komprehensif. Kitab Kejadian ingin menunjukkan kepada pembaca: 1) apa tindakan Tuhan kepada manusia dan 2) bagaimana manusia meresponnya.[28]
Ada beberapa aspek dalam memahami kitab Kejadian, diantaranya:[29] 1) bahwa kitab itu diucapkan dalam konteks, situasi yang berlainan dan dalam situasi iman Alkitabiah yang berlainan pula, oleh karena itu 2) ia dipahami dan ditekankan berbeda-beda pula, sehingga timbul tradisi iman. 3) sebagai firman Tuhan yang terus hidup, ia terdengar/berbicara lama bahkan setelah kitab itu dituliskan dan dikanonisasi.

2.1.2. Teologi Kitab Kejadian
Kisah tentang panggilan Yusuf dibangun dan dirancang bersamaan dengan kisah yang lain, yang dibukukan dalam kitab Kejadian. Oleh sebab itu dibutuhkan pemahaman teologi Kitab Kejadian secara komprehensif, karena hal tersebut ikut mempengaruhi kisah Yusuf. Beberapa teologi yang mendukung tersebut, diantaranya:
1.    Teologi tentang Tuhan
Pertama, kitab Kejadian memperkenalkan Allah yang tidak mungkin salah. Allah bukanlah Tuhan yang dibuat berdasarkan konsep pemikiran manusia. Namun Allah Israel adalah Tuhan yang memperkenalkan diri kepada dunia melalui penyataan-penyataan-Nya. Dia adalah satu-satunya Tuhan pencipta yang berdaulat atas segala sesuatu.[30] Dalam hal ini terlihat monoteisme Israel yang begitu kental. Allah yang tunggal tersebut menata sejarah manusia dengan memperkenalkan diri-Nya dalam ruang dan waktu sepanjang sejarah. Kedua, Dia adalah Allah tunggal yang berkarya kepada bapa-bapa leluhur sampai Israel keluar dari perbudakan Mesir bahkan sampai saat ini. Maksudnya, Allah Israel yang dahulu berkarya dan menyatakan diri bagi umat-Nya adalah juga Allah yang berkarya dan menyatakan diri pada umat saat ini dan bahkan sampai zaman yang akan datang. Dia senantiasa memanggil umatnya dalam perjalanan sejarah dengan berbagai cara.
Pada bagian ketiga, Dia adalah Allah yang mempunyai jalan yang sempurna (His ways is perfect). Dengan demikian dosa bukanlah berasal dari kemuliaan-Nya, namun justru Dia membuat pertentangan terhadap Dosa, karena Dia adalah sempurna (mis. dosa manusia di Taman Eden dan Babel). Pandangan manusia cenderung terhadap dosa dan kejahatan, namum rancangan-Nya adalah damai sejahtera dan keselamatan.[31] Keempat, Dia adalah satu-satunya Allah yang menyatakan diri. Dia adalah penyataan diatas segala penyataan dan membuat perjanjian dengan umat-Nya. Dia tidak pernah menjauhkan diri dari manusia. Dia juga adalah Allah diatas segala Allah dengan nama-Nya yang kudus, Yahweh. Dia adalah yang maha tinggi, yang Maha Kuasa dan kekal.
Pemahaman terhadap Yahwe yang tunggal dan Maha Kuasa dalam kitab Kejadian, juga turut  mewarnai cerita Yusuf. Tuhan yang menampakkan diri dan berkarya dalam penciptaan serta pada masa Patriarkh, berkarya dan menampakkan diri juga dalam cerita Yusuf.


2.    Teologi tentang Manusia
Penciptaan manusia mempunyai kekhususan jika dibandingkan dengan ciptaan yang lainnya. Allah terlebih dahulu berdiskusi dalam diri-Nya ketika hendak menciptakan manusia.[32] Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Hal inilah yang menjadi kekhususan tersebut. Sesuai dengan gambar dan rupa Allah tidak berarti bahwa manusia sama dengan Allah.[33] Namun hal tersebut berarti bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan yang tertinggi mempunyai pancaran kemuliaan Allah serta ikatan perjanjian dengan Allah. Manusia juga dianugerahkan akal budi yang dan pengetahuan mengenal yang baik dan yang jahat.
            Menurut para ahli, kata “gambar dan rupa” bukanlah bahasa Alkitab. Yonky Karman yang mengutip pendapat Von Rad misalnya, mengatakan bahwa kata tersebut digunakan dalam konteks Timur dekat kuno. Tselem dapat diartikan sebagai bentuk fisik yang mewakili kehadiran seorang penguasa di suatu daerah tertentu. Representasi kehadiran tersebut sering dibuat dengan patung. Dengan pengertian ini, tidak benar jika menempatkan posisi manusia sama dengan Allah. Manusia hanyalah sebagai gambar Allah saja. Bahkan manusia berasal dari debu dan akan kembali juga menjadi debu tanah (Kej. 2:7, Kej. 3:9). Dengan pemahaman ini, tidak ada alasan manusia untuk mencuri kemuliaan Tuhan dengan memanipulasi dirinya untuk berbagai bentuk ketaatan dan dedikasi dari orang lain yang seharusnya kemuliaan tersebut  hanya untuk Tuhan.[34]
Dalam posisi kekhususan manusia dalam ciptaan, terdapat tugas dan tanggung jawab terhadap Tuhan, sesama dan alam. Manusia diberikan kekuasaan untuk berkuasa dan menaklukkan seluruh ciptaan. Pengertian berkuasa dan menaklukkan bukanlah bertarti bahwa alam adalah milik manusia yang telah diserahkan Allah sepenuhnya, sehingga bebas dan buas untuk melakukan apapun. Memang manusia diberi Allah kebebasan untuk menaklukkan dan berkuasa, namun hal tersebut merupakan kebebasan yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, manusia bebas melakukan apapun sejauh hal tersebut menghadirkan tujuan Allah dalam penciptaan yaitu untuk keselamatan, kesejahteraan dan keadilan bagi ciptaan. Inilah yang menjadi ukuran kebebasan tersebut.[35] Pada sisi lain manusia bertugas untuk memerintah dunia dengan mencerminkan pemerintahan Allah. Hal tersebut tercermin dalam kedudukan manusia yang lebih tinggi dari ciptaan lainnya. Mereka tidak berada dibawah kuasa dunia, tetapi mengarahkan ciptaan supaya menuju sasarannya. Dalam hal ini terdapat partisipasi manusia dalam citra dan kehidupan Allah, yakni turut menghendaki apa yang Allah kehendaki dan melakukan apa yang Allah lakukan.[36]
3.     Teologi tentang Dosa
Salah satu tema utama dari kitab Kejadian adalah tentang dosa dan dampaknya pada sejarah manusia. Ketika adam dan Hawa diciptakan, keabadian ada pada manusia karena segala kebutuhan mereka disediakan oleh Tuhan. Namun ketidaktaatan mereka kepada Tuhan menyebabkan mereka jatuh ke dalam dosa. Mereka memperoleh hukuman atas dosa mereka. Dengan demikian, Tuhan akan memberi hukuman kepada setiap orang yang tidak taat di hadapan-Nya.[37] Pada bagian awal, pengarang kitab Kejadian menempatkan dunia ciptaan Tuhan yang maha baik (Kej. 2). Namun dalam Kejadian 3, pengarang menempatkan dunia yang sudah penuh dengan dosa, terpecah belah, terasing dan penuh kekacauan. Inilah kunci pengarang menempatkan keadilan dan kasih Allah yang mendahului semuanya. Dengan demikian, sumuanya kekacauan tersebut adalah akibat ulah manusia, dan patut dipersalahkan. Pada bagian berikutnya, pengarang mau menkankan bahwa dampak dosa itu sangatlah berbahaya. Dengan cepat dosa menjalar kepada generasi manusia berikutnya.[38]
Yang menarik dari setiap kisah yang menceritakan dosa manusia tersebut adalah bahwa manusia langsung diperhadapkan dengan Allah. Allah menjadi hakim bagi setiap pihak yang terlibat dalam dosa tersebut. Pertama sekali kepada ular, Hawa dan Adam. Demikianlah Tuhan melakukan penghakiman atas mereka. Ada hal perlu mendapat perhatian  melalui kisah yang ditata pengarang kitab Kejadian tersebut. Manusia (laki-laki dan perempuan) mendapat hukuman dari Tuhan, namun tidak mendapat kutukan seperti yang terhadap ular. Dengan demikian, sepintas maksud tersebut mengindikasikan bahwa manusia masih mempunyai harapan keselamatan kelak. Pada pengertian yang lain, bahwa terasa pengaruh budaya pada saat cerita itu muncul, dimana keputusan-keputusan manusiawi ditentukan oleh pihak manusia dibawah ilham dari Tuhan. Demikian juga penghukuman Tuhan atas dosa Kain yang tidak mendapat perkenanan Tuhan dan juga penghukuman pada saat terjadinya air bah. Kedua bentuk penghukuman tersebut menggambarkan penghukuman bagi manusia berdosa akan tetap berlangsung sepanjang zaman.[39]
Namun teologi yang tidak kurang pentingnya berkaitan dengan dosa adalah kasih Tuhan yang tidak berkesudahan. Manusia tidak dibiarkan mati dan hilang dalam sejarah dengan keberdosaannya. Anugerah-Nya selalu menopang tanpa berkesudahan. Dalam setiap penghukuman, disitu juga terdapat jalan keselamatan. Adam dan Hawa tidak mati begitu saja, namun mereka masih memperoleh keturunan. Demikian juga dalam kisah air bah, dimana Nuh menjadi alat Tuhan dalam menunjukkan kasih sayangnya kepada manusia.[40]
4.    Teologi Panggilan dalam Kitab Kejadian
Pemahaman terhadap hidup manusia sebagai panggilan Tuhan, dimulai dari proses penciptaan manusia. Manusia diciptakan seturut gambar (tselem) dan rupa Allah (demuth). Gambar dan rupa Allah tersebut bertarti bahwa sifat dan karakter Ilahi terpancar dalam hidup manusia. Pernyataan tersebut juga mengandung makna bahwa penciptaan manusia merupakan rancangan (work of God) yang jelas dari Tuhan. Manusia sebagai gambar dan rupa Allah terdiri dari daging (basar) dan roh (ruakh) yang ditata sedemikian rupa tanpa suatu interpensi apapun dari yang lain.[41]
Pemahaman tersebut mempunyai pengertian bahwa totalitas hidup (penciptaan) manusia adalah inisiatif dan otoritas Allah yang mutlak. Tentunya ”kuasa” Tuhan (authority of God) dalam totalitas proses penciptaan manusia, terkandung rencana Ilahi yang hendak diwujudkan dalam ciptaan. Sepintas dapat dapat disebutkan bahwa Tuhan menciptakan[42] dunia (manusia) yang baik[43] (tov) dan diberkati, mengandung makna tujuan penciptaan tersebut. Ciptaan yang baik memperlihatkan bahwa tujuan penciptaan itu adalah baik yaitu mengahadirkan keselamatan, kesejahteraan dan keadilan bagi ciptaan.
Selanjutnya, panggilan merupakan salah satu tema penting dalam memahami kitab Kejadian (the focus on the call as the center of our exposition has important implications).
God calls the worlds into being….God calls us into the church……..
The two calls must be taken together. The two calls together affirm that God has formed the world to be his world (Gen. 1-11) and a special community to be His witness (Gen. 12-50). Both of creation world and community of faith, spring “fresh from the word”; both have been evoked by the speech of this God. The two calls announces the special characters of God as “The One” who calls.[44]
Dengan pernyataan tersebut, dapat dipahami bahwa penciptaan (dunia dan manusia) adalah panggilan Tuhan. Namun yang penulis tekankan adalah, bahwa totalitas hidup (penciptaan) manusia adalah panggilan Tuhan. Hal ini bukan bermaksud memisahkan kedua penggilan tersebut, namun keduanya harus dimengerti secara bersama. Dalam pembahasan bagian yang berikutnya, penulis akan memaparkan bahwa narasi Yusuf dalam kitab Kejadian adalah merupakan panggilan Tuhan yang tersembunyi (The Hidden Call of God).
Substansi panggilan dalam kitab Kejadian adalah janji. Tema ini merupakan salah satu fokus teologi dalam kitab Kejadian. Tuhan memanggil umat-Nya sepanjang zaman bertujuan untuk  melaksanakan perintah-Nya dengan ketaatan. Bersamaan dengan panggilan, terdapat janji Tuhan akan keselamatan manusia. Tuhan mengadakan perjanjian dengan manusia dengan kesetiaan akan janji-Nya, artinya Tuhan sekali-kali tidak akan mengingkari janji yang telah diadakannya. Oleh karena itu, manusia sebagai partner janji dari Tuhan, juga harus memiliki kesetiaan dan ketaatan melaksanakan tugas panggilan tersebut.[45] Dengan demikian, kisah perjalanan kehidupan Yusuf juga adalah panggilan Tuhan dalam rangka keselamatan umat manusia. Kehadirannya di Mesir, membawa berkat dan keselamatan dari Tuhan bagi bangsa Mesir.
Dalam memahami hidup manusia sebagai panggilan Tuhan yang bertujuan untuk damai sejahtera bagi ciptaan. Kerapkali manusia melihat panggilan hidupnya sebagai penderitaan, bukanlah damai sejahtera. Dengan demikian muncul pertanyaan, apakah dipanggil Tuhan identik dengan penderitaan? atau, apakah harus mengalami penderitaan? dan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, bagaimanakah  memahami totalitas hidup manusia sebagai panggilan? Untuk pemahaman yang ambiguitas tersebut, teologia Alkitab mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan penderitaan bagi umatnya melainkan rancangan damai sejahtera. Semua gerak hidup manusia merupakan proses panggilan Tuhan dalam rangka keselamatan.

2.1.3.      Panggilan Tuhan kepada Manusia Secara Universal
Dalam memahami hidup manusia sebagai panggilan Tuhan, maka muncul pertanyaan, siapakah yang dipanggil Tuhan? Apakah panggilan tersebut termasuk juga kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan? Dengan demikian  pemahaman diperhadapkan terhadap konsep Allah yang adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Agama bukanlah menjadi batasan dalam memahami tindakan Allah bagi dunia sepanjang zaman. Dalam hal ini pandangan terhadap Allah Israel yang partikularistik bergeser kepada pemahaman terhadap Allah yang universal, yang berkarya bagi semua mahluk sepanjang zaman. Panggilan yang dimaksudkan penulis adalah panggilan yang universal kepada setiap umat manusia tanpa batasan agama, budaya, zaman ataupun hal yang lainnya.
Dengan hadirnya Yusuf di Negeri Mesir (yang bukan umat pilihan) berarti menjadi keselamatan bagi mereka. Tentunya, Allah Israellah yang berkarya dan berfirman kepada umat Mesir melalui panggilan-Nya kepada Yusuf. Kehadiran Yusuf dan seluruh keluarganya di Mesir juga merupakan atas perkenaan Tuhan. Dengan demikian, sejarah keselamatan yang merupakan tema utama kitab tersebut, bukanlah bersifat partikular, tetapi keselamatan bagi seluruh umat manusia dalam perjalanan sejarah, meskipun  juga harus mempertimbangkan konsentrasi narator dan redaktor memunculkan kisah tersebut.

2.3. Sejarah Penelitian Hermeneutis Teologis
            2.3.1. Sumber Kitab Kejadian
A. Kuenen dan J.Wellhausen[46] berpendapat bahwa kitab Kejadian dibangun dari berbagai sumber (teori sumber):)[47]. Diantaranya sumber Yahwist (9-8 sM), Elohist (8-7 sM), Deuteronomis (7-6 sM) dan sumber Priest (6-5 sM.  Ke empat sumber tersebut merupakan bahan dasar narator untuk menggubah cerita yang terdapat dalam kitab Pentateukh yang termasuk didalamnya kitab Kejadian.
Menurut Wellhausen seperti dikutip R.K. Harrison[48], kitab Kejadian diyakini muncul dengan hasil editing yang bermacam. Hal tersebut dapat dilihat dari kombinasi elemen sumber J, E dan P yang menghasilkan suatu dokumen yang kontiniu. Dalam pendekatan historis, diyakini juga bahwa pada awalnya narasi Kejadian berkembang dan dipelihara dalam tradisi oral (lisan). Berbagai ritual dan tradisi keagamaan yang lain juga dapat ditemukan dalam periode ini.
            Oleh karena itu, peran dan posisi narator menjadi sangat penting. Dalam memformulasi narasi yang sedemikian rupa, tentunya berbagai sumber dari dalam dan luar Israel menjadi bahan dasar membangun cerita. Salah satu sumber yang digunakan adalah literatur dari Timur dekat kuno. Selanjutnya, cerita yang ditulis writers tersebut dipelihara dalam sejarah Israel yang dikenal dengan toledot.[49] Toledot adalah kumpulan cerita kuno bangsa Israel. Toledot diindakasikan sebagai bahan dasar kitab Kejadian.[50] Setiap bagian dari kitab Kejadian dikonstruksi dengan bahan  tersebut. Dalam merangkum cerita dalam kitab  Kejadian tersebut, terdapat juga materi yang perlu mendapat pertimbangan akan pengaruh budaya Mesopotamia, karena kitab Kejadian ditulis di bawah pengaruh budaya tersebut.[51]
Menurut von Rad, narasi Kejadian terdiri dari tiga sumber yang dipengaruhi oleh kisah yang terdapat di Timur Tengah Kuno khususnya Mesopotamia. Oleh karena itu, untuk memahami kitab Kejadian haruslah juga memperhatikan pengaruh tersebut. Karena pengarang kitab Kejadian mempergunakan sastra, tradisi dan budaya yang terdapat di wilayah tersebut. Beberapa kidah yang terdapat dalam Alkitab persis sama dengan apa yang terdapat di daerah tersebut (misalnya kisah Menara babel). Contoh lain, kisah penciptaan dalam Alkitab memiliki kesejajaran dengan kisah yang terdapat di Mesopotamia, yaitu menggambarkan zaman permulaan yang digambarkan dengan keadaan kacau balau.[52]
Menurutnya, sumber yang paling tertua dan diterima secara umum adalah teori sumber yaitu: Yahwist (abad 9-8) dan Elohist (abad 8-7). Keduanya dibedakan berdasarkan cara penyebutan Allah dalam kedua sumber tersebut. Sumber yang berikutnya adalah Deuteronomist (D) yang merupakan literatur yang dibedakan dari sumber Y dan E. Deuteronomis ditemukan dalam kitab Deuteronomy namun ditemukan juga dalam kitab Yosua. Sumber yang terakhir adalah Priest (P) sekitar abad ke-5 sampai abad ke-4.[53]
Pantas juga dipertimbangkan pendapat Robert Pfeiffer yang mengatakan: Kitab Kejadian terdiri dari keempat sumber di atas ditambah satu sumber lagi yang disebut dengan sumber S (dari Southrern atau Seir).[54] Kemungkinan itulah tempat asalnya. Sumber ini dibagi atas dua bagian besar yaitu cerita mitos tentang munculnya manusia pertama dan perkembangannya (Kej. 1-11), yang didalamnya termasuk cerita penciptaan, pengusiran dari Taman Eden, Kain dan keturunannya dan bagian kedua adalah cerita tentang orang-orang di Palestina Selatan dan Transyordania termasuk juga sebuah rangkuman kisah Edom (pasal 12-50). Dalam bagian kedua ini termasuk cerita tentang Abraham, cerita tentang Sodom. Terdapat juga sumber S2 yang merupakan penambahan dari redaktor. Contohnya, cerita tentang ke empat sungai yang terdapat di Taman Eden, air bah.
Pada bagian lain, kalangan konservatif dan tradisional melihat Musa sebagai pengarang kitab Kejadian.[55]  Musa dipahami sebagai penulis seluruh kitab taurat dan sebagai individu penerima langsung hukum taurat. Beberapa bagian Torah dikaitkan dengan Musa sebagai penulisnya. Namun hal tersebut tidak mudah dipercaya begitu saja, karena akan terbentur dengan bukti-bukti pendukungnya. Kitab Pentateukh juga mengisahkan kematian Musa. Oleh karena itu, tidak mungkin Musa menulis riwayat kematiannya sebelum dia meninggal. Akan tetapi, kecenderungan para ahli teologi masih menerima teori sumber sebagi bahan penulisan kitab Kejadian, meskipun tidak diketahui siapa narator dan redaktornya secara pasti. Namun karakteristik dan latar belakang setiap orang yang bekerja dibalik kitab tersebut dapat dianalisa melalui teks kitab itu sendiri, dengan berbagai ilmu tafsir.
Sesungguhnya teori-teori tentang siapa penulis kitab Kejadian ini tidak akan berakhir. Menurut penulis juga, kitab tersebut (bahkan seluruh Alkitab) terbuka untuk dipelajari dan dianalisa berdasarkan fakta. Jadi, tidak tertutup kemungkinan di masa yang akan datang teori yang sudah diterima umum (teori sumber) digantikan oleh teori yang baru, yang dapat memberikan bukti-bukti yang lebih dapat dipercaya. Namun, Siapapun penulis kitab Kejadian  entah itu Musa, ataukah orang lain pada suatu jaman akan tetap menjadi bahan perdebatan. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa kitab tersebut disusun sekitar 11 bagian besar yang ditentukan berdasarkan suatu rumusan toledot. Rumusan  atas toledot ini disusun teratur dan terstruktur. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siapapun penulis kitab Kejadian, dia mempergunakan toledot tersebut. Oleh karena itu tidak diragukan jika cerita dalam kitab Kejadian sudah ada sebelum masa Musa.[56] Menurut penulis tekanan perhatian bukan lagi terhadap permasalahan siapa yang menulis kitab tersebut, namun yang lebi penting adalah apakah pesan teks itu dan apa maknanya bagi kehidupan saat ini.

2.3.2. Sejarah Penelitian Hermeneutis terhadap Pasal 45
            Penelitian dan tafsiran terhadap kisah Yusuf secara umum dan khususnya pasal 45 selalu berkembang. Penelitian arkheologis juga turut dilakukan. Apakah cerita Yusuf dalam Alkitab pernah terjadi ataupun cerita tersebut hanya sebuah fiksi. Berkaitan dengan hal tersebut, tafsiran dilakukan oleh berbagai ahli dalam zamannya masing-masing.
Berikut ini penulis memaparkan pendapat dan tafsiran para ahli terhadap kisah Yusuf, khususnya pasal 45.
Nolan B. Harmon
            Pasal ini merupakan bangunan Y dan E. Dua narasi yang berbeda tradisi dkombninasikan dalam suatu detail yang kecil. Philosophy cerita pasal 45 terdapat dalam ayat 7 dan 8a yang berasal dari Y. Bagian ini menjelaskan Yusuf yang terjual ke Mesir yang merupakan rencana Tuhan. Dengan demikian, Yusuf berusaha meyakinkan saudaranya untuk menyadari sepenuhnya bahwa semua yang terjadi pada dirinya semata-mata adalah atas karya Tuhan.[57] Sementara itu sumber E menyebutkan bahwa perjumpaan tersebut mengandung suatu kesulitan dan persoalan. Hal Persoalan bukan lagi terletak pada terjualnya Yusuf ke Mesir oleh perlakuan para saudaranya, namun telah terjadi penculikan terhadap Yusuf sebelum saudaranya memutuskan untuk menyerahkannya.[58]
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh C.F. Keil dan F. Delitzsch.[59] Menurut mereka, kunci utama mamahami kisah Yusuf terdapat dalam pasal 45 ayat 5, 7 dan 8. Ungkapan yang menyatakan “Tuhanlah yang mengirimkan aku Ke Mesir mendahului kamu untuk menyelamatkan hidupmu”, merupakan tipe pemberitaan kenabian. Seorang nabi sering dikirimkan/diutus Tuhan bertugas untuk menubuatkan hukuman atau keselamatan yang akan datang kepada bangsa Israel (mis. Nabi Yeremia).
            Dalam Kej. 45:7 disebutkan “untuk memelihara hidupmu”. Perkataan ini perlu dikaji lagi. Seluruh karya Yusuf dan kehidupannya sangat tidak mungkin hanya ditujukan untuk menyelamatkan hidupYakub dan keluarganya dari bahaya kelaparan dan kematian. Namun ungkapan tersebut juga menunjuk kepada bagian pendahuluan terhadap karya penyelamatan besar yang dilakukan Tuhan terhadap umat Israel di Laut Mati. Oleh karena itu, Y membuat peristiwa penyelamatan Yusuf sebagai permulaan keselamatan besar bagi Israel dari serangan Mesir. Tuhanlah yang berkarya ketika peristiwa itu terjadi sejak awalnya. Karena peristiwa laut mati tersebut merupakan peristiwa yang super natural.[60]
            Dalam ayat 8 disebutkan “Yusuf menjadi bapa bagi Firaun”. Kemungkinan perkataan ini hanya sebagai sebuah ungkapan bermakna penghargaan dan pengagungan nama bagi seorang pemimpin dalam istana di Mesir. Sementara itu dalam ayat 10 disebutkan “Gosyen” sebagai tempat tinggal Yakub dan keluarganya. Perkataan ini tidak sesuai dengan Kej. 47:6b. Menurut Kej. 45:10, disebutkan bahwa Gosyen diserahkan kepada saudara-saudara Yusuf sebagai tempat menggembalakan ternak mereka. Kata-kata Firaun tersebut bisa saja hanya sebagai ungkapan yang halus saja, karena dalam Kej. 47:6b, Firaun justru meminta saudara Yusuf tersebut untuk menggembalakan ternaknya. Pada bagian lain, E tidak ada menyebutkan daerah Gosyen.[61] Namun C.F. Keil dan F. Delitzsch[62] berpendapat lain, menurut mereka perkataan “bapa bagi Firaun” lebih mempunyai makna sebagai sahabat dan konselor bagi Firaun. Karena jika diartikan dengan makna “bapa” yang sebenarnya, maka keputusan mutlak akan berada di tangan Yusuf. Pada hal kenyataannya, setiap Yusuf mengambil suatu kebijakan, dia harus memberitahukan terlebih dahulu kepada Firaun.[63] 
 Ayat 1-5 Perkenalan Yusuf sangat luar biasa terhadap saudaranya. Yusuf telah mereka jual, tetapi ternyata menjadi seorang yang sangat mereka takuti. Namun Yusuf berusaha meyakinkan saudaranya bahwa semua perbuatan mereka merupakan alat Allah untuk menyelamatkan hidup mereka. Hanya dengan pemahaman yang demikian perdamaian terwujud diantara mereka. Mereka semula menduga Yusuf akan marah dan balas dendam terhadap mereka dan akhirnya menghukum mereka semua. Namun oleh karena pengakuan dan kesaksian iman Yusuf, mereka menjadi tenang. Dalam hal ini, Yusuf bukan hanya tampil sebagai tokoh politik ataupun psikolog, tetapi lebih dari itu dia adalah figur yang spritualis.[64] Dengan demikian, Tuhan bisa saja memakai penderitaan untuk menggenapi tujuan Allah bagi umat-Nya, seperti kisah Yusuf.
            ­­­­­­Perjalanan sejarah hidup Yusuf sangat dramatis. Dia memperoleh penyataan dari Tuhan lewat mimpinya, kemudian dia terjual ke Mesir, menjadi budak di rumah Potifar, dipenjarakan karena mempertahankan kebenaran, bahkan dia menjadi penguasa atas seluruh Mesir. Keseluruhan cerita tersebut tidaklah dapat disebutkan sebagai peristiwa yang insidentil saja (peristiwa yang lumrah terjadi). Namun lebih dari itu, tangan Tuhan telah menopang perjalanan hidupnya dalam segala situasi dan kondisi. Firaun yang menyambut baik kedatangan Yakub dan keluarganya, juga dipahami sebagai instrumen Tuhan untuk menghadirkan keselamatan bagi umat Israel. Tentu saja Firaun telah mengenal Yusuf sebagai orang yang paling dipercayainya. Dengan demikian, tidak tertutup kemungkinan Firaun juga mengenal dengan baik Tuhan yang disembah Yusuf.[65]
John Calvin
            Menurut Calvin, bagian pertama pasal 45 menjelaskan Yusuf yang tidak dapat menahan perasaan batinnya lagi terhadap saudara-saudaranya. Pada tahap awal dia telah berbohong terhadap perasaannya dengan memperkenalkan cara yang keras dan kasar terhadap saudaranya. Namun selama peristiwa tersebut terkandung rasa persaudaraan dalam benak Yusuf, sehingga dia tidak dapat menahan perasaannya. Akhirnya setelah menyuruh semua para pengisi istana keluar, dia berteriak dan menangis memperkenalkan dirinya kepada saudaranya.[66] Padahal menangis bagi kalangan raja dalam istana Mesir merupakan hal yang sangat memalukan. Namun hal tersebut terjadi bagi Yusuf karena dia tidak dapat lagi menahan perasaannya terhadap saudaranya. Dialah yang telah mereka jual dahulu dan mendapat kemuliaan di Mesir. Bagian ini mau memperjelas dan menunjukkan bahwa satu kemualiaan diberikan Tuhan kepada Yusuf sesuai dengan rencana Tuhan sebelumnya yang diperlihatkan dalam mimpi Yusuf.[67]
            Ketika Yusuf memperkenalkan dirinya dengan menyebutkan namanya, “saya adalah Yusuf”. Padahal nama tersebut tidaklah dikenal oleh orang Mesir.[68] Hal tersebut membuat saudaranya merasa terpukul dengan segala perbuatannya terhadap Yusuf sebelumnya. Mereka membandingkannya dengan kemuliaan yang dimiliki Yusuf pada saat itu.  Dengan demikian, melalui peristiwa ini, kesedihan dan penderitaan yang dialami Yusuf, digantikan dengan kemualiaan dari Tuhan dan orang-orang yang memperlakukan kejahatan kepadanya menjadi malu dan terpukul.
Selanjutnya, perkataan Yusuf yang mengatakan, “mendekatlah kepadaku, saya berdoa untuk kamu semua”. Dengan perkataan ini Yusuf berusaha membangun kembali rasa percaya diri dan membuang rasa bersalah para saudaranya. Pada beberapa saat Yusuf memang membiarkan saudaranya termenung dan mengingat semua kejahatan yang dilakukan saudaranya kepadanya. Namun melalui pernyataan Yusuf tersebut, ia mau meneguhkan perasaan saudaranya dengan suatu undangan hangat dan familiar untuk datang kepelukannya. Usaha Yusuf tersebut diteguhkan kembali dengan menyaksikan imannya terhadap saudaranya sebanyak dua kali. Ia menyebutkan “bukan kamu yang menjual aku ke Mesir, tapi Tuhanlah yang mengirimkan aku mendahului kamu untuk menyelamatkan hidup kamu.” Hal tersebut bertujuan untuk membangun kembali hidup kekeluargaan yang baru diantara mereka. Pada bagian lain teks ini bermakna bahwa apapun dilakukan manusia, kapanpun dan dimanapun, akan tetap berada dalam kuasa Tuhan. Rencana Tuhan akan terdapat dalam setiap gerak kehidupan manusia. Hal tersebut sangat rahasia dan berada diluar akal manusia.[69] Namun menurut analisis penulis, terdapat suatu karya pikiran redaktor dalam pernyataan tersebut. Kemungkinan hal itu dimaksudkan untuk membangun dasar teologi Keluaran. Bahwa orang Israel berada di Mesir, bukanlah atas kesalahan mereka, namun merupakan rencana Tuhan untuk menyelamatkan hidup mereka.
            Gerhard von Rad
            Menurut von Rad Kisah tentang Yusuf sangat berbeda dengan cerita Patriarkh sebelumnya. Cerita Yusuf merupakan kisah yang berdiri sendiri. Panjang cerita tersebut juga sangat berbeda dengan kisah yang menceritakan Patriarkh sebelumnya. Hal inilah yang menandakan bahwa kisah Yusuf merupakan karya satu orang. Kisah tersebut dimulai dengan baik dengan ending yang baik pula. Dalam kisah Patriarkh, bisa saja terjadi perbedaan sudut pandang pengarang dari pasal awal dengan pasal bagian akhir. Namun cerita Yusuf sangat berbeda, dari awal sampai akhir ditata dengan baik. Kisah Yusuf dibangun redaktor dengan mempergunakan bahan J dan E. Kombinasi tersebut semakin memperkaya teks, misalnya Yahwis selalu mempergunakan nama Israel dan Elohist mempergunakan nama Yakub.[70]
Tafsiran von Rad terhadap pasal 45  
Materi yang terkandung dalam pasal 45 adalah tentang pengenalan (1-15), kemudian pesan dari Firaun terhadap Yusuf saudara-saudaranya (16-20). Diakhiri dengan cerita saudara-saudara Yusuf yang kembali ke rumah mereka. Teks pasal ini tidak selembut pasal 44. Hal tersebut memperkuat bukti bahwa teks tersebut berasal dari dua tradisi, mamun justru hal tersebut memperkaya teks tersebut. Bukti kedua tradisi tersebut nampak ketika Yusuf memperkenalkan diri sebanyak dua kali terhadap saudara-saudaranya (ayat 3a dan 5).
            Perpindahan Yakub dan keluarganya mengandung permasalahan bagi Yusuf. Dia telah memerintahkan ayah dan saudaranya untuk segera pindah ke Mesir (ay. 9) dan mendapat rekomendasi dari Firaun (ay. 18-20). Namun dalam Kej. 46:31 dan 47:5, disebutkan bahwaYusuf harus memberitahukan dan minta arahan dari Firaun terhadap kedatangan Yakub. Peristiwa itu membuktikan bahwa kekuasaan Yusuf di Mesir masih berada di bawah kendali Firaun. Artinya, keputusan terakhir bukanlah di tangan Yusuf. Hal tersebut mungkin berkaitan juga dengan kekwatiran Yusuf akan keselamatan Yakub dan keluarganya di Mesir.
            Dalam ayat 7, terdapat ungkapan Yusuf, “Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong”. Dalam bahasa Ibrani digunakan kata serit (remnant, dalam terjemahan yang lain disebut posterity yang berarti anak cucu) arti yang lain adalah sisa, keturunan. Peleta (survivors) yang berarti penyelamat hidup. Sehingga dapat dengan jelas dipahami motif pengiriman Yusuf ke Mesir oleh Allah, yaitu untuk menjamin kelanjutan sisa keturunan Yakub dan juga memberikan keselamatan hidup bagi mereka. Yang paling menarik adalah kesaksian Yusuf, yaitu bahwa Tuhanlah yang menempatkannya untuk tujuan tersebut. Dengan demikian, dapat dipahami, seluruh gerak cerita Yusuf adalah atas kuasa Tuhan untuk menyelamatkan umat-Nya dalam perjalanan sejarah. Tuhanlah yang sesungguhnya penyelamat itu, bukanlah Yusuf.[71]
William Neil
            Menurut Neil, Cerita Yusuf merupakan satu bagian tunggal yang terdapat dalam kitab Kejadian. Cerita tersebut merupakan penambahan terhadap kitab Kejaidan sehingga sangat berbeda dengan cerita Patriarkh. Cerita Yusuf tersebut hanyalah sebuah kisah hikmat yang mengajarkan perbuatan moral baik. Dengan demikian, banyak gubahan yang dilakukan oleh redaktor untuk menyelaraskan cerita tersebut dengan tema teologi kitab Kejadian.[72]
            Kunci utama memahami kitab Kejadian terdapat dalan Kej. 45:5 dan 50:20. Kedua ayat tersebut menjelaskan bahwa semua peristiwa yang dialami Yusuf, suka maupun duka, adalah atas rencana Tuhan. Dengan demikian, memahami kisah Yusuf harus dilihat dari teologi janji. Pemanggilan dan pemilihan Yusuf adalah dalam rangka meneruskan janji Tuhan terhadap nenek moyang Israel yaitu Abraham. Perhatian usaha tafsir tidaklah hanya tertuju kepada sisi kemanusiaan yang ditokohkan seperti tingkah laku para saudaranya yang menjualnya ke Mesir. Namun yang lebih terpenting adalah melihat keseluruhan hidup dan peristiwa yang dialami Yusuf sebagai karya Tuhan. Tangan Tuhan selalu menopang Yusuf untuk menyelamatkan banyak orang. Jika dilihat dari konteks penulisannya, peredaksian kisah Yusuf dalam kitab Kejadian bermaskud untuk menjelaskan kepada umat Israel, bahwa tangan Tuhan akan tetap menopang hidup mereka meskipun mereka berada dalam ancaman bangsa asing. Yang dibutuhkan adalah kesalehan dan ketaatan kepada Tuhan seperti yang dilakukan nenek moyang mereka, Yusuf.[73]

A.S. Herbert
            Menurut Herbert dari kisah sebelumnya, kepandaian Yehuda dan ketidaksombongannya memberikan jalan bagi Yusuf untuk menyingkapkan dirinya yang sebenarnya. Yusuf bukan hanya merasa sedih dalam peristiwa tersebut, namun lebih dari itu, dia mau memperkenalkan kepada para saudaranya bahwa Tuhanlah satu-satunya penyelamat akan kelanjutan hidup saudaranya. Tidak pernah terbayang bagi saudara-saudara Yusuf untuk mendapatkan perlakuan dari negeri  Mesir seperti yang diperbuat oleh Yusuf. Namun mreka mendapat perlakuan lebih dari yang mereka duga sebelumnya, mereka diberikan tempat yang paling subur di Mesir. Dalam hal ini terlihat ciri cerita Mesir kuno yang mengagungkan Firaun dengan menyebutkan kedermawanannya.[74]
            Kunci utama memahami kisah Yusuf terdapat dalam Kej. 45:5,7 dan Kej. 50:20. Dengan demikian, kisah Yusuf yang begitu panjang tersebut dipahami sebagai karya besar penyelamatan Tuhan terhadap umat-Nya. Meskipun digambarkan seorang tokoh yang rendah hati, berintegritas dan berhikmat, namun tema yang paling penting ditekankan narator adalah bahwa aktivitas dan tindakan Tuhan yang dikenal bangsa Israel secara langsung menyelamatkan umat-Nya.[75]
Dalam ayat 3, pertanyaan Yusuf, “apakah ayah masih hidup?” berasal dari tradisi Y dan juga terdapat beberapa variasi yang dipengaruhi E. Ungkapan tersebut mengandung masalah lingustik. Terdapat tekanan emosional dan menakutkan dalam pertanyaan tersebut.[76] 
Raymond E. Brown S.S[77]
            Teologi kisah Yusuf terdapat dalam Kej. 45:5-8. Teologi tersebut adalah bahwa Tuhanlah yang berkarya dalam kisah Yusuf. Melalui kisah tersebut, terbentang sejarah keselamatan umat manusia. Keselamatan tersebut bukan hanya bagi keluarga Israel saja tetapi juga keselamatan masa depan umat manusia. Bersamaan dengan Kej. 50:20, tema dari kedua bagian ini merupakan kunci utama dalam memahami kisah Yusuf.
Secara rinci pasal 45 dijelaskan sebagai berikut:
Bagian pertama adalah ayat 1-8, bagian ini dibagi dua:
Ayat 1-4, bagian ini menjelaskan persatuan Yusuf kembali dengan saudara-saudaranya yang merupakan pergumulan pribadi bagi Yusuf. Dia telah menyuruh seluruh pegawai istana untuk keluar meninggalkan dia dan para suadaranya, namun karena emosi batinnnya yang tinggi membuat tangisannya terdengar penduduk pengisi istana dan bahkan Firaun. Dalam hal ini J dan E bersama-sama memberikan penekanan terhadap elemen emosional dari seluruh cerita Yusuf. Tekanan emosi batin merupakan salah satu karakteristik cerita kuno di Mesir.
Ayat 5-8, merupakan pekerjaan redaktor. Allah dititikberatkan sebagai pihak yang mengurus dan bertanggung jawab terhadap cerita tersebut. Walaupun Yusuf terjual ke Mesir, namun sesungguhnya Tuhanlah yang mengirimkannya ke sana. Ayat 7 yang menjelaskan penekanan tindakan Allah dalam peristiwa tersebut, mengandung sebuah teologi yaitu membangun dasar “teologi keluaran.” Dalam Teologi peristiwa keluaran, dipahami bahwa Tuhanlah yang mengirimkan umat Israel ke Mesir dan Tuhan jugalah yang melepaskan/membawa mereka keluar dari sana. Dengan demikian, posisi dan arti Yusuf dalam peristiwa tersebut, berkaitan dengan kelanjutan generasi umat Israel. Redaktor telah melihat implikasi selanjutnya dari cerita Yusuf. Pemeliharaan Tuhan senantiasa bagi umat Israel ketika di Kanaan ataupun Mesir.
Ayat 9-15 merupakan pesan Yusuf terhadap Yakub yaitu ungkapan kerinduannya terhadap ayahnya untuk segera mungkin bertemu.  Ayat 10, disebutkan mereka akan tinggal nantinya di daerah Gosyen.[78] Gosyen disini sangatlah janggal karena pada masa Hyksos, tempat ini sudah dikenal. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa cerita Yusuf muncul pada masa Hyksos (dinasty ke-19 dan sesudahnya).
Ayat 16-20, terdapat pengulangan undangan Yusuf kepada Yakub ayahnya untuk datang ke Mesir. Terdapat dua perintah untuk membawa keluarga Yakub ke Mesir (18 dan 19). Terdapat juga dua alat transportasi yang digunakan. Pada ayat 17 disebutkan supaya mereka menggunakan binatang-binatang. Sementara dalam ayat 19, disebutkan supaya mereka menggunakan kereta dari tanah Mesir.  Terdapat juga dua kali pengungkapan “tanah terbaik” (ayat 18 dan 20). Dengan demikian, kedua data ini memperkuat bukti bahwa pasal 45 dibangun atas dua tradisi, Y dan E.
Ayat 21-28, bagian ini membicarakan saudara-audara Yusuf yang kembali ke tanah Kanaan. Mereka melaporkan semua apa yang mereka terima dari Mesir. Bagian ini merupakan antiklimaks dari carita Yusuf.. Ayat 26 diyakini merupakan tambahan redaktor, sebab ayat ini tidak mempengaruhi proses bagaimana Yakub melakukan migrasi ke Mesir. Justru ayat ini seolah-olah mau mengatakan bahwa Yakub tidak percaya semua apa yang terjadi, dengan demikian dia tidak akan melakukan migrasi ke Mesir. Happy ending terdapat dalam ayat 25 dan 27, namun bagian akhir ini semakin memperjelas bahwa teks ini dipengaruhi oleh dua tradisi. Nama yang digunakan dalam ayat 21 dsan 28 menggunakan nama Israel, sementara dalam ayat 25 dan 27 mempergunakan nama Yakub.  
Derek Kidner
            Kidner berpendapat bahwa semua peristiwa yang terjadi dalam kisah Yusuf adalah atas kehendak Tuhan, bukanlah kehendak manusia (Kej. 45). Sinar dari Tuhan memimpin hidup Yusuf dalam segala peristiwa suka maupun duka. Dengan demikian, terdapat teologi bahwa kebenaran Tuhan akan selalu terbangun dan berbunyi dalam segala bentuk peristiwa dalam kehidupan. Oleh karena itu kesabaran dan tahan menderita dengan ketaatan merupakan kunci utama dari Yusuf untuk menyambut kuasa Tuhan tersebut dalam hidupnya.[79]
            Menurutnya, kata “menjual aku” (ay. 3) dari Yusuf merupakan sindiran. Hal tersebut sangat tepat pada moment tersebut yang bertujuan untuk menyadarkan saudaranya. Namun berdasarkan analisis, perkatan tersebut merupkan catatan tambahan redaktor. Perkataan “kamu menjual saya...Tuhan mengirimkanku (ay. 5)” merupakan salah satu pernyataan klasik untuk menyatakan pemeliharaan hidup manusia. Hal tersebut merupakan realisme biblika. Dengan pernyataan tersebut, terdapat dua aspek yang dapat dipahami. Satu aspek bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan hidupnya sendiri (mishandling). Aspek yang lain adalah bahwa tangan Tuhan yang sempurna selalu setia menyelamatkan hidup manusia. Selanjutnya perkataan “bukan kamu....tetapi Tuhan (ay. 8)”  merupakan bentuk idiomatik[80] dalam Perjanjian Lama. Idiom ini secara kontras mempertentangkan anggapan saudara Yusuf yang merasa bersalah atas tindakan menjual Yusuf dengan tindakan Tuhanlah yang mengirimkan Yusuf ke Mesir sebagai bapa atas Firaun. “bapa atas Firaun” mengandung makna bahwa Yusuf menduduki posisi kepegawaian yang tinggi dan visioner.
            Dalam ayat 10, disebutkan bahwa Yakub dan keluarganya akan tinggal di Gosyen. Nama tersebut dikenal Mesir pada waktu yang kemudian yaitu tanah Ramses. Gosyen kemudian disebut juga dengan “tanah yang subur” dan dekat dengan tempat tinggal Yusuf. Namun nama tempat tersebut diduga berada di Timur Delta yang berada di bawah kuasa Hyksos[81] dan Ramses.[82] Kemungkinan besar pada masa inilah kisah Yusuf muncul.
J.T.E. Renner
            Menurutnya, pasal 45 merupakan pasal penyelesaian masalah yang dimunculkan narator dalam pasal 43-44. Oleh karena itu, pasal 43-45 harus dipahami sebagi satu kesatuan. Narator tidak lagi menitikberatkan perhatian terhadap kesalahan saudara Yusuf sebelumnya. Namun perhatian difokuskan terhadap pemahaman Yusuf yang mengalami tekanan emosi batin yang dalam karena kerinduannya terhadap ayahnya dan para saudaranya. Dengan pergumulan batin, Yusuf berusaha menyadarkan para saudaranya dari ketakutan dan perasaan bersalah, Tuhanlah yang berkarya atas mereka. Tuhan memakai para saudaranya sebagai alat untuk mewujudkan keselamatan bagi umat-Nya, yang telah menjualnya ke Mesir. Oleh karena itu penjualan dirinya tersebut adalah proses perwujudan karya keselamatan dari Tuhan tersebut.[83]
            Pokok yang paling penting untuk diperhatikan adalah faktor pendorong (motivator) di balik seluruh cerita tersebut. Renner mengatakan, proses terjualnya Yusuf ke Mesir oleh para saudaranya, godaan yang dialaminya, serta kemuliaan dan kekuasaan yang diperolehnya boleh saja dipahami sebagai hal yang manusiawi. Namun pemahaman tersebut terlalu dangkal. Semua gerak perjalannan hidup Yusuf didorong oleh satu kekuatan dan kekuasaan yaitu dari Tuhan. Dengan demikian, semua peristiwa yang terjadi dalam kisah tersebut, di Kanaan ataupun di Mesir, merupakan aktivitas Allah. Berkaitan dengan hal tersebut maka Tuhan berkuasa mempergunakan penderitaan dan kesusahan bagi manusia dalam rangka mewujudkan rencana-Nya.[84]
Stuart Briscoe
            Pasal 45 merupakan kisah yang sangat mengagumkan. Briscoe melihat ada 3 keinginan dengan keutuhan batin Yusuf. Hal tersebut didorong oleh imannya kepada Tuhan. Yang pertama, dia menginginkan hubungan akrab dengan saudaranya terbangun kembali (the need to relate). Dalam cerita tersebut diungkapkan bahwa Yusuf tidak dapat lagi menahan identitasnya terhadap saudara-saudaranya. Dia tidak dapat lagi menahan rasa batinnya sehingga dia menyuruh semua orang Mesir meninggalkan dia dan para saudaranya. Kemudian dia memperkenalkan dirinya yang sebenarnya terhadap saudaranya. Pada saat itu juga saudara-saudaranya terdiam dan tidak percaya. Karena mereka masih mengingat segar apa yang telah diperbuat mereka terhadap Yusuf. Namun mereka percaya ketika menyaksikan Yusuf menangis begitu keras sampai orang-orang Mesir dan pengisi rumah Firaun mendengarnya. Kenyataan tersebut bukanlah hanya sebagai kisah semata.[85]
            Hal yang kedua adalah keinginannya untuk menciptakan suatu perdamaian (the need to reconcile). Yusuf tidak mempersalahkan saudaranya yang menjualnya ke Mesir, namun dia berusaha meyakinkan saudaranya untuk melihat semua yang terjadi atas dirinya sebagai kehendak Tuhan. Dia ingin saudaranya melihat berkat Tuhan yang melimpah atas banyak orang melalui dirinya. Yusuf berusaha supaya saudaranya tidak mendukakan hati dan tidak menghujat dirinya dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap dia. Dia ingin menunjukkan bahwa kedaulatan Tuhanlah yang mengontrol seluruh perjalanan hidupnya, untuk menghadirkan tujuan penyelamatan hidup umat manusia.[86]
            Ketiga adalah kebutuhan untuk memugar/membagun kembali (the need to restore). Dalam bagian ini, Yusuf berkeinginan untuk membangun kembali Yakub dan keluarganya ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Inisiatif Yusuf tersebut juga disambut baik dan mendapat rekomendasi dari Firaun (ay. 20). Yakub dan keluarganya diberikan tanah yang subur dan terbaik di Mesir. Selanjutnya, Yusuf sepertinya masih meragukan ketentraman saudara-saudaranya ketika kembali ke Kanaan. Sehingga ia harus memberi pesan terakhir supaya saudara-saudaranya supaya tidak berbantah-bantahan di jalan.[87]
Matthew Henry’s
            Menurutnya, peryataan Yusuf yang memperkenalkan dirinya dengan menyebutkan, “aku adalah Yusuf”, menimbulkan kecurigaan bagi saudaranya. Pertama sekali mereka hanya mengenal dan mengetahui bahwa raja orang Mesir berbuat baik kepada mereka. Namun dengan adanya upaya perkenalan Yusuf, mereka justru menaruh curiga dengan pernyataan tersebut. Karena pada saat itu nama Yusuf tidak begitu dikenal di Mesir. Dengan demikian, usaha pendekatan semakin dilakukan Yusuf dengan menyebutkan dirinya yang telah dijual saudaranya ke Mesir. Hal  ini memperkuat keyakinan saudaranya akan dirinya. Kemudian semakin diyakinkan kembali setelah ia berkata, “marilah mendekat, janganlah marah akan dirimu sendiri,” dan dia memeluk mereka.[88]
Bagaimanakah memahami keselamatan yang diberikan Tuhan terhadap Yakub dan keturunannya melalui hidup Yusuf yang penuh penderitaan? Matthew Henry’s menyebutkan bahwa manusia tidak dapat mengerti dan memahami semua tindak keselamatan yang dilakukan Allah terhadap cipataan-Nya. Hal yang lebih kontras lagi, Tuhan boleh saja mempergunakan hal yang sangat bertentangan dengan kenyataan hidup manusia, dalam rangka perwujudan keselamatan, seperti halnya kisah Yusuf.[89]
John Barton dan John Muddiman[90]
            Pasal 45 kemungkinan adalah sebagai akhir cerita Yusuf yang sesungguhnya. Semua tekanan permasalahan diselesaikan dalam pasal ini dengan suatu rekonsiliasi yang happy ending. Dari sudut pandang struktur literaturnya, cerita Yusuf sudah diakhiri pada pasal ini. Dengan demikian, bagaimana kelanjutan kisah tersebut dijawab dalam pasal 46:1-5 yang selanjutnya menyajikan cerita tentang Patriarkh.
Dalam ayat 1-5, pengarang menjelaskan bahwa dari emosi batin Yusuf yang paling dalam membuatnya mengungkapkan kepribadiannya yang sebenarnya. Dengan keyakinan kuat dia menyaksikan bahwa tangan Tuhanlah yang tersembunyi berkarya menyelamatkan keluarga Yakub melalui dirinya. Kemudian dalam ayat 10-15, pengarang memunculkan tema baru yaitu cerita tentang migrasi keluarga Yakub ke Mesir. Ayat 9-13, merupakan inisiatif Yusuf terhadap keluarga Yakub dan juga persetujuan dari Firaun untuk memberikan Gosyen menjadi tempat tinggal keluarga Israel. Selanjutnya ayat 21-28 menjelaskan perjalanan Israel dan keluarganya ke Mesir.
2.3.3. Teologi dan Hipotesa Pasal 45
Don Anderson menyebutkan; “you sold, but God sent”(45: 4-8).[91] Ungkapan ini mau menekankan bahwa Yusuf terjual ke Mesir adalah atas prakarsa Tuhan. Saudara-saudara Yusuf hanya dipakai Tuhan untuk rencana-Nya. Stuart Briscoe juga menyebutkan, dalam sejarah, Yusuf tidak akan mendapat tempat (pemimpin) di Mesir, tanpa rencana Tuhan (God have a great plan by Yusuf’s deliverance in to Egypt).[92]  Melalui konsep teologis ini, apakah Tuhan senantiasa memakai setiap orang dalam berbagai cara, waktu dan tempat untuk mewujudkan karya-Nya? Bagaimanakah Yusuf bisa mengaku seperti itu? Ataukah itu hanya karya Narator saja dengan maksud tertentu?
            Gerhard von Rad berpendapat, pasal 45 bukan hanya mengandung makna bagaimana penerimaan serta rekonsiliasi Yusuf dengan saudaranya. God who brought Joseph in to Egypt to “preserve life”. Istilah “menjamin dan memelihara (Ibr: peleta) mengandung makna bahwa Tuhan mempunyai rencana besar melalui Yusuf yaitu untuk menjamin kehidupan manusia dalam sejarah.[93] Permasalahan Yusuf dengan saudaranya berganti dengan sebuah cahaya baru atas pimpinan Tuhan. Dengan peryataan ini, pertanyaan kritis kita adalah apakah keselamatan dari Tuhan hanya melalui orang pilihan-Nya saja? Apakah orang Mesir (yang tidak mengenal Tuhan Yusuf) terpanggil juga dalam rangka keselamatan? Bagaimanapun juga, Yusuf pasti memiliki hubungan kerja sama dengan mereka untuk membuat suatu kebijakan. mengapa Yusuf diterima di Mesir yang sudah jelas adalah musuh utama mereka (Israel) dan bahkan menjadi pemimpin atas mereka. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, bagaimanakah memahami bahwa totalitas hidup setiap manusia merupakan panggilan Tuhan?
            Pada bagian lain, penerimaan dan rekonsiliasi terhadap saudaranya tidak cukup hanya di situ saja. Don Anderson menyebutkan; “forgiveness isn’t an option”.[94] Namun Yusuf menyusun rencana real pemeliharan hidup tersebut (9-15). “Segeralah pergi dan katakan kepada ayah, Tuhan telah menempatkan aku sebagai penguasa atas seluruh Mesir, bergegaslah datang ke sini”. Dalam ayat ini ditekankan bahwa Yusuf merealisasikan kebutuhan yang diharapkan saudaranya. Dengan demikian, panggilan Tuhan kepada setiap orang seperti Yusuf berbuah. Artinya, pengakuan dan kesaksian akan penyertaan Tuhan tidak hanya sebatas “pengakuan” saja. Realitas pengakuan tersebut juga diwujudkan. Pertanyaan kritis kita adalah apakah saudara Yusuf juga mempunyai pengakuan yang sama terhadap Tuhan Israel? Mengapa mereka minta bantuan kepada Mesir, yang memang tidak mengenal Allah mereka? Apakah mereka memang sudah krisis kepercayaan sebagai umat pilihan dan panggilan Allah?
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa cerita Yusuf (Kej. 37-50) merupakan kisah tunggal karya pengarang tunggal. Hal tersebut ditandai dengan alur yang teratur mulai dari awal hingga akhir cerita tersebut. Kunci utama memahami kisah Yusuf terdapat dalam Kej. 45:5,7 dan Kej. 50:20. Pasal 45 yang dibahas penulis diangun dengan dua tradisi yaitu Y dan E. Pasal ini merupakan akhir cerita Yusuf yang sesungguhnya, karena seluruh konflik dan permasalahan yang dimunculkan pengarang diselesaikan dengan baik dalam pasal ini. Dengan demikian, pasal 46-50 diyakini merupakan tambahan redaktor.
Terjualnya Yusuf ke tanah Mesir, merupakanlah proses panggilan Tuhan. Tuhanlah yang mengirimkannya ke sana. Tuhanlah yang berkarya dalam seluruh gerak hidup Yusuf. Proses tersebut dilihat dalam rangka teologi janji. Kisah Yusuf merupakan kelanjutan janji Tuhan kepada Patriarkh. Oleh karena itu kisah Yusuf tidak terlepas dari cerita Patriarkh. Meskipun cerita Yusuf merupakan bagian yang amat berbeda secara literer dengan kisah sebelumnya dalam kitab Kejadian, namun terdapat teologi yang mengikatnya, yaitu teologi janji. Dengan demikian dibutuhkan kajian teologis lebih lanjut terhadap teks itu sendiri. Dibuthkan kajian terhadap peran redaktor dan narator dalam Kej. 45 serta apa makna teologis yang hendak disampaikan melaui teks tersebut. Apakah Yusuf memang pernah ada (hidup) atau apakah kisah tersebut hanyalah sebuah cerita fiktif, penulis akan mengkajinya dalam bab pembahasan.
 

     B A B III
METODOLOGI PENELITIAN

Untuk memahami dan menggali kisah Yusuf khususnya pasal 45, penulis menggunakan metode hermeneutis eksegetis dengan pendekatan naratif. Pendekatan naratif lebih dimungkinkan karena teks yang dibahas penulis sendiri berbentuk sastra narasi.

3.1. Pengantar: Metode Deskripsi Biblika Murni dengan Pendekatan Naratif (Narrative Approach)
Pendekatan Naratif merupakan cabang dari kritik sastra ataupun kritik literer. Pendekatan ini adalah salah bidang cakupan metode penafsiran kritis yang merupakan perkembangan dari penafsiran tradisional. Perkembangan tersebut terjadi sekitar pertengahan abad ke-20.
Kritik naratif menitikberatkan perhatian terhadap cerita dalam teks yang diteliti. Narator mengajak penafsir untuk bersama-sama menyaksikan semua peristiwa yang diceritakan. Dalam arti yang lebih luas, kritik sastra mencakup semua persoalan yang timbul sehubungan dengan teks itu sendiri seperti pengarang, bahasa dan isi teks.
            Kritik sastra juga menaruh perhatian terhadap topik-topik yang mendukung terciptanya teks dalam bentuk akhir. Misalnya, struktur karangan, karakter teks, gaya bahasa dan simbol-simbol oleh pengarang, efek-efek dramatis dan estetika yang ditimbulkan sebuah karangan.[95] Elemen-elemen tersebut berpengaruh ketika membaca dan memahami narasi dalam Alkitab.
            Biasanya suatu teks/perikop merupakan bagian dari cerita yang lebih besar. Misalnya, pasal 45 kitab Kejadian adalah salah satu bagian dari kisah narasi Yusuf. Selanjutnya, teks tersebut juga adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan kitab yang memuatnya yaitu kitab Kejadian. Dalam bagian yang lebih luas lagi, teks tersebut adalah bagian yang tidak terlepas dari Pentateukh. Dengan demikian, perlu memperhatikan teks yang sebelum dan teks sesudah perikop yang sedang diteliti.[96]

3.2. Alasan Memilih Metode Pendekatan Naratif
            Beberapa alasan penulis memilih metode penafsiran dengan pendekatan naratif, yaitu:
  1. Pendekatan naratif adalah salah satu jenis metode dalam hermeneutis Alkitabiah.
  2. Teks yang dikaji penulis (Kej. 45) ditulis dalam bentuk sastra narasi, oleh karena itu sangat tepat jika penulis mempergunakan kritik sastra dengan pendekatan narasi untuk lebih memahami teks tersebut.
  3. Penulis akan lebih mudah memahami pesan teologis teks yang sedang dibahas, karena memang teks tersebut merupakan karya satu tangan dengan menyajikan kisah Yusuf secara utuh.
  4. Cerita tentang pemberitaan Yusuf adalah fiktif. Oleh karena itu proses terjadinya cerita Yusuf telah mengalami banyak perubahan dengan konteks historisnya masing-masing. Dengan demikian, pendekatan naratif akan lebih baik, karena tidak akan banyak mengkaji bentangan sejarah yang  panjang.
  5. Narasi Yusuf dikenal sebagai sastra hikmat di Timur Dekat. Oleh karena itu dengan pendekatan naratif akan lebih dimungkinkan, karena cerita tersebut memang sengaja dicipta dalam bentuk narasi. Artinya, bentuk narasi teks tersebut bukanlah hanya sebagai pekerjaan redaktor, namun bentuk aslinya adalah narasi hikmat.
 
3.3. Ruang Lingkup Pendekatan Naratif sebagai salah satu Upaya Berteologi
            Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penafsiran naratif, yaitu:[97]
  1. Memperhatikan struktur cerita.
Cerita tersebut merupakan bagian kecil dari cerita yang lebih besar. Artinya, teks yang dikaji hanyalah sebagian dari sebuah cerita.[98] Teks yang dibahas penulis adalah Kejadian pasal 45 yang merupakan satu pasal dari cerita Yusuf. Oleh karena itu, pasal 45 harus dilihat hubungannya dengan pasal 37-50 dari kitab Kejadian. Pasal 45 merupakan bagian akhir dari cerita Yusuf yang sebenarnya, semua konflik dan pertentangan ditemukan jawabannya dalam pasal ini. Pasal selanjutnya merupakan realisasi dari rekonsiliasi tersebut.
  1. Memperhatikan karakteristik/penokohan.
Menemukan siapa tokoh utama, tokoh pembantu dan tokoh figuran. Memperhatikan sifat-sifat (karakter) mereka dan bagaimana mereka ditampilkan oleh narator. Dalam perikop yang dikaji penulis, tokoh utama adalah Yusuf. Tokoh pendukungnya; kedua belas saudara Yusuf, Firaun, dan orang-orang Mesir.
  1. Memperhatikan alur/plot cerita. Bagaimanakah narator membangun cerita itu. Melalui analisa ini akan nampak, apakah narator mempergunakan alur maju atau alur mundur. Dalam pasal 45, narator mempergunakan alur mundur, dimana ketegangan/konflik terjadi di awal cerita, kemudian mengadakan rekonsiliasi dan diakhiri dengan latar belakang Yusuf datang ke Mesir, yaitu atas prakarsa Tuhan.
  2. Konflik; kita harus menemukan konflik apa yang diangkat/dipersoalkan oleh narator. Bagaimanakah narator memainkan peranan tokoh dalam konflik tersebut. Dengan demikian kemungkinan ada 4 konflik yang muncul, yaitu: konflik antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan sesamanya, mnanusia dengan alam dan manusia (tokoh) itu sendiri dengan dirinya sendiri. Dalam teks yang dibahas penulis, konflik terjadi ketika Yusuf memberitahukan kepada saudara-saudaranya bahwa dirinya adalah Yusuf yang telah mereka jual ke Mesir. Konflik terjadi juga dalam batin Yusuf sendiri.
  3. Setting; merupakan tempat dan ruang peristiwa itu terjadi. Karena ruang dan tempat tersebut akan mempengaruhi karakter dan sifat tokoh, serta mempengaruhi konflik cerita. Dalam Kejadian 45, settingnya adalah di Istana kerajaan. Tentunya ruangan tersebut dipenuhi hiasan dan para tentara sebagai pengawal.
  4. Memperhatikan waktu; ada 2 kemungkinan waktu dalam pendekatan naratif, yaitu: pertama, waktu yang bersifat alamiah seperti waktu, jam, bulan, tahun, siang, malam. Kedua, waktu yang bersifat naratif, seperti maka, lalu, kemudian, selanjutnya, setelah itu.
  5. Style (gaya); memperhatikan bagaimana gaya narator menceritakan teks tersebut. Apakah ada pengulangan suatu kalimat, atau situasi. Jika demikian, berarti ada bagian tertentu yang mendapat penekanan khusus.
  6. Narator; siapakah dia dan apakah motifnya untuk menyajikan cerita dalam bentuk yang demikian. Apa idealisme penulis dan juga pekerjaan serta jenis kelaminnya. Narator terkadang tidak memperkenalkan dirinya secara langsung, namum terselubung dalam teks (implied author). Oleh karena itu penafsir harus meneliti posisi narator dan cara pengungkapan kepribadiannya.[99]
Dalam penafsiran naratif, dapat juga dibantu dengan memperhatikan aspek-aspek penafsiran di bawah ini:
  1. Aspek Struktur
Susunan dan pemaparan cerita dari awal hingga akhir. Bagaimana cerita itu dikonstruksi dengan bentuk susunan seperti yang terdapat dalam Alkitab, dari awal hinga akhir. Tentunya terdapat persoalan internal yang perlu diperhatikan dari keseluruhan teks itu. Author dalam menulis cerita tentu saja dipengaruhi “ilmu sastra” yang berkembang pada zamannya. Pada gilirannya juga, pemahaman suatu cerita dalam Alkitab pada zaman ini, tentu saja mempergunakan ilmu sastra yang berkembang pada saat ini, yaitu dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang diuraikan sebelumnya.
Pada saat munculnya cerita Yusuf, sastra yang paling terkenal dalam masyarakat adalah sastra narasi. Penciptaan dunia juga digambarkan dalam bentuk cerita. Hal tersebut dapat diterima logika, karena dengan sastra cerita akan dapat memelihara suatu peristiwa ataupun ideologi, karena cerita dapat bertahan lama dalam masyarakat.
  1. Aspek Penciptaan
Aspek penciptaan menyangkut motif-motif dari penciptaan cerita itu. Oleh karena itu perlu diperhatikan maksud dan tujuan penulisan cerita itu. Apa yang menyebabkan cerita itu ditulis. Sedapat mungkin kita mendeteksi siapa yang menulis cerita itu dan kepada siapa dialamatkan.
Hal yang lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa cerita dan dunia cerita merupakan ciptaan author. Oleh karena itu, dunia cerita yang diciptakan author tidak mutlak sama dengan dunia nyata author itu sendiri. Namun hal itu tidak berarti bahwa dunia cerita berbeda ataupun bertolak belakang dengan dunia nyata, karena author pasti dipengaruhi budaya dan dunianya. Kemungkinan besar terdapat kesamaan dunia nyata penulis dengan dunia cerita yang digubahnya seperti nama tempat, tokoh, budaya, ruang dan waktu. Dengan jalan seperti itulah cerita yang disajikan narator pada jamannya dapat diterima dan setidaknya dapat dipahami dan masuk akal.
Selanjutnya, cerita yang ditulis author tersebut pada zamannya akan dibaca dan dipahami oleh pembaca yang lain dalam dunia nyata yang berbeda. Dengan demikian, untuk memahami sebuah cerita bagi pembaca dalam dunia nyata yang berbeda dengan dunia nyata author, pembaca harus masuk kedalam cerita. Ketika membaca cerita Yusuf yang settingnya istana, maka pembaca mau tidak mau harus merasa sedang berada dalam sebuah istana dengan gubahan artistik Mesir (pembaca keluar dari budayanya). Dengan cara demikianlah pembaca dapat memahami pesan cerita dengan baik.
Salah satu alat pembaca untuk masuk ke dalam dunia cerita, seorang author menciptakan seorang tokoh imajiner yang akan bercerita segala sesuatu yang terjadi dalam dunia cerita. Tokoh ini dinamakan narator (pencerita). Narator hanya hidup di dunia cerita, bukan di dunia nyata. Dengan demikian, narator bertugas untuk menyampaikan isi dan pesan yang hendak disampaikan author. Ta pengantar, atapun kata sambung yang digunakan author, seperti; kemudian, dan, lalu, setelah itu, dan sebagainya. Melalui kata tersebut, nampak bayang-bayang narator yang akan menyampaikan suatu peristiwa dalam cerita.
Tugas pembaca adalah melihat jalannya semua cerita melalui kacamata narator. Pembaca tidak akan pernah melihat dunia nyata author, namun melalui narator, cerita akan dapat diamati yang selanjutnya dimungkinkan melakukan rekaan terhadap maksud author menuliskan cerita itu.
  1. Aspek Pragmatis
Seorang penafsir harus meneliti pesan-pesan yang diharapkan narator yang akan ditangkap oleh pembaca atau pendengar. Dengan demikian perlu memperhatikan bagaimana narator menyampaikan pesan tersebut dan pola komunikasi apa yang dipakai oleh narator. Bahasa yang digunakan narator untuk menyampaikan suatu pesan pasti berbeda dengan ketika dia bercerita. Naratot akan mempergunakan bahasa religius dan rohani yang kemungkinan makna ceritanya tidak masuk akal. Dengan demikian, diperlukan pemahaman cerita sebagai historie dan cerita sebagai Geschichte seperti telah diuraikan penulis pada bagian terdahulu, karena kebenaran religius tidak akan dapat diungkapkan dalam bahasa cerita secara lengkap dan sempurna. Namun pemisahan pemahaman terhadap kedua sejarah dalam cerita tersebut bukan berarti akan merendahkan kebenaran satu sama lain. Pemahaman geschichte sebagai kebenaran bukan berarti hal tersebut merendahkan kebenaran historie.
Melalui narator, penulis bertujuan menyampaikan pesan yang diharapkan mendapat tanggapan dari pembaca. Setidaknya, pembaca mengerti cerita tersebut yang kemudian diharapkan dilakukan dalam kehidupannya. Pesan teologis  yang dimaksudkan penulis tidak akan berubah, karena dalam bentuk tertulis. Dengan demikian, untuk menggali pesan tersebut, pembaca ikut berperan. Faktor budaya, sosial dan pendidikan pembaca akan mempengaruhinya dalam membaca (menafsir) sebuah cerita.
  1. Aspek Referensial
Referensi pertama, merupakan kumpulan informasi yang didapat/dipakai author untuk membangun cerita tersebut. Apakah menggunakan teks yang internal ataupun teks yang eksternal. Referensi kedua, menemukan persoalan utama yang sedang terjadi di Israel ketika teks itu muncul, menyangkut bidang agama, sosial, politik dan budaya. Hal ini hanyalah secara umum, bukanlah menguak informasi historis layaknya pendekatan dengan kritk historis.
Dalam pendekatan naratif, pemabaca tidak perlu mempersoalkan siapa penulis cerita tersebut. Akan tetapi ketika memasuki dunia cerita, yang dijumpai pembaca adalah narator, bukan lagi author. Pembaca dalam pendekatan naratif disebut “pembaca historis”. Pembaca historis merupakan manusia dalam dunia nyata, baik pada zaman cerita tersebut dituliskan ataupun pembaca pada saat ini. Pembaca historis disebut juga pembaca aktual. Pada bagian lain terdapat pembaca imajiner (pembaca terselubung, pembaca tersirat atau implied reader), yaitu pembaca yang dibayangkan dan disapa author ketika menuliskan ceritanya. Dengan demikian, narator akan bercerita kepada pembaca imajiner yang hidup dalam dunia cerita. Narator dan pembaca imajiner tidak dapat bercerita kepada pembaca historis, karena mereka hanya hidup dalam dunia cerita. Oleh karena itu, author dan narator harus ada kerja sama. Author juga memperhatikan persamaan dunia nyata dengan dunia cerita. Sedangkan pembaca harus memperhatikan perbedaan dunia nyata-nya dengan dunia cerita.[100]
Sehubungan dengan perbedaan dunia nyata dengan dunia cerita tersebut, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, apa yang dilihat dan dipahami tidak dapat disamakan atau diaplikasikan ke dalam dunia nyata. Kedua, dunia nyata pembaca (konteks budayanya) ikut mempengaruhinya dalam memasuki dunia cerita. Karena dunia nyata pembaca adalah historisnya sendiri yang akan mempengaruhinya memasuki dunia cerita. Pemahaman ini mutlak, karena cerita akan bergerak dalam zaman yang berbeda. Bahkan  diantara pembaca yang sezamanpun, pemahamannya terhadap suatu cerita akan berbeda. Ketiga, khususnya dalam dalam memahami cerita dalam Alkitab, cerita dan dunianya bersifat teologis. Dengan demikian, bahasa yang digunakan juga akan berbau teologis yang kerap kali menggunakan simbolik dan metafora. Hal tersebut perlu diperhatikan, karena makna teologis belum tentu nampak dalam suatu bahasa yang diungkapkan dalam bentuk bahasa simbolik dan metafora.                                                                                                                          
            Dengan pemahaman seperti dijelaskan diatas, maka aspek referensial cerita tersebut akan mudah dikaji. Dalam menulis cerita, kemungkinan besar author dipengaruhi oleh konteks lingkungannya. Pengaruh tersebut dapat berupa cerita-cerita di luar teks yang mempunyai kemiripan dengan cerita dalam Alkitab. Hal tersebut wajar terjadi, karena melalui cerita dari luar tersebut (yang sudah dekat dengan masyarakat) akan membantunya menyampaikan pesan dalam cerita. Oleh karena itu dalam meneliti kisah Yusuf dalam kitab Kejadian dibutuhkan perbandingan terhadap cerita-cerita lain yang mempunyai kesamaan isi dan bentukya. Dalam hal ini, cerita  Yusuf banyak dipengaruhi tradisi Timur Tengah Kuno, sehingga dibutuhkan perbandingan terhadap cerita di negeri tersebut.

3.4. Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Naratif
Kelebihan:
  1. Proses penafsiran akan semakin mudah, karena tidak terfokus lagi kepada historis didalam ataupun di luar teks tersebut. Namun hanya meneliti pesan teologis yang dimuat melalui teks dengan bentuk sastra narasi.
Kelemahan:
  1. Kemungkinan  penafsir akan kesulitan untuk masuk ke dalam teks. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena narasi dalam Alkitab ditulis dalam waktu dan budaya yang sangat berbeda dengan penafsir ataupun pembaca.
  2. Kemungkinan terdapat istilah ataupun kata dan simbol yang sulit di mengerti maknanya. Karena kata, simbol tersebut bisa saja sama dengan apa yang dikenal dan dipahami penafsir ataupun pembaca, namun memiliki makna yang berlainan.

3.5. Persoalan Pendekatan Naratif terhadap Kitab Kejadian
Kitab Kejadian yang dilatarbelakangi oleh tradisi tertentu, dan juga tradisi author hal tersebut menjadi suatu masalah dalam hermeneutis. Tradisi kuno tersebut harus diterjemahkan kembali dalam sejarah penafsiran yang panjang dan terdiri dari beberapa warna kebudayaan. Salah satu  budaya tersebut layak dibahas pada bagian ini, yaitu jenis sastra kitab Kejadian. Jenis sastra kitab Kejadian disebut “saga”. Saga merupakan produk individu (author) membutuhkan diskusi yang panjang. Salah satu permasalahan dalam bentuk tersebut adalah tentang konsep “saga” itu sendiri. Apakah saga itu hanya sebagai sejarah belaka (historie) atau mengabaikan sejarah dan mengutamakan geschichte?
H. Gunkel seperti yang dikutip von Rad mengatakan bahwa, narasi kitab Kejadian memiliki suatu kharisma. Beberapa kisah lain Israel kuno sering digambarkan sebagai puisi dan cerita kiasan. Ada juga cerita yang dipahami sebagai “saga” yang erat kaitannya dengan tradisi yang berkembang saat itu. Namun semua hal tersebut tidak memiliki kharisma seperti yang terkandung dalam saga Kejadian.[101] Selanjutnya von Rad memberi pemahaman terhadap saga jika diperhadapkan dengan konteksnya pada saat itu.
Menurutnya, saga lebih mengandung hal yang berkenaan dengan arti historis. Oleh karena itu terkandung suatu keraguan didalamnya karena saga merupakan produk  syair fantasi yang berlangsung lama dalam tradisi. Jadi, sebagai kandungan sejarah, sangat mungkin terjadi ketidakpahaman terhadap materi cerita tersebut jika dipahami dalam budaya yang berlainan. Oleh karena itu, memahami kitab Kejadian, tidak boleh memisahkan antara historie dengan geschichte. Karena dalam narasi tersebut terkandung kebenaran sejarah (historie) dan juga mengandung geschichte (sejarah iman). Walaupun dalam cerita tersebut terkandung kata-kata yang mencerminkan saga, misalnya: karena itu, selanjutnya, mari kita lihat, bukan berarti hal tersebut mengatakan bahwa kitab Kejadian adalah hanyalah saga semata.[102]


 
B A B  IV
P E M B A H A S A N

            Dalam bagian pembahasan, penulis menitikberatkan perhatian terhadap cerita Yusuf dalam pasal 45. Seperti disebutkan sebelumnya, pasal tersebut merupakan akhir cerita Yusuf yang sebenarnya, karena di dalamnya terdapat penyingkapan terhadap segala permasalahan yang dimunculkan pada pasal sebelumnya. Bagian awal pembahasan ini penulis akan memaparkan beberapa permasalahan kritis menyangkut teks tersebut. Hal tersebut dimaksudkan untuk menolong penulis untuk menganalisis teks tersebut dengan pendekatan naratif. Penulis akan melakukan analisa dengan menelusuri aspek-aspek dalam teks tersebut, yaitu aspek struktur, penciptaan, pragmatis, referensial dan pesan teologis pada bagian akhir. Dengan demikian, akan ditemukan suatu refleksi teologis yang aktual dalam kehidupan saat ini.

4.1. Permasalahan Kritis
            Kejadian 45 tidak berdiri sendiri, meskipun perikop/pasal yang dibahas penulis memiliki teologinya sendiri. Pasal tersebut tidak terlepas dari bagian yang lebih besar. Pertama sekali, cerita tersebut terdapat dalam kitab Pentateukh. Kemudian dalam ruang lingkup yang lebih kecil lagi, pasal tersebut adalah bagian dari kitab Kejadian. Selanjutnya, pasal tersebut juga tidak terlepas dari satu bagian cerita tunggal yang utuh, yaitu Kisah Yusuf (Kej. 37-45).
           
            4.1.1. Memahami kitab Kejadian secara Kanonik
Kitab Kejadian termasuk dalam kelompok Thora, yaitu kanon[103] Ibrani bagian yang pertama. Kitab Kejadian disebut dengan “Genesis” (bhs Yunani). Dalam bahasa Ibrani disebut dengan Beresyit yang berarti “pada mulanya” yang merupakan kata pertama dalam kitab Kejadian dan kata permulaan untuk Alkitab.[104] Kitab  Kejadian mengisahkan penciptaan alam semesta, asal-usul umat manusia, pangkal dosa dan penderitaan di dunia, serta bagaimana Tuhan berhubungan dengan manusia. Oleh karena itu kitab  Kejadian dapat dibagi ke dalam dua bagian penting:
  1.   Pasal 1-11, penciptaan alam semesta dan asal-usul umat manusia.
Bagian pendahuluan (Kej. 1-11) merupakan pendahuluan bagi kitab Kejadian, Pentateukh dan juga bagi Alkitab. Pemahaman kanon tersebut desebabkan karena bagian ini menceritakan permulaan segala sesuatu. Isi secara ringkas Kejadian 1-11 sebagai pendahuluan dapat disebutkan sebagai berikut:
Pertama, Tuhan pemilik mutlak alam semesta dan sejarahnya. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling tinggi yang memiliki akal budi untuk menguasai ciptaan lainnya. Tuhan mengikat janji dengan manusia, untuk keselamatan. Kedua, manusia sebagai ciptaan Tuhan ternyata menghianati janji terhadap Tuhan dan akibat pelanggaran mereka tersebut. Ketiga, menjelaskan permulaan sejarah sebelum pemanggilan Abraham sebagai bapa leluhur bangsa Israel.           
     2.    Pasal 12-50, asal-usul nenek moyang bangsa Israel
Dalam bagian ini dkikisahkan nenek moyang Israel yang pertama yaitu Abraham. Ia terkenal karena iman dan ketaatannya kepada Tuhan. Lalu menyusul sejarah Ishak anak Abraham, dan Yakub anak Ishak (Yakub disebut juga Israel). Kemudian sejarah kedua belas anak laki-laki Yakub. Merekalah yang menjadi pendiri kedua belas suku Israel. Penulis kitab Kejadian memberi perhatian khusus kepada salah seorang anak Yakub yang bernama Yusuf dan peristiwa-peristiwa yang pada akhirnya menyebabkan Yakub bersama anak-anaknya dan keluarga mereka masing-masing pindah ke Mesir.
Meskipun kitab ini mengisahkan tentang orang-orang di zaman awal, namun yang mendapat tekanan khusus ialah kisah tentang perbuatan-perbuatan Tuhan. Kitab ini dimulai dengan penegasan bahwa Tuhan telah menciptakan alam semesta, dan diakhiri dengan janji bahwa Tuhan akan tetap memperhatikan umat-Nya. Yang memegang peranan utama di seluruh kitab ini adalah Tuhan yang menghakimi dan menghukum barangsiapa yang berbuat salah. Namun, Dia pula yang membimbing dan menolong umat-Nya serta membentuk sejarah mereka. Kitab yang kuno ini ditulis untuk mencatat kisah tentang iman suatu bangsa dan juga untuk membantu agar iman itu tetap hidup.
Isi secara garis besar kitab Kejadian diuraikan sebagai berikut:
  1. Penciptaan alam semesta dan manusia (1:1-2:25)
  2. Pangkal dosa dan penderitaan (3:1-24)
  3. Dari Adam sampai Nuh (4:1--5:32)
  4. Nuh dan banjir besar (6:1--10:32)
  5. Menara Babel (11:1-9)
  6. Dari Sem sampai Abram (11:10-32)
  7. Para Kepala Keluarga: Abraham, Ishak, Yakub (12:1--35:29)
  8. Keturunan Esau (36:1-43)
  9. Yusuf dan saudara-saudaranya (37:1--45:28)
  10. Orang Israel di Mesir (46:1--50:26)

            Dalam memahami kanon Kejadian, perlu dilihat dimensi dan fungsi dari kitab itu sendiri pada awalnya. Yang jelas, kitab Kejadian sudah digunakan sebagai tolok ukur dalam kehidupan iman dari generasi ke generasi sampai pada zaman ini. Dengan demikian, dibutuhkan pemahaman geneanalogis[105] dari cerita yang terdapat dalam kitab itu. Artinya, Kejadian dilihat sebagai kitab yang mengisahkan perjalanan sejarah generasi umat manusia. Dalam perjalanan sejarah tersebut terkandung iman setiap generasi dimana Tuhan senantiasa menampakkan diri. Pada sisi lain, Kejadian dilihat sebagai suatu narasi yang mengisahkan generasi manusia secara antropologis. Dengan demikian, terdapat dua hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu generasi iman dan generasi dalam arti keturunan. Pemahaman ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana proses terjadinya pembentukan bangsa Israel sebagai “umat pilihan.”          
            Kitab Kejadian juga mengandung janji. Sehingga dibutuhkan pemahaman kanonik terhadap janji tersebut. Janji yang diberikan Tuhan dalam kitab Kejadian bersifat individual dan kolektif, yaitu pemberian tanah, keturunan dan berkat yang akan diterima para Patriarkh. Dengan demikian, kisah pemberian janji kepada para Patriarkh tersebut hanyalah sebagai catatan historis saja. Namun fungsi teologisnya tetap hidup hingga zaman ini dan tetap berlaku hingga sampai akhir zaman. Pemahaman janji tersebut bersifat eskatologis dan konteksnya diperluas. Janji kepada individu menjadi janji kepada orang banyak/keturunan di sepanjang zaman.
            Kisah Yusuf juga dipahami sebagai proses kesinambungan janji tersebut dalam rangka pembentukan bangsa Israel sebagai umat pilihan. Pemanggilan bapa leluhur merupakan jawaban terhadap persoalan-persoalan manusia dan dunia yang telah berdosa. Dengan demikian, kisah Yusuf bukanlah sekadar cerita kuno saja, namun kehadiaran kisah Yusuf dalam Alkitab merupakan bagian penting dari bentangan sejarah keselamatan manusia dalam rangka pembentukan umat pilihan. Seandainya kisah tentang Yusuf tidak dimuat dalam Alkitab, maka sejarah keselamatan akan terputus hingga pada masa Patriarkh saja.

4.1.2. Kitab Kejadian sebagai bagian dari Hexateukh?
Menurut Gerhard von Rad,[106] kitab Kejadian bukanlah kitab yang independen (berdiri sendiri). Kitab Kejadian tidak dapat ditafsirkan secara tunggal, namun harus memperhatikan kaitannya dengan kitab yang lain. Kitab Kejadian sampai dengan kitab Yosua dibentuk sebagi suatu cerita yang mempunyai satu hubungan cerita (Hexateukh). Walaupun tiap bagian dari setiap kitab Hexateukh tersebut berasal dari sumber yang berbeda-beda, namun terdapat satu individu yang tunggal yang bekerja dibalik kitab itu. Sehingga  dapat kitab tersebut seperti dapat dipahami dalam bentuk yang  terima sekarang. Individu tersebut adalah redaktor. Dengan demikian, para pembaca kitab Kejadian harus terlebih dahulu mengerti apa maksud dan tujuan redaktor meredaksi kitab dengan bentuk akhir tersebut.
            Dengan pemahaman tersebut, kitab Hexateukh harus dimengerti dari kisah penciptaan sampai keduabelas suku Israel di Mesir sampai memasuki tanah Kanaan. Oleh karena itu, cerita Yusuf merupakan jemabatan penghubung ataupun bagian pendahuluan terhadap cerita orang Israel yang telah berada di Mesir (Kel. 1). Seandainya cerita Yusuf tidak ditambahkan dalam kitab Kejadian, maka bagaimana proses masuknya keluarga Israel di Mesir tidak akan diketahui. Oleh karena itu, cerita tentang Yusuf menjadi sangat penting dalam memahami Hexateukh.
Hexateukh dibungkus dengan suatu teologia, yang didalamnya juga terdapat teologia-teologia dari setiap kitab. Teologia-teologia tersebut dalam rangka membangun suatu teologia Hexateukh dan semuanya itu adalah perkerjaan dari redaktor, ketika merumuskan suatu teologi dalam rangka menjawab pergumulan umat pada saat itu. Menurut von Rad seperti dikutip  John Barton[107], teologia yang dibangun dengan struktur Hexateukh adalah bahwa inti sejarah yang panjang tersebut adalah sejarah keselamatan umat pilihan oleh Tuhan.
            Tema besar dari Hexateukh adalah Tuhan sebagai pencipta dunia; pemanggilan bapa leluhur dan Yusuf yang disertai dengan pemberian janji kepada mereka. Ketika Israel berada di Mesir, Tuhan memimpin mereka dari perbudakan dengan kasihNya, kemudian setelah mereka dipimpin Tuhan melalui Yosua, mereka dianugerehkan tanah perjanjian. Dengan pemahaman yang demikian maka, akan  ditemukan konsep teologi yang menjadi tema dasar Hexateukh yaitu pembentangan sejarah janji keselamatan dari Tuhan. Namun, jika setiap kitab dipahami secara terpisah, apalagi dari sudut pandang literatur sejarah, maka kemungkinan konsep (tema dasar) tersebut tidak akan ditemukan. Terlebih jika kisah Yusuf dipahami secara terpisah dengan bagian yang lain dalam Kejadian. (bnd. dengan pendapat M. Noth).[108]
Menurut George W. Coats,[109] struktur dari Hexateukh dan juga struktur Pentateuch memiliki susunan dengan waktu yang kontradiksi. Teologia menyarankan bahwa narasi tidak berhenti sampai kisah Musa saja tetapi berlanjut ke kisah tradisi Yosua. Namun kesatuan strukturnya menjadi permasalahan. Permasalahan tersebut bukan hanya menyangkut bagaimanakah memahami struktur Pentateukh dan juga struktur Hexateukh. Namun hal yang lebih membutuhkan perhatian lagi adalah apakah kesinambungan antara saga Musa dengan tradisi yang terdapat pada zaman Yosua?
            Kunci untuk memahami Hexateukh terletak pada teks yang memaparkan bahwa semua cerita (saga) hexateuh adalah di bawah kuasa Tuhan yang Maha Kuasa. Kuasa Tuhan tersebut dapat dipahami dalam tindakan-Nya yang memulai tradisi ketika penciptaan. Pada bagian yang lain, bahwa Tuhan juga yang memilih serta menetapkan Patriarkh untuk menetapkan janji kepada manusia sebagai saluran berkat dan memberikan tanah perjanjian bagi mereka. Selanjutnya, Tuhan juga dengan kuasa-Nya membebaskan serta memimpin umat itu dari Mesir menuju tanah perjanjian, yaitu tanah Kanaan. Tuhan hadir dalam setiap gerak perjalanan mereka.
Dengan demikian, pemeliharaan dan kuasa Tuhan atas perjalanan tradisi umat manusia tersebutlah yang mengikat kitab Hexateukh, tanpa mempertentangkan struktur ataupun tradisi yang terkandung di dalamnya. Karena biarpun itu menjadi bahan pertimbangan dalam Hexateukh, tidak akan terjadi titik temu, karena memang keduanya (Pentateukh dan Yosua) ditulis dalam waktu dan tradisi yang berlainan.[110]
            Ada kemungkinan Melihat dan memahami Kejadian sebagai bagian dari Hexateukh seperti diungkapkan von Rad dan Coats. Karena susunan daftar setiap kitab dalam Alkitab bukanlah ditata begitu saja. Urutan tersebut juga tidak melulu didasarkan atas tua-mudanya sebuah kitab. Kesinambungan antara kisah dalam Pentateukh dengan kitab Yosua dirancang untuk suatu maksud tertentu. Buktinya, kitab Yosua juga banyak dipengaruhi Y,E,D dan P, yang juga melatarbelakangi Pentateukh. Bagian pertama, Yosua pasal 1-12 hampir semuanya ditulis Y, E, D. Bagian kedua, pasal 13-24 adalah karya P. Bagian pertama diyakini berasal dari zaman purba seperti halnya Pentateukh. Jadi besar kemungkinan kitab tersebut mempunyai kesatuan dengan Pentateukh.
Dengan demikian, terdapat kemungkinan melihat Hexateukh dari sisi kanon. Penyusunan kitab dengan urutan yang demikian tentunya mempunyai maksud teologis tersendiri. Teks dalam Alkitab dibangun dari berbagai latar belakang tradisi dan budaya. Memang tidak salah jika menguraikan kemabali latar belakang tersebut. Namun menurut penulis, penafsir saat ini berhadapan dengan Alkitab yang telah utuh. Oleh karena itu penafsiran kanonis akan lebih tepat tanpa berlama-lama menitikberatkan perhatian terhadap faktor-faktor yang berkaitan dengan latar belakang munculnya teks tersebut.[111] Dengan demikian, Alkitab akan dipahami sebagai suatu kesatuan yang utuh, tanpa menggugat setiap tema teologis yang terdapat dalam setiap kitab. Alkitab juga merupakan satu kitab dengan kesatuan yang utuh yang tidak bertentangan satu kitab dengan kitab yang lainnya.



4.1.3. Masalah Teologi Yahwist
Selanjutnya satu pertanyaan harus dimengerti dan dijawab dari pekerjaan Yahwist. Sebuah bagian besar yang berhubungan dengan kultus merupakan hasil karya Yahwsit. Materi, bentuk dan juga dalam hubungannya dengan alam yang dipraktekkan dalam kultus, terdapat dalam waktu yang panjang pada masa Yahwist. Namun sekarang kultus tersebut diorientasikan pada saat ini dalam bentuk yang berbeda dengan yang aslinya (produk Yahwist). Hal tersebut berkaitan dengan bentuk dan materialnya. Selanjutnya, terjadilah kehilangan kultus (cult-less). Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimanapun pertumbuhan tersebut adalah merupakan proses sekularisasi atau kehilangan komponen kultus dengan munculmya kultus baru. Dengan demikian, teologi Yahwist akan bergeser dari makna yang sebenarnya.[112]
Pada bagian lain, tidak tepat juga jika menanyakan bagimanakah peran serta Tuhan ketika Yahwist bekerja? Israel kuno memahami bahwa Tuhan selalu bersama mereka ketika melakukan berbagai kegiatan seperti dalam kultus, perang dan dalam pengembaraan. Dalam pengalaman perjalanan hidupnya, orang Israel memperoleh anugerah dari Tuhan. Ketika mereka berperang, penyertaan Tuhan kepada pemimpin mereka, bahkan peran serta Tuhan dalam mengalahkan musuh mereka. Hal tersebut juga dapat dilihat ketika pada masa nenek moyang Israel hidup di negeri orang (seperti Yakub dan Yusuf). Tuhan selalu berkuasa atas mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Yahwist bukanlah bermaksud memaparkan suatu cerita historis belaka, namun ingin mengungkapkan dan menyatakan penyertaan Tuhan bagi umatNya dalam perjalanan kehidupan mereka. Tuhanlah yang berkarya atas diri mereka dalam segala bidang kehidupan, ekonomi, politik budaya maupun agama mereka.[113]
.
4.1.4.   Latar Belakang Sejarah Cerita Yusuf
            Cerita Yusuf diperkirakan muncul pada masa kerajaan Mesir yang dipimpin oleh Firaun. Terdapat beberapa nama dalam negeri Mesir yang memiliki kemiripan dengan tokoh-tokoh yang diceritakan dalam cerita Yusuf. Dalam cerita Yusuf, diberitakan istri Potifar yang berusaha mendapat perhatian dari Yusuf. Hal yang sama juga terjadi pada Asenath putri imam On[114] (41:45) yang dinikahkan Firaun dengan Yusuf. Hal ini mengindikasikan bahwa cerita Yusuf muncul pada saat itu. Tidak tertutup juga kemungkinan bahwa telah ada orang-orang Ibrani yang bertempat tinggal di Mesir pada saat itu, bukanlah hanya Yusuf saja.
            Nama tempat yang disebutkan dalam cerita Yusuf juga mengindikasikan bahwa orang-orang Ibrani sudah ada yang berdiam di Mesir pada masa Yusuf. Dalam Alkitab diceritakan bahwaYusuf menyarankan saudaranya beserta ayahnya untuk tinggal di Goshen. Sementara daerah tersebut adalah daerah kekuasaan Ramses. Kisah kekuasaan Ramses kemungkinan adalah pada dinasti ke-19 dan sesudahnya. Oleh karena itu, sudah terlalu lama untuk cerita Yusuf jika muncul pada saat itu. Dengan demikian, nama tokoh dan tempat tersebut adalah karya redaktor.
Kemudian Hyksos menyerang Mesir, dan menaklukkannya. Para sarjana lebih dominan beranggapan, kemungkinan masa ini banyak mempengaruhi cerita Yusuf. Ketika Hyksos berkuasa, kerajaan tersebut tidak menekankan suatu kepercayaan sebagai dasar negara. Jadi, sangat mungkin munculnya pengajaran-pengajaran dari para sastrawan dan dipublikasikan dalam kehidupan masyarakat. Pada saat itulah, kisah tentang seorang yang berhikmat dan saleh yang bernama Yusuf muncul.[115]
Ada dua peristiwa yang penting dijelaskan. Pertama, Firaun memberikan putri imam On, untuk dijadikan istri Yusuf. Pada bagian lain, kita mengetahui dari data di Mesir bahwa Hyksos menyembah dan memuja Set, dan Ra, dan dewa Matahari yang merupakan kepala dari kuil di Mesir dan berada di On. Dengan demikian, jika orang-orang Ibrani turun ke Mesir selama periode kerajaan Hyksos,  kemungkinan besar penaggalan cerita Yusuf adalah sekitar pertengahan abad ke-17 sM.[116] Selanjutnya, walaupun kerajaan Hyksos tidak disinggung dalam cerita Yusuf, kita menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan perkerjaan redaktor, yang sepertinya lebih menyukai Yahwis yang merupakan sumber cerita terkenal di dunia timur saat itu. Sumber tersebut banyak menyediakan cerita historis yang berkenaan dengan latar belakang orang-orang Ibrani seperti yang ditemukan di Mesir.
Kedua, berkaitan dengan jumlah ataupun keterangan keberadan masuknya orang Ibrani ke Mesir pada periode tersebut. Anggapan umum, peristiwa tersebut terjadi ketika Yakub dan anggota keluarganya hijrah ke Mesir karena terjadi bahaya kelaparan di Kanaan. Pada bagian ini, kita bermasalah dengan jumlah. Disebutkan dalam Kej 46:7 seluruh keluarga Yakub berangkat ke Mesir, namun dalam Kel. 1:5 disebutkan bahwa mereka hanya berjumlah 70 jiwa. Dalam saga Abraham dan Yakub diceritakan bahwa jika mengadakan hijrah bukanlah individual, namun berdasarkan klan atau suku. Jika dibandingkan dengan keberadaan mereka (mulai dari Abraham dan keluarganya) yang sudah tinggal di Kanaan sekitar 200 tahun, maka jumlah tersebut adalah sangat kecil sekali.
Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa sebelum mereka berangkat ke Mesir, para orang-orang Ibrani sudah ada di sana. Mereka juga tidak semuanya berangkat. Kemungkinan narator jumlah tersebut, merupakan teleskop/dipengaruhi satu cerita lain yaitu tentang masuknya suku Semitic ke Mesir.[117]

4.1.5. Konteks Penulisan Cerita Yusuf
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa cerita Yusuf banyak dipengaruhi oleh cerita kuno di Mesir. Kemungkinan besar cerita tersebut digubah ulang oleh penulis kitab Kejadian. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah siapakah penulis kitab tersebut? Namun seperti yang telah diungkapkan penulis pada bagian terdahulu bahwa kitab Kejadian diyakini dikonstruksi dari 4 sumber (Y,P,E,D). Dengan demikian, untuk mengetahui konteks peulisan kitab Kejadian, pengkajian terhadap keempat sumber tersebut akan dapat menolong. Secara khusus pasal 45 yang dibahas penulis dibangun oleh sumber Y dan E. Oleh karena itu, penulis hanya membahas konteks historis kedua sumber tersebut dan pada bagian akhir, penulis akan membahas konteks historis pada saat peredaksian kitab Kejadian itu sendiri.

a. Cerita Yusuf menurut Yahwist
Pada masa Yahwist; Ditulis di Yehuda pada masa pemerintahan Daud sekitar abad ke-9 sampai abad ke-8 sM. Dari segi sosial politik, pemerintahan Daud pada masa ini berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan mengawini anggota keluarga bangsa lain yang berkuasa dan kaya.[118] Dalam bidang ekonomi, kerajaan Daud dapat dikatakan makmur karena banyak mendapatkan bahan makanan, bahkan ia menjadi tuan tanah yang kaya dari hasil perkawinannya. Dari segi kultus, Abyatar dari kaum Eli  membangun kembali sisa-sisa kultusnya di Silo. Mereka mengenal Yahweh, sebagai Tuhan yang selalu melindungi mereka dari serangan bangsa asing.[119] Pada masa inilah muncul penulis Yahwis yang menyusun sejarah permulaan penciptaan dan asal usul bangsa Israel hingga pemanggilan mereka menjadi bangsan pilihan Tuhan.[120] Penulis Yahwis sangat ahli dalam menyusun historis ke duabelas suku Israel. Hal ini dimaksudkan untuk membangun persatuan dalam kerajaan Daud. Sejarah tersebut ditata sedemikian apiknya  dengan mengarahkan cerita bahwa semua musuh bangsa Israel luput terhadap mereka. Penulis Yahwis menempatkan “musuh nasional” bangsa Israel sepanjang sejarah yaitu bangsa Mesir. Hal ini sangat mungkin, karena musuh utama Israel pada masa Daud adalah bangsa Mesir.
b. Cerita Yusuf menurut Elohist
Pada masa Elohist; lahir di kerajaan utara (Israel) tahun 800-700 sM. Pada saat itu sinkritisme baalistis melanda kehidupan Israel sehingga timbul gerakan nabi yang menentang pola kehidupan bangsa Israel yang terutama dikemundangkan oleh nabi Elia dan Elisa. Hal itu disebabkan oleh kesuburan daerah tersebut yang memungkinkan pengembangan pertanian. Dengan kondisi yang demikian, Israel terbuka dengan pengaruh luar yang mempunyai kepercayaan lain. Pada saat ini Israel dipimpin oleh Yerobeam yang memisahkan diri dari Yehuda. Dalam bidang kultus, Yerobeam memperbaharui kuil-kuil di Betel dan Dan. Pemugaran kuil ini dimaksudkan untuk mendapat dukungan dari para imam dan juga untuk menghimpun kekuatan, karena umat Israel akan beribadah ke tempat tersebut. Yahweh yang mereka sembah mendapat pengaruh dari bangsa asing yang mengenal Tuhan El. Sehingga nama Yahweh sering disebut dengan El.[121]
Kemungkinan Yerobeam pernah membaca teks Yahwis yang telah terdokumen sebelumnya, yang menceritakan pengalaman para patriarkh dan masa Keluaran, serta pengalaman Yusuf di Istana Mesir. Artinya, Yerobeam mengadopsi cerita Yahwist yang menceritakan kemenangan Israel. Kemudian, terjadi perubahan-perubahan dalam menceritakan kembali teks tersebut seperti penyebutan nama Tuhan dengan Elohim, yang kemudian dikenal sebagai E (sumber Elohist).[122]
            Pentateukh diredaksi sekitar abad ke-4 sM. Peredaksian[123] tersebut dimulai sekitar tahun 650 BC dan diakhiri tahun 400 BC. Umat Yahudi menerimanya sebagai kitab edisi defenitiv dari hukum Musa.[124] Dengan demikian, diperlukan analisis konteks historis pada saat peredaksian tersebut. Setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan, mereka menemukan Yerusalem yang telah hancur. Para pemimpin Israel seperti Darius I berusaha membangun kembali bait suci. Namun terjadi kegagalan disebabkan masalah ekonomi. Pada masa inilah muncul Hagai dan Zakaria yang menyerukan bahwa keberhasilan pembangunan bait sudi berkaitan dengan ketaatan bangsa itu sendiri kepada hukum Tuhan. Jika mereka taat, Tuhanpun akan memberkati ekonomi mereka dan pembangunan akan berjalan baik.[125]
Pentateukh mendapat bentuk terakhir seperti  yang ada sekarang sebenarnya sudah terjadi pada masa pembuangan Babel dan sesudahnya. Jadi, peredaksian kitab itu bukanlah di negeri Palestina, namun di Babel. Pentateukh yang sudah rampung tersebut dibawa ke Palestina. Memang ada kaitannya ketika Ezra dan Nehemia kembali ke Yerusalem setelah mereka mendengar kegagalan pembangunan bait suci. Pada saat itu Ezra membawa hukum Musa. Namun tidak ada kepastian bahwa kitab yang dibawanya tersebut adalah Pentateukh atau hukum versi lain. Dengan demikian, untuk memberikan motivasi terhadap pembangunan kembali Yerusalem, para imam melakukan tafsir terhadap kitab Pentateukh. Hukum-hukum keimaman dipelihara dengan baik. Kekudusan umat Israel sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Kemungkinan besar, pada masa inilah Pentateukh menjadi kitab utama yang telah mempunyai bentuk akhir.[126]
Secara teologis, predaksian kitab Kejadian bertujuan menceritakan bagaimana dan mengapa Yahweh berkenan untuk memilih keluarga Abraham dan mengadakan perjanjian dengan mereka. Perjanjian ini merupakan dasar teologis bagi umat Israel.[127] Dengan demikian, terdapat beberapa aspek yang berkaitan dengan tujuan peredaksian kitab tersebut, yaitu: Pertama, kitab Kejadian menyediakan perkenalan yang tepat dengan Yahweh, Tuhan umat Israel. Dalam kitab Kejadian ditemukan pemaparan bahwa Yahwe adalah Tuhan tunggal (monotheisme) pencipta Yang Maha Kuasa yang senantiasa memelihara perjalanan umat-Nya dalam bentangan sejarah (termasuk pembangunan Yerusalem kembali). Aspek kedua menyangkut peranan orang-orang yang diciptakan Yahwe tersebut.  Manusia diciptakan menurut gambar Tuhan.[128] Dalam “gambar” terkandung tanggung jawab dari manusia itu sendiri, yaitu menjaga kekudusan di hadapan Tuhan. Pada aspek lain, kitab Kejadian mau menjelaskan bagaimana orang Israel sampai terorganisasi menjadi suatu bangsa dalam sejarah. Redaktor mau menekankan bahwa Tuhan sendirilah yang akan membentuk kembali bangsa Israel menjadi bangsa dalam pembangunan Yerusalem yang telah hancur sekalipun.[129]

4.1.6. Posisi Narasi Yusuf dalam Kitab Kejadian
­­­­­­       Sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu, bahwa cerita Yusuf merupakan bagian akhir dari kitab Kejadian. Kisah Yusuf merupakan bagian dari kitab Kejadian dengan pasal yang lebih banyak. Tentu saja hal tersebut bukanlah kebetulan saja. Narasi tentang Yusuf adalah karya J, E, dan P. Namun P hanyalah beberapa bagian saja. Hal ini tidak diragukan lagi, karena narasi tentang Yusuf menceritakan seorang tokoh yang hidup dalam sebuah zaman. Berdasarkan isinya, narasi Yusuf dibedakan dengan kisah yang mendahuluinya. Etiologi nama, kebiasaan serta refleksi eponymic sejarah Israel dan praktek-praktek kultus ditampilkan sangat berbeda. Bagian-bagian tersebut ditata sedemikian rupa hanya dengan seorang tokoh. Digambarkan juga kepatuhan Yusuf ketika dia berada di negeri asing.[130] Tidak ada dasar pembentukan cerita itu sebelumnya, namun cerita tersebut sengaja diciptakan sebagai pengajaran hikmat.
Untuk memahami posisi teks cerita tentang Yusuf, penulis akan menggambarkan struktur pemberitaan kitab Kejadian, sebagai berikut:
A.    Pemberitaan permulaan zaman
  1. Penciptaan dunia (Kej. 1:1-2)
  2. 6 hari penciptaan dunia (Kej. 1:3-2:3)
  3. Penciptaan manusia (Kej. 2)
  4. Kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej. 3)
  5. Kehancuran dunia/kejahatan-kejahatan (Kej. 4-5)
  6. Pemberitaan Nuh (Kej. 6)
  7. Air bah (Kej. 7-8)
  8. Bumi yang baru (Kej. 9)
  9. Tuhan dan bangsa (Kej. 10-11)
B.     Pemberitaan tentang pemilihan Patriarkh
  1. pemanggilan Abraham (Kej. 12-13)
  2. Perjanjian Abraham (Kej. 14-17)
  3. Sodom dan Gumora (Kej. 18-20)
  4. Anak perjanjian (Kej. 21-23)
  5. Ishak dan Rebekka (Kej. 24-26)
  6. Yakub dan Esau (Kej. 27-28)
  7. Yakub dan Laban (Kej. 29-31)
  8. Yakub di Kanaan (Kej. 32-35)
C.     Pemberitaan tentang cerita Yusuf
  1. Pencobaan terhadap Yusuf (Kej. 37-39)
  2. Kemuliaan Yusuf di Mesir (Kej. 40-41)
  3. Yusuf dan saudaranya (Kej. 42-45)
  4. Israel di Mesir (Kej. 46-50)
Dengan memperhatikan struktur kitab Kejadian di atas, posisi kisah Yusuf ditempatkan setelah pemberitaan kisah Yakub. Kisah pemberitaan Yakub merupakan rangkaian cerita Patriarkh yang merupakan proses pemilihan bangsa Israel menjadi umat pilihan dalam ruang lingkup janji. Namun Kisah tentang Yusuf sangat berbeda dengan kisah Patriarkh jika dikaji dari gaya bahasa dan isinya. Literaturnya telah dikenal dekat sebagai narasi pengajaran hikmat di Mesir. Kisah tersebut juga lebih panjang daripada kisah Patriarkh dan disimpulkan bahwa narasi Yusuf adalah berdiri sendiri.[131]
Oleh karena itu, fungsi narasi Yusuf adalah sebagai jemabatan cerita Patriarkh yang telah berhenti pada pasal 36. Dengan hadirnya cerita Yusuf, maka proses terjadinya migrasi Patriarkh ke Mesir menjadi semakin nyata. Pada bagian lain, penempatan cerita Yusuf tersebut merupakan rangkaian kesinambungan janji. Janji Tuhan kepada para Patriarkh mengikat kesatuan kitab Kejadian yang di dalamnya terdapat kisah Yusuf. Dengan demikian, Narasi Yusuf mempunyai hubungan dengan narasi sebelumnya dalam kerangka sejarah keselamatan. Kehadiaran narasi tersebut merupakan rencana Tuhan dalam sejarah keselamatan umat pilihan-Nya yang dibungkus dalam “janji”. Tuhan yang sama juga telah berkarya pada masa Patriarkh, dan juga pada masa Yusuf.
Pasal 38 dan 49 yang merupakan bagian tambahan dari redaktor.[132] Kehadiran kedua pasal tersebut, redaktor mau memperjelas kesinambungan tersebut melalui keterangan geneanalogis Patriarkh.[133] Pasal 38 dan 49, diyakini sebagai tambahan dari redaktor karena kedua pasal tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan narasi Yusuf. Pasal 38 berlatarbelakang kesukuan yang bersifat atieologi.[134] Narasi dalam pasal ini berasal dari Y, yang ditempatkan dibelakang pasal 37 yang menceritakan hilangnya Yusuf akibat perlakuan saudaranya. Kemungkinan penempatan pasal tersebut bertujuan supaya pembaca sementara waktu tidak mendengar kisah tentang Yusuf yang telah menghilang sebelumnya.[135] Posisi pasal 38 juga merupakan tambahan karena cerita tersebut tidak memiliki sinkronisasi dengan cerita Yusuf. Hal itu adalah pekerjaan dari redaktor. [136]
                       
4.1.7. Posisi Teks dalam cerita Yusuf (Kej. 37-45)
Pasal ini kemungkinan bagian akhir dari cerita Yusuf yang sesungguhnya. Semua masalah yang diungkapkan dalam sebelumnya, diselesaikan dalam pasal ini dengan satu rekonsiliasi yang happy ending. Karakter literaturnya mengindikasikan bahwa cerita tersebut berhenti di pasal ini. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana semuanya kisah itu berakhir? Pertanyaan tersebut dijawab dalam pasal 46 ayat 1-5. Bagian ini sudah merupakan kisah Patriarkh. Pengarang mengetengahkan penerimaan Yusuf terhadap saudaranya yang berarti semua masalah telah terjawab. Penekanan utama pengarang terletak pada posisi Tuhan sebagai perancang semua peristiwa tersebut (the hidden Hand of God in preserving life Jacob’s family by Joseph’s agency).[137] Sehingga kehadiran pasal berikutnya mengisyaratkan bagaimana penyelesaian persoalan bahaya kelaparan keluarga Yakub.
Philosophy cerita Yusuf dalam pasal 45 tersebut ditekankan dalam ayat 7 dan 8a. Sumbernya adalah dari sumber Y. Ayat tersebut menekankan penjualan Yusuf oleh saudaranya kepada orang suku Ismael di Mesir adalah atas rencana Tuhan. Pasal ini juga mau menekankan penerimaan dan usaha Yusuf menginsafkan saudaranya yang telah menjualnya dahulu. Dalam bagian yang lebih luas lagi, pasal ini mau menekankan pembebasan manusia dari dosa dan kesalahannya melalui penerimaan Yusuf. Artinya, Yusuf tidak menaruh dendam atas segala tindak kejahatan saudaranya. Justru ia menyaksikan ke-Maha Kuasaan Tuhan yang telah mengirimkannya demi keselamatan umat manusia.[138]
Dengan pasal 45, maka peran teologi cerita Yusuf dapat dipahami dengan baik. Tuhan ditempatkan pengarang sebagai pihak yang mengukir sejarah serta bertanggung jawab atas sejarah tersebut. Dengan penekanan seperti itu, cerita Yusuf bukanlah hanya sebagai cerita hikmat semata, namun cerita tersebut hendak menjelaskan Tuhan yang berbicara kepada umat-Nya. Pada bagian lain, pasal 45 merupakan wadah yang menjelaskan perdamaian antara Yusuf dengan saudaranya. Seandainya tanpa pasal ini, maka permusuhan antara Yusuf dengan saudaranya tidak terselesaikan. 
Struktur cerita Yusuf secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
A.    Pencobaan terhadap Yusuf (Kej. 37-39)
1.      Yusuf dan saudaranya (37:1-36)
2.      Yehuda dan Tamar (Kej. 38:1-30)
3.      Yusuf dan  dan istri Potifar (kej. 39:1-23)
B.     Kemuliaan Yusuf di Mesir (Kej. 40-41)
  1. Mimpi juru minuman dan juru roti istana Firaun (Kej. 40: 1-23)
  2. Mimpi Firaun dan Pengangkatannya menjadi pejabat istana (Kej. 41:1-57)
C.     Yusuf dan saudaranya (Kej. 42-45)
  1. Perjalanan pertama saudara Yusuf ke Mesir (Kej. 42: 1-38)
  2. Perjalanan kedua saudara Yusuf ke Mesir (Kej. 43: 1-34)
  3. Piala Yusuf yang hilang ditemukan (Kej. 44:1-34)
  4. Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya (Kej. 45:1-28)
  5. Perjalanan Yakub dan keluarganya ke Mesir: pertemuannya dengan Yusuf (Kej. 46:1-30)
D.    Israel di Mesir (Kej. 46-50)
  1. Daftar Anggota keluarga Yakub yang pindah ke Mesir (Kej. 46: 31-47:28)
  2. Akhir hidup Yakub (Kej. 47:29-48:22)
  3. Kata penghabisan dai  Yakub kepada anak-anaknya dan kematiannya (Kej. 49:1a,28b-50:14)
  4. Yusuf menghiburkan hati saudara-saudaranya (Kej. 50:15-21)
  5. Epilog: Yusuf pada masa tua dan kematiannya (Kej. 50:22-26)

Jika memperhatikan struktur di atas, pasal 45 tidak terlepas dari pasal 42-45. karena pasal 42 merupakan pendahuluan terhadap terjadinya rekonsiliasi Yusuf dengan saudaranya pada pasal 45. Ketika terjadi kelaparan di Kanaan, Yakub menyuruh anak-anaknya untuk membeli gandum ke Mesir (pasal 42). Dalam pasal ini, diceritakan perjumpaan anak-anak Yakub dengan penguasa Mesir (Yusuf). Hal tersebut merupakan perjumpaan yang pertama. Yusuf mengetahui bahwa orang Kanaan yang mencari makanan tersebut adalah saudaranya yang telah menjualnya. Pada peristiwa ini, Yusuf ingin mengetahui kejujuran para saudaranya, sehingga ia meminta saudaranya membawa Benjamin menghadap dia. Dalam hal ini terdapat kekwatiran Yusuf terhadap kemungkinan Benjamin juga mendapat perlakuan yang sama dengan dirinya oleh saudara-saudaranya. Karena Benjamin adalah saudara satu ibu dengan dia.
Pasal 43 merupakan perjalanan saudara Yusuf ke Mesir untuk kedua kalinya. Karena kelaparan semakin hebat di Kanaan, sehingga Yakub menyuruh anaknya untuk membeli kembali gandum ke negeri Mesir. Mereka membawa Benjamin seperti yang diminta Yusuf. Selanjutnya dalam pasal 44, Yusuf ingin mengetahui rasa persaudaraan mereka terhadap adiknya Benjamin. Yusuf menguji mereka dengan mengatakan Benjamin mencuri terhadap barang di istana. Namum dalam pasal ini juga dijelaskan tanggung jawab Yehuda sebagai anak sulung. Dia mempertanggungjawabkan tuduhan yang disampaikan kepada adiknya Benjamin. Dengan peristiwa tersebut, Yusuf yakin bahwa mereka mengasihi adiknya Benjamin.
Pada bagian akhir pasal 45, menjelaskan Yusuf yang tidak dapat menahan perasaannya lagi. Ia menyadari bahwa saudaranya telah berubah. Sehingga dengan perasaan yang sangat dalam sambil menangis, dia mengungkapkan dirinya yang sebenarnya. Bahwa dia adalah Yusuf saudara mereka. Dalam hal ini juga terkandung pengakuan dan kesaksian iman Yusuf, bahwa Tuhanlah yang mengirimkannya ke Mesir, untuk memelihara kehidupan keluarganya. Dalam peristiwa itu juga, sangat terasa pekerjaan redaktor yang menambahkan pengakuan Yusuf tersebut. Tentu saja hal tersebut susah untuk dipercaya oleh saudaranya. Namun ketika dia memeluk saudaranya dan menangis, saudara-saudaranya menyadari peristiwa tersebut.

4.2. Tafsiran
4.2.1. Aspek Struktur
Sesuai dengan keterangan yang dijelaskan penulis diatas, maka pasal 45 tidak terlepas dari satu bagian dalam cerita Yusuf, yaitu cerita tentang “Yusuf dan saudaranya” (pasal 42-45). Pasal 42 dipahami secara tersendiri dari pasal 43-45, karena settingnya sudah berbeda. Pasal 42 menceritakan kisah ketika saudara Yusuf masih di Kanaan. Sementara pasal 43-45 sudah menceritakan kisah Yusuf dan saudaranya di Mesir. Dengan demikian, bagian yang lebih kecil lagi adalah pasal 43-45 yaitu kisah yang terjadi di Mesir. Namun penulis hanya menguraikan struktur pemberitaan pasal 45, karena struktur pasal 43 dan 44 secara umum telah diuraikan sebelumnya. Namun perlu diperhatikan bahwa penafsiran terhadap pasal 45, tidak terlepas dari pasal 43 dan 44.
Struktur pemberitaan pasal 45 adalah sebagai berikut:
a.       Respon Yusuf (45:1-3a)
  1. petunjuk pembukaan (ay. 1a)
  2. pelaksanaan petunjuk
  3. pengungkapan/penyingkapan pribadi Yusuf (ay. 2-3a)
-    motif: menagis (ay. 2)
-    pidato pengungkapan/penyingkapan pribadi Yusuf (ay. 3a)
b.      Respon saudara Yusuf (ay. 3b)
c.       Pembaharuan pengungkapan diri Yusuf kembali (ay. 4-13)
  1. pidato pengungkapan/penyingkapan kembali pribadi Yusuf (ay.4)
  2. interpretasi teologis (ay. 5-8)
  3. petunjuk untuk kehidupan ke depan(ay. 9-13)
d.      Cerita tentang perdamaian (ay. 14-150)
e.       Kontribusi dari Firaun (ay. 16-24)
  1. laporan kepada Firaun (ay. 16)
  2. petunjuk dari Firaun (ay. 17-20)
  3. pelaksanaan petunjuk Firaun (ay. 21-24)
f.       Kesimpulan: pemberitaan tentang Yusuf yang masih hidup kepada Yakub (ay. 25-28)
  1. perubahan/pergantian tempat tinggal (ay. 25)
  2. perkembangan kesimpulan (ay. 26-28)
-    cerita tentang respon para saudara Yusuf terhadap Yakub (26-27).
-    konfirmasi Yakub berkaitan dengan perjumpaannya dengan Yusuf (ay. 28)
Seperti yang disebutkan penulis sebelumnya, bahwa memahami struktur pasal 45 tidak terlepas dari pasal 42-44. Oleh karena itu, akan lebih baik jika digambarkan sekilas tentang peristiwa yang diterangkan narator pada pasal tersebut. Dalam pasal 42 dijelaskan bahwa kelaparan telah melanda bumi. Situasi tersebut sangat mengerikan dan banyak orang yang keparan. Satu-satunya negeri yang mempunyai makanan adalah Mesir. Karena tangan Tuhan selalu bersama Yusuf, maka bangsa itu telah diperingatkan sebelumnya sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk masa-masa kelaparan tersebut di bawah kepemimpinan Yusuf. Berita kemakmuran Mesir sampai kepada Yakub dan anak-anaknya di Hebron, sehingga ia menggagasi anaknya untuk pergi ke sana membeli makanan. Yakub mengirim semua putranya terkecuali Benjamin anak bungsunya yang tinggal bersama dia. Tentu saja mereka tidak pernah mendengarkan bahwa Yusuflah yang menjadi penguasa di Mesir pada saat itu. Sebaliknya juga bahwa Yusuf tidak pernah tahu keadaan keadaan ayahnya serta saudara-saudaranya, karena mereka telah berpisah selama kurang lebih dua dekade.
Pada saat perjumpaan pertama tersebut, Yusuf telah mengenali para saudaranya namun dia bersikap seolah-olah tidak mengenalnya (42:7-9). Dia bertanya kepada saudaranya dengan membentak. Pada saat itu juga Yusuf teringat akan mimpinya, yaitu para saudaranya akan sujud kepadanya melalui mimpi tentang berkas gandum dan matahari. Yusuf bermimpin berkas gandum dan matahari saudaranya sujud kepada dia. Yusuf melakukan sugesti terhadap mereka dengan menayakan keadaan keluarga mereka. Hal itu membuat Yusuf sedih ketika saudaranya menyaksikan bahwa salah seorang saudaranya telah hilang dan yang mereka maksudkan adalah Yusuf sendiri (42:13). Dalam peristiwa itu juga, saudara bungsu mereka tinggal bersama ayahnya Yakub. Hal tersebut menjadi salah satu cara bagi Yusuf untuk meminta kejujuran saudaranya. Yusuf memberikan mereka makanan untuk dibawa ke Kanaan dengan syarat, Simeon menjadi tawanan. Mereka harus membawa Benjamin menghadap Yusuf, jika mereka masih mau bertemu dengan Yusuf. Keputusan Yusuf tersebut tidak dapat ditawar-tawar. Mengapa Yusuf memilih Simeon sebagai tawanan? Simeon adalah anak kedua paling sulung. Kemungkinan dia teringat tentang Ruben, anak yang paling sulung, yang berusaha membela dia, ketika dia hendak dijual. Dengan demikian, kemungkinan Yusuf berfikir bahwa Ruben masih memegang peranan yang berpengaruh terhadap saudara-saudaranya dalam mengambil suatu kebijakan.
Dalam pasal ini juga terjadi hal yang sangat aneh bagi para pembeli gandum dari Mesir justru dialami para saudaranya, ketika mereka kembali ke Kanaan membawa gandum. Dalam karung stiap gandum saudaranya, uang mereka dikembalikan semuanya tanpa sepengetahuan mereka. Seharusnya, hal tersebut membuat mereka bertanya dengan kritis. Namun karena mereka pada awalnya sudah ketakutan, apalagi dengan penyanderaan Simeon, pengembalian uang yang mereka terima justru mereka nilai sebagai tindakan yang hendak menjebak mereka. Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan dengan gemetar serta berkata “apakah juga yang diperbuat Tuhan terhadap kita” (42:28b). Hal tersebut semakin menambah rasa bersalah mereka terhadap apa yang telah mereka lakukan terhadap saudaranya Yusuf. Perasaan tersebut juga telah diawali ketika mereka hendak dipenjarakan. Mereka dalam bahasa ibunya, menyadari bahwa kemungkinan peristiwa yang terjadi kepada mereka adalah sebagai akibat perlakuan buruk mereka terhadap Yusuf.
Ketika sampai di Kanaan, hal yang sangat mengecewakan terjadi dalam diri Yakub. Dia tidak melihat dari sisi positif bahwa anak-anaknya sudah membawa gandum dari Mesir dengan gratis, karena uang mereka semua dikembalikan. Justru sebaliknya dia menilai bahwa anak-anaknya mendatangkan malapaetaka lagi terhadap keluarganya. Setelah kehilangan Yusuf, Simeon juga ditawan di Mesir. Hal yang lebih menyedihkan hatinya lagi, penguasa Mesir tersebut meminta juga Benjamin, anak Yusuf yang paling bungsu untuk dibawa ke  Mesir. Dia melihat itu semua sebagai awal malapetaka dalam hidupnya. Dia tidak mampu melihat lagi sisi yang lebih positif, karena penguasa Mesir tersebut hanya meminta mereka membuktikan bahwa mereka masih mempunyai saudara yang paling bungsu, yaitu Benjamin.
Pada pasal 43, Yakub akhirnya menyerahkan Benjamin, karena makanan mereka telah habis akibat kelaparan yang begitu hebat terjadi. Dalam peristiwa tersebut terlihat kelemahan Yakub yang tidak konsisten. Pada akhirnya dia menyerahkan Benjamin untuk dibawa ke Mesir. Dia berserah sepenuh hati, namun bukan melihat peristiwa tersebut sebagai rencana Tuhan. Sisi kemanusiaannya lebih menonjol. Dia tidak melihat pemeliharaan Tuhan terhadap mereka, ketika mereka mendapatkan makanan dari Mesir dengan gratis. Justru keputusasaan bercampur ragu-ragu terjadi dalam diri Yakub. Bawalah juga adikmu itu, bersiaplah dan kembalilah pula kepada orang itu. Tuhan Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali. Mengenai aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!" (43:13-14).
Dalam pasal 43 juga diceritakan saudara Yusuf yang kembali menghadap penguasa Mesir dengan membawa Benjamin serta uang dua kali lipat banyaknya. Dalam peristiwa tersebut, ketakutan mereka dibalas Yusuf dengan kebaikan. Ketika Yusuf melihat Benyamin bersama-sama dengan mereka, berkatalah ia kepada kepala rumahnya: "Bawalah orang-orang ini ke dalam rumah, sembelihlah seekor hewan dan siapkanlah itu, sebab orang-orang ini akan makan bersama-sama dengan aku pada tengah hari ini." (43:16). Ketakutan yang mereka alami wajar terjadi. Secara emosional, perasaan bersalah mereka yaitu perlakuan jahat terhadap Yusuf membuat mereka ketakutan karena mendapatkan perlakuan baik dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan mereka.
Tekanan emosional juga terjadi dalam batin Yusuf. Ketika dia melihat adik yang sangat dikasihinya dan dirindukannya itu, dia tidak dapat menahan perasaan. Sehingga dia harus mengambil waktu dan tempat untuk meluapkan perasaannya dengan menangis. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya dengan bertanya, “inikah adek bungsunmu yang kamu ceritakan kepadaku”? (43:29). Namun pada saat itu juga dia tidak mampu menahan batinnya. Sehingga dia harus pergi dari ruang istana, Lalu segeralah Yusuf pergi dari situ, sebab hatinya sangat terharu merindukan adiknya itu, dan dicarinyalah tempat untuk menangis; ia masuk ke dalam kamar, lalu menangis di situ (43:30).
Pasal 44 merupakan ujian yang dilakukan Yusuf untuk kedua kalinya. Seperti yang dilakukan Yusuf pada kunjungan mereka yang pertama, dia menyuruh supaya karung saudara-saudaranya dipenuhi dengan makanan dan bahwa sekali lagi uang mereka masing-masing dimasukkan ke dalam mulut karung mereka. Sebagai tambahan, Yusuf memasukkan piala peraknya sendiri ke dalam mulut Benjamin. Kemudian Yusuf menyuruh pelayannya: "Bersiaplah, kejarlah orang-orang itu, dan apabila engkau sampai kepada mereka, katakanlah kepada mereka: Mengapa kamu membalas yang baik dengan yang jahat? Bukankah ini piala yang dipakai tuanku untuk minum dan yang biasa dipakainya untuk menelaah? Kamu berbuat jahat dengan melakukan yang demikian. (44:5).
Pertentangan terjadi antara Yusuf dengan para saudaranya. Dalam karung siapa ditemukan pialanya maka dia akan menjadi budak bagi Mesir. Yusuf tidak akan menghukum mereka semua karena kesalahan satu orang. Dalam hal ini Yusuf ingin melihat rasa persaudaraan diantara mereka. Kemudian Yehuda tampil sebagai orang yang bertanggung jawab atas semua peristiwa tersebut. Dia rela menjadi budak bagi penguasa Firaun sebagai jaminan atas kesalahan adiknya Benjamin. Dalam hal ini Yehuda mengambil risiko sebagai korban atas kesalahan saudaranya. Hal demikian juga diperlihatkan Yehuda, ketika saudara-saudaranya berusaha membunuh Yusuf karena kebencian. Dia mengusulkan supaya Yusuf dijual sebagai budak saja. Tindakan Yehuda tersebut merupakan respon dan tanggung jawabnya atas janjinya kepada ayahnya. Jika bahaya terjadi atas diri Benjamin, dialah yang menanggung segala dosa dan akibat peristiwa tersebut. Dengan melihat keadaan tersebut, Yusuf yakin bahwa telah terjadi pertobatan diantara saudaranya. Mereka telah menjadi orang-orang yang telah diubahkan. Mereka telah lulus dalam ujian pertama dan yang terakhir dan sudah saatnya Yusuf membuka topeng rahasianya dengan mengunkapkan identitas dirinya yang sebenarnya.    
Uraian di atas merupakan gambaran tentang keadaan Yusuf dan saudaranya sebelum cerita dalam pasal 45. Penjelasan tersebut merupakan pendahuluan terhadap pasal 45.
Pasal 45, seperti dalam struktur yang dibuat penulis sebelumnya, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ayat 1-3 merupakan respon Yusuf terhadap pernyataan Yehuda sebelumnya dalam pasal 44 yang menyatakan dirinya bertanggung jawab atas kesalahan Benjamin. Dia menyuruh semua orang Mesir meninggalkan ruangan istana dan yang tinggal hanyalah dia dan saudaranya. Dengan keadaan ini tentu saja pertanyaan bercampur rasa takut terjadi dalam hati para saudaranya. Namun dalam kondisi seperti itu, Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudaranya dalam bahas Ibrani.’ani’ Yoseph yang artinya akulah Yusuf. “Marilah medekat” (Ibr. Nagasy).[139] Pada bagian ini juga, Yusuf menyatakan bahwa semua yang terjadi atas dirinya adalah atas kehendak Tuhan. Kata “Tetapi Tuhan...” mengubah sudut pandang para saudara Yusuf, dari rasa ketakutan dan gemetar terhadap kenyatan kasih Tuhan (ay. 5). Perkataan dan kesaksian tersebut tidak akan pernah muncul dari Yusuf seandainya ia belum mengampuni saudara-saudaranya (ay. 4-8). Selanjutnya, Yusuf memberikan perintah untuk membawa ayah mereka ke Mesir, karena kelaparan akan masih berlangsung.
Ayat 16-20, merupakan keterangan tentang reaksi Firaun yang menyambut baik saudara Yusuf. Firaun juga memberikan tanah yang terbaik di Mesir sebagai tempat tinggal mereka. Ayat 21-28 merupakan penjelasan tentang para saudara Yusuf yang memberikan keterangan terhadap Yakub akan keadaan Yusuf saudara mereka yang telah menjadi penguasa atas Mesir. Kemudian dilanjutkan dengan semangat Yakub yang bangkit kembali dengan berita tersebut, meskipun pada awalnya hatinya tetap dingin (ay. 26).  Keterangan tentang Yakub pindah ke Mesir diceritakan dalam pasal 46.
Berdasarkan struktur di atas, pengarang cerita Yusuf mau menekankan beberapa hal, yaitu:
  1. Yusuf merupakan tokoh pengambil suatu resolusi terhadap ketegangan-ketegangan yang terjadi.
Pengarang cerita menguraikan dengan seksama proses perjumpaan Yusuf dengan saudaranya. Struktur cerita ditata dengan rapi, yang dimulai dengan kisah kelaparan yang melanda bumi. Keadaan tersebut menjadi latar belakang perjumpaan meraka. Pengarang menggambarkan Yusuf yang tidak gegabah dalam mengambil setiap keputusan dalam perjumpaan tersebut. Pada bagian awal, dia telah mengenal saudaranya, namun dia tidak langsung memperkenalkan dirinya. Dalam hal ini, Yusuf ingin mengetahui kesadaran dan perubahan yang ada dalam diri para saudaranya. Dia juga ingin membuktikan rasa persaudaraan yang ada di antara mereka. Dengan demikian, Yusuf adalah kunci utama untuk mengatasi ketegangan yang terjadi diantara mereka seperti yang disebutkan sebelumnya, karena memang dia sengaja mencipta ketegangan tersebut.
  1. Kekuatan Yusuf terletak pada posisinya sebagai penguasa Mesir.
Posisi tersebut menimbulkan rasa takut dan gemetar, sehingga terjadi ketegangan, antara orang yang berkuasa dengan orang yang tidak punya kuasa. Dengan demikian, salah satu cara untuk meredakan ketegangan tersebut adalah jika Yusuf melepaskan jabatannya. Hal tersebut terjadi, ketika dia memperkenalkan dirinya, sebagai Yusuf yang telah dijual ke Mesir.
  1. Dalam setiap adegan, selalu ada masalah, dan juga muncul masalah baru setelah masalah pertama diselesaikan.
Mulai dari pasal 42, pengarang memunculkan masalah hampir dalam setiap adegan. Setelah masalah tersebut diselesaikan, kemudian dimunculkan kembali masalah yang baru.
-          Dalam pasal 42, terjadi masalah kelaparan di bumi. Oleh karena itu, Yakub menyuruh anaknya untuk membeli makanan ke Mesir.
-          Ketika mereka tiba di Mesir untuk membeli makanan, Yusuf menuduh mereka sebagi pengintai terhadap kemakmuran negeri Mesir, sehingga mereka dipenjarakan untuk 3 hari lamanya.
-          Kemudian mereka dilepas, dan diijinkan pulang ke Kanaan dengan membawa gandum, namun muncul kembali masalah ketika Yusuf meminta Simeon sebagai sandera, sebagai jaminan supaya mereka membawa Benjamin ke hadapan Yusuf.
-          Ketika mereka kembali ke Kanaan, muncul kembali masalah, yaitu uang mereka dimasukkan ke dalam karung masing-masing. 
-          Ketika makanan telah habis, Yakub Kembali menyuruh anaknya untuk membeli makanan ke Mesir. Namun muncul masalah ketika para anaknya harus membawa Benjamin. Akhirnya Yakub melepaskan Benjamin.
-          Setelah mereka tiba di Mesir, Yusuf menjamu mereka di rumahnya. Hal tersebut menjadi masalah batin bagi mereka, karena mereka bisa saja beranggapan hal tersebut merupakan usaha Yusuf untuk menjebak mereka.
-          Ketika Yusuf melepas mereka dengan membawa gandum, uang mereka dimasukkan ke dalam karung masing-masing dua kali lipat jumlahnya. Piala Yusuf juga dimasukkan ke dalam karung Benjamin. Hal tersebut menjadi masalah bagi  mereka (pasal 44).
-          Setelah berangkat ke Kanaan, tentara Mesir mengejar mereka dengan tuduhan pencurian piala Yusuf. Hal tersebut menjadi masalah karena mereka harus membela Benjamin sebagai tersangka.  Dalam peristiwa inilah Yehuda muncul sebagai pembela dan sekaligus menjadi korban atas tuduhan terhadap adiknya.
-          Ketika mereka dibawa kembali ke istana, konflik batin terjadi dalam diri Yusuf. Dia telah yakin akan perubahan dan pertobatan bagi saudaranya. Dengan demikian, tibalah waktunya bagi dia untuk memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya (pasal 45).
-          Yusuf memperkenalkan diri kepada saudaranya, bahwa dia adalah Yusuf, namun hal tersebut menjadi masalah bagi para saudaranya. Keragu-raguan dan rasa takut menyelimuti perasaan mereka.
Berdasarkan struktur di atas, pengarang cerita Yusuf hendak memberikan ruang sebagai persiapan terhadap suatu penyelesaian masalah secara sempurna. Pengungkapan identitas Yusuf yang sebenarnya, tidak cukup untuk menyelesaikan masalah, tetapi disempurnakan dengan kesaksian imannya. Tuhan telah mengirimkannya ke Mesir untuk memelihara kehidupan saudaranya. Semua masalah yang dialami mereka di atas adalah sebagai proses karya penyelamatan besar dari Tuhan (45:5-8). Kesaksian tersebut menjadi Pastoral Resolusi Konflik[140] yang ditawarkan pengarang melalui tokoh Yusuf.  Oleh karena itu, permasalahan yang mau ditekankan pengarang bukanlah kelaparan yang sedang terjadi, namun bagaimana pembaca dapat melihat karya penyelamatan Tuhan (preserve life) dalam kehidupan setiap manusia sepanjang masa. Jadi, oknum yang menyelesaikan masalah tersebut hanyalah Tuhan sendiri, terlepas dari bagaimana cara dan bentuk penyelesaiannya. Memang manusia diberikan Tuhan hikmat untuk mengenal masalahnya, namun tidak tertutup kemungkinan, bahwa masalah baru akan muncul, karena manusia terbatas dalam keberdosaannya.

4.2.2. Aspek Penciptaan
Seperti disebutkan dalam bagian terdahulu, Tuhan Israel adalah Tuhan yang memperkenalkan diri kepada dunia melalui penyataan-penyataan-Nya. Dia adalah satu-satunya Tuhan pencipta yang berdaulat atas segala sesuatu. Dia menata sejarah manusia dengan memperkenalkan diri-Nya dalam ruang dan waktu sepanjang sejarah.[141]. Dia berkarya mulai dari penciptaan, zaman bapa-bapa leluhur sampai Israel keluar dari perbudakan Mesir bahkan sampai saat ini. Dia juga adalah Tuhan yang mempunyai jalan yang sempurna (His ways is perfect). Oleh karena itu dosa bukanlah berasal dari kemuliaan-Nya, namun justru Dia membuat pertentangan terhadap Dosa.
Dengan pemahaman teologis tersebut, penulis cerita Yusuf hendak menjelaskan bahwa Tuhan yang berkarya dalam penciptaan, kemudian menyatakan diri kepada Abaraham, Ishak dan Yakub adalah Tuhan yang berkarya juga pada masa Yusuf sampai saat ini. Dia adalah Tuhan yang menata sejarah manusia mulai dari penciptaan. Dia selalu hadir dan aktif dalam setiap gerak kehidupan Yusuf dan saudaranya. Karya keselamatan Tuhan selalu hadir dalam setiap gerak kehidupan. Itulah yang mau ditekankan pengarang cerita Yusuf. Penulis cerita Yusuf hendak menjelaskan kepada pembaca historis di sepanjang zaman bahwa cerita Yusuf merupakan kisah dalam rangka perwujudan janji Tuhan kepada para Patriarkh. Dalam pengertian secara kanonik, janji tersebut diteruskan kepada seluruh umat manusia dalam sepanjang zaman. Oleh karena itu, keadaan sejarah kehidupan manusia dalam setiap zamannya tidak menjadi penentu karya keselamatan tersebut, karena Tuhanlah yang berkarya dalam kehidupan manusia. Dalam pemahaman yang lebih luas lagi, penulis cerita Yusuf hendak menekankan bahwa peristiwa apapun yang dialami setiap orang, suka maupun duka, hal tersebut merupakan suatu proses pedewasaan panggilan Tuhan.[142]
Dengan pemahaman tersebut, yang menjadi pertanyaan kritis adalah apakah seluruh kehidupan manusia itu mutlak sebagai proses panggilan Tuhan? Atau, ketika manusia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, bolehkah itu dikatakan sebagi proses panggilan Tuhan dalam kerangka janji keselamatan? Pertanyaan tersebut dijawab dalam kisah Yusuf. Penulis cerita Yusuf selalu menampilkan sosok Yusuf yang saleh, taat, dan tabah dalam segala situasi. Karakter tersebutlah yang dimiiki Yusuf dalam merespon panggilan Tuhan kepadanya. Dengan demikian, dapat dikatakan ketaatan manusia dituntut dalam merespon panggilan Tuhan dalam rangka janji Tuhan. Pada bagian lain, penulis cerita Yusuf menampilkan Tuhan yang selalu memelihara kehidupan anak-anak Yakub, meskipun telah melakukan tindak kejahatan kepada Yusuf. Hal tersebut bukan berarti bahwa Tuhan mentolerir ataupun kompromi dengan tindak kejahatan tersebut.
Selanjutnya dalam ayat 16-20, penulis cerita Yusuf menampilkan Firaun yang memberikan rekomendasi kepada Yusuf supaya Yakub dan keluarganya segera tinggal di Mesir. Keterangan yang diberikan Firaun tersebut sangatlah mengejutkan, karena secara politis, kehadiran orang Ibrani di Mesir akan mengganggu negara. Namun dalam kisah tersebut, penulis hendak menekankan bahwa Tuhan boleh saja memakai suatu bangsa, suku ataupun kepercayaan lain dalam rangka perwujudan janji keselamatan terhadap umat-Nya. Tentu saja, Firaun telah menyaksikan keadilan dan anugerah Tuhan dengan kehadiran Yusuf di negerinya. Namun penulis menggarisbawahi bahwa hal tersebut tidak berarti bahwa keperayaan ataupun religi orang Mesir menjadi sama dengan kepercayaan orang Ibrani kepada Yahwe. Dengan demikian, penulis dapat menawarkan kesimpulan bahwa Tuhan bisa saja mempergunakan apa saja (suatu bangsa, alam) dalam rangka perwujudan janji keselamatan bagi umat-Nya, karena Tuhan berkuasa atas segala ciptaan-Nya.
Dalam ayat 21-24, penulis cerita Yusuf menceritakan persiapan keberangkatan saudara Yusuf untuk kembali ke Mesir menjemput ayahnya. Mereka membawa makanan untuk keperluan mereka. Untuk perjalanan tersebut, Yusuf mempersiapkan keledai untuk mereka. Namun pada bagian lain, Firaun memberikan instruksi supaya mereka mempergunakan kereta Mesir. Kedua informasi in semakin memperkuat keterangan tentang adanya perpindahan yang cukup besar. Pada bagian lain, hal tersebut membuktikan bahwa pasal 45 merupakan karya dua tradisi, yaitu Y dan E. Hal yang menarik dalam ayat 21-24 adalah ketika Yusuf berkata, “janganlah berbantah-bantahan di jalan”. Yusuf pastinya telah mengenal karakter saudaranya dengan baik sehingga dia harus memberikan perintah demikian. Kemungkinan Yusuf berpikiran, karena mereka dengan tiba-tiba menjadi makmur dan kaya, bisa perubahan drastis itu menimbulkan berbagai jenis reaksi yang bersifat negatif.

4.2.3. Aspek Pragmatis
Dalam memahami aspek pragmatis, cerita Yusuf setidaknya harus diteliti secara keseluruhan, walaupun akhirnya lebih berfokus kepada pasal 45.
Dalam cerita Yusuf, ditampilkan Yusuf sebagai tokoh utama yang memiliki hikmat dan penyataan Tuhan melalui mimpi dalam kehidupannya. Namun dalam keadaan yang seperti itu, dia diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang selalu menggodanya, baik di Kanaan maupun di Mesir. Namun menurut penulis, untuk memahami cerita tersebut, fokus perhatian  terletak pada pasal 45. Karena dalam pasal tersebut diungkapkan rahasia di balik cerita Yusuf.
            Ayat 1a merupakan pendahuluan pasal 45. Kemudian dilanjutkan dengan ayat 1b yang menceritakan Yusuf yang tidak mampu lagi menahan hatinya sehingga dia menyuruh semua orang Mesir yang bersama-sama dengan dia dan yang tinggal hanyalah dia bersama-sama para saudaranya. Dalam kaitan ini, penulis cerita Yusuf hendak menjelaskan kepada pembaca bahwa Yusuf adalah manusia yang biasa yang tidak berbeda dengan saudaranya. Buktinya dia menangis begitu keras sebagai akibat dari tekanan perasaannya, sehingga seluruh orang Mesir mendengarnya termasuk seisi rumah Firaun (ay. 2). Sepintas, terdapat kejanggalan. Pada satu sisi dia menyuruh orang Mesir untuk keluar ruang istana, pada pihak lain Yusuf menangis begitu keras dan diketahui oleh orang-orang Mesir. Kemungkinan Yusuf bermaksud supaya orang-orang Mesir tidak mengetahui bahwa para saudaranya sedang bersama dia. Dari sudut pandang yang lain, ungkapan tersebut bisa saja sebagai karya penulis cerita Yusuf yang bertujuan sebagai pendahuluan terhadap rekomendasi dari Firaun menyambut Yakub dan keluarganya pada ayat 16-20.
            Dalam ayat 3-4, Yusuf mempekenalkan dirinya dengan menyebutkan, “Akulah Yusuf....Tuhanlah yang mengutus aku” ungkapan Yusuf ini merupakan jaminan yang diberikan Yusuf. Namun walaupun jaminan tersebut diberikan Yusuf (ay. 4), suatu rasa tidak enak bertahan hingga bertahun-tahun lamanya dalam hati mereka (bnd. 50:15). Selanjutnya ungkapan Yusuf:  “masih hidupkah bapa?” dapat dipahami bahwa melalui teks tersebut penulis cerita Yusuf hendak memaparkan bahwa Yusuf sangat merindukan ayahnya. Namun menurut penulis, pertanyaan Yusuf tersebut berfungsi untuk mencairkan kebekuan yang terjadi, karena setelah Yusuf menyebutkan namanya, tentu saja para saudaranya akan membungkam dan tidak dapat berkata-kata. Buktinya, tidak ada ayat yang menyebutkan jawabab terhadap pertanyaan Yusuf. Pertanyaan tersebut tidak tepat dan tidak efektif, karena dalam pasal-pasal sebelumnya Yusuf telah mengetahui bahwa ayahnya masih hidup. Namun analisa dari sudut pandang yang lain, hal tersebut bisa juga menggambarkan terjadinya kelaparan yang begitu hebat pada saat itu. Oleh karena itu, sesuai dengan pertanyaan Yusuf, bisa saja Yakub telah meninggal selama selang waktu perjalanan pertama saudaranya ke Mesir dengan perjalanan yang kedua.
            Seperti disebutkan penulis sebelumnya dan juga para ahli tafsir lainnya, ayat 5-8 merupakan inti pemberitaan dalam cerita Yusuf. Meskipun ayat tersebut diyakini merupakan tambahan redaktor. Namun tugas tafsir yang lebih penting pada saat ini adalah melihat teks tersebut secara kanonik. Tanpa ayat 5-8 (dan 50:20), maka cerita Yusuf hanyalah sebuah saga yang menceritakan seorang tokoh yang selalu yang memperoleh penyertaan Tuhan dalam kehidupannya. Dengan demikian, jelaslah dapat dipahami, melalui ayat tersebut, penulis cerita Yusuf ingin menekankan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan Yusuf ke Mesir untuk memelihara kehidupan. Seluruh totalitas kehidupan Yusuf adalah atas rencana Tuhan.[143] Dengan pemahaman teologis tersebut, penulis mau menekankan bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas seluruh gerak hidup manusia, dalam mewujudkan rencana Tuhan yaitu keselamatan bagi umat-Nya. Pertanyaan kritis selanjutnya adalah kehidupan yang bagaimanakah yang dimaksudkan penulis cerita Yusuf? Sangat jelas diungkapkan bahwa Yusuf selalu menjalani kehidupannya secara terus menerus dengan perspektif Ilahi. Kehidupan berdasarkan perspektif Ilahi, itulah ukuran kehidupan yang dimaksudkan penulis cerita Yusuf.
            Selain itu, melalui pernyataan Yusuf, Tuhan menyuruh aku...(bnd, bukan kamu...tetapi Tuhan, ay. 8a) menekankan kepada pemeliharaan mutlak Ilahi. Namun maksud Yusuf bukanlah untuk mengingkari tanggung jawab para saudaranya terhadap kesalahan yang telah diperbuatnya, namun seluruh perkataan Yusuf bertujuan untuk menggetarkan suara hati mereka, supaya mereka tidak terlalu lama melihat ke belakang yang penuh penyesalan, namun Yusuf ingin memalingkan pandangan mereka terhadap masa depan yang disediakan oleh belas kasih Tuhan (ay. 8b) 
            Seperti disebutkan penulis sebelumnya, teks yang menyebutkan bahwa Yusuf menangis begitu keras sehingga terdengar kepada seluruh orang Mesir dan seisi rumah Firaun. Kemungkinan hal tersebutlah latar belakang Firaun mengungkapkan pernyataannya dalam ayat 16-20. Dalam ayat tersebut, penulis menampilkan Firaun yang menerima dengan baik kedatangan saudara-saudara Yusuf. Oleh karena itu kemungkinan besar orang-orang Mesir dan juga Firaun tidak mengetahui bahwa yang datang pada kunjungan pertama adalah saudara-saudara Yusuf. Firaun menyarankan supaya secepatnya saudara-saudara Yusuf menjemput ayahnya dan membawa makanan terbaik di Mesir ke Kanaan. Pernyataan Firaun tersebut bisa saja masuk akal, sebagai balasan terhadap Yusuf yang telah banyak berkarya di negerinya. Namun menurut penulis, pernyataan tersebut bisa saja mengandung maksud politis, karena kemungkinan orang-orang Ibrani akan dijadikan pekerja bagi bangsa Mesir (bnd Kej. 47:6). Namun pesan yang mau disampaikan penulis cerita Yusuf bukanlah permasalahan tersebut. Penulis cerita Yusuf mau menekankan bahwa Tuhan bisa saja memakai bangsa asing dan negeri asing dalam mewujudkan janji keselamatan bagi umat-Nya. Penulis berpendapat bahwa dalam ruang lingkup yang sempit Tuhan juga memberikan kemakmuran bagi Mesir adalah dalam rangka memelihara kehidupan umat Israel (bnd Amos  5:15), walaupun dalam ruang lingkup  yang lebih luas harus dipahami bahwa Tuhan juga memelihara kehidupan ciptaan-Nya.
Ayat 21-28 membicarakan saudara-audara Yusuf yang kembali ke tanah Kanaan. Mereka dibekali dengan banyak makanan dan pakaian yang terbaik di Mesir. Mereka melaporkan semua apa yang mereka terima dari Mesir. Bagian ini merupakan antiklimaks dari carita Yusuf. Happy ending terdapat dalam ayat 25 dan 27, namun bagian akhir ini semakin memperjelas bahwa teks ini dipengaruhi oleh dua tradisi. Nama yang digunakan dalam ayat 21 dan 28 menggunakan nama Israel, sementara dalam ayat 25 dan 27 mempergunakan nama Yakub. Namun kedua tradisi tersebut diformulasi redaktor sedemikian rupa sehingga menjadi satu teks yang utuh. Pesan yang diharapkan penulis untuk ditangkap pembaca ialah bahwa karya penyelamatan yang dilakukan Tuhan kepada keluarga Yakub bersifat kongkrit. Semua kebutuhan mereka dipenuhi bahkan melebihi dari yang mereka harapkan. Bersamaan dengan itu, penulis cerita Yusuf juga hendak menjelaskan bahwa terdapat juga unsur futuris. Mereka akan tinggal di Gosyen, tanah terbaik di Mesir sebagai tempat mereka menggembalakan ternaknya. Dalam peristiwa ini dilukiskan suatu tatanan hidup baru yang akan dialami keluaraga besar Yakub. Semua hal tersebut hanyalah atas kuasa Tuhan yang mendatangkan kemakmuran di Mesir dengan perantaraan Yusuf.
Hal yang lain dapat dilihat bahwa penulis cerita Yusuf menampilkan Yakub yang pada awalnya bersikap dingin. Mengapa demikian? Secara manusiawi kemungkinan juga bahwa Yakub mengalami stess ringan mendengarkan berita yang mengejutkan tersebut, sehingga dia sempat bersikap dingin mendengarkan kabar tentang kemaharajaan Yusuf di Mesir[144]. Namun pengarng cerita Yusuf mau menjelaskan Yakub lebih menggantungkan perasaannya terhadap penderitaan-penderitaan yang melanda kehidupan keluarganya. Sehingga matanya hampir tertutup melihat anugerah dari Tuhan. Baru setelah melihat dengan mata sendiri kereta yang dikirimkan anaknya Yusuf, semangatnya kemudian bangkit.[145] Hal tersebut sering terjadi dalam kehidupan manusia. Perhatian lebih mengarah kepada penderitaan dalam kehidupan, sehingga sangat sedikit tersedia ruang untuk melihat anugerah besar yang disediakan Tuhan.

4.2.4. Aspek Referensial
            Tentunya terdapat aspek referensi dalam Alkitab yang berkaitan dengan Panggilan Tuhan dalam kisah Yusuf.
  1. Mazmur 81:6a[146]: Sebagai suatu peringatan bagi Yusuf ditetapkan-Nya hal itu, pada waktu Ia maju melawan tanah Mesir.   
Mazmur ini mengandung unsur peringatan akan perbuatan Tuhan pada masa lampau, untuk menyadarkan bangsa Israel akan dosa-dosanya. Isi peringatan yang disampaikan, mirip dengan apa yang dihadapi oleh para nabi abad 8-6 sM. Hal tersebut berarti kisah Yusuf sangat dikenal baik pada masa itu, karena pemazmur mengangkat tipologis Yusuf ketika di Mesir. Ketetapan hukum Tuhan kepada Patriarkh, diteruskan kepada Yusuf (ay. 5) dan juga kepada keturunannya.
  1. Mazmur 105:16-24[147] dengan judul “puji-pujian atas segala perbuatan Allah di masa  lampau”.
Dalam pasal tersebut pemazmur menguraikan dengan jelas bagaimana Tuhan berkarya meelalui Yusuf. Penjualan Yusuf ke Mesir adalah atas rencana Tuhan. Perhatian tafsir bukanlah terhadap permasalahan penjualan Yusuf, namun berfokus kepada karya  besar Tuhan dalam peristiwa itu, karena anugerah Tuhan jauh lebih besar dari dosa manusia. Pemazmur mengulang kembali secara ringkas kisah Yusuf, ketika terjadi kelaparan, Yusuf dijual menjadi budak, dipenjara, dan akhirnya menjadi pengusasa di Mesir. Namun firman Tuhan telah genap dan Yusuf dibenarkan (ay. 19), dia menjadi penguasa dan mereka diberikan tanah yang subur. Dengan demikian, Yusuf benar di hadapan Tuhan adalah karena Tuhan sendiri membenarkannya dengan ketetapan-Nya, bukanlah karena tindakan Yusuf. Oleh karena itu, pemazmur ingin menjelaskan bahwa Tuhanlah yang membenarkan umat Israel dan memberikan keselamatan dalam berbagai situasi kehidupan mereka, layaknya Yusuf, karena umat (manusia) hidup dalam kerangka janji keselamatan dari Tuhan kepada Patriarkh.
  1. Kis. 7:9-15, Pembelaan Stefanus terhadap tuduhan para orang Yahudi dan Ahli Taurat kepadanya sebagai penghujat sejarah nenek moyang mereka.
9) Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia, 10) dan melepaskannya dari segala penindasan serta menganugerahkan kepadanya kasih karunia dan hikmat, ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir. Firaun mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir dan atas seluruh istananya. 11) Maka datanglah bahaya kelaparan menimpa seluruh tanah Mesir dan tanah Kanaan serta penderitaan yang besar, sehingga nenek moyang kita tidak mendapat makanan.12 Tetapi ketika Yakub mendengar, bahwa di tanah Mesir ada gandum, ia menyuruh nenek moyang kita ke sana. Itulah kunjungan mereka yang pertama;13) pada kunjungan mereka yang kedua Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya, lalu ketahuanlah asal usul Yusuf kepada Firaun.14) Kemudian Yusuf menyuruh menjemput Yakub, ayahnya, dan semua sanak saudaranya, tujuh puluh lima jiwa banyaknya.15) Lalu pergilah Yakub ke tanah Mesir. Di situ ia meninggal, ia dan nenek moyang kita.
Dengan dorongan Roh Kudus, Stefanus menguraikan sejarah perjalanan nenek moyang Israel mulai dari Abraham. Pembentangan sejarah tersebut bertujuan untuk menjelaskan karya penyelamatan Tuhan kepada bangsa Israel sejak dari bapa leluhur sampai pada karya penyelamatan Kristus di kayu salib (ay. 52). Janji keselamatan dari Tuhan akan senantiasa diperbaharui meskipun para nenek moyang Israel melakukan apa yang tidak baik di mata Tuhan (ay. 51).
            Terkhusus dalam ayat 9-15, Stefanus mencantumkan kisah hidup Yusuf. Dimulai dari ayat 9, terdapat dua penekanan yang bertolak belakang. Saudara Yusuf iri hati kepadanya, tetapi Tuhan menyertai dia dan melepaskannya dari segala penindasan serta menganugerahkan kepadanya kasih karunia dan hikmat. Dengan tindakan pemeliharaan Tuhan tersebut, mereka terlepas dari (kelaparan).
Dalam Kisah Para Rasul pasal 7 ini, dibentangkan sejarah karya keselamtan manusia. Dengan demikian, sangat jelas dapat dipahami bahwa kisah Yusuf merupakan salah satu rangkaian keselamatan besar dari Tuhan terhadap seluruh ciptaan-Nya sepanjang zaman. Urutan yang kronologis dalam pasal tersebut diakhiri dengan karya keselamatan Yesus Kristus.
  1. Kisah Yusuf di luar teks Alkitab
Sirakh  49:15, Dan seperti Yusuf belum seorangpun dilahirkan, pembesar semua saudaranya dan penyokong bangsanya. Dan tulang-tulangnya banyak dikunjungi orang.
I Makabe  2:53, Yusufpun di waktu kesesakan tetap menepati perintah, maka ia menjadi penguasa Mesir.
Dengan penjelasan diatas, pemilihan dan panggilan Yusuf adalah dalam rangka keselamatan. Tuhanlah yang melakukan tindakan aktif dalam panggilan tersebut dalam ruang lingkup janji. Oleh karena itu, janji tersebut tidak hanya berhenti pada zaman Yusuf saja, namun janji tersebut hidup hingga saat ini dalam kehidupan manusia.  

4.2.5. Pesan-Pesan Teologis
  1. Tuhan mengontrol setiap gerak kehidupan manusia sepanjang sejarah sejak dari zaman penciptaan, para patriarkh sampai saat ini. Tuhanlah yang melukiskan sejarah dunia dan bertujuan untuk menciptakan damai sejahtera bagi ciptaan-Nya.
  2. Tuhan mengikat janji dengan manusia sebagai gambar dan rupa Tuhan yang bertanggung jawab untuk mengusahakan ciptaan lainnya secara bertanggungjawab. Janji tersebut dimulai kepada adam dan Hawa, dilanjutkan kepada patriarkh, Yusuf dan kepada manusia saat ini. Janji tersebut adalah tanah perjanjian, mempunyai keturunan/menjadi bangsa yang besar dan menjadi berkat.
  3. Janji keselamatan dari Tuhan bisa saja bersifat presentis dan futuris
  4. Tuhan mempunyai rencana yang indah pada masa depan dalam setiap kehidupan manusia (sebuah panggilan), oleh karena itu kehidupan sekarang adalah sebagai suatu persiapan dan proses menyongsong kehidupan tersebut. Manusia senantiasa hidup dalam rangka harapan akan janji keselamatan kekal dari Tuhan. Oleh karena itu, ketaatan dan kepatuhan di hadapan Tuhan merupakan hal utama dalam merespon panggilan tersebut. Keegoisan manusia akan menghalanginya untuk melihat rencana Tuhan dalam kehidupannya.
  5. Penyertaan Tuhan dan panggilan Tuhan bukanlah jaminan bagi manusia untuk lepas dari penderitaan di dunia, namun justru penderitaan bisa menjadi salah satu jalan untuk mendewasakan iman umat-Nya. Namun penderitaan bukanlah akhir segalanya, karena tuhan menyediakan keselamatan bagi manusia itu sendiri. Namun, penyertaan Tuhan yang direspon manusia dengan ketaatan akan mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam bidang ekonomi.
  6. Tuhan bisa saja memakai suatu bangsa, suku ataupun kelompok dalam rangka mewujudkan keselamatan bagi umat pilihan-Nya, namun kejahatan bukanlah dari Tuhan, itu berasal dari dunia yang telah penuh dengan dosa. Tuhan tidak pernah kompromi dengan kejahatan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya sesamanya ataupun terhadap ciptaan lainnya. Tuhan tidak pernah setuju dengan tindakan anak-anak Yakub yang melakukan kejahatan kepada Yusuf. Justru Tuhan menentang ketidakadilan dengan anugerah.
  7. Kejahatan yang dilakukan setiap orang akan menimbulkan rasa bersalah secara berkelanjutan sehingga timbul juga rasa takut dan keraguan, dalam kaitan tersebut pengampunan yang tulus terhadap orang lain akan menimbulkan rasa penyesalan dan pertobatan baginya, dengan demikian, akan muncul perdamaian. Tuhan juga menghendaki agar manusia menjadi konselor sesamanya.
  8. Tuhanlah yang berkuasa menyelamatkan manusia dari berbagai bentuk penderitaan yang dialaminya dan juga merawat keturunan manusia untuk membawa penyataan-Nya dalam sejarah.
  9. Keagungan manusia terletak pada sikap kerendahan hati dan pengampunan terhadap sesama. Kerendahan hati dan pengampunan terwujud ketika manusia hidup dalam kebenaran. Tuhan diperlukan dalam mencipta dn menata hidup yang benar tersebut. Ketika manusia mampu dengan iman melihat rencana Tuhan dalam tempatnya maka dia akan hidup dalam kebenaran. Ketika manusia mampu dengan iman merasakan tangan Tuhan dalam segala situasi yang dihadapinya, maka dia akan hidup dalam kebenaran. Ketika manusia mampu dengan iman menerima baik tempat dan situasinnya, bahkan ketika ada kejahatan dalam proses tersebut, maka sikapnya akan menjadi benar dan bijaksana. Satu-satunya cara menemukan kebahagiaan dalam kehidupan adalah melakukannya dengan iman.

4.2.5. Pesan-Pesan Teologis
  1. Tuhan mengontrol setiap gerak kehidupan manusia sepanjang sejarah sejak dari zaman penciptaan, para patriarkh sampai saat ini. Tuhanlah yang melukiskan sejarah dunia dan bertujuan untuk menciptakan damai sejahtera bagi ciptaan-Nya.
  2. Tuhan mengikat janji dengan manusia sebagai gambar dan rupa Tuhan yang bertanggung jawab untuk mengusahakan ciptaan lainnya secara bertanggungjawab. Janji tersebut dimulai kepada adam dan Hawa, dilanjutkan kepada patriarkh, Yusuf dan kepada manusia saat ini. Janji tersebut adalah tanah perjanjian, mempunyai keturunan/menjadi bangsa yang besar dan menjadi berkat.
  3. Janji keselamatan dari Tuhan bisa saja bersifat presentis dan futuris
  4. Tuhan mempunyai rencana yang indah pada masa depan dalam setiap kehidupan manusia (sebuah panggilan), oleh karena itu kehidupan sekarang adalah sebagai suatu persiapan dan proses menyongsong kehidupan tersebut. Manusia senantiasa hidup dalam rangka harapan akan janji keselamatan kekal dari Tuhan. Oleh karena itu, ketaatan dan kepatuhan di hadapan Tuhan merupakan hal utama dalam merespon panggilan tersebut. Keegoisan manusia akan menghalanginya untuk melihat rencana Tuhan dalam kehidupannya.
  5. Penyertaan Tuhan dan panggilan Tuhan bukanlah jaminan bagi manusia untuk lepas dari penderitaan di dunia, namun justru penderitaan bisa menjadi salah satu jalan untuk mendewasakan iman umat-Nya. Namun penderitaan bukanlah akhir segalanya, karena tuhan menyediakan keselamatan bagi manusia itu sendiri. Namun, penyertaan Tuhan yang direspon manusia dengan ketaatan akan mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam bidang ekonomi.
  6. Tuhan bisa saja memakai suatu bangsa, suku ataupun kelompok dalam rangka mewujudkan keselamatan bagi umat pilihan-Nya, namun kejahatan bukanlah dari Tuhan, itu berasal dari dunia yang telah penuh dengan dosa. Tuhan tidak pernah kompromi dengan kejahatan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya sesamanya ataupun terhadap ciptaan lainnya. Tuhan tidak pernah setuju dengan tindakan anak-anak Yakub yang melakukan kejahatan kepada Yusuf. Justru Tuhan menentang ketidakadilan dengan anugerah.
  7. Kejahatan yang dilakukan setiap orang akan menimbulkan rasa bersalah secara berkelanjutan sehingga timbul juga rasa takut dan keraguan, dalam kaitan tersebut pengampunan yang tulus terhadap orang lain akan menimbulkan rasa penyesalan dan pertobatan baginya, dengan demikian, akan muncul perdamaian. Tuhan juga menghendaki agar manusia menjadi konselor sesamanya.
  8. Tuhanlah yang berkuasa menyelamatkan manusia dari berbagai bentuk penderitaan yang dialaminya dan juga merawat keturunan manusia untuk membawa penyataan-Nya dalam sejarah.
  9. Keagungan manusia terletak pada sikap kerendahan hati dan pengampunan terhadap sesama. Kerendahan hati dan pengampunan terwujud ketika manusia hidup dalam kebenaran. Tuhan diperlukan dalam mencipta dn menata hidup yang benar tersebut. Ketika manusia mampu dengan iman melihat rencana Tuhan dalam tempatnya maka dia akan hidup dalam kebenaran. Ketika manusia mampu dengan iman merasakan tangan Tuhan dalam segala situasi yang dihadapinya, maka dia akan hidup dalam kebenaran. Ketika manusia mampu dengan iman menerima baik tempat dan situasinnya, bahkan ketika ada kejahatan dalam proses tersebut, maka sikapnya akan menjadi benar dan bijaksana. Satu-satunya cara menemukan kebahagiaan dalam kehidupan adalah melakukannya dengan iman.

4.3. Refleksi Teologis
           
Hidup manusia adalah panggilan. Hal tersebut dimulai dari penciptaan manusia yang seturut gambar dan rupa Allah. Manusia sebagai gambar dan rupa Allah berarti bahwa sifat dan karakter Ilahi terpancar dalam hidup manusia. Pemahaman tersebut mempunyai pengertian bahwa totalitas hidup (penciptaan) manusia adalah inisiatif dan otoritas mutlak Allah. Oleh karena itu, terkandung rencana Ilahi yang hendak diwujudkan dalam ciptaan yang baik tersebut yaitu mengahadirkan keselamatan, kesejahteraan dan keadilan bagi ciptaan.
Hidup manusia adalah panggilan Tuhan yang bertujuan untuk damai sejahtera bagi ciptaan-Nya. Namun kerapkali manusia melihat panggilan hidupnya sebagai penderitaan, bukanlah damai sejahtera. Dengan demikian muncul pertanyaan, apakah dipanggil Tuhan identik dengan penderitaan? atau, apakah harus mengalami penderitaan? dan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, bagaimanakah kita memahami totalitas hidup manusia sebagai panggilan? Tuhan tidak pernah merancangkan penderitaan bagi umat-Nya melainkan rancangan damai sejahtera. Semua gerak hidup manusia merupakan proses panggilan Tuhan dalam rangka keselamatan (bnd Yes. 55:8).
Firman Tuhan bukan hanya berarti bagi nasib baik bagi keluarga Yakub di masa depan mereka. Namun Tuhan hendak memberikan kesaksian akan kekuasaan-Nya kepada dunia melalui keluarga Yakub. Segala hal akan dilakukannya dalam rangka mewujudkan rencana-Nya (bnd Mzm 86:10). Perpindahan keluarga Yakub ke Mesir adalah salah satu proses perwujudan janji kepada Abraham. Mereka akan menjadi berkat di negeri Mesir. Tuhan akan menghempang segala rintangan yang menghambat rencana-Nya (bnd Yes. 49:24-26). Tuhan akan membinasakan bangsa yang menghalangi rencana keselamatan bagi umat-Nya (bnd Yer. 18:4, Rm 8:31). Tuhanlah yang berkuasa melukiskan perjalanan sejarah kehidupan manusia dalam rangka keselamatan bagi  manusia itu sendiri. Jika manusia terjatuh karena penderitaan dunia akibat dosa, Tuhan akan menguatkan kembali dengan kuasa-Nya (bnd Yer. 31:4). Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Sementara itu, gereja juga terpangil untuk hidup di tengah dunia. Gereja tidak terpanggil hanya untuk dirinya sendiri. Seperti halnya Yusuf yang diutus Tuhan ke negeri Mesir. Dalam proses panggilan tersebut tidak tertutup kemungkinan terjadi kesengsaraan bagi gereja itu sendiri.
Akhir-akhir ini sejak permulaan tahun 1996, terutama umat kristani di Indonesia diperhadapkan dengan sederetan peristiwa yang mengejutkan. Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan gereja di Indonesia. Sejak tahun 1945-1997 telah terjadi penutupan, pengrusakan dan atau pembakaran gedung gereja oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Jumlah terbesar terjadi pada tahun 1995-1997 yaitu sebanyak 105 buah gereja.[148] Peristiwa pengrusakan tersebut terjadi di berbagai daerah di Idonesia dan berlanggung hingga akhir-akhir ini.
Peristiwa penyerangan terhadap umat kristiani juga terjadi pada bulan September 2007. Penyerangan tersebut terjadi di HKBP Rejeg resort Kuta Bumi, Tangerang. Ketika jemaat sedang melaksanakan ibadah, tiba-tiba lebih dari seratus orang massa melempari gereja secara brutal. Selain itu, banyak juga jemaat yang luka-luka akibat terkena lemparan batu. Laporan yang dihimpun menyebutkan bahwa motif penyerangan tersebut adalah pemilihan kepala desa. Diduga pihak yang kalah tidak senang dengan pihak yang menang, karena menurut mereka akan memberikan ijin pembangunan gedung gereja HKBP yang selama ini tidak pernah diberikan.[149]
Peristiwa yang disebutkan di atas hanyalah sebagian dari deretan peristiwa kekerasan yang dialami gereja. dalam keadaan seperti itu, gereja dituntunt dan ditantang untuk menunjukkan jati dirinya dalam panggilan. Terlepas dari motif-motif penyerangan tersebut, gereja harus tampil sebagai pembawa damai. Seperti Yusuf yang tampil sebagai konselor terhadap saudara-saudaranya. Jika gereja mengharapkan kesembuhan, maka gereja juga membutuhkan pengampunan.[150] Bagaimana seandainya Yusuf menaruh dendam terhadap saudara-saudaranya? Tentunya ceritanya akan lain. Demikian juga halnya gereja, tindakan yang frontal dan mendendam tidaklah karakter gereja. Justru sebaliknya, gereja harus tampil sebagai berkat bagi seluruh ciptaan Tuhan. kehadiran Yusuf di Mesir membawa berkat bagi kemakmuran bangsa Mesir. Mengapa Yusuf menjadi berkat? Karena janji Tuhan yang akan memberkati dan menyertainya senantiasa. Tentunya janji Tuhan tersebut juga berlangsung bagi gereja sat ini. Yusuf merespon Tuhan dengan ketaatan dan kesetiaan, apakah demikian halnya gereja saat ini?
 

B A B  V
K E S I M P U L A N

  1. Cerita Yusuf dalam kitab Kejadian merupakan suatu kesaksian iman bangsa Israel akan pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan mereka. Cerita Yusuf merupakan kisah yang utuh dan berasal dari dua sumber yaitu Y dan E. Sumber Y berasal dari zaman Daud dan Salomo sedangkan sumber E pada zaman Yerobeam setelah kerajaan Salomo berakhir. Masing-masing konteks kedua sumber tersebut hidup berdampingan dengan bangsa asing khususnya Mesir. Bangsa asing tersebut terkadang menjadi musuh nasional Israel. Selanjutnya kedua sumber tersebut digubah redaktor dalam kitab Kejadian pada abad ke-4.
  2. Dalam tafsiran naratif, kedua sumber tersebut tidak dipisahkan lagi. Cerita tersebut sudah menjadi satu cerita yang utuh, yang dikarang oleh seorang narator yang kemudian ditambahkan ke dalam kitab Kejadian oleh Redaktor. Materi-materi dari sumber Y dan E sudal saling menjalin menjadi satu kesaksian yang utuh tentang panggilan dan pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan manusia yang diikat dengan janji. Diyakini bahwa cerita tersebut digubah kembali oleh satu orang penggubah.
  3. Cerita Yusuf juga tidak dapat dipisahkan dari kitab Kejadian secara keseluruhan. Cerita Yusuf merupakan bagian penting dalam memahami kiab Kejadian bahkan Pentateukh. Cerita Yusuf merupakan jembatan sejarah janji akan karya keselamatan yang dilakukan Tuhan sejak penciptaan, pemanggilan patriarkh dan peristiwa keluaran. Dengan demikian, keseluruhan teks dalam kitab Kejadian dipahami dalam kanon janji.
  4. Terkhusus pasal 45 yang dibahas penulis, menceritakan Yusuf yang memperkenalkan dirinya kepada para saudaranya. Setelah dia dijual ke Mesir, dia selalu disertai Tuhan sehingga dia menjadi berkat bagi bangsa Mesir. Yusuf menyaksikan imannya bahwa Tuhanlah yang memanggil dan mengutusnya ke Mesir untuk memelihara kehidupan bangsa mereka. Melalui kesaksian terserbut, disimpulkan bahwa Tuhan mengontrol setiap gerak kehidupan manusia sepanjang sejarah sejak dari zaman penciptaan, para patriarkh sampai saat ini. Tuhanlah yang melukiskan sejarah dunia dan bertujuan untuk menciptakan damai sejahtera bagi ciptaan-Nya.
  5. Penciptaan manusia merupakan panggilan Tuhan. dalam panggilan tersebut, Tuhan mengikat janji dengan manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia bertanggung jawab untuk mengusahakan ciptaan lainnya secara bertanggungjawab sebagai respon terhadap panggilan Tuhan. Janji tersebut dimulai kepada adam dan Hawa, dilanjutkan kepada patriarkh, Yusuf dan kepada manusia saat ini. Janji tersebut adalah dalam rangka keselamatan manusia melalui pemberian tanah perjanjian, mempunyai keturunan/menjadi bangsa yang besar dan menjadi berkat bagi dunia.
  6. Panggilan terhadap manusia merupakan tindakan aktif Allah. Tuhanlah yang berkuasa untuk mewujudkan panggilan tersebut dengan penggenapan janji-Nya. Dengan demikian manusia hanya mempunyai otoritas untuk taat atau tidak taat dalam janji tersebut.  Janji Tuhan tersebut bisa saja bersifat presentis dan futuris.
  7. Dalam proses panggilan, manusia akan menghadapi berbagai tantangan kehidupan dunia. Manusia bisa saja menderita dalam proses tersebut. Namun Tuhan akan selalu menyertai kehidupan manusia sebagai anak janji. Penyertaan Tuhan dan panggilan Tuhan bukanlah jaminan bagi manusia untuk lepas dari penderitaan di dunia, namun justru penderitaan bisa menjadi salah satu jalan untuk mendewasakan iman umat-Nya. Namun penderitaan bukanlah akhir segalanya. Karena anugerah Tuhan lebih besar dari penderitaan yang dialami manusia. Dengan demikian, kehidupan manusia dipahami sebagai proses kematangan iman dalam panggilan tersebut.
  8. Tuhan mempunyai rencana yang indah pada masa depan dalam setiap kehidupan manusia (sebuah panggilan), oleh karena itu kehidupan sekarang adalah sebagai suatu persiapan dan proses menyongsong kehidupan yang lebih baik. Manusia senantiasa hidup dalam rangka harapan akan janji keselamatan kekal dari Tuhan. Oleh karena itu, ketaatan dan kepatuhan di hadapan Tuhan merupakan hal utama dalam merespon panggilan tersebut. Keegoisan manusia akan menghalanginya untuk melihat rencana Tuhan dalam kehidupannya.
  9. Tuhan bisa saja memakai suatu bangsa, suku ataupun kelompok dalam rangka mewujudkan keselamatan bagi umat pilihan-Nya, namun kejahatan bukanlah dari Tuhan, itu berasal dari dunia yang telah penuh dengan dosa. Tuhan tidak pernah kompromi dengan kejahatan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya sesamanya ataupun terhadap ciptaan lainnya. Tuhan tidak pernah setuju dengan tindakan anak-anak Yakub yang melakukan kejahatan kepada Yusuf. Justru Tuhan menentang ketidakadilan dengan anugerah.
  10. Kejahatan yang dilakukan setiap orang akan menimbulkan rasa bersalah secara berkelanjutan sehingga timbul juga rasa takut dan keraguan, dalam kaitan tersebut pengampunan yang tulus terhadap orang lain akan menimbulkan rasa penyesalan dan pertobatan baginya, dengan demikian, akan muncul perdamaian. Tuhan juga menghendaki agar manusia menjadi konselor sesamanya.
  11. Keagungan manusia terletak pada sikap kerendahan hati dan pengampunan terhadap sesama. Kerendahan hati dan pengampunan terwujud ketika manusia hidup dalam kebenaran. Tuhan diperlukan dalam mencipta dan menata hidup yang benar tersebut. Ketika manusia mampu dengan iman melihat rencana Tuhan dalam tempatnya maka dia akan hidup dalam kebenaran. Ketika manusia mampu dengan iman merasakan tangan Tuhan dalam segala situasi yang dihadapinya, maka dia akan hidup dalam kebenaran. Ketika manusia mampu dengan iman menerima baik tempat dan situasinnya, bahkan ketika ada kejahatan dalam proses tersebut, maka sikapnya akan menjadi benar dan bijaksana. Satu-satunya cara menemukan kebahagiaan dalam kehidupan adalah melakukannya dengan iman.





[1] Brian P. Hall, Panggilan Akan Pelayanan-Citra Pemimpin Jemaat (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 1992) hal. 12.
[2]  Paul. E. Billheimer (terj.), Kemuliaan di Balik Penderitaan (Surabaya: Yakin, 1977) hal. 28.
[3]  Paul E. Berheillmer, Ibid, hal. 30.
[4] V. Tinambunan, Gereja dan orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat di Tengah Krisis Multi Dimensi, Pematangsiantar: L-SAPA STT HKBP) hal. 35-36.
[5] Charles R. Swindoll, Yusuf: Seorang yang Berintegritas dan Pengampun, (Bandung: Cipta Olah Pustaka, 2001) hal. 34.
[6]  James L. Crenshaw, Story and Faith (Hendrikson Publisher) hal. 56.
[7]  Charles R. Swindoll, Op. Cit. hal. 11.
[8] Gerhard von Rad (terj.) Genesis- A Commentary, (Philadelpia: The Westerminster Press, 1956) hal.392.
[9] Claus Westerman, Genesis 37-50 A Commentary (Minneapolis, Augsburg Publishing House, 1986)  hal 18-19
[10]G. Ch. Aalders, Bible Students Commentary- Genesis Vol. I (Grand Rrapids: Zondervan         Publishing House, 1992) hal. 45-47.
[11] Stuart Briscoe, Mastering The Old Testament (Dallas: Word Publishing, 1987) hal. 368-369.
[12] Don Anderson, Joseph-Fruitfull in Affliction (Neptune, New Jersey: Loizeaux Brothers, 1988)   hal.16-17.
[13] David F. Hinson, Sejarah Israel pada Zaman Alkitab (Jakarta: BPK-GM Mulia, 1995) Hal. 146.
[14]  Ibid, hal 822.
[15]  Ibid, hal. 304.
[16] J.D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1994) hal. 198
[17] Tanah antara sungai Tigris dan Efrat. Bagian selatan daerah tersebut dikuasai oleh Babel, dan bagian Selatan dikuasai oleh Assyur.
[18] John Bright, A History Of Israel (Philadelpia: The Westminster Press) hal. 59-61.
[19] Blommendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama ((Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2003) hal 24.
[20] Raymond E. Brown S.S, dkk (ed.), The Jerome Biblical Commentary (New Jesrey: Prentice Hall, Inc, 1968) hal. 37.
[21] E.A. Speiser, The Anchor Bible, Genesis (New York: Doubleday & Company, 1964) hal. 337
[22] Pada masa ini, pemerintahan Daud, mempertahankan kekuasaannya dengan mengawini anggota keluarga bangsa lain yang berkuasa dan kaya (politik). Dalam bidang ekonomi, kerajaan Daud makmur karena mendapatkan banyak bahan makanan, bahkan ia menjadi tuan tanah yang kaya dari hasil perkawinannya. Segi kultus, Abyatar dari kaum Eli  membangun kembali sisa-sisa kultus di Silo. Mereka mengenal Yahweh, sebagai Tuhan yang selalu melindungi mereka dari serangan bangsa asing. (Robert B. Coote dan mary P. Coote, Kuasa, Politik dan Proses Pembuatan Alkitab (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2004) hal. 32.
[23] Ibid, hal. 36.
[24] Suatu kombinasi dari dua agama, terjadi di bagi bangsa Israel, ketika mereka dalam perjalanan padang Gurun, agama baalistis (penyembah patung dan berhala, dewa El) menyusup kedalam kepercayaan bangsa Israel.
[25] Robert B. Coote dan mary P. Coote, Kuasa...Ibid, hal. 51.
[26] Ibid, hal. 52.
[27] G.Ch Aalders, Op. Cit, hal. 42.
[28] John hargraves, A Guide To The Book Genesis (London: Hollen Street Press, 1969) hal. 1.
[29] Hans-Ruedi Webwer¸ Kuasa, Sebuah Studi Teologi Alkitabiah (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1997) hal. 2.
[30] Derek Kidner, Genesis, An Introduction and Commentary (London: The Tyndale Press, 1971) hal.. 32.
[31] Ibid, hal. 33.
[32] Banyak pendapat para ahli yang memberi penjelasan tentang arti kata “kita”. Diantaranya, ada yang menyebutkan bahwa hal itu menunjukkan ke-Mahabesaran Allah, sehingga merupakan bahasa kiasan saja. Ada yang menyebutkan hal tersebut dipengarui tradisi Timur Dekat Kuno yang mempunyai dewa yang majemuk politeisme). Ada juga yang menyebutkan bahwa hal tersebut menunjukkan kemajemukan Allah yang maha kuasa, artinya menunjukkan kuasanya yang besar. (band. G.Ch. Aalders, Bible student is Commentary Genesis Vol. I, G. Rapids-Michigan: Zondervan Publishing House, 1992, hlm 68-69.
[33] Jaroslav Pelikan (ed.), Luther’s Works Vol. I, Lecturer on Genesis Chapter 1-5 (Saint Louis, Missouri: Concordia Publishing House, 1958) hal. 68.
[34] Yongki Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2004) hal. 51.
[35] Ibid, hal. 34-35.
[36] William A. Dyrness, Agar Bumi Bersuka Cita, Misi Hollistis dalam Teologi Alkitab,(BPK-Gunung Mulia: 2001) hal 39.
[37] Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survey Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2000) hal.  159-160.
[38] W.S. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama II (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2006) hal.  126-128.
[39] Ibid, hal. 130-132.
[40] Ibid, hal. 134-135.
[41] D. Guthrie (ed.), The New Bible Commentary-Revised, (London: Inter-Varsity Press, 1972) hal.26-27.
[42] Menciptakan (Ibr. ברא-bara) artinya, menciptakan dan memperbaharui dari yang tidak ada menjadi ada, terdapat sebanyak 49 kali dalam Perjanjian Lama. Dipakai bagi penciptaan ilahi, tidak pernah digunakan dengn material sebagai pelengkap penderitanya.
[43] Baik berarti bagus, indah, menyenangkan, tepat dan sempurna. Secara lebih luas baik artinya cocok atau sesuai dengan tujuan Tuhan. Yongki Karman, Bunga Rampai...Op. Cit, hal. 30.
[44] Walter Brueggemann, Genesis Interpretation, A Bible Commentary For Teaching and Preaching, (Atlanta: John Knox Press, 1982) hal. 1.
[45] Ibid, hal. 1-2.
[46]A. Kuenen dan J. Wellhausen adalah teolog Jerman abad 18 yang berpendapat bahwa kitab pentateukh dibangun dengan empat sumber, yaitu Y,E,D dan P. sumber inilah kemudian digunakan redaktor meredeaksi kitab tersebut.
[47] Blommendaal, Pengantar... Op. Cit,  hal. 17. 
[48] R.K. Harrison, Introduction to The Old Testament (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1969) hal. 542-543.
[49] Istilah toledot diterjemahkan dengan “keturunan” atau “riwayat” yang dipahami tergantung konteksnya, apakah berkenaan dengan suatu silsilah (mis; Kej. 5:1) ataupun berkenaan dengan suatu riwayat. (R.K. Harrison, Ibid, hal. 543-544.)
[50] Ibid, hal. 547.
[51] Ibid, hal. 548.
[52] W.S. Lasor, dkk, Pengantar...Op. Cit, hal. 116-117.
[53] Gerhard von Rad, Genesis A Commentary (terj.) (London: SCM Press, 1956) hal. 23-24.
Von Rad mengkaji teologia sumber-sumber tersebut, secara umum dapat disebutkan sebagai berikut: Yahwist merupakan kisah yang sangat mengagumkan, karena mengetengahkan kisah permulaan manusia secara mendalam. Manusia menjadi salah satu penekanan utama Yahwist. Sehingga dalam berteologi, terutama dalam memperkenalkan Tuhan, Yahwist sering mempergunakan gambaran kehidupan manusia (antromorfis). Elohist mengetengahkan kisah narasi yang sangat dekat dengan tradisi (mis. cerita Abraham), Elohist juga menekankan segi spritualitas yang terkandung dalam naskah tersebut. Elohist menampilkan Tuhan yang menampakkan diri kepada orang beriman melalui mimpi dan malaikatnya. Dengan demikian Elohist membangun suatu teologi, dimana Allah memilih dan memanggil orang pilihan-Nya. Ia menampakkan diri melalui mimpi ataupun malaikatnya (bnd. Mimpi Yusuf). Elohist juga sangat dekat dengan tradisi kenabian, yaitu pola nubuatan dan penggenapannya. Secara keseluruhannya, Priest merupakan doktrin. Teksnya sangat artistik yang menggunakan simbol-simbol yang memiliki kandungan ajaran (doktrin). Oleh karena itu, memahami teks Priest, harus mengkaji arti terdalam dari setiap ayat yang penuh dengan kiasan tersebut (Ibid, hal. 25-27).
[54] Robert Pfeiffer, Introduction to The Old Testament, (New York: Harper and Brothers Publisher, 1948) hal. 160
[55] Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survey...Op. Cit, hal. 141.
[56] Ibid, hal. 143.
[57] Nolan B. Harmon (ed.), The Interpreter’s Bible (New York: Abingdom Press, 1939), hal. 798.
[58]Ibid, hal.  hal. 799.
[59] C.F. Keil & F. Delitzsch, Biblical Commentary on The Old Testament Vol. 1, The Pentateuch (Michigan: W.M. Eerdmans Publishing Company, 1949) hal. 365-366.
[60]Nolan B. Harmon (ed.), The Interpreter’s... Op.Cit,  hal. 799-800.
[61]Ibid, hal. 801.
[62] C.F. Keil & F. Delitzsch, Op. Cit, hal. 365-366.
[63] Bandingkan dengan 1 Makkabe 51:40-42 yang menyebutkan “Tuan dari rumah ini dan pengambil keputusan di seluruh tanah Mesir.
[64]Nolan B. Harmon (ed.), The Interpreter’s... Op.Cit, hal. 798.
[65]Ibid, hal.  798-799.
[66]Bandingkan dengan pendapat E. A. Speiser, menurutnya setelah melewati masa yang menegangkan dari cerita sebelumnya, pasal ini merupakan antiklimaks. Yusuf mengungkapakan kepribadiannya terhadap saudara-saudaranya, permasalahan yang dimunculkan narator sebelumnya terjawab dan diakhiri dengan kebahagiaan dalam pasal ini. Yusuf yang memperkenalkan diri dimulai dengan konflik. Konflik batin yang terjadi pada Yusuf yang memaksanya memperkenalkan diri. Yusuf memperkenalkan diri sebanyak dua kali (ay. 3 dan 4). Hal tersebut membuktikan bahwa teks tersebut dibangun dua tradisi yaitu Y dan E. (E.A Speiser, The Anchor... Op. Cit, hal. 339-340).
[67] John Calvin, Commentary on The Book of Genesis Vol. 2 (Michigan: W.M. Eerdmans Publishing Company, 1948) hal. 375-376
[68] Nama Yusuf di Mesir adalah Zafnat-Paaneah (Kej. 41:45).
[69] John Calvin, Op. Cit, hal. 378-379.
[70] Gerhard von Rad, Genesis A Commentary (terj.) (London: SCM Press, 1956) hal. 342-343.
[71] Gerhard von Rad, Genesis... Op. Cit, hal. 392-393.
[72] William Neil, Harper’s Bible Commentary (New York: Harper and Row Publisher, 1962) hal. 63.
[73] Ibid, hal. 64.
[74] A.S. Herbert, Genesis 12-50, Introduction and Commentary (London: SCM Pres, 1962) hal. 139-140.
[75] Ibid, hal.114.
[76] Ibid, hal.141.
[77] Raymond E. Brown S.S, dkk (ed.), Op. Cit, hal. 43.
[78]  Gosyen merupakan salah satu daerah yang subur di daerah Delta, Timur Dekat. Pada masa kekuasaan Hyksos, daerah ini digunakan sebagai tempat berdiam para pengembara ataupun orang asing yang datang ke Mesir.
[79] Derek Kidner, Genesis... Op. Cit,   hal. 206.
[80] Jelaskan arti idiomatik
[81] Hyksos adalah kepala dari tanah luar Mesir yang merupakan suku semitik yang menyerang Mesir dan menguasainya sekitar tahun 1720-1580 BC.
[82] Penguasa Mesir pada abad ke 13 BC.
[83] J.T.E. Renner, ChiRho Commentary Series on Genesis (Adelaide: Lutheran Publishing House,1984) hal. 276.
[84] Ibid, hal. 277.
[85]Stuart Briscoe, Mastering... Op. Cit, hal. 367-368.
[86] Ibid, hal. 368-369.
[87] Ibid, hal. 370.
[88] Matthew Henry’s, Commentary on The Whole Bible Vol. 1 Genesis to Deuteronomy (Virginia: Macc Donald Publishing Company, 1995) hal. 244.
[89] Ibid,  hal. 244.
[90] John Barton dan John Muddiman (ed.), The Oxford Bible Commentary (Oxford: Oxford University Press, 2000) hal. 62.
[91] Don Anderson, Joseph Fruitful in Affliction, (Naptune, New Jesrey: Loizeaux Brothers, 1988) hal. 224.
[92] Stuart Briscoe, Mastering... Op. Cit, hal. 369.
[93] Gerhard von Rad, Genesis...Op. Cit, hal. 393.
[94] Don Anderson, Joseph...Op. Cit, hal. 227.
[95] John H. Hayes dan Carl R. Holladay, Pedoman Penafsiran Alkitab, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2005) hal. 86.
[96]Ibid, hal. 89.
[97] A.A. Sitompul dan Ulrich Bayer, Metode Penafsiran Alkitab 9lihat aa sitompul hal 305 dst.
[98] John H. Hayes, Pedoman…Op.Cit,  hal. 87.
[99] John H. Hayes (ed.) Methods Of Biblical Interpretation (Nashville, USA: Abingdon Press, 1999) hal.169-170.
[100] Ibid, hal.169-170.

[101] Gerhard von Rad, Genesis A Commentary (terj.) (London: SCM Press, 1956) hal.  30.
[102] Ibid, hal. 31
[103]Dalam bahasa Yunani kata ini berarti “penggaris” atau “ukuran” dan dikenakan pada kitab-kitab dalam Alkitab yang dianggap otoritatif. Proses penyeleksian kitab tersebut berlangsung dalam waktu yang lama dan bertahap.
[104]Dengan memahami perkataan “pada mulanya”, maka terkandung pengertian, bahwa kitab Kejadian mengisahkan permulaan dunia dalam ruang dan waktu. Namun dibutuhkan pertimbangan terhadap konsep ke-Yahudian tersebut, karena banyak pikiran modern melihat proses penciptaan tersebut sebagai hal yang irrasional. Jawaban yang lebih tepat lagi akan terhadap perkataan “pada mulanya” adalah bahwa tidak ada sesuatupun sebelum pada mulanya. Segala sesuatu tersebut berawal dari tindakan Tuhan. Dengan demikian, konsep perkataan  tersebut menembus dan melampaui pentarikhan tahun yang dicipta manusia. (G.Ch Aalders, Bible... Op. Cit,  hal. 42.)
[105] Geneanalogis maksudnya melihat kitab Kejadian sebagai buku yang merupakan petunjuk terhadap garis keturunan umat manusia. Dengan pemahaman geneanalogis terhadap kitab Kejadian, maka asal-usul bangasa Israel menjadi jelas.
[106] Gerhard von Rad, Genesis... Op.Cit, hal. 13-16.
[107]John Barton, Teologi Perjanjian Lama, dalam buku Studi Perjanjian Lama bagi Pemula oleh John Rogerson (Jakarta: BPK-Guning Mulia,1997) hal. 105.
[108] Namun Martin Noth seperti yang dikutip Lasor menolak teori Hexateukh. Menurutnya, kitab Yosua lebih mungkin dipahami sebagai satu kesatuan dengan Hakim-hakim, I-II Samuel, dan I-II Raja-raja, daripada harus disatukan dengan Pentateukh. Menurutnya, pasal 1-12 disusun oleh seorang sejarawan Deuteronomik dengan melakukan beberapa penambahan seperti nama-nama kota dan juga pasal 13-21. Namun jika menganalisa perkataan “sampai hari ini” mengindikasikan bahwa kitab tersebut ditulis pada masa Yosua. Disamping itu, penggalian Arkeologis di beberapa kota Kanaan mengindikasikan pernah terjadi penyerbuan ke  daerah tersebut sekitar abad ke-13 sM. Dengan alasan-alasan tersebut disamping yang lainnya, lebih baik memahami Kitab Yosua sebagai bagian yang terpisah dengan Hexateukh seperti yang dipahami juga oleh teolog Amerika seperti Bright dan Albright (W.S. Lasor, dkk, Pengantar...Op. Cit, hal. 284-285).
[109] George W. Coats, Genesis, with an Introduction To Narrative Literature Vol. I (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1987) hal. 15-18.
[110] Ibid, hal. 19-20.
[111] Teks Alkitab ibarat sebuah tikar yang sudah dijalin rapat dan baik. Jika harus menguraikan satu persatu bahan yang membentuknya (benang, plastik, dll), maka kemungkinan akan terjadi kesulitan ketika menyusun kembali bahan tersebut seperti pada awalnya. Hal yang lebih fatal lagi ketika suatu teks diuraikan berdasarkan bahan pembentukannya, namun terjadi “salah tafsir” ketika melakukan hermeutis. Oleh karena itu, penafsiran kanonis akan dapat menghindari hal tersebut.
[112] Gerhard von Rad, Genesis...Op. Cit, hal. 27.
[113] Ibid, hal. 28.
[114] On disebut juga Heliopolis, atau kota matahari di Mesir Utara, yang mempunyai tempat ibadah yang amat besar dan berbagai patung.
[115]  John Bright, A History...Op. Cit, hal. 77-79.
[116] S.H. Hooke, The Clarendon Bible, old Testament Vol. VI, In The Beginning (London: Oxford at the Clarendon Press,  1955) hal. 117-118.
[117] Ibid, hal. 120.
[118] Robert B. Coote dan mary P. Coote, Kuasa, Politik dan Proses Pembuatan Alkitab (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2004) hal. 32.
[119] Ibid, hal. 32-35.
[120] Ibid, hal. 36.
[121] Ibid, hal. 51.
[122] Ibid, hal. 52.
[123] Langkah peredaksian kitab Pentateukh: Pertama menggabungkan cerita yang berasal dari sumber Y (950-850 BC) dengan sumber E (750 BC) sekitar tahun 650 sM dengan simbol RJE dan diredaksi oleh satu tangan. Pada bagian terpisah dalam waktu yang bersamaan, E2 (penambahan redaktor) sudah dimasukkan ke dalam peredaksian sumber E. Sumber D dengan code 621  juga telah diperkenalakan terhadap Y dan E dalam bagian yang terspisah dengan RJE. Dengan demikian, muncul dua kitab dalam bagian yang terpisah di Yerusalem sekitar tahun 586, yaitu RJE dan J,E. Langkah kedua adalah penambahan D code621  ke J,E. Dikatakan penambahan karena sebelumnya juga unsur sumber E telah ditemukan di J,E. Misalnya, cerita tentang Musa, telah ditemukan dalam bagian biografi J dan E namun tentang kematiannya ditambahkan kembali dari sumber D code 621. Penambahan ini diberi tanda RD yang juga termasuk didalamnya Deuteronomist kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel dan II Raja-raja. Penambahan ini sangat berpengaruh dalam Pentateukh sekitar tahun 550 sM terutama dalam kitab Yosua. Pada langkah ketiga yang dilakukan redaktor adalah penambahan sumber P ke dalam JED atau yang diberi tanda RD Selanjutnya tahun 400 sM, memasukkan kode perjanjian ke dalam JEDPS. Itulah bagian yang terakhir dengan penyempurnaan beberapa bagian PS (P yang sudah diedit). Beberapa abad kemudian proses pengeditan selesasi dan Pentateukh mendapat status kanon dan penutupannya dilakukan tahun 90 pada sidang di Jamnia. (RJE, E2, D code621, RD, PS; merupakan kode-kode atau tanda yang dibuat redaktor ketika melakukan redaksi terhadap kitab-kitab dalam Pentateukh sehingga muncul kitab seperti dalam bentuk sekarang (termasuk munculnya kitab Kejadian). (Robert Pfeiffer, Introduction...Op. Cit, hal. 282-288).
[124] Ibid, hal. 282.
[125] S. Wismoady Wahono, Disisni Kutemukan, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2004) hal. 262.
[126] Ibid, hal. 263.
[127] Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survey...Op. Cit, hal. 147.
[128] Hal inilah yang membedakan kisah Kejadian dengan cerita yang terdapat di Mesopotamia. Bagi mereka, dunia diciptakan pertama sekali adalah yang mereka pikirkan adalah dewa. Dengan demikian, mereka yang menentukan dewa pencipta bagi mereka. Hal ini sangat berbeda dengan konsep yang terdapat dalam Kejadian,,meskipun terdapat kesejajaran diantara keduanya.
[129] Andrew E. Hill dan John H. Walton, Survey...Op. Cit, hal. 149-150.
[130] Raymond E. Brown S.S, dkk (ed.), The Jerome... Op. Cit, hal. 37.
[131] Sehubungan dengan hal tersebut, ada beberapa karakteristik dapat disebutkan:
a) Cerita Abraham Yakub yang terdiri dari bagian yang berkaitan dan tidak utuh. Beberapa bagian dalam saga tersebut seakan-akan hilang, sementara kisah Yusuf merupakan sebuah kisah tunggal yang berkelanjutan dengan cerita yang utuh. Mempunyai plot maju dengan awal yang jelas dan juga akhir yang membahagiakan tanpa adanya suatu pemisahan cerita Hal ini mengindikasikan bahwa cerita tersebut dirancang di bawah keahlian seorang narator. b) Dalam cerita patriarkh, Tuhan secara berkelanjutan memperkenalkan diri secara langsung kepada mereka secara individu. Sementara dalam cerita Yusuf, Tuhan digambarkan sebagai penyebab, pengontrol dan mendesain seluruh cerita. c) Dalam cerita patriarkh, beberapa bagian cerita sering dihubungkan dengan tempat-tempat suci. Sementara cerita Yusuf tidak mempunyai visualisasi dari Tuhan. Dia tidak membangun altar tetapi hanya mengungkapkan keberuntungan yang diperolehya dengan keberpihakan Tuhan atas dirinya melalui mimpi. d) Perpindahan Patriarkh dihubungkan dengan gambaran suatu tradisi kuno yang melakukan perpindahan suatu klan ataupun suku. Sementara dalam cerita Yusuf, dia hanya seorang pribadi. Hal ini menandakan bahwa cerita Yusuf adalah karya seorang narator yang seniman. (S.H. Hooke, The Clarendon...Op. Cit, hal. 113-115).
[132] Gerhard von Rad, Genesis...Op. Cit, hal. 342.
[133] John Barton dan John Muddiman (ed.), The Oxford Bible Commentary (Oxford: Oxford University Press, 2000) hal. 60.
[134] Bersifat cerita sebab akibat.
[135] Walter Lempp, Tafsiran Kejadian ((Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1974) hal. 23.
[136] E.A Speiser, The Anchor Bible Genesis (Garden City, New York: Doubleday and Company Inc., 1964) hal. 59.
[137] John Barton dan John Muddiman (ed.), The Oxford...Op. Cit, hal. 60.
[138] Nolan B. Harmon (ed.), The Interpreter’s... Op. Cit, hal. 798.
[139] Nah gas, bukan hanya menunjuk kepada hubungan yang renggang, tetapi kepada kedekatan yang intim. Istilah ini sering dipakai untuk menunjukkan sikap yang mendekati dengan tujuan memeluk dan mencium seseorang.
[140] Dikatakan pastoral resolusi konflik, karena ungkapan tersbut merupakan suatu upaya pastoral konseling terhadap perasaan bersalah saudara-saudara Yusuf yang selalu membayangi kehidupannya, karena kejahatan yang dilakukannya terhadap Yusuf. Hal tersbut dilakukan dengan mengampuni mereka melalui anugerah Tuhan yang selalu menyelamatkan mereka, melalui tokoh Yusuf.
[141] Derek Kidner, Genesis, An Introduction and Commentary (London: The Tyndale Press, 1971) hal. 32.
[142] Bandingkan dengan pendapat Paul Tournier, sperti  yang dikutip Charles L. Windoll Perkataan Yusuf (45:5,8) menyingkapkan tabir naratif dan mengizinkan pembaca untuk melihat pembaca apa yang sedang terjadi di balik layar. Bukan saudara-saudaranya yang mengirim Yusuf ke Mesir, melainkan Tuhan yang memiliki satu tujuan untuk itu. Dengan demikian, penulis memunculkan satu tokoh utama yang bertanggung jawab akhir atas seluruh rencana dan sub rencana naratif yang sebelumnya yang menyatakan rencana dan tujua Ilahi di balik semuanya. (Charles R. Swindoll, Yusuf, seorang... Op. Cit. hal. 207).

[143] Bandingkan: Mzm105:17 diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak.
[144] Analisis penulis
[145] Bandingkan dengan Kej. 46:2-5, melalui teks tersebut tercermin kehidupan Yakub yang belum benar-benar yakin terhadap kabar yang disampaikan anak-anaknya tentang Yusuf yang masih hidup bahkan menjadi penguasa di Mesir. Dia yakin setelah Tuhan berbicara dan menampakkan diri kepadanya.
[146]Mazmur 81 merupakan karangan Asaf dengan judul “nyanyian pada waktu pembaruan perjanjian”. Mazmur ini dibagi ke dalam dua bagian besar, yaitu: ayat 1-6b yang merupakan undangan untuk bermadah dan ayat 6c-17 yang isinya peringatan dan janji bersyarat.
(M.C. Barth dan B.A. Pariera,  Tafsiran Alkitab, Mazmur 73-150, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, ) hal. 81.
[147]Maz. 105: 16-24, 16) Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, 17) diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. 18) Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, 19) sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. 20) Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. 21) Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya, 22 untuk memberikan petunjuk kepada para pembesarnya sekehendak hatinya dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tuanya. 23) Demikianlah Israel datang ke Mesir, dan Yakub tinggal sebagai orang asing di tanah Ham. 24) TUHAN membuat umat-Nya sangat subur, dan menjadikannya lebih kuat dari pada para lawannya;
[148] http://www.indonesia,faithfreedom.org
[149] Majalah Suara HKBP No. XXIX/Oktober 2997, hal. 10-14.
[150] Bandingkan dengan pendapat Wayne Zweck, The massage of forgiveness is the heart and soul of God’s revelation to humanity and it is basic to proclamation of God’s people throughout history. The church healed by forgiveness. That is as true of the HKBP as it is to any church organization. It is a body which lives under the all covering umbrella of God’s forgiveness. It is a body which serves under that umbrella and is thus able to be a blessing to others. (Wayne Zweck, Joseph and His Brothers: Forgiveness Brings Healings, dalam buku Pelayanan yang Kritis di Alam Demokratis (Tarutung: Kantor Pusat HKBP, 2006) hal. 297-298.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar